Bagi Elvano Diwantara, hidup adalah tentang Return on Investment (ROI).
Mewarisi ketampanan Kairo dan otak jenius Elena, Elvano tumbuh menjadi "Hiu Muda" yang lebih kejam dari ayahnya. Di usia 27 tahun, dia sudah melipatgandakan aset Diwantara Group. Motonya sederhana: "Kalau tidak menghasilkan uang, buang."
Satu-satunya makhluk di bumi yang bisa membuat Elvano rugi bandar hanyalah Elora, adik perempuannya yang manja dan boros. Elvano rela membakar satu kota demi melindungi sang adik, tapi dia juga akan menagih utang jajan adiknya dengan bunga majemuk.
Namun, kalkulasi Elvano mendadak error ketika dia bertemu wanita itu. Seorang wanita yang berani menawar harga dirinya, mengacaukan neraca keuangannya, dan membuat detak jantungnya berfluktuasi seperti saham gorengan.
"Menikahimu adalah investasi risiko tinggi dengan probabilitas kerugian 90%," kata Elvano dingin.
Wanita itu tersenyum miring, "Kalau begitu, kenapa Tuan Muda tidak berani cut loss dan melepaskan saya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Negosiasi Alot
"Tiga belas persen selisih harga dari pasaran itu angka yang tidak masuk akal, Pak Broto. Kualitas biji kakao panen bulan ini menurun, ukuran bijinya lebih kecil, wajar kalau aku menuntut potongan harga." Suara datar Elvano membelah ketegangan di ruang rapat sempit berpendingin kipas angin itu.
Pak Broto, pria paruh baya dengan kumis tebal melintang, menggebrak meja kayu di depannya. Wajahnya merah padam menahan amarah. "Eh, Bos Muda! Kamu jangan asal jeplak! Panen kebun kami ini kualitas terbaik se-provinsi! Turun sedikit karena cuaca, tapi aroma dan rasanya tetap juara. Kalau hitung-hitunganmu kaku begitu, mending kamu cari suplai kakao dari pabrik plastik saja sana!"
Aluna duduk di samping Elvano sambil memijat pelipisnya perlahan. Matanya terasa pedas, kurang tidur akibat mendengar negosiasi delapan ratus miliar menembus dinding triplek penginapan murah. Dan sekarang, telinganya harus kembali berdengung mendengar bosnya berdebat alot demi memangkas biaya bahan baku dari pemasok lokal.
"Ini bukan soal rasa atau aroma, Pak Broto. Ini soal angka riil di atas kertas," balas Elvano tenang. Tangannya memutar laptop untuk memamerkan grafik garis merah yang menukik tajam. "Lihat grafik ini. Biaya logistik kami membengkak. Pengolahan biji ukuran kecil butuh waktu lebih lama di pabrik. Mesin butuh daya listrik ekstra. Kalau Bapak tidak mau kasih diskon lima belas persen, margin keuntungan kami menipis. Ini bisnis. Angka tidak pernah bohong."
Pak Broto menyenderkan punggung kasarnya ke kursi plastik, menyilangkan tangan di dada. "Bisnis itu bukan cuma soal kertas dan grafik, Bos. Bisnis itu soal silaturahmi. Kemitraan! Perusahaan kami ini sudah menyuplai bahan ke Diwantara Group sejak zaman ayahmu masih turun langsung ke kebun."
Pria berkumis itu menunjuk wajah Elvano dengan telunjuknya yang kasar karena sering bekerja di ladang. "Pak Kairo itu orangnya merakyat, menjunjung tinggi asas kekeluargaan. Kita ngobrol sambil minum kopi hitam, tawar-menawar pelan-pelan. Lha, anaknya sekarang malah datang dari ibu kota bawa layar kedap-kedip, menekan harga seenak jidat!"
Elvano mendengus pelan, sebuah kesalahan fatal dalam negosiasi dengan penduduk lokal. Dia paling benci membawa urusan personal ke dalam urusan profesional.
"Asas kekeluargaan tidak bisa dipakai untuk membayar gaji ribuan karyawan di pabrik kami, Pak. Bank juga tidak menerima pelunasan kredit pakai asas kekeluargaan," bantah Elvano tajam dan menusuk. "Kalau Bapak terus pakai sentimen masa lalu, neraca keuangan kita berdua akan sama-sama hancur. Hitungannya sederhana, diskon lima belas persen, atau kontrak kerja sama kita putus hari ini juga."
Suasana ruangan mendadak panas. Dua orang asisten Pak Broto yang duduk di belakang mulai kasak-kusuk dengan wajah tidak bersahabat. Udara pengap di dalam ruangan itu serasa membakar ubun-ubun.
"Oh, jadi begitu caramu mengancam orang tua yang sudah jadi rekanan puluhan tahun?" Pak Broto berdiri kasar, membuat kursi plastiknya bergeser mundur dengan bunyi decit menyilaukan telinga.
"Bapak yang tidak rasional," timpal Elvano tanpa mengubah posisinya yang bersandar santai.
"Ya sudah! Putus saja kontraknya!" bentak Pak Broto menggelegar. "Biar ratusan ton biji kakao ini kami jual ke sainganmu. Pabrik seberang berani bayar lebih mahal dan bosnya lebih sopan! Kami ini orang daerah, menjunjung tinggi adab saling menghargai, bukan cuma memuja uang kayak kamu!"
Pak Broto merapikan kemeja batiknya, bersiap melangkah keluar ruangan membawa seluruh rombongannya. Negosiasi bernilai miliaran rupiah ini benar-benar berada di ujung tanduk hanya karena pendekatan kaku seorang CEO yang tidak paham budaya lokal. Elvano tetap diam, wajahnya tidak menunjukkan penyesalan sama sekali. Baginya, angka tidak masuk akal berarti transaksi batal. Titik.
Aluna membelalakkan mata lebar-lebar. Otaknya berputar kilat. Kalau kontrak ini benar-benar putus, rantai pasokan pabrik makanan Diwantara Group bisa lumpuh berminggu-minggu, kerugian operasionalnya jauh lebih raksasa daripada sekadar memberi sedikit kelonggaran harga. Bosnya ini memang pintar matematika tingkat dewa, tapi nol besar soal membaca perasaan dan harga diri lawan bicaranya.
Dengan gerakan kilat, Aluna berdiri dari kursinya, mendorong kursinya ke belakang.
"Tunggu sebentar, Pak Broto!" seru Aluna menghentikan langkah pria berkumis tebal itu sebelum tangannya menyentuh gagang pintu.
Pak Broto menoleh dengan raut wajah masih masam, kumisnya bergerak-gerak menahan kesal. "Mau apa lagi, Neng? Bosmu sudah bikin keputusan mutlak! Percuma dilanjutkan!"
Aluna tidak menjawab pertanyaan pria itu. Dia malah memutar tubuhnya menghadap sang bos besar yang masih duduk santai menatap layar laptop seolah masalah ini cuma sekadar membuang klip kertas bengkok. Aluna menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh sisa keberanian dan kewarasannya menghadapi batu es ini.
"Pak Bos, Bapak mending minggir dulu. Biar aku yang urus," ucap Aluna tegas.
Tanpa basa-basi dan tanpa ragu sedikit pun, Aluna mengulurkan kedua tangannya lalu menutup layar laptop mahal Elvano dengan kasar.
Brak!
makany baru bisa liat Dunia yg nyata ,,
🤭🤭🤭🤭🤭
kutukan sedang berjalan pak bos ,,
kutukan adik mu🤣🤣🤣🤣🤣
nanti cinbu dan bucin mas kalkulator
pinter bener nih yang nulis skenario 😍😍😍😍
Tersepona...... akuhh.....tersepona.....
asyik.... asyiiiikk.....joossss......😁
😭😭😭😭😭😭😭😭
super duper inti kerak bumi ga sih tuh pengiritan nya......🔥