Di dunia persilatan yang luas, pedang dan tombak dianggap sebagai raja senjata.
Namun, bagi Mo Fei, benda terkecillah yang paling mematikan.
Tidak menggunakan golok raksasa, tidak mengandalkan kekuatan otot. Senjatanya hanyalah jarum-jarum emas seukuran biji padi.
Siapa pun yang ditandanya... pasti mati sebelum sempat berkedip.
Dikenal sebagai Pengamat Malam, ia datang tanpa suara, pergi tanpa jejak, hanya meninggalkan kilatan cahaya emas dan mayat yang tertancap jarum di titik vital.
"Pedang hanya bisa memotong daging. Tapi jarumku... bisa menusuk jiwa."
Ketika ia ditugaskan melindungi putri cantik yang keras kepala dan terjerat dalam intrik istana, Mo Fei harus menghadapi sekte jahat dan pendekar-pendekar legendaris.
Bisakah seribu jarum emas ini mengubah takdir dunia?
Siap-siap terpukau dengan aksi bela diri tercepat dan paling elegan yang pernah ada! .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: NAMA YANG MENGGUNCANG DUNIA
Kejadian singkat namun dahsyat di gerbang utama tadi secepat kilat menyebar ke seluruh penjuru Lembah Bela Diri. Kabar tentang pemuda asing yang hanya berdiri diam membiarkan serangan anggota Sekte Api Merah menghantam dadanya, namun justru si penyerang yang terpental dan muntah darah, menjadi topik pembicaraan yang paling panas di mana-mana.
Namun, yang paling membuat seluruh orang di tempat ini ternganga dan jantung mereka berdegup kencang bukan hanya soal kekuatannya, melainkan satu kalimat berani yang diucapkan oleh pemuda itu: Bahwa dia datang sebagai musuh bagi Istana Surga Gelap dan siap menjadi akhir dari kekuasaan mereka.
Kalimat itu terdengar seperti ucapan orang gila atau orang yang ingin bunuh diri bagi sebagian besar orang. Karena selama ratusan tahun lamanya, tidak ada satu pun aliran atau pendekar yang berani menyatakan perang secara terbuka dan terang-terangan seperti itu terhadap kekuatan terbesar di dunia ini. Siapa pun yang menentang mereka, nasibnya pasti hancur lebur dan lenyap dari permukaan bumi.
Tapi justru karena itulah, nama "Mo Fei" kini terasa begitu tajam, begitu berani, dan begitu memikat perhatian. Ada rasa kagum, ada rasa takut, dan ada pula rasa penasaran yang bercampur menjadi satu di hati para pendengarnya.
Di atas panggung utama, suasana juga berubah menjadi sangat hening dan mencekam. Para tetua dan pemimpin sekte yang duduk di kursi kehormatan saling berpandangan dengan wajah pucat dan bingung. Mereka semua tahu betul apa arti dari pernyataan yang baru saja terjadi itu. Itu artinya, di tengah-tengah acara damai dan bergengsi ini, tiba-tiba muncul sebuah duri tajam yang berani menantang sang raja.
"Siapa sebenarnya anak muda itu, Tuan Wen Chang?" tanya salah satu pemimpin sekte dengan nada hati-hati dan gemetar. "Dia terlihat sangat muda, tapi kekuatannya... sungguh di luar dugaan. Dan berani sekali dia menentang Yang Mulia secara langsung."
Di tempat paling tinggi dan paling utama, duduklah sosok yang paling berkuasa di tempat ini, Wen Chang, salah satu dari delapan penasihat utama Istana Surga Gelap. Wajahnya tampak tenang, namun jari-jarinya yang mengetuk-ngetuk sandaran kursi perlahan menunjukkan bahwa dia tidak senang. Tatapan matanya dingin, tajam, dan memancarkan aura pembunuh yang sangat pekat.
"Tenang saja, Tuan-tuan," ujar Wen Chang pelan namun suaranya terdengar jelas dan menusuk ke telinga semua orang. "Hanya seekor anak harimau yang merasa dirinya sudah kuat dan berani keluar dari sarangnya. Memang berani, memang memiliki sedikit bakat, tapi sayangnya... terlalu sombong dan tidak tahu di mana letak langit dan bumi."
Ia menoleh ke arah salah satu bawahannya yang berdiri di belakangnya.
"Benar kata orang, kalau ada yang ingin mati, jangan dihalang-halangi. Karena dia sudah menyatakan diri sebagai musuh, maka kita tidak perlu lagi bersusah payah mencari alasan untuk menyingkirkannya. Biarkan dia naik ke panggung ini, biarkan dia menunjukkan apa yang dia punya. Dan nanti, di saat yang tepat, kita akan mengajarkannya arti sebenarnya dari kekuasaan dan rasa takut."
Mendengar jawaban dingin itu, semua orang di sekitarnya langsung merinding dan tidak berani berkomentar lagi. Mereka tahu, bagi Wen Chang, membunuh seseorang semudah membalikkan telapak tangan.
Sementara itu, di tengah kerumunan penonton, Mo Fei dan Bai Yue terus berjalan maju dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Wajah mereka datar, tidak sombong, tapi juga tidak menunjukkan rasa takut sedikitpun. Mereka tahu betul bahwa dengan ucapan tadi, mereka secara resmi telah menarik perhatian seluruh kekuatan besar di tempat ini.
"Mereka semua sedang menatap kita, Mo Fei," bisik Bai Yue pelan sambil tetap berjalan tegap di samping Mo Fei. "Banyak tatapan yang membenci, banyak yang takut, tapi ada juga beberapa tatapan yang... terlihat lega dan penuh harapan."
Mo Fei tersenyum tipis.
"Memang seperti itulah dunia ini, Bai Yue. Selama ini mereka hidup di bawah bayang-bayang ketakutan, tertekan dan tidak berdaya. Mereka ingin melawan tapi tidak punya keberanian, mereka ingin berubah tapi tidak punya pemimpin. Sekarang, dengan kita muncul dan menyatakan sikap secara terang-terangan, itu akan menjadi seperti percikan api yang menjilat serbuk kayu. Lambat laun, api itu akan membesar dan membakar seluruh penjuru negeri."
Mereka berdua berjalan menuju meja pendaftaran. Petugas yang melihat kedatangan mereka langsung berdiri tegak dengan wajah tegang dan berkeringat dingin.
"Sa... Saya... Siap melayani Tuan..." ucap petugas itu terbata-bata.
"Kami ingin mendaftar sebagai peserta," ucap Mo Fei santai.
"Ba... Baik Tuan... Mohon tuliskan nama dan aliran..."
Mo Fei mengambil kuas tulis dan dengan gerakan tangan yang cepat namun indah, ia menuliskan dua nama di atas kertas pendaftaran:
Mo Fei
Bai Yue
Dan pada kolom aliran, ia tidak menuliskan nama sekte yang sudah ada, melainkan hanya menuliskan satu kalimat singkat yang padat dan penuh makna:
Penerus Warisan Langit & Bumi
Melihat tulisan itu, petugas dan orang-orang di sekitarnya ternganga. Itu adalah gelar yang sangat besar, namun entah mengapa saat melihatnya ditulis oleh tangan Mo Fei, tidak ada yang merasa itu berlebihan.
Setelah selesai, mereka duduk di bangku batu yang strategis untuk menunggu giliran. Waktu terus berjalan, dan pertarungan demi pertarungan pun dimulai. Para pendekar muda menunjukkan kemampuan terbaik mereka, namun di mata Mo Fei dan Bai Yue yang kini memiliki wawasan setingkat leluhur, pertarungan-pertarungan itu terasa seperti anak kecil bermain mainan. Mereka bisa melihat kelemahan setiap gerakan hanya dengan sekali pandang.
"Level mereka masih jauh di bawah kita sekarang ya, Mo Fei," komentar Bai Yue pelan.
"Memang," jawab Mo Fei mengangguk. "Tapi jangan remehkan. Kita tahu pasti ada bibit unggul dan orang kuat suruhan musuh yang sedang menunggu di sini."
Benar saja, seiring berjalannya waktu, mulai terlihat beberapa peserta yang memiliki kekuatan jauh di atas rata-rata. Gerakan mereka cepat, mematikan, dan sangat ganas. Mereka adalah orang-orang yang dilatih khusus oleh pihak Istana Surga Gelap.
Hingga akhirnya, giliran tiba pada salah satu anak buah Wen Chang yang paling ditakuti, seorang pemuda bertubuh tinggi besar dengan wajah penuh bekas luka bernama Tie Xiong.
Tie Xiong melangkah naik ke panggung dengan langkah berat yang membuat lantai kayu berderit. Aura yang dipancarkannya sangat ganas dan berbau darah. Lawannya tumbang hanya dengan satu pukulan, terlempar keluar panggung dan muntah darah banyak.
"HAHAHA! Semuanya terlalu lemah!" teriak Tie Xiong dengan suara lantang. Ia menatap tajam ke seluruh arah, lalu matanya terkunci pada sosok Mo Fei.
"Katanya ada pendatang baru yang berani dan sombong? Katanya ada yang mengaku musuh Istana Surga Gelap?!" seru Tie Xiong dengan nada mengejek. "Mana orangnya?! Keluar lah! Jangan cuma bisa bicara besar di belakang! Kalau kau tidak keluar, maka kubilang kau hanyalah seorang pembual sampah!"
Ini jelas adalah perintah dari Wen Chang untuk menguji dan memancing Mo Fei naik ke atas panggung.
Seluruh penonton menjadi hening. Semua mata tertuju pada Mo Fei. Apakah dia akan maju?
Mo Fei menghela napas pelan, lalu perlahan ia berdiri.
"Sudah lama aku tidak mendengar orang yang ingin mati secepat ini," ucap Mo Fei pelan. "Kalau kau memanggilku, maka aku datang."
Ia melangkah maju, dan otomatis kerumunan orang membelah jalan lebar untuknya. Setiap langkahnya membuat jantung orang-orang berdegup kencang.
Ia naik ke panggung, berdiri tepat di hadapan raksasa ganas itu.
"Bagus! Berani juga rupanya!" seru Tie Xiong sambil tertawa menampakkan gigi tajamnya. "Namaku Tie Xiong! Hari ini aku akan menghancurkan tulang-tulangmu sebagai persembahan untuk Tuan Wen Chang! Mati kau, bocah sombong!"
DORRR!
Tanpa aba-aba, Tie Xiong langsung meluncur maju dengan kecepatan luar biasa untuk ukuran orang sebesarnya. Tinjunya membesar dan memerah karena dipenuhi tenaga dalam, menghantam ke arah wajah Mo Fei dengan kekuatan yang cukup untuk menghancurkan batu besar menjadi debu!
Semua orang menahan napas! Ini adalah hantaman penuh kekuatan!
Namun... apa yang terjadi selanjutnya membuat seluruh Lembah Bela Diri terkejut setengah mati!
Saat tinju dahsyat itu hampir menyentuh wajahnya, Mo Fei tidak menghindar, tidak menangkis dengan senjata. Ia hanya mengangkat tangan kanannya dengan sangat santai...
PAK!
Tangan Mo Fei menangkap tinju raksasa Tie Xiong dengan mudah! Hanya dengan satu tangan!
Suara benturan keras terdengar, namun tubuh Mo Fei tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya berdiri! Ia berdiri tegak seperti gunung yang tak tergoyahkan, sementara Tie Xiong yang memukul itu justru terlihat kaku dan terkejut luar biasa seolah tinjunya menghantam tembok baja yang tak tertembus!
"Ka... Kau...?!" Tie Xiong tidak percaya. Ia mencoba menarik tangannya dan mencoba memukul lagi, tapi ternyata tangan kirinya terperangkap kuat oleh genggaman Mo Fei, tidak bisa bergerak sama sekali!
Mo Fei menatap mata Tie Xiong dengan tatapan yang sedingin es.
"Kekuatan sebesar ini... kau menyebut dirinya wakil dari Istana Surga Gelap? Sungguh memalukan."
CRAAKK!
Suara patah tulang yang mengerikan terdengar jelas di tengah keheningan yang mencekam.
"AAAAAAARRGGHHH!!" Tie Xiong berteriak kesakitan luar biasa saat pergelangan tangannya hancur lebur digenggam oleh Mo Fei.
Namun Mo Fei belum selesai. Ia menarik tangan Tie Xiong sedikit ke depan, lalu mengayunkan tangannya dengan gerakan santai namun penuh kekuatan...
BYUUUUURRR!!
Tubuh raksasa seberat ratusan kilogram itu terlempar seperti boneka kain! Terbang melintasi udara sejauh puluhan meter, lalu menghantam tanah dengan keras hingga menimbulkan lubang besar dan debu beterbangan ke mana-mana!
Tie Xiong tergeletak tak berdaya di lubang itu, tidak bisa bergerak lagi, pingsan atau mungkin tewas, tidak ada yang tahu pasti. Yang jelas, dalam hitungan detik, lawan yang dianggap sangat kuat itu hancur lebur tanpa perlawanan berarti!
Seluruh Lembah Bela Diri hening total selama beberapa detik, lalu...
MELEDAK!!! 📢💥
Suara sorak-sorai dan teriakan heboh meledak serentak dari seluruh penjuru tempat itu! Suaranya begitu keras hingga seolah mampu mengguncang langit dan bumi! Semua orang berdiri dari tempat duduk mereka, berteriak, bertepuk tangan, dan melambaikan tangan tanpa bisa menahan rasa kagum dan terkejut yang luar biasa!
"LUAR BIASA!!"
"MO FEI!! MO FEI!! MO FEI!!"
"SIAPAKAH DIA SEBENARNYA?! ITU BUKAN MANUSIA BIASA!!"
Ratusan bahkan ribuan orang bersorak menyebut nama Mo Fei. Nama yang beberapa jam lalu belum dikenal siapa pun, kini menjadi satu-satunya nama yang bergema di seluruh tempat ini!
Di atas panggung, Mo Fei berdiri tegak membelakangi lawannya yang sudah hancur. Ia tidak menoleh sedikitpun, wajahnya tetap tenang. Ia perlahan menolehkan kepalanya, menatap lurus ke arah tempat duduk tertinggi di mana Wen Chang duduk.
"Jadi beginikah kekuatan yang kalian banggakan selama ini?" ucap Mo Fei dengan suara yang tidak terlalu keras namun menggunakan tenaga dalam sehingga terdengar jelas. "Hanya segini? Sungguh mengecewakan."
Kalimat itu seperti tamparan keras di wajah Wen Chang dan seluruh pendukung Istana Surga Gelap. Wajah Wen Chang kini berubah menjadi sangat gelap dan dingin.
"Bagus... sangat bagus..." gumam Wen Chang pelan namun penuh ancaman. "Anak muda, kau sudah berhasil menarik perhatianku sepenuhnya."
Wasit yang gemetar akhirnya bergegas maju dan berteriak dengan suara terbata-bata: "Pe... Pemenang... MO FEI!!"
Mo Fei turun dari panggung dengan tenang dan kembali ke sisi Bai Yue yang menyambutnya dengan senyum bangga.
"Keren sekali, Mo Fei. Sekarang seluruh dunia tahu kalau kita tidak main-main."
"Baru permulaan," jawab Mo Fei santai. "Dan lihatlah... mereka sudah mulai serius."
Benar saja, tiba-tiba suara berat Wen Chang bergema menggunakan ilmu suara mengguncang langit:
"Anak muda bernama Mo Fei... Kau memiliki bakat yang luar biasa. Sayang jika disia-siakan karena kesombongan. Sebelum terlambat, berlututlah ,minta maaf, dan bersumpah setia kepada Istana Surga Gelap. Aku bisa menjadikanmu muridku dan memberimu kekuasaan tak terbatas. Namun jika kau menolak..."
Suara itu berhenti sejenak, tekanan udara di seluruh tempat menjadi sangat berat dan dingin.
"Maka tempat ini akan menjadi kuburan terakhirmu."
Seluruh penonton menahan napas. Ini adalah tawaran sekaligus ancaman mematikan!
Mo Fei menghela napas panjang, lalu perlahan ia berdiri kembali. Ia menatap lurus ke arah Wen Chang dengan mata yang berapi-api.
"Wen Chang... Dengarkan baik-baik jawabanku."
"Kekuasaanmu? Kekayaanmu? Itu semua adalah sampah bagiku!"
"Aku tidak datang ke sini untuk meminta ampun atau menjadi anjing peliharaan kalian!"
"Aku datang ke sini... untuk memberitahumu bahwa hari penghakiman telah tiba!"
"Kalian yang telah menindas dunia ini terlalu lama... bersiaplah untuk runtuh!"
"Dan kau bilang ingin membunuhku? Cobalah kalau kau sanggup! Tapi aku peringatkan, kali ini bukan aku yang akan mati, tapi kalianlah yang akan aku hancurkan satu per satu!"
Teriakan Mo Fei penuh semangat dan keberanian yang membara!
"HAHAHA!! BAGUS!! SANGAT BAGUS!!" Wen Chang tertawa keras namun penuh niat membunuh. "Karena kau memohon untuk mati, maka aku akan mengabulkan permintaanmu! Besok, di babak puncak turnamen ini, aku akan turun tangan sendiri! Aku akan mengajarimu arti rasa sakit dan keputusasaan yang sesungguhnya! Lihat saja siapa yang akan tertawa terakhir!"
Pertarungan pamungkas telah ditetapkan! Mo Fei melawan Wen Chang!
Seluruh penonton merasa darah mereka mendidih! Besok akan terjadi pertarungan yang akan menentukan takdir seluruh dunia persilatan!