NovelToon NovelToon
"The Chaebol'S Display Wife"

"The Chaebol'S Display Wife"

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: nia nuraeni

​Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Ujian dari Dua Bocah Kembar

​Setelah insiden "ciuman kucing" di pagi hari yang membuat Devan merasa berada di atas angin, ia benar-benar bertekad menggunakan setiap detik kesempatannya untuk merebut hati Vanya kembali. Ia tahu, mendekati Vanya tidak cukup hanya dengan gombalan atau kerja keras di kantor. Ia harus masuk ke dalam dunianya, ke dalam lingkar pelindung yang paling ia sayangi: keluarganya.

​Malam itu, angin berembus tenang saat mobil Devan memasuki gerbang megah kediaman Benjamin. Vanya tampil anggun dengan terusan sutra berwarna zamrud, sementara Devan mengenakan kemeja kasual namun mahal yang membuat aura ketampanannya meningkat drastis. Ia ingin terlihat seperti suami yang sempurna di depan mertua dan iparnya.

​"Selamat datang, Tuan Devan, Nona Vanya," sambut kepala pelayan dengan hormat saat pintu besar itu terbuka.

​Vanya dan Devan membalas dengan senyuman ramah. "Anda sudah ditunggu di meja makan," lanjut pelayan tersebut.

​Mereka melangkah menuju ruang makan yang megah. Di sana, di meja panjang berbahan marmer putih, sudah duduk Nicolas Benjamin, kakak Vanya yang berwajah tegas, bersama istrinya, Raisha, yang tampak lembut namun bersahaja. Namun, fokus Devan teralihkan oleh dua sosok kecil yang duduk di kursi tinggi dengan kaki berayun-ayun.

​Joshua dan Gempita.

​Si kembar berusia enam tahun itu adalah nyawa di rumah Benjamin. Jojo—panggilan Joshua—adalah bocah laki-laki yang pintar, namun selalu berakhir menjadi "korban" dominasi kakak kembarnya. Sementara Gempi, si bocah perempuan yang satu menit lebih tua, adalah kombinasi mematikan antara kecerdasan, kecentilan pada pria tampan, dan predikat pembully sejati bagi adiknya.

​"Tante Vanyaaa!" teriak mereka serempak. Kedua bocah itu melompat turun dari kursi dan berlari kencang.

​"Oh, lama nggak ketemu! Kalian tambah besar ya sekarang," Vanya berjongkok, memeluk kedua keponakannya itu dengan tawa renyah. Devan hanya berdiri di sampingnya, mencoba memasang wajah ramah terbaiknya.

​Tiba-tiba, Jojo berhenti memeluk Vanya. Matanya yang bulat menatap Devan dari bawah ke atas dengan tatapan menyelidik yang sangat kritis.

​"Tante... pria bodoh yang di samping Tante ini siapa?" celetuk Jojo polos namun menusuk.

​Seketika, rahang Devan jatuh. Wajahnya yang tadi tersenyum manis langsung berubah menjadi kesal. Pria bodoh?! batin Devan berteriak tak terima.

​Vanya yang melihat perubahan ekspresi Devan segera menutup mulut Jojo dengan tangan lembutnya. "Jojo, sayang... nggak boleh bicara begitu. Dia pamanmu," bisik Vanya mencoba memberi pengertian.

​"Ah... suami Tante?" Jojo mengerutkan kening. "Kenapa Tante mau sama yang ini? Kenapa bukan sama Om Dokter yang suka kasih aku cokelat?"

​Wajah Devan semakin memerah. Ia tahu siapa "Om Dokter" yang dimaksud. Siapa lagi kalau bukan Bara?

​"Jojo, sudah, sana duduk!" Vanya mengarahkan Jojo kembali ke meja makan sebelum Devan meledak karena tantrum.

​Namun, berbeda dengan Jojo, Gempi justru menunjukkan reaksi yang sangat kontras. Bocah perempuan itu merapikan gaun mininya, menyibakkan rambutnya ke belakang telinga, dan menatap Devan dengan tatapan yang bisa dibilang... genit.

​"Paman... ayo duduk di dekat Gempi," ucap Gempi dengan suara yang dibuat selembut mungkin.

​Devan tersenyum manis. Merasa mendapat pembelaan, ia merasa bangga karena pesonanya ternyata masih mempan pada anak berusia enam tahun. "Boleh, paman duduk sini ya?"

​Gempi langsung bertindak. Ia mendorong Jojo dengan satu tangan yang cukup kuat hingga bocah itu hampir terlempar dari kursinya. "Minggir Jojo! Biar Paman duduk sini dekat aku!"

​"Terus aku duduk di mana, Gempi?!" tanya Jojo dengan nada sedih dan pasrah.

​"Terserah!" jawab Gempi singkat dengan gaya bicara yang lucu namun ketus.

​Nicolas dan Raisha yang melihat itu hanya bisa menghela napas panjang dan memasang muka pasrah. Sebagai orang tua, mereka sudah biasa melihat kelakuan ajaib si kembar, terutama Gempi yang memang "lemah" jika melihat pria tampan.

​"Devan, maaf ya. Mereka memang seperti ini. Aduh, Kakak juga suka bingung sendiri ngomong sama mereka," ucap Raisha meminta maaf sambil menuangkan air ke gelas Devan.

​"Nggak apa-apa, Kak," jawab Devan, meski dalam hati ia merasa harus ekstra waspada pada Jojo yang sepertinya merupakan "mata-mata" Bara di rumah ini.

​Makan malam pun dimulai. Suasana yang tadinya formal berubah menjadi sangat riuh. Gempi terus-menerus mencoba menyuapi Devan dengan potongan wortel dari piringnya sendiri.

​"Paman, makan wortelnya biar paman tambah ganteng," ucap Gempi dengan mata berkedip-kedip.

​"Gempi, Paman sudah besar, jangan disuapi terus," tegur Nicolas.

​"Papa diam saja! Paman Devan suka kok, iya kan Paman?" Gempi menoleh ke Devan dengan tatapan menuntut jawaban "ya".

​Devan melirik ke arah Vanya yang sedang asyik makan sambil menahan tawa. Ia merasa terjebak. "Iya... Gempi, paman makan ya."

​Di sisi lain meja, Jojo masih menatap Devan dengan curiga. "Paman, apa Paman bisa main catur? Om Dokter Bara selalu kalah sama aku. Kalau Paman kalah, berarti Paman lebih bodoh dari Om Dokter."

​Devan merasa harga dirinya dipertaruhkan. Ia menaruh sendoknya dan menatap Jojo dengan serius. "Paman bisa main catur. Dan paman tidak akan kalah."

​"Oh ya?" Jojo menaikkan alisnya, sangat mirip dengan gaya Vanya saat meragukan Devan di kantor.

​Vanya akhirnya bersuara. "Sudah, sudah. Jangan tantang Paman Devan, Jojo. Pamanmu ini sedang belajar jadi orang pintar di kantor."

​Kalimat Vanya yang setengah memuji namun setengah menyindir itu membuat Devan tersedak. Nicolas terkekeh. "Aku dengar satu tahun ini kamu hebat di kantor, Devan. Vanya banyak bercerita tentang kemajuanmu."

​"Benarkah? Vanya cerita apa saja, Kak?" tanya Devan semangat.

​"Cerita kalau kamu sering tantrum kalau laporannya ditolak," celetuk Nicolas yang disambut tawa oleh seluruh meja.

​Devan hanya bisa tersenyum kecut sambil mengusap kepalanya. Ternyata, makan malam di rumah Benjamin jauh lebih berat daripada rapat dewan komisaris. Di sini, ia harus menghadapi istri yang dingin, kakak ipar yang tahu rahasia "tantrum"-nya, dan dua bocah kembar yang satu memujanya berlebihan dan satunya lagi menganggapnya bodoh.

​Namun, di sela-sela keriuhan itu, Devan sesekali mencuri pandang ke arah Vanya. Ia melihat Vanya tertawa lepas saat Gempi mulai mengganggu Jojo. Tawa itu... tawa yang tulus. Devan menyadari bahwa untuk memiliki Vanya sepenuhnya, ia harus memenangkan hati seluruh orang di meja ini, termasuk si kecil Jojo yang keras kepala.

​"Paman!" Gempi menarik lengan kemeja Devan. "Habis ini main boneka sama aku ya? Paman jadi pangerannya, aku jadi putrinya. Nanti paman harus cium tangan aku!"

​Jojo mendengus. "Pangeran nggak boleh cengeng, Gempi. Paman ini kan suka nangis kalau dimarahi Tante Vanya."

​"Jojo!" Vanya memperingatkan, meski ia tak tahan untuk tidak tersenyum.

​Devan menghela napas dalam, menatap Jojo dengan tatapan "awas kau nanti", lalu kembali tersenyum pada Gempi. "Oke, Gempi. Tapi setelah itu, Paman mau bicara serius sama Tante Vanya, boleh?"

​"Boleh!" jawab Gempi riang. "Tapi Paman harus kasih aku cokelat yang lebih banyak dari yang dikasih Om Dokter!"

​Malam itu, Devan sadar. Perjuangannya masih sangat panjang, dan rivalnya bukan hanya Bara di dunia nyata, tapi juga bayangan Bara yang sudah tertanam di hati keluarga ini. Tapi melihat Vanya yang mulai nyaman duduk di sampingnya tanpa ada raut wajah penuh kebencian, Devan tahu... ia sudah melangkah di jalur yang benar.

1
Dian Fitriana
update
Mudahlia Fitha
kok merinding ya
Mudahlia Fitha
😭😭😭🤧🤧kok sedih papa kyak menyimpan luka
Mudahlia Fitha
jgn mau ...biar aja mereka bangkrut
Mudahlia Fitha
hih kok pngen nonjok keluarga GK tau malu itu
Mudahlia Fitha
mantap saat nya bangkit van .kau bukan sampah ..
Mudahlia Fitha
kya harta namun miskin kebahagiaan buat apa coba
Mudahlia Fitha
kok Mlah AQ yg greget ah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!