Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.
Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part *24
Sinta hanya bisa terpaku saja. Karena sekarang, dia juga merasakan perasaan yang sama seperti yang Wana rasakan. Hanya saja, alasan ke kamar mandi, Wana dulu yang menyampaikannya. Jika tidak, alasan itu sudah pastilah dia yang akan mengucapkannya.
"Sinta. Kamu bisa," ucap Sinta pelan untuk menguatkan dirinya sendiri.
Sementara itu, di kamar sana, Wana sudah mencuci mukanya berulang kali. Namun sayangnya, semu yang sedang tercipta seolah tidak bisa pergi dari wajahnya. Jantung yang berdegup tidak normal, masih saja tidak bisa dia atasi.
"Ya Tuhan ... bagaimana cara aku bisa melewati malam ini dengan baik?"
Wana menatap wajahnya yang ada di dalam cermin sana. "Jelek. Terlalu jelek untuk berdiri di samping dewi bulan yang cantik jelita."
Rahwana menarik napas dalam-dalam, lalu melepasnya dengan kasar. "Bagaimana jika dia tahu wajah ku ini? Apa dia akan takut? Atau, mungkinkah kalau dia akan langsung kabur meninggalkan aku?"
Pertanyaan itu membuat Wana takut dan perih. Dia bahagia bisa memiliki Sinta sebagai istri sekarang. Namun, rasa takut itu menindih rasa bahagia yang sempat ada.
Seorang Rahwana, makhluk buruk rupa menikahi Sinta, Dewi bulan yang cantik jelita. Saat melihat dengan jelas keburukan fisik Rahwana ini, akankah Sinta akan kabur?
Wana langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Dewi bulan ku tidak boleh kabur. Aku sudah memilikinya. Aku tidak bisa membiarkan dia kabur dari ku."
Manik mata Wana terlihat berkaca-kaca. Ketakutan itu tergambar dengan sangat jelas. Padahal, kenyataannya, dia tidaklah seburuk yang ia bayangkan. Wajahnya tidak seperti monster padahal. Wajah itu hanya sedikit rusak saja. Tapi Wana yang tidak punya kepercayaan diri itu menganggap kerusakan kecil jadi sangat-sangat besar.
Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu kamar mandi. Susulan suara lembut terdengar. "Kak Wana. Kamu ... masih lama?"
Sontak, seolah di kejar oleh sesuatu, Wana langsung memasang topeng yang telah ia buka sebelumnya. Setelah topeng terpasang, barulah Wana menjawab apa yang Sinta tanyakan.
"Iya. Aku sudah siap," ucapnya sambil membuka pintu.
"Kamu mau pakai kamar mandi?" Wana berbasa-basi saat melewati Sinta.
"Iya. Aku mau ganti baju."
"Oh. Mm ... punya baju buat ganti? Jika tidak, aku minta Danu buat antar kan ke sini."
"Ah, nggak usah. Mama sudah siapkan baju ganti buat aku. Mm ... kak Wana sendiri, gak ganti baju?"
"Ah, iya. Ganti. Nunggu Danu antar kan ke sini. Aku lupa bawa soalnya."
"Oh, ya sudah kalo gitu. Aku ... masuk sekarang."
"Ah, iya-iya. Masuklah."
Selang waktu beberapa saat kemudian, Sinta keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang masih sama dengan saat dia masuk ke kamar mandi tersebut. Wanita itu tidak mengganti bajunya.
Wana yang duduk di atas sofa melirik dengan tatapan bingung penuh tanda tanya. Sesaat hening, akhirnya, bibir Wana tidak bisa menahan kata untuk bertanya.
"Masih pakai baju yang sama. Kenapa?"
Sinta langsung mengukir senyum terpaksa.
"He .... Sepertinya, mama salah bawa baju."
"Salah?"
"Iya. Lupakan saja. Aku bisa tidur dengan gaun pesta ini."
Wana menatap Sinta dengan tatapan tak yakin.
"Kamu ... yakin, Sinta? Memangnya, bisa tidur dengan baju ini? Tidak ... risih?"
Apa yang bisa Sinta katakan sekarang. Dari pada pakai baju yang mamanya sediakan, lebih baik pakai baju gaun ini untuk tidur. Karena baju yang mamanya sediakan sungguh keterlaluan.
Sinta melepas napas berat. Wajahnya terlihat pasrah akan keadaan. "Heh ... mau bagaimana lagi?" Gadis itu berucap pelan. "Aku tidak punya pilihan."
"Maksudnya?" Wana bertanya dengan tatapan penuh selidik.
"Ah, nggak. Maksud aku, aku bisa kok kak, tidur dengan gaun pesta itu bukan masalah. Hm."
Belum sempat Wana menjawab apa yang baru saja Sinta ucap, Sinta yang baru saja ingin melangkah malah hampir terjatuh. Sigap, Wana menahan tubuh langsing itu agar tidak benar-benar jatuh ke bawah.
Semua gara-gara Sinta salah melangkah. Kakinya menginjak ujung gaun pengantin yang masih dia kenakan. Maklum, gaun pengantin tentu saja agak ribet untuk dipakai dengan langkah bebas.
Lagi, suasana romantis tercipta di antara mereka berdua. Sayangnya, itu tidak lama. Saat mereka sadar, keduanya sama-sama menarik diri dengan cepat.
"Ah ... ma-- maaf, kak Wana. Gaunnya ... gaunnya bikin ribet," ucap Sinta pelan hampir berbisik. Namun Wana masih bisa mendengar ucapan itu dengan sangat baik.
"Gaunnya ribet. Lalu, bagaimana caranya kamu bisa tidur dengan gaun ini?"
Sontak, perhatian keduanya langsung teralihkan pada paper bag yang ada di lantai. Paper bag itu terjatuh tak jauh dari kaki Wana.
Rahwana langsung meraih paper bag tersebut. Pakaian berwarna merah muda langsung terlihat.
Saat Sinta melihat hal tersebut, dia ingin merebut pakaian itu dari Wana. Sayangnya, dia kalau cepat. Wana sudah mengeluarkan pakaian itu lebih dulu.
"Ini ... baju yang mama mu siapkan?"
Wajah putih Sinta kini terlihat sekali semu merahnya karena malu. Bagaimana tidak? Baju itu tentu saja bukan baju normal. Melainkan, lighri yang sangat menggoda. Selama ini, dia sedikitpun tidak pernah memakai pakaian seperti itu. Bisa-bisanya mamanya menyiapkan pakaian seperti itu untuk dirinya.
"Kak Awan kembalikan," ucap Sinta sambil merebut baju itu dari Wana. "Mama salah bawakan baju, makanya aku tidak bisa ganti."
Sudut bibir Wana terangkat. Senyum kecil terbentuk. Wajah polos malu-malu sedikit kesal yang Sinta perlihatkan membuatnya merasa sangat bahagia.
"Baiklah. Anggap saja aku tidak pernah melihat baju itu. Tunggu sebentar! Aku minta Danu buat belikan baju ganti untukmu," ucap Wana sambil meraih ponsel yang ada di atas sofa di belakangnya.
Belum sempat Sinta menolak ucapan itu, Wana sudah berbicara dengan Danu. Sungguh, tangan kanan kepercayaan Wana ini terlalu sigap dalam melayani tuan mudanya. Sampai panggilan saja tidak membutuhkan banyak detik untuk tersambung.
"Ya, tuan muda." Terdengar suara tenang di ujung gawai milik Wana.
"Danu. Belikan aku sepasang pakaian tidur untuk wanita. Ingat! Pakaian normal, bukan yang aneh."
"Pakaian normal?" Hening sesaat. Sepertinya, Danu mencoba untuk mencerna apa yang Wana maksudkan. Kemudian, pria itu berucap dengan penuh keyakinan. "Baik, tuan muda. Akan saya belikan. Tapi, apa ukurannya?"
Wana langsung melihat Sinta yang ada di depannya. Setelah mempertimbangkan sesaat, Wana pun berucap dengan yakin. "Mm ... aku rasa M."
"Baik, tuan muda. Akan saya belikan."
"Hm. Lakukan dengan cepat, Danu. Aku sudah sangat gerah dan lelah. Ingin sekali beristirahat."
"Kalau gitu, apa tidak sebaiknya, saya antar kan dulu pakaian tuan muda ke kamar sekarang. Kebetulan, saya sudah dekat dengan tempat tuan muda berada."
"Tidak. Carikan dulu pakaian untuk istriku. Nanti, sekalian saja kamu bawa kedua pasang pakaian itu ke sini."
"Baik, tuan muda. Saya paham."
ini juga satu dokter nya di byar brpa kmu sma Risa🙂↔️🙂↔️