Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pembukaan Ujian Akademi
Suara terompet perak bergema membelah kesunyian pagi di Desa Oakhaven. Suaranya yang melengking tinggi menandakan bahwa hari yang ditunggu tunggu, sekaligus hari yang ditakuti oleh banyak orang, telah tiba. Alun-alun desa yang biasanya becek dan dipenuhi oleh pedagang sayur kini telah berubah total. Sebuah panggung kayu besar yang dilapisi kain beludru merah berdiri megah di tengah lapangan. Di sekelilingnya, tenda-tenda mewah milik para ksatria kerajaan berdiri dengan panji-panji berwarna emas yang berkibar ditiup angin pagi. Arlan berdiri di depan pintu gubuknya, mengenakan pakaian baru yang dijahit oleh ibunya. Meskipun sederhana, pakaian itu sangat bersih dan pas di tubuhnya, memberikan kesan seorang pemuda yang rapi namun rendah hati.
Elena berdiri di samping Arlan, tangannya yang kurus memegang bahu anaknya dengan sangat erat. Tubuhnya gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena rasa takut yang tidak bisa dia sembunyikan. Baginya, hari ini adalah hari di mana Arlan akan melangkah ke dalam sarang serigala. Dia tahu betul bahwa banyak orang di alun-alun itu menginginkan Arlan gagal, atau bahkan lebih buruk, menginginkan Arlan celaka. Elena tidak peduli soal kehormatan keluarga Vandermir dia hanya ingin anaknya pulang dalam keadaan selamat.
"Ingat pesan Ibu, Arlan," bisik Elena dengan suara yang bergetar. "Jika situasinya menjadi terlalu berbahaya, jangan paksa dirimu. Ibu tidak butuh kekayaan atau nama besar. Ibu hanya butuh kamu."
Arlan memutar tubuhnya dan menatap mata ibunya dengan sangat lembut. Di kehidupan sebelumnya, Adit jarang merasakan ketulusan seperti ini. Semuanya selalu tentang transaksi dan keuntungan. Melihat kekhawatiran Elena, Arlan berjanji di dalam hati bahwa hari ini bukan hanya soal pembuktian diri, tapi juga soal memberikan rasa aman yang permanen bagi ibunya. "Ibu, percayalah padaku. Aku tidak akan membiarkan sehelai rambutku pun terluka. Hari ini, Ibu akan melihat bahwa putra Ibu bukan lagi seseorang yang bisa mereka injak-injak."
Mereka mulai berjalan menuju alun-alun desa. Sepanjang jalan, kerumunan warga sudah mulai memadati jalur utama. Saat Arlan lewat, bisik-bisik yang penuh dengan nada sinis kembali terdengar. Warga desa masih menganggap kehadiran Arlan sebagai sebuah noda dalam upacara suci kerajaan tersebut. Mereka menatap pakaian baru Arlan dengan pandangan mengejek, seolah-olah pakaian bersih tidak pantas dikenakan oleh seorang pengkhianat. Namun Arlan tidak peduli. Dia menerapkan teknik Gerbang Kedua, membuat pikirannya tetap tenang dan detak jantungnya stabil di tengah tekanan massa.
Sesampainya di alun-alun, Arlan melihat kemegahan yang luar biasa. Di atas panggung utama, duduk tiga orang penguji dari ibu kota. Di tengah adalah seorang pria tua berjanggut putih panjang dengan jubah biru tua yang dihiasi simbol bintang dan bulan seorang Penyihir Agung dari Akademi Kerajaan. Di sisi kirinya adalah seorang ksatria paruh baya dengan zirah emas lengkap, dan di sisi kanannya duduk Gort yang tampak sangat bangga bisa duduk sejajar dengan pejabat ibu kota. Di barisan kursi peserta VIP, Julian duduk dengan posisi yang sangat santai, menatap para peserta lain dengan pandangan yang sangat merendahkan.
Arlan melangkah menuju area pendaftaran peserta. Petugas pendaftaran, seorang pria berkacamata dengan ekspresi bosan, menatap Arlan sejenak saat Arlan menyebutkan namanya.
"Arlan Vandermir?" petugas itu bertanya kembali dengan nada yang tidak percaya. Dia kemudian melihat ke arah daftar peserta dan menemukan nama Arlan yang ditandai dengan tinta merah. "Ah, jadi kamu adalah anak dari jenderal pengkhianat itu. Masuklah ke barisan kategori Tanpa Berkah. Kamu akan diuji di sesi terakhir."
Arlan mengambil nomor pesertanya dan berjalan menuju barisan belakang. Di kategori Tanpa Berkah, hanya ada sedikit anak, kebanyakan dari mereka adalah anak-anak yatim piatu atau anak petani yang tidak memiliki biaya untuk pelatihan mana. Mereka semua tampak sangat ketakutan dan tidak memiliki kepercayaan diri. Sangat kontras dengan barisan Berkah Dewa di depan yang dipenuhi oleh anak-anak bangsawan dengan perlengkapan senjata yang mewah.
Upacara pembukaan dimulai dengan pidato panjang dari Penyihir Agung. Dia berbicara tentang keagungan dewa dan bagaimana Berkah adalah tanda bahwa seseorang dipilih untuk memimpin dunia. Setiap kata-katanya seolah olah menjadi tamparan bagi mereka yang berada di barisan belakang. Arlan mendengarkan pidato itu dengan senyum tipis yang penuh ejekan di dalam hatinya. Dia tahu bahwa semua retorika ini hanyalah cara untuk mempertahankan struktur kekuasaan para bangsawan.
"Tahap pertama ujian adalah Pengukuran Potensi Mana!" suara Penyihir Agung itu menggelegar ke seluruh alun-alun.
Sebuah kristal besar yang jauh lebih besar dan lebih berkilau daripada yang ada di desa sebelumnya dibawa ke atas panggung. Kristal ini disebut Kristal Penilai Surga, yang mampu mendeteksi jumlah mana hingga ke unit terkecil. Satu per satu peserta maju ke depan. Setiap kali seorang anak bangsawan menyentuh kristal dan cahaya terang muncul, kerumunan akan bersorak kegirangan.
Julian maju ke panggung saat namanya dipanggil. Dia menyentuh kristal itu dengan penuh percaya diri. Seketika, kristal tersebut memancarkan cahaya putih keperakan yang sangat menyilaukan, memenuhi seluruh area panggung. Angka 850 muncul di permukaan kristal.
"Luar biasa! Potensi mana tingkat ksatria tinggi di usia muda!" seru Penyihir Agung dengan wajah yang sangat terkesan. "Julian dari keluarga Valerius, kamu adalah aset berharga kerajaan!"
Julian turun dari panggung sambil menoleh ke arah Arlan, memberikan isyarat dengan jempolnya yang diarahkan ke bawah. Arlan hanya menatapnya dengan pandangan kosong. Arlan menyadari bahwa cahaya yang dikeluarkan Julian memang kuat, namun seperti yang dia amati sebelumnya, cahaya itu memiliki getaran yang tidak stabil. Arlan tahu itu adalah hasil dari konsumsi obat peningkat mana yang berlebihan.
Setelah berjam jam, akhirnya giliran kategori Tanpa Berkah dipanggil. Kebanyakan dari mereka mendapatkan angka di bawah 10, yang berarti mereka hampir tidak memiliki mana sama sekali. Kerumunan warga tertawa mengejek setiap kali seorang anak turun dengan wajah sedih. Hingga akhirnya, nama Arlan dipanggil.
"Peserta terakhir, Arlan Vandermir. Silakan maju ke depan."
Seluruh alun-alun mendadak menjadi sangat sunyi. Semua mata tertuju pada sosok kecil Arlan yang melangkah mantap menuju panggung. Gort membisikkan sesuatu kepada Penyihir Agung, membuat pria tua itu menatap Arlan dengan pandangan yang sangat tajam dan penuh kecurigaan.
Arlan berdiri di depan kristal itu. Dia merasakan aura mana yang sangat kuat memancar dari benda tersebut. Arlan menyadari bahwa jika dia menyentuh kristal ini dengan kondisi Gerbang Keempat terbuka, energinya mungkin akan merusak kristal tersebut atau justru menarik perhatian yang tidak diinginkan. Dia harus sangat berhati hati. Dia memutuskan untuk menggunakan Teknik Tanpa Bayangan pada aliran energinya sendiri. Dia menekan semua energi Taijutsu nya jauh ke dalam tulang belakangnya, membiarkan tubuhnya terlihat benar-benar kosong dari energi apa pun.
Arlan meletakkan tangannya di atas kristal.
Satu detik. Dua detik. Kristal itu tetap gelap. Tidak ada sedikit pun cahaya yang muncul. Permukaan kristal tetap jernih seolah-olah tidak ada yang menyentuhnya.
"Angka Nol?" teriak salah satu penguji dengan nada terkejut. "Bahkan anak petani paling lemah pun memiliki angka dua atau tiga. Bagaimana mungkin ada manusia yang memiliki nol mana?"
Penduduk desa meledak dalam tawa yang paling kencang sejak acara dimulai. Mereka saling menunjuk ke arah Arlan, menghujatnya sebagai sampah di antara sampah. Gort tertawa begitu keras hingga wajahnya memerah. Dia merasa sangat puas melihat Arlan dipermalukan di depan pejabat ibu kota.
"Sudah saya katakan, Tuan Penguji," ucap Gort dengan nada mengejek. "Dia hanyalah sisa-sisa dari keluarga pengkhianat yang dikutuk oleh dewa. Dia tidak memiliki apa-apa selain kesombongan yang kosong."
Penyihir Agung itu menatap Arlan dengan dahi berkerut. Dia merasa ada yang aneh. Secara teori, setiap makhluk hidup di dunia ini memiliki sedikit mana untuk mempertahankan fungsi organ tubuhnya. Angka nol hanya terjadi pada benda mati atau mayat. Namun, Arlan berdiri di depannya dengan kondisi yang sangat bugar dan detak jantung yang sangat tenang.
"Arlan Vandermir, kamu dinyatakan tidak memiliki potensi sihir sedikit pun," ucap Penyihir Agung itu dengan suara dingin. "Namun, sesuai peraturan ujian kelayakan hidup, kamu tetap diwajibkan mengikuti tahap kedua, yaitu Ujian Pertarungan Fisik, untuk menentukan apakah kamu masih berguna sebagai prajurit garis depan atau tidak."
Arlan menarik tangannya dari kristal. Dia tidak menunjukkan rasa malu sedikit pun. Sebaliknya, dia membungkuk sedikit dengan sikap yang sangat sopan. "Terima kasih, Tuan Penguji. Saya sangat menantikan tahap kedua."
Arlan turun dari panggung di tengah hujan ejekan dan makian. Dia menghampiri ibunya yang tampak ingin menangis karena sedih melihat anaknya dihina. Arlan memegang tangan Elena dan tersenyum tipis. "Jangan sedih, Ibu. Angka nol itu adalah awal dari kemenangan kita. Mereka pikir aku tidak punya pedang, padahal aku sendiri adalah pedang itu."
Kakek tua itu muncul di kerumunan, berdiri di dekat Arlan tanpa ada yang menyadarinya. "Langkah yang bagus, bocah. Kamu membiarkan mereka merasa menang di permainan mereka. Sekarang, siapkan tinju mu. Tahap kedua bukan lagi soal angka di atas batu, tapi soal siapa yang masih bisa berdiri di atas tumpukan debu."
Arlan mengangguk. Dia melihat para pekerja mulai menyiapkan arena pertarungan di tengah alun-alun. Dia tahu bahwa tahap selanjutnya akan jauh lebih berdarah. Julian dan anak-anak bangsawan lainnya sudah mulai melakukan pemanasan, mata mereka penuh dengan niat jahat. Mereka mengira Arlan adalah mangsa yang mudah karena hasil nol mana tadi.
Namun, di balik pakaian sederhananya, energi Arlan sedang bergejolak seperti gunung berapi yang siap meledak. Dia sudah tidak sabar untuk menunjukkan kepada mereka semua bahwa di dunia ini, ada kekuatan yang jauh lebih mematikan daripada mana, dan kekuatan itu sekarang sedang berada di dalam kepalan tangan seorang anak yang mereka sebut sampah.
Matahari mulai meninggi, menyinari arena pertarungan yang akan menjadi saksi kehancuran harga diri para bangsawan. Arlan Vandermir sudah siap, dan kali ini, dia tidak akan menahan diri sedikit pun.