"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."
Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.
Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.
Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Api di Atas Aspal
Gala Dinner malam itu berakhir larut, namun sisa-sisa ketegangan dari ancaman Hendrawan masih menggantung tebal di dalam kabin mewah Rolls-Royce Phantom yang membawa Adrian dan Elena membelah jalanan Jakarta yang mulai sepi. Sopir pribadi Adrian, seorang pria paruh baya berwajah kaku bernama Panji yang juga mantan anggota militer, mengemudikan kendaraan dengan kecepatan konstan di jalur tol lingkar dalam.
Di kursi belakang yang luas, keheningan mencekam menyelimuti mereka berdua. Elena menyandarkan kepalanya pada sandaran jok kulit, matanya menatap kosong ke luar jendela melihat deretan lampu jalan yang melesat cepat. Tangan kirinya masih menggenggam erat permata biru di lehernya, sementara tangan kanannya... entah sejak kapan, masih berada di dalam genggaman hangat Adrian. Pria itu tidak melepaskannya sejak mereka meninggalkan lantai dansa.
"Kamu memikirkan ucapan Hendrawan?" suara bariton Adrian memecah kesunyian, terdengar lebih lembut dari biasanya.
Elena menoleh, menatap profil samping wajah Adrian yang sesekali diterangi cahaya lampu jalan tol. "Dia memanggilku 'Putri Kecil', Adrian. Itu bukan kebetulan. Panggilan itu terlalu spesifik. Ayahku hanya menggunakan kata itu di dalam ruang kerjanya, saat kami hanya berdua. Bagaimana mungkin organisasi itu bisa tahu kalau mereka tidak menyadap rumahku... atau menginterogasi ayahku sebelum dia menghilang?"
Suara Elena bergetar di akhir kalimat. Kenangan tentang ayahnya yang hilang tanpa jejak kembali menghantam dadanya dengan rasa sesak yang luar biasa.
Adrian mempererat genggaman tangannya, ibu jarinya bergerak perlahan mengusap punggung tangan Elena, sebuah gestur menenangkan yang terasa begitu asing namun sangat dibutuhkan Elena saat ini. "Kita akan mencari tahu semuanya, Elena. Hendrawan sengaja memancing emosimu agar kamu membuat keputusan yang ceroboh. Tapi selama kamu ada bersamaku, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu."
Tiba-tiba, tubuh mereka sedikit terguncang saat mobil bermanuver tajam ke arah kanan.
"Ada apa, Panji?" tanya Adrian, suaranya langsung berubah menjadi dingin dan waspada dalam sekejap.
Dari kaca spion tengah, mata Panji tampak menatap tajam ke arah belakang. "Tuan, kita diikuti. Ada dua mobil SUV hitam tanpa pelat nomor yang membuntuti kita sejak kita keluar dari gerbang hotel. Mereka baru saja mencoba memotong jalur kita dari sisi kiri."
Elena refleks menengok ke belakang lewat kaca jendela. Benar saja, di tengah kegelapan jalan tol yang sepi, dua pasang lampu depan berukuran besar menyala terang, melaju dengan kecepatan tinggi tepat di belakang mobil mereka. Jaraknya tidak sampai lima meter.
"Panji, ambil jalur keluar tol terdekat. Jangan bawa mereka ke area mansion," perintah Adrian dengan ketenangan yang menakutkan. Tidak ada sedikit pun nada panik dalam suaranya, seolah situasi hidup dan mati seperti ini sudah menjadi makanannya sehari-hari.
"Baik, Tuan." Panji langsung menginjak pedal gas lebih dalam. Mesin V12 Rolls-Royce itu mengaum kuat, melesatkan mobil mewah tersebut membelah kegelapan dengan kecepatan di atas 140 kilometer per jam.
Namun, dua SUV di belakang mereka ternyata tidak tinggal diam. Salah satu mobil mempercepat lajunya, mencoba menyalip dari sisi kanan dan dengan sengaja membenturkan badan mobil mereka ke arah Rolls-Royce yang mereka tumpangi.
BRAKK!!
Suara hantaman logam yang keras menggema di dalam kabin. Elena terpekik kecil saat tubuhnya terlempar ke samping akibat benturan tersebut. Dengan cekatan, Adrian langsung menarik tubuh Elena ke dalam dekapannya, melindunginya dengan tubuh tegapnya sendiri. Ia mendekap kepala Elena ke dadanya, memastikan wanita itu aman dari kemungkinan kaca jendela yang pecah.
"Tetap menunduk, Elena! Jangan angkat kepalamu!" bisik Adrian tegas di telinga Elena.
"Adrian, mereka mau apa?!" tanya Elena setengah berteriak di balik dada Adrian, jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya mau melompat keluar.
"Mereka mau kalung itu, atau mereka mau menyingkirkan kita sebelum rapat merger besok sore," jawab Adrian tajam. Matanya menatap ke luar jendela, memperhatikan pergerakan SUV kedua yang kini mencoba mengunci posisi mereka dari depan setelah berhasil menyalip.
"Tuan, rem kita agak blong! Mereka sepertinya sempat menyabotase minyak rem saat mobil diparkir di hotel!" seru Panji dengan keringat dingin yang mulai membasahi dahinya. Ia berusaha keras mengendalikan setir mobil yang mulai terasa berat dan tidak stabil akibat benturan bertubi-tubi.
Mendengar hal itu, kemarahan di mata Adrian semakin menyala. "Panji, jangan gunakan rem. Gunakan bodi mobil ini untuk menghantam mereka balik. Rolls-Royce ini berlapis baja ringan di bagian pintunya. Hancurkan SUV di sebelah kanan!"
"Siap, Tuan!"
Panji memutar setir dengan sentakan kuat ke arah kanan, membalas hantaman mobil musuh dengan kekuatan penuh.
BOOM!!
Benturan kedua jauh lebih dahsyat. Mobil SUV hitam itu kehilangan keseimbangan, bannya berdecit keras di atas aspal sebelum akhirnya terpelanting, menabrak pembatas jalan tol beton dengan keras dan mengeluarkan percikan api yang membubung tinggi. Satu musuh berhasil dilumpuhkan.
Namun, tantangan belum selesai. SUV kedua kini berada tepat di depan mereka, sengaja memperlambat kecepatan untuk memaksa mobil Adrian berhenti, sementara di depan sana ada tikungan tajam menuju jalur keluar tol. Dengan kondisi rem yang tidak berfungsi maksimal, berhenti mendadak atau berbelok dengan kecepatan tinggi sama saja dengan bunuh diri.
"Adrian... kita nggak bisa belok di depan!" seru Elena yang sempat melihat plang penunjuk jalan di luar.
Adrian menatap tajam ke depan. Ia melepaskan dekapannya pada Elena sesaat, lalu meraih sebuah pistol glock hitam yang tersembunyi di dalam kompartemen rahasia di bawah jok kursi belakang. Elena terbelalak melihat senjata api itu, namun ia tidak mengatakan apa pun.
Adrian menurunkan sedikit kaca jendela di sisi kanannya, membiarkan angin malam yang kencang menerpa wajahnya. Dengan ketepatan seorang penembak profesional, ia mengarahkan moncong pistolnya ke arah ban belakang mobil SUV di depan mereka.
DOR! DOR!
Dua tembakan keras memecah suara angin malam. Tembakan Adrian tepat sasaran. Ban belakang SUV tersebut meledak seketika, membuat mobil itu berputar tak terkendali di tengah jalan sebelum akhirnya terguling beberapa kali di atas aspal.
Panji memanfaatkan momen itu untuk memutar setir dengan keahlian tingkat tinggi, membawa Rolls-Royce yang terluka itu melesat mulus keluar dari jalur tol melalui celah sempit di samping mobil musuh yang terguling. Menggunakan sisa-sisa daya pengereman darurat dan penurunan gigi mesin secara manual, Panji akhirnya berhasil menghentikan mobil dengan selamat di sebuah area jalanan sepi yang gelap di bawah jembatan layang.
Suasana mendadak menjadi sangat hening kembali. Hanya terdengar suara deru napas Elena yang tersengal-sengal karena syok.
Adrian segera memasukkan kembali senjatanya, lalu beralih menatap Elena dengan penuh kecemasan. Ia memegang wajah Elena dengan kedua tangannya, memeriksa apakah ada luka. "Elena, kamu terluka? Lihat aku, ada yang sakit?"
Elena menggeleng pelan, matanya menatap Adrian dengan pandangan yang campur aduk antara ketakutan, adrenaline yang masih terpompa, dan rasa kagum yang mendalam. "Aku... aku nggak apa-apa. Kamu sendiri gimana?"
Adrian mengembuskan napas lega, dahi mereka sempat bersentuhan selama beberapa detik saat Adrian menundukkan kepalanya, menyalurkan rasa lega yang luar biasa karena wanita di hadapannya ini selamat. "Aku oke. Selama kamu aman, aku oke."
Ia lalu melepaskan tangannya dan menatap ke arah luar jendela yang gelap. Senyum dingin dan kejam kembali muncul di wajah tampannya. "Hendrawan baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Dia pikir ini ancaman yang akan membuat kita mundur, tapi dia justru baru saja menyalakan api neraka untuk organisasinya sendiri."
Adrian menoleh kembali pada Elena, menggenggam tangannya dengan sangat erat, seolah bersumpah pada dirinya sendiri. "Besok, kita tidak hanya akan melakukan merger, Elena. Kita akan mulai memburu mereka satu per satu."
......BERSAMBUNG......