NovelToon NovelToon
Terjebak CEO Tampan

Terjebak CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.

IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31 : Alea sakit perut

“Cukup!”

Suara berat itu menggema di dalam ruangan, semua orang langsung terdiam. Kakek Sanjaya berdiri tegak, tatapannya tajam mengarah ke Bu Ambar.

Aura wibawanya langsung memenuhi ruangan. “Ambar,” ucapnya tegas, penuh tekanan. “Saya sudah berkali-kali memperingatkan kamu.”

Bu Ambar terdiam, wajahnya menegang.

“Bersikap baiklah pada Nayra… dan anak-anaknya,” lanjut Kakek Sanjaya. “Kalau kamu tidak bisa…”

Ia berhenti sejenak. Tatapannya semakin dingin.

"Lebih baik kamu keluar dari rumah ini.”

DEG

Kalimat itu jatuh seperti palu. Pak Arya langsung menoleh ke arah istrinya, lalu tanpa banyak bicara, ia menarik tangan Bu Ambar.

“Sudah… ayo,” ucapnya pelan, berusaha meredakan situasi.

Bu Ambar terlihat tidak terima. Namun di bawah tatapan tajam Kakek Sanjaya, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dengan langkah sedikit kesal, ia akhirnya keluar dari kamar, diikuti Pak Arya.

Pintu tertutup.

Nayra menunduk, tangannya masih mengusap kepala Alea. Matanya berkaca-kaca, tapi ia berusaha menahan air matanya.

Kakek Sanjaya menghela napas panjang. Lalu perlahan, ia duduk kembali di samping ranjang.

Tangannya mengusap kepala Nayra dengan lembut. “Kamu tidak salah,” ucapnya pelan.

Nayra langsung terdiam. Kata-kata itu, entah kenapa terasa sangat menenangkan.

“Saya hanya…” suara Nayra bergetar. “Saya tidak ingin Alea disalahkan…”

Kakek Sanjaya mengangguk. “Dan kamu sudah benar melindungi anakmu,” jawabnya tegas.

Di sisi lain, Arsen berdiri tidak jauh dari mereka. Matanya tertuju pada Nayra, tatapannya dalam. Untuk pertama kalinya, ia melihat Nayra bukan hanya sebagai wanita dalam pernikahan kontrak.

Tapi sebagai seorang ibu, yang berani berdiri melawan demi anaknya. Dan entah kenapa, itu membuat sesuatu di dalam dirinya bergerak.

Tak lama kemudian, suara langkah tergesa terdengar dari luar.

Pintu kembali terbuka.

Seorang pria paruh baya masuk dengan membawa tas medis.

“Permisi.”

Dokter Erik akhirnya datang, Arsen langsung mendekat.

“Dok, tolong periksa anak saya.”

Tanpa banyak bicara, Dokter Erik langsung menghampiri Alea. Ia mulai memeriksa dengan teliti.

Sementara itu, Nayra hanya bisa menggenggam tangan kecil Alea dengan erat. Dengan perasaan cemas yang tidak tertahankan.

Dokter Erik selesai memeriksa. Ia menarik napas pelan, lalu menoleh ke arah Arsen dan Nayra. “Tidak perlu terlalu khawatir,” ucapnya tenang. “Ini hanya sakit perut biasa.”

Nayra langsung sedikit lega, meski masih cemas.

“Mungkin karena terlalu banyak makan,” lanjut Dokter Erik. “Lambung anak seusia dia belum terbiasa menerima makanan dalam jumlah banyak sekaligus.”

Belum sempat suasana benar-benar tenang, Raya bergumam pelan, tapi cukup terdengar.

“Kan sudah aku bilang,pasti karena kebanyakan makan.”

Ucapan itu membuat Nayra sedikit menunduk. Namun kali ini, ia tidak membalas. Fokusnya tetap pada Alea.

Dokter Erik mengeluarkan beberapa obat dari tasnya. “Saya berikan obat pereda nyeri dan vitamin,” jelasnya. “Nanti diminum sesuai aturan.”

Ia lalu menatap Alea dengan lembut. “Nah, putri cantik…” ucapnya pelan. “Mulai sekarang kalau makan, jangan terlalu banyak ya.”

Alea menatap dokter dengan mata masih sedikit berkaca-kaca. “Kenapa, Dok?” tanyanya polos.

Dokter Erik tersenyum. “Karena perut Alea belum kuat kalau makan banyak sekaligus. Jadi harus pelan-pelan… sedikit-sedikit, tapi sering.”

Alea terdiam sejenak. Lalu perlahan, ia mengangguk kecil. “Iya, Dokter,” jawabnya pelan.

Senyum tipis mulai muncul di wajahnya. Melihat itu Nayra akhirnya benar-benar menghela napas lega. Tangannya mengusap lembut rambut Alea.

“Anak pintar…” bisiknya.

Di sisi lain, Arsen memperhatikan semua itu dalam diam. Tatapannya bergeser dari Alea dan Nayra.

Lagi-lagi sesuatu dalam dirinya terasa berubah. Bukan sekadar tanggung jawab. Tapi mulai menyerupai rasa ingin melindungi.

Sementara itu, Kakek Sanjaya tersenyum tipis melihat Alea yang mulai tenang.

“Syukurlah…” gumamnya.

Kakek Sanjaya berdiri perlahan, menatap Arsen dan Nayra secara bergantian.

“Kalau Alea sudah tidak apa-apa…” ucapnya tenang. “Kalian juga sebaiknya istirahat.” Ia berhenti sejenak, "lanjutkan malam pertama kalian.”

Kalimat itu langsung membuat suasana membeku. Nayra seketika menegang, wajahnya memerah dalam sekejap.

Sementara Arsen hanya menghela napas pelan, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. Tiba-tiba...

“Apa!”

Suara Raya tiba-tiba memecah keheningan. Matanya terbelalak lebar, mulutnya hampir terbuka sempurna.

“Malam pertama!” ulangnya dengan nada tidak percaya. “Maksudnya?”

“Raya, sebaiknya kamu tidur,” jawab Nayra cepat sambil mengalihkan pembicaraannya.

Kakek Sanjaya justru terlihat santai.

“Hahaha... sudah lah Raya kamu masih kecil, sebaiknya kamu tidur saja?” balasnya sambil terkekeh.

Raya langsung menjawab, "baik, eyang," jawabnya singkat.

Satu per satu mereka mulai keluar dari kamar. Lampu diredupkan. Alea sudah terlelap, napasnya mulai teratur. Di sampingnya, Raya ikut berbaring. Matanya perlahan terpejam, meski di dalam hatinya masih penuh tanda tanya. Tentang malam pertama

Namun rasa kantuk akhirnya mengalahkan rasa penasarannya.

Tak lama kamar itu benar-benar hening. Di luar Arsen dan Nayra berjalan keluar bersama Kakek Sanjaya. Langkah mereka pelan, suasana koridor terasa tenang, kontras dengan ketegangan tadi.

Tiba-tiba kakek Sanjaya menepuk pelan punggung Arsen. Arsen berhenti dan menoleh. Tatapan Kakek Sanjaya kali ini berbeda... penuh harapan.

“Lakukan yang terbaik, cucuku,” ucapnya pelan.

Arsen terdiam.

“Kasih keturunan untuk keluarga Wiratama,” lanjutnya. “Opa hanya berharap, sebelum Opa tutup usia…” Suara pria tua itu sedikit tertahan. “Opa bisa melihat cicit Opa dari darah keturanan Wiratama. Supaya Opa tenang.”

DEG

Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang Arsen kira. “Opa…” ucap Arsen pelan, nada suaranya berubah. Ia menatap kakeknya dengan serius. “Jangan bicara seperti itu.”

Kakek Sanjaya tersenyum tipis.

Namun Arsen melangkah mendekat sedikit. “Sekarang Opa istirahat saja,” lanjutnya tegas, tapi tetap lembut. “Aku akan memberikan apa yang Opa inginkan.”

Nayra yang berdiri di samping langsung menegang. Wajahnya kembali memanas. Kalimat itu terasa sangat jelas arahnya.

Kakek Sanjaya tertawa kecil. “Hahaha… bagus,” ucapnya puas. “Opa tunggu kabar baiknya.”

Ia lalu berbalik dan berjalan perlahan menuju kamarnya. Meninggalkan Arsen dan Nayra berdua.

Beberapa detik berlalu tanpa suara. Nayra menunduk, memainkan ujung bajunya. Jantungnya kembali berdetak tidak karuan.

Sementara itu, Arsen menatapnya. Lalu ia melangkah mendekat. Satu langkah, sampai jarak mereka kembali terlalu dekat.

“Nayra…”

Suara Arsen rendah. Lebih lembut dari biasanya.

Nayra menelan ludah. “I-iya?”

Arsen sedikit menunduk, menyamakan tinggi pandangan mereka. “Kamu dengar sendiri apa yang Opa mau,” ucapnya pelan.

Nayra langsung ingin mundur, namun tubuhnya seakan terpaku.

Arsen mengangkat tangan perlahan menyentuh dagunya. Mengarahkannya agar menatapnya.

“Tapi…” lanjut Arsen, suaranya lebih dalam. “Aku tidak akan memaksamu.”

Nayra terdiam sedikit terkejut

Arsen tersenyum tipis. “Ini bukan tentang kontrak malam ini,” katanya. “Aku ingin… kamu juga mau.”

Kalimat itu, justru membuat jantung Nayra semakin tidak tenang. Karena untuk pertama kalinya Arsen tidak terdengar dingin.

Melainkan… tulus, hening kembali jatuh di antara mereka. Namun kali ini bukan canggung. Melainkan penuh sesuatu yang belum terucap.

Dan perlahan, Arsen menggenggam tangan Nayra.

“Masuk,” ucapnya pelan.

Nayra tidak menolak. Ia hanya mengangguk kecil fan malam itu, keduanya kembali ke kamar. Dengan perasaan yang tidak lagi sama seperti sebelumnya.

1
Arditya
Buku ini bagus ceritanya. Authornya mendalami banget ya sama cerita ini. lanjut thor sampai ratusan bab.
Vhiie Chavtry
suka banget, ada gambar visualnya di babnya... semangat Thoor😍
Vhiie Chavtry
aku suka banget sama Alea...hheee

semangat, lanjut thoor😄👍
Vhiie Chavtry
Ceritanya sangat menarik, dan relate... semangat author. recommended bangt sih😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!