NovelToon NovelToon
"Transmigrasi: Putri Lemah Berhati Bar-Bar!"

"Transmigrasi: Putri Lemah Berhati Bar-Bar!"

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: acep maulana

PENGUMUMAN PENTING!

Saya Acep Maulana memohon maaf kepada para pembaca. Karena satu dan novel ini akan saya Remake Total.
Saya sadar masih banyak belajar sebagai pemula, dan saya ingin memberikan karya yang lebih layak untuk kalian baca. Versi baru akan segera hadir dengan judul yang sama namun dengan kualitas tulisan yang jauh lebih baik.

Sampai jumpa di versi terbaru yang lebih bar-bar!

‎"Sial beneran! Erika, mantan agen rahasia yang energinya tak habis-habis, malah transmigrasi ke dalam novel tragis menjadi Rosalind von Astride, sang Putri Terbuang yang lemah dan sakit-sakitan!
‎Lebih parahnya lagi, keluarganya adalah kumpulan orang 'Tampan tapi Telmi (Telat Mikir)' yang ditakdirkan hancur total dalam dua tahun. Beruntung, Erika punya Sistem Makan Melon (Gosip) yang bisa membongkar semua rahasia musuh.
‎Sambil menikmati martabak diskon dari Ruang Sistem, Erika bertekad merombak takdir tragis keluarganya. Tapi masalahnya... radio batin Erika ternyata bocor ke seluruh keluarganya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vonis di Atas Tanah Berdarah

​Setelah debu pertempuran mereda dan jeritan Baron Malvin Sandro yang memilukan perlahan berubah menjadi erangan putus asa, suasana di halaman Panti Asuhan Gema Harapan berubah total. Jika beberapa menit yang lalu tempat ini dipenuhi oleh kabut ketakutan yang mencekik, kini atmosfer berganti menjadi sebuah harapan yang bergetar hebat.

​Satu per satu warga Desa Grier, yang selama ini bersembunyi di balik pintu-pintu kayu yang tertutup rapat, mulai melangkah keluar. Langkah mereka ragu pada awalnya, namun saat melihat sosok ksatria Wiraatmadja yang berdiri kokoh layaknya benteng, keberanian mereka muncul. Seorang pria tua dengan punggung bungkuk dan tangan yang kasar akibat kerja paksa di ladang Baron, menjadi yang pertama maju. Ia melangkah ke tengah halaman, lalu dengan gemetar, ia menjatuhkan lututnya ke tanah yang dingin.

​Tindakan itu memicu gelombang manusia. Seperti gandum yang tertiup angin kencang, satu per satu warga desa—ibu-ibu yang menggendong bayi, para buruh, hingga pemuda yang tadi terluka—berlutut serempak memenuhi halaman panti yang luas.

​"Yang Mulia Pangeran... kami... kami tidak punya apa-apa untuk membalas kebaikan ini..." suara pria tua itu parau, bergetar oleh emosi yang tertahan selama bertahun-tahun. "Selain rasa terima kasih kami yang tidak akan pernah habis seumur hidup kami..."

​Seorang ibu yang berada di dekatnya menunduk dalam, dahinya nyaris menyentuh debu. "Kami bersumpah... akan mengingat hari ini sampai kami masuk ke liang lahat... Terutama kalian para bangsawan agung... yang sudi turun langsung ke tempat kotor dan terpencil seperti ini... demi nyawa anak-anak yatim kami..."

​Pemuda desa yang lengannya tadi tersayat belati Baron menggertakkan giginya menahan perih, namun ia memaksakan diri untuk ikut berlutut. "Kami selama ini hanya bisa diam karena ketakutan... Namun hari ini... kalian memberi kami keberanian untuk kembali berdiri sebagai manusia."

​Suasana menjadi hening, sebuah keheningan yang penuh makna dan penghormatan mutlak. "Hormat kami kepada Yang Mulia Pangeran Pertama!" teriak warga serempak. "Hormat kami kepada keluarga besar Duke Wiraatmadja! Tuan Muda Xander! Tuan Julian! Hormat kami kepada Tuan Yanuar Mahesa, tuan Liandra Dirgantara, dan Tuan Arga Wicaksana!"

​Gema suara mereka memantul di dinding-dinding panti, seolah-olah roh-roh penderitaan di tempat itu baru saja dilepaskan.

​Wibawa Para Pelindung

​Pangeran Pertama, Riski Pratama, melangkah sedikit ke depan. Mantel kekaisarannya yang berwarna emas kusam berkibar ditiup angin malam. Tatapannya yang biasanya sedingin es kini tampak sedikit lebih hangat, mencerminkan sisi bijaksana dari seorang calon kaisar.

​"Bangkitlah," suara Riski tegas namun tidak kasar. "Kalian tidak perlu berlutut untuk sebuah keadilan yang memang seharusnya sudah menjadi hak kalian sejak lahir. Kekaisaran ada untuk melindungi rakyatnya, bukan untuk menjadi penindas."

​Xander Wiraatmadja tetap berdiri diam di samping Lily, namun matanya yang ungu tajam menatap warga satu per satu, seolah sedang mencatat setiap wajah yang ia lindungi.

​"Mulai hari ini... tidak akan ada lagi yang berani menindas kalian di tanah ini," nada suara Xander rendah, namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah. "Tapi... kalian juga harus belajar untuk berani menjaga tanah kalian sendiri. Keadilan tidak hanya datang dari pedang kami, tapi dari persatuan kalian."

​Julian menyeringai tipis, sambil menyarungkan pedangnya yang masih bersih dari darah. "Jangan sampai kami harus memacu kuda jauh-jauh ke sini lagi hanya untuk melihat kalian kembali diinjak-injak oleh tikus tanah berbaju sutra."

​Yanuar Mahesa mengangguk mantap, mengepalkan tangannya ke udara. "Kalau kalian kuat bersama, tidak ada Baron kecil atau bangsawan korup mana pun yang bisa menyentuh kalian lagi. Ingat itu!"

​Liandra Dirgantara memberikan senyuman lembut yang menenangkan hati para ibu di sana. "Keberanian kalian untuk keluar dari rumah dan mendukung anak-anak ini hari ini... jauh lebih berharga daripada kekuatan senjata kami."

​Arga Wicaksana, yang sedang merapikan tas peralatannya, menyilangkan tangan di dada. "Dan ingatlah selalu... keadilan bukanlah sebuah hadiah gratis dari langit. Keadilan adalah sesuatu yang harus terus dijaga dan diperjuangkan setiap hari."

​Para warga semakin terharu. Mereka melihat para bangsawan ini bukan lagi sebagai sosok asing yang menakutkan, melainkan sebagai pelindung sejati yang diutus oleh takdir.

​Scene: Kehancuran Klan Sandro

​Tiba-tiba, kedamaian sesaat itu interupsi. Suara derap kuda yang tergesa-gesa terdengar dari arah gerbang desa.

DUK! DUK! DUK!

Pasukan ksatria kavaleri Wiraatmadja kembali dari arah kediaman Baron Malvin. Namun kali ini, mereka tidak kembali dengan tangan kosong.

​Sebuah kereta kuda mewah yang dipaksakan melaju cepat berhenti mendadak di depan panti. Seorang wanita paruh baya dengan gaun sutra ungu yang sangat mahal—yang kini sudah kotor dan koyak—diseret turun secara kasar oleh para ksatria. Perhiasan berliannya berantakan, dan rambutnya yang tertata rapi kini kusut masai. Itu adalah Istri Baron Malvin.

​Di belakangnya, dua pemuda bangsawan yang tampak sangat ketakutan juga ditarik paksa. Mereka adalah putra-putra Baron yang selama ini hidup dalam kemewahan hasil keringat dan darah warga Grier.

​"BERANI-BERANINYA KALIAN MENYENTUHKU DENGAN TANGAN KASAR ITU!" teriak Istri Baron dengan suara melengking penuh histeria. "Aku adalah istri sah seorang Baron! Kalian akan digantung karena menghinaku!"

​Seorang ksatria Wiraatmadja menekan bahunya dengan keras hingga wanita itu jatuh berlutut di tanah yang berdebu. "Mulutmu terlalu kotor untuk seseorang yang hidup dari memeras penderitaan rakyat kecil," desis ksatria itu dingin.

​Putra sulung Baron, yang biasanya sombong, mencoba melakukan perlawanan lemah. "Kami tidak melakukan apa-apa! Kami tidak tahu soal penggusuran ini! Lepaskan kami!"

​BRAK!

​Yanuar Mahesa melangkah maju dan menendang lutut pemuda itu hingga ia tersungkur. Yanuar menatapnya dengan pandangan dingin yang mematikan. "Tidak melakukan apa-apa? Jadi, kemewahan yang kau pakai dan pesta yang kau adakan setiap malam itu jatuh dari langit? Berarti semua kesaksian warga tentang cambukan mu di jalanan desa hanyalah kebohongan belaka?"

​Pemuda itu langsung terdiam membisu, wajahnya pucat pasi melihat tatapan Yanuar yang seperti harimau lapar.

​Istri Baron menoleh ke samping dan melihat suaminya, Malvin Sandro, sudah terkapar hancur di tanah dengan tangan patah dan wajah penuh memar. Seluruh dunianya runtuh seketika. "M-Malvin... selamatkan aku... katakan pada mereka ini semua salah paham..."

​Baron Malvin hanya bisa menunduk, tidak berani menatap istrinya, apalagi menatap para ksatria yang mengepungnya. Ia tahu, klannya baru saja dihapus dari peta kekaisaran.

​Keputusan Sang Singa Muda

​Pangeran Riski Pratama menatap seluruh pemandangan menyedihkan itu dengan pandangan yang tidak memiliki belas kasihan sedikit pun. Baginya, ini adalah pembersihan yang memang sudah seharusnya dilakukan.

​"Seluruh keluarga Baron Malvin Sandro..." Riski menjeda kalimatnya, memberikan tekanan yang luar biasa berat pada atmosfer. "...mulai detik ini secara resmi ditahan atas tuduhan makar, penindasan rakyat, dan korupsi dana wilayah."

​Julian melirik ke arah Xander yang masih memegangi bahu Lily. "Xander, bagaimana menurutmu? Langsung kita selesaikan di sini sebagai contoh bagi bangsawan lain, atau kita bawa pulang ke ibu kota?"

​Xander menatap keluarga Baron satu per satu. Ia melihat putra-putra Baron yang masih sempat-sempatnya menatap warga dengan kebencian tersembunyi. Ia lalu melirik ke arah Lily yang masih memegangi mantelnya dengan tangan gemetar.

​[Batin Xander:]

"Mereka bukan hanya bersalah secara pasif. Mereka adalah akar yang memelihara monster ini. Jika aku membiarkan mereka di sini, kemarahan warga akan membunuh mereka secara brutal, atau mereka akan melarikan diri untuk membalas dendam di masa depan. Tidak... batin Rosalind benar. Penjahat seperti mereka butuh pengadilan yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar kematian cepat."

​Xander melangkah maju, kehadirannya membuat keluarga Baron itu merapat ketakutan.

​"Kita bawa mereka," suara Xander rendah namun bergetar oleh amarah yang terkontrol. "Ke kediaman utama Duke Wiraatmadja."

​Arga Wicaksana sedikit mengangguk, ia tahu apa artinya itu. "Pengadilan keluarga Duke... ya... tempat di mana rahasia paling gelap dipaksa keluar."

​Yanuar tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat tidak ramah. "Bagus... sudah lama aku tidak melihat 'pengadilan bawah tanah' klanmu, Xander. Ini akan menjadi tontonan yang menarik."

*​*Julian tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat menyeramkan di tengah malam yang sunyi. "Kasihan sekali mereka... masuk ke tempat itu... aku rasa mereka akan memohon untuk segera dibunuh saja daripada harus bertahan di sana."

​Riski Pratama menutup diskusi itu dengan keputusan mutlak. "Diputuskan. Seluruh keluarga Baron Malvin Sandro akan dibawa ke kediaman Duke Wiraatmadja dalam pengawalan ketat. Di sana... mereka akan diadili secara menyeluruh."

​Penutup: Malam yang Gelap di Grier

​Keluarga Baron menjerit histeris. Sang istri menangis memohon ampun, putra-putranya meronta, namun tidak ada satu pun orang di halaman itu yang memberikan belas kasihan. Hati warga Desa Grier telah lama mati rasa terhadap air mata palsu keluarga tersebut.

​Rantai besi berat dipasang di pergelangan tangan mereka. Kereta tahanan jeruji besi disiapkan di tengah malam yang dingin. Saat mereka diseret masuk ke dalam kereta, seluruh warga desa hanya berdiri diam. Mereka menatap prosesi itu tanpa suara, sebuah kesunyian yang lebih menyakitkan daripada makian.

​"Itulah balasan yang pantas..." gumam seorang warga pelan. "Atas setiap butir gandum yang mereka curi dari mulut anak-anak kami."

​Xander berbalik, sama sekali tidak melihat ke arah kereta tahanan itu lagi. Ia memandang Lily dan Ibu Sarah untuk terakhir kalinya sebelum berangkat. "Besok, ksatria lain akan datang membawa logistik makanan dan obat-obatan. Pastikan kalian tidur dengan nyenyak malam ini."

​Lily menggenggam ujung jubah Xander sejenak. "Terima kasih... Tuan Ksatria. Tolong... sampaikan terima kasihku juga pada Kak Martha dan Nona Rosalind."

​Xander mengangguk kecil, sebuah gerakan yang hampir tak terlihat, lalu ia melompat ke atas kudanya. Dengan satu isyarat tangan, rombongan besar itu mulai bergerak meninggalkan Desa Grier, membawa serta para tawanan mereka menuju kegelapan yang menanti di kediaman Duke.

​Di bawah langit malam yang pekat, sebuah bab penderitaan di Desa Grier telah resmi berakhir. Namun, bagi keluarga Baron Malvin Sandro, perjalanan menuju neraka yang sebenarnya baru saja dimulai. Di kediaman Duke, telah menunggu seorang gadis dengan batin yang tajam, siap untuk menguliti setiap rahasia busuk yang mereka simpan.

1
acep maulana
hari ini author izin tidak tayang mungkin jam 9 malam tayangan nya hehe
Manusia Ikan
sistem b like :
Manusia Ikan
ooh ada sistem nya😏👍
Manusia Ikan
bro kena mag :v
Manusia Ikan
jangan remehkan kekuatan dari lantai yang licin di kamar mandi😂
Manusia Ikan
ah biasa ini mah😏
Rina Yuli
celana dalam lagi 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rina Yuli
urusan celana dalam pakek mau dibongkar segala lagi 🤣🤣🤣🤣🤣
Rina Yuli: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
acep maulana
sama 2 kk maaf kalau cerita sebelumnya saya hapus 🤣🤣🤣🤣
acep maulana: rekomendasi untuk bab berikutnya hehehe
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Manusia Ikan: hadir thor
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!