NovelToon NovelToon
The Broken Lens

The Broken Lens

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Vian's

Sinopsis: The Broken Lens

Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.

Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.

Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26: Gemuruh Ego dan Benteng yang Kokoh

Keheningan yang mencekam di depan meja kasir mendadak pecah bukan karena suara Savya, melainkan oleh langkah kaki sigap dari arah samping. Sila melangkah maju, berdiri tepat di sebelah Savya dengan wajah yang teramat ketus dan tatapan mata yang tajam.

"Maaf ya, Mbak yang bajunya heboh," potong Sila tanpa basa-basi, suaranya terdengar dingin dan menyengat. "Di sini tempat cari ketenangan sambil minum kopi, bukan tempat buat cari keributan. Kalau Mbak ke sini cuma mau marah-marah gak jelas dan gak berniat pesan, pintu keluarnya masih terbuka lebar di sebelah sana."

Katya seketika menoleh, membelalakkan matanya tidak percaya karena ucapannya baru saja dipotong oleh seorang karyawan kedai. "Apa kamu bilang? Berani-beraninya kamu ikut campur urusanku!"

Arka tidak mau kalah, ia ikut pasang badan dan merangsek maju ke depan kasir dengan wajah polos yang dibuat-buat konyol. "Betul kata Sila, Mbak. Lagian di Thalassa Coffee ini ada tarif sewa ketegangan ruang kasir, lho. Per menitnya mahal banget karena aura negatif Mbak bisa merusak kualitas biji kopi kami. Atau... Mbak mau saya bikinkan kopi hitam tanpa gula biar tingkat kepahitan mulut Mbak ada saingannya?"

Perdebatan konyol Arka yang bertingkah lugu namun sarkas itu sukses membuat Katya merasa terhina. Wajah glamornya memerah padam, menahan dongkol karena mendadak diserang oleh dua karyawan yang memperlakukannya seperti lelucon.

"Kalian benar-benar tidak tahu sopan santun ya! Berani sekali mendebat ku demi membela pembunuh seperti dia!" pekik Katya dengan ego yang meluap-luap, telunjuknya mengarah lurus pada Savya.

"Jaga bicara Anda, Mbak!"

Suara bentakan yang dalam dan tegas itu datang dari Farel. Pria yang biasanya paling tenang dan kalem di balik mesin espresso itu kini melangkah maju dengan rahang mengeras penuh kegeraman. Ia menatap Katya dengan pandangan menghunus. "Kami menghormati Anda sebagai orang asing yang masuk ke sini, tapi kami tidak akan tinggal diam kalau Anda terus menghina Mbak Savya di rumah kami sendiri. Tolong keluar sebelum kami bertindak lebih jauh."

Katya tersedak ludahnya sendiri, syok karena dikeroyok habis-habisan oleh para karyawan kedai. Sebelum ia sempat membalas makian Farel, Mika yang sejak tadi berdiri diam di dekat dapur ikut melangkah mendekat. Berbeda dengan yang lain, Mika menatap Katya dengan ekspresi yang teramat lempeng, suaranya mengalir tenang namun kata-katanya tepat sasaran menusuk ego Katya.

"Mbak... menaruh racun hati di cangkir orang lain... gak akan bisa bikin hidup Mbak terasa lebih manis," ucap Mika dengan jeda ritme bicaranya yang lambat namun menghujam telak. "Mbak cuma kesepian... karena gak bisa lepas dari masa lalu."

Sindiran tenang Mika sukses membuat Katya skakmat. Dadanya kembang kempis menahan malu dan amarah yang bertumpuk karena tameng pembelaan karyawan Savya begitu kokoh.

Melihat loyalitas yang begitu berani dan tulus dari anak-anak kedai, seulas senyum bangga perlahan terbit di wajah Savya. Rasa percaya dirinya seketika meningkat pesat. Gemuruh ketakutan yang sempat mengusik hatinya kini menguap, digantikan oleh rasa hangat yang menguatkan benteng pertahanannya. Savya menyadari satu hal: dia tidak lagi sendirian, dan dia punya kehidupan berharga yang harus dijaga ketenangan serta kenyamanannya.

Savya menyentuh pundak Sila dan Arka lembut, memberi isyarat agar mereka mundur selangkah. "Terima kasih, semuanya. Biar saya yang urus."

Savya menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Katya yang bergetar karena emosi. Tidak ada lagi keraguan atau sisa rasa bersalah di wajah sang pemilik kedai.

"Katya, hidupku yang sekarang adalah bentuk penghormatanku yang paling tinggi atas pengorbanan Dia," ucap Savya, suaranya terdengar begitu tenang namun penuh penekanan yang mutlak. "Aku memilih bangkit dan menata masa depanku karena aku tahu Dia tidak menyelamatkanku hanya untuk melihatku hancur meratapi penyesalan seumur hidup. Jadi, simpan egomu. Aku tidak akan membiarkanmu merusak ketenangan tempat ini."

Benteng ketenangan yang ditunjukkan Savya justru membuat ego Katya semakin membara. Ia merasa kalah telak karena tidak berhasil memancing tangisan atau ketakutan dari korbannya.

Katya menarik kembali tubuhnya, meraih kacamata hitamnya dengan jemari yang bergetar hebat menahan geram. Ia menatap Savya dan seluruh karyawannya bergantian dengan pandangan penuh kebencian yang teramat pekat.

"Jangan merasa menang dulu, Savya," desis Katya, suaranya merendah namun sarat akan ancaman yang berbahaya. "Kamu pikir benteng kecilmu ini bisa melindungi mu selamanya? Kamu boleh saja melupakan darah di tanganmu, tapi aku tetaplah Katya yang tidak akan pernah melepaskan dendam ini."

Katya memakai kacamata hitamnya dengan sentakan kasar, lalu membalikkan tubuhnya. Sebelum melangkah pergi dengan hentakan sepatu hak tingginya yang memekakkan telinga, ia menoleh sedikit, melemparkan kalimat menggantung yang berjanji akan mengacaukan hidup Savya kembali.

"Nikmati saja senyumanmu hari ini, Savya. Karena aku berjanji akan menggunakan segala cara, lewat siapa pun dan apa pun, sampai kedai ini hancur dan hidupmu kembali dilingkupi penyesalan yang jauh lebih menyakitkan dari masa lalu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!