Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.
Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.
Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.
Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.
Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.
Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?
Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
Pagi di Fakultas Hukum biasanya dimulai dengan aroma kopi yang kuat dan langkah-langkah terburu-buru para asisten dosen yang mengejar jam kuliah pertama.
Kensington Valerio melangkah menyusuri lorong departemen dengan ritme yang lebih santai.
Kaos hitamnya hari ini dilapisi oleh jaket kulit oversize yang menjadi ciri khasnya. Tujuannya satu: ruangan Lexington. Ia tahu kembarannya itu tidak akan datang sepagi ini, tapi ia butuh ketenangan ruangan itu untuk sekadar memejamkan mata sebelum kelas hukum perdata dimulai.
Langkah kaki Kensington melambat saat ia melihat sesosok wanita berjalan sekitar lima meter di depannya. Punggung tegak, sanggul tanpa celah, dan rok pensil ketat berwarna cokelat susu yang membungkus tubuhnya dengan sempurna. Itu dia, Catalonia Vera West—si "Late Vera" yang kemarin menghujatnya habis-habisan.
Vera berjalan dengan penuh percaya diri, kepalanya terangkat tinggi, namun mata tajam Kensington menangkap sesuatu yang mengerikan.
Di bagian belakang rok berwarna terang itu, sebuah noda merah pekat mulai merembes, kontras dan sangat jelas terlihat.
Apa dia tidak sadar dia sedang bocor? batin Kensington. Jantungnya berdesir bukan karena gairah, melainkan karena rasa iba yang mendalam.
Sebagai pria yang tumbuh di antara drama dan wanita, ia tahu benar betapa hancurnya harga diri wanita sekaku Vera jika hal ini terlihat oleh staf lain atau mahasiswa yang mulai berdatangan.
Tanpa suara, Kensington mempercepat langkahnya. Ia melepas jaket kulit hitamnya dalam satu gerakan cepat.
Sret!
Vera tersentak hebat saat merasakan sebuah benda berat dan dingin menimpa pinggangnya, lalu sepasang tangan kekar melingkar di depannya untuk mengikat lengan jaket itu kuat-kuat di perutnya.
"Hey! Apa yang Anda lakukan?!" teriak Vera, tubuhnya menegang, wajahnya langsung memerah karena terkejut dan marah. Ia mencoba berbalik, namun tangan Kensington menahan bahunya.
"Jalan saja, dan ayo ke toilet atau ke ruangan Lexington," bisik Kensington tepat di telinganya. Suaranya tidak lagi dingin atau mengejek, melainkan rendah dan mendesak. "Jangan berbalik, jangan banyak tanya. Ikuti saja aku."
Vera ingin memaki, namun nada bicara Kensington yang tidak biasa membuatnya menurut. Mereka berjalan berdampingan, sangat dekat, hingga mereka sampai di dalam ruangan pribadi Lexington Valerio. Begitu pintu tertutup dan terkunci, Kensington melepaskan pegangannya.
Vera langsung berbalik dengan mata berkilat marah. "Kau sudah gila?! Apa maksudnya—"
Kalimatnya terputus saat ia melihat pantulan dirinya di cermin besar di sudut ruangan. Ia melihat jaket hitam Kensington menutupi bagian belakang roknya. Dengan tangan bergetar, ia meraba bagian belakang rok itu dan menariknya sedikit ke depan.
Darah.
Wajah Vera yang tadinya merah karena marah, kini memucat seketika. Seluruh tubuhnya lemas. Keangkuhan yang ia bangun selama bertahun-tahun runtuh dalam hitungan detik. Ia ingin menghilang, ingin bumi menelannya hidup-hidup saat itu juga.
"Terima kasih..." bisik Vera sangat lirih. Ia tidak berani menatap mata Kensington. "Jaketmu... nanti aku akan mencucinya. Aku akan mengirimnya lewat kurir. Aku... aku benar-benar malu."
Kensington menyandarkan punggungnya di meja kerja Lexington, memerhatikan wanita yang biasanya sangat vokal itu kini tampak begitu rapuh.
Tidak ada lagi sosok berandal di mata Vera saat ini; yang ada hanyalah seorang pria yang baru saja menyelamatkan martabatnya dengan cara yang paling tulus.
"Lupakan soal jaket itu," sahut Kensington datar.
Vera berjalan dengan langkah kaku menuju kamar mandi yang ada di dalam ruangan kantor tersebut. Ia membasahi tisu dan mencoba membersihkan noda itu dari roknya sambil sesekali mengintip ke luar pintu kamar mandi yang terbuka sedikit.
"Apa nodanya sudah hilang?" tanya Vera dengan suara gemetar. Ia memutar badannya sedikit, mencoba memperlihatkan bagian belakang roknya pada Kensington untuk memastikan.
Bukannya menjawab dari jauh, Kensington justru melangkah maju. Ia mendekat ke arah Vera yang berdiri di depan wastafel kamar mandi. Vera menahan napas saat aroma maskulin bercampur asap rokok tipis dari tubuh Kensington menyerbu indranya.
"Masih ada sedikit," ucap Kensington. Ia mengambil kain lap bersih yang ada di sana, membasahinya dengan sedikit sabun cair, lalu berlutut di belakang Vera.
Saat jemari Kensington yang kasar mulai menyentuh serat kain roknya, Vera tersentak mundur, mencoba menahan tangan pria itu.
"Eh, tidak-tidak, jangan! Kensington... apa kau tidak jijik?" tanyanya dengan suara bergetar, matanya menatap nanar pada noda merah yang bagi kebanyakan pria adalah hal yang memuakkan.
Kensington tidak berhenti. Ia menggelengkan kepalanya perlahan, gerakannya tetap tenang dan presisi saat mengucek noda itu.
Sebuah senyum pahit tersungging di bibirnya, senyum yang menyimpan luka sedalam samudera. "Jijik?" bisiknya tanpa mendongak. "Vera, tangan ini bahkan pernah membunuh dua bayi tidak berdosa dalam satu malam. Darah ini bukan apa-apa dibanding kotornya jiwaku."
Deg.
Vera membeku. Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan apa pun, membuatnya tersadar bahwa di balik raga berandal ini, ada sebuah tragedi yang belum sanggup dimaafkan oleh waktu.
Jantung Vera berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. Ia terpaku saat merasakan tangan Kensington mulai mengucek noda di roknya dengan sangat hati-hati.
Pria bertato, bertindikan, dan dianggap sampah oleh semua orang itu, kini sedang berlutut di bawahnya, membersihkan noda darah di pakaiannya tanpa sedikit pun raut jijik di wajahnya.
"Selesai," ucap Kensington setelah beberapa saat. Ia berdiri kembali, menatap wajah Vera yang kini sangat dekat dengannya.
"Terima kasih... sekali lagi," ucap Vera, suaranya nyaris hilang.
Kensington hanya menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang sulit diartikan. "Jangan berterima kasih pada berandal, Vera. Itu akan merusak reputasimu sebagai asisten teladan."
Vera terdiam. Perasaan aneh mulai merayap di dadanya—rasa hangat yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. "Kamu punya satu permintaan?" tanya Vera tiba-tiba, menatap mata perak Kensington dengan tulus. "Aku akan memenuhinya jika aku mampu. Ini bentuk rasa terima kasihku."
Kensington terdiam cukup lama. Napasnya tertahan di tenggorokan. Ia menatap wajah cantik Vera, lalu pikirannya melayang pada kebahagiaan rapuh yang baru saja ditemukan kembali oleh saudaranya.
"Bisakah kau menjauhi saudara kembar ku?" tanya Kensington serius.
Vera mengernyit, tidak menyangka permintaan itu yang akan keluar.
"Dia begitu mencintai istrinya," lanjut Kensington dengan suara yang lebih lembut. "Setelah lima tahun berpisah dengan penuh luka, mereka baru saja disatukan kembali. Dan kau tidak akan tahu bagaimana berdarah-darahnya proses mereka untuk menemukan cinta itu kembali. Jangan menjadi pengganggu, meskipun kau asistennya."
Deg.
Vera seolah tersihir oleh tatapan mata Kensington yang begitu dalam dan protektif terhadap keluarganya. Tanpa berpikir panjang, ia mengangguk patuh. "Aku mengerti. Aku tidak akan pernah melampaui batas profesional dengannya."
Keheningan yang canggung namun intim menyelimuti mereka selama beberapa detik. Vera merasakan wajahnya memanas; ia tidak tahu mengapa ia mendadak salah tingkah seperti gadis remaja di depan pria ini. Tatapan tajam Kensington seolah-olah sedang menelanjangi semua pertahanan mentalnya.
"Bagus," ucap Kensington singkat. Ia berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, meninggalkan Vera yang masih mematung di dalam kamar mandi.
Vera menatap punggung Kensington yang menghilang di balik pintu. Ia menyentuh dadanya yang bergemuruh. Kenapa aku jadi begini? batinnya bingung.
Mulai pagi ini, pandangannya terhadap dunia tidak lagi sama. Di balik tato dan jaket kulit yang kasar itu, ia baru saja melihat sebuah kelembutan yang tidak pernah ia temukan pada pria-pria "beradab" yang selama ini dikenalnya. Dan Vera tahu, ini adalah awal dari sebuah masalah baru yang jauh lebih rumit daripada sekadar noda di rok cokelat susunya.
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭