Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
Namun, setiap baja memiliki titik retak.
Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan di Balik Sutra
Langkah kaki Adrian yang berat bergema di lorong mansion, memecah keheningan malam yang biasanya ia bagi dengan tawa kecil Nora. Namun malam ini, auranya berbeda. Ada kegelisahan yang memancar dari setiap gerakannya. Ia tidak mencari Nora; ia langsung melesat menuju ruang kerjanya, menutup pintu ganda yang berat itu dengan debuman yang tertahan.
Di dalam, ia segera menyambar ponselnya dan menghubungi satu-satunya orang yang ia percayai untuk menangani kotoran di balik layar: Theo, tangan kanannya yang dingin dan tak banyak bicara.
Di luar pintu, Nora berdiri mematung. Tangannya mendekap sebuah vas kristal berisi mawar merah segar yang baru saja ia petik. Ia berniat mengganti bunga di meja kerja Adrian sebagai kejutan kecil, sebuah tanda syukur atas hari yang indah di taman tadi. Namun, suara bariton Adrian yang terdengar dari balik celah pintu yang sedikit terbuka menghentikan gerakannya.
"Kau harus memastikan rute pengamanan untuk Stella, Theo," suara Adrian terdengar tajam dan penuh penekanan. "Antonio mulai bermain dua kaki dengan keluarga Sullivan. Aku tidak peduli apa yang terjadi pada kesepakatan bisnisnya, tapi Stella tidak boleh tersentuh."
Jeda sejenak. Theo tampaknya menanyakan sesuatu di seberang sana.
"Nora?" Adrian mendengus, sebuah suara yang terdengar seperti belati yang mengiris udara. "Nora adalah tameng yang sempurna, Theo. Selama lima tahun ini, dia telah menjalankan perannya dengan baik tanpa dia sadari. Musuh-musuhku fokus padanya, sementara Stella tetap aman di bayang-bayang. Aku berhutang nyawa pada Stella karena kejadian tujuh tahun lalu, dan aku akan memastikan hutang itu lunas, bahkan jika aku harus menggunakan kakaknya sendiri sebagai tumbal."
Prang.
Hampir saja vas di tangan Nora jatuh jika ia tidak mencengkeramnya hingga buku-buku jarinya memutih. Dunia di sekitar Nora seolah berhenti berputar. Oksigen di paru-parunya mendadak hilang, digantikan oleh rasa dingin yang membekukan darahnya.
Tameng. Tumbal. Hutang budi.
Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan fisik mana pun. Segala kemewahan, setiap gelang emas yang melingkar di tangannya, setiap mutiara yang menghiasi lehernya, dan bahkan setiap ciuman yang ia kira adalah cinta... semuanya hanyalah bayaran untuk seorang penjaga. Ia bukanlah ratu di mansion ini; ia hanyalah satpam yang didandani dengan kain sutra agar peluru musuh tepat sasaran ke arahnya, bukan ke arah adiknya yang "berharga".
Nora menarik napas panjang, mencoba meredam gemuruh di dadanya. Ada sesuatu yang patah di sana, sebuah bunyi retakan yang hanya bisa ia dengar sendiri. Namun, anehnya, air mata tidak turun. Matanya tetap kering, meski hatinya terasa seperti baru saja dicabik-cabik. Ia seolah telah lama mengetahui kebenaran ini di bawah alam sadarnya, namun ia memilih untuk buta demi sebuah ilusi kasih sayang.
Ia mengurungkan niatnya untuk masuk. Dengan gerakan mekanis, ia meletakkan vas mawar itu di atas bufet kayu di dekat pintu, lalu berbalik dan berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang sangat stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang baru saja kehilangan dunianya.
Satu jam kemudian, pintu kamar terbuka. Adrian masuk dengan wajah yang tampak lelah namun matanya menyimpan tatapan nanar saat melihat Nora duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah jendela.
Adrian mendekat, mencoba menyentuh bahu Nora. "Kau belum tidur?"
Nora menoleh. Ia menatap Adrian dengan pandangan yang dalam, mencari sisa-sisa kebenaran di mata pria itu. Namun yang ia temukan hanyalah kegelapan yang sama. Satu hal yang kini menghantui pikirannya adalah penutup mata itu. Selama ini ia mengira itu adalah permainan gairah, sebuah fetish yang disukai Adrian. Namun setelah mendengar percakapan tadi, ia yakin ada alasan yang jauh lebih menjijikkan di baliknya.
"Aku menunggumu," bisik Nora. Suaranya terdengar normal, namun ada nada yang lebih rendah dari biasanya.
Malam itu, Nora bertindak berbeda. Ia tidak lagi menunggu Adrian memulainya. Dengan gerakan yang berani dan provokatif, ia menarik Adrian ke dalam dekapannya. Ia mencium pria itu dengan liar, seolah-olah ingin menghisap nyawa dari bibir yang telah membohonginya selama bertahun-tahun.
Adrian terkejut namun segera terhanyut. Adrenalin dan gairah yang selalu ia rasakan saat bersama Nora meledak. Seperti biasa, sebelum mereka benar-benar menyatu, Adrian meraih kain sutra hitam itu dan mengikatnya di mata Nora. Nora membiarkannya, membiarkan kegelapan menguasai pandangannya untuk terakhir kali.
Mereka bercinta dengan intensitas yang lebih tinggi dari biasanya. Dalam posisi berdiri, bersandar pada dinding kamar yang dingin, Nora merasakan napas Adrian yang memburu di ceruk lehernya. Di tengah kemelut gairah itu, Nora menggunakan kelenturan tubuhnya. Tangannya meraba ke belakang, ke arah laci nakas yang sedikit terbuka tempat Adrian biasanya meletakkan ponselnya.
Dengan gerakan cepat dan presisi, ia menarik kain sutra hitam itu hingga terlepas dari matanya.
Lampu kamar yang remang-remang membuat matanya harus menyesuaikan diri sejenak, namun cahaya dari layar ponsel Adrian yang masih menyala di atas laci langsung menarik perhatiannya. Di sana, terpampang jelas sebuah foto: Stella Leone.
Foto itu bukan sekadar foto wajah. Itu adalah foto Stella mengenakan bikini minim di sebuah pantai, menatap kamera dengan senyum manja. Foto itu masih aktif, membuktikan bahwa Adrian baru saja menatapnya beberapa saat yang lalu—atau mungkin sedang menatapnya saat ia masuk ke dalam tubuh Nora.
Nora mematung. Dunia benar-benar runtuh sekarang. Air mata yang tadi ia tahan sekuat tenaga akhirnya luruh, mengalir deras membasahi pipinya tanpa suara. Ia menangis bukan karena cemburu pada Stella, melainkan karena ia menyadari betapa murahannya harga dirinya di mata pria ini. Ia adalah boneka pengganti yang digunakan untuk memuaskan fantasi pria yang mencintai adiknya.
Adrian yang sedang mencapai puncaknya tidak menyadari perubahan itu sampai ia selesai. Ia menarik napas panjang, menyandarkan keningnya di bahu Nora yang basah. Namun saat ia membuka mata, ia terkejut menemukan Nora sedang menatapnya dengan mata yang sembab dan kain sutra hitam yang sudah tergeletak di lantai.
Adrian terperangah. Ia segera menoleh ke arah ponselnya yang masih menyala terang menampilkan foto Stella. Ia gelagapan, tangannya bergerak cepat untuk menyambar ponsel itu dan mematikan layarnya, namun semuanya sudah terlambat. Pengkhianatan itu sudah telanjang bulat di depan mata Nora.
"Nora... aku..." Adrian mencoba bicara, suaranya serak dan gemetar.
Nora tidak memberikan kesempatan bagi Adrian untuk berbohong lagi. Tanpa sepatah kata pun, ia melepaskan diri dari pelukan Adrian. Dengan tubuh yang masih bergetar dan rasa sakit yang kini merambat ke seluruh jiwanya, ia memungut kain hitam itu dari lantai.
Ia menatap kain sutra itu sejenak—simbol kebutaannya selama ini—lalu melemparkannya ke arah Adrian. Tanpa peduli pada tubuhnya yang tanpa busana, ia berjalan menuju tempat tidur, menarik selimut hingga ke leher, dan tidur memunggungi Adrian.
"Tidurlah, Adrian," suara Nora terdengar sangat dingin dan datar, seolah-olah seluruh emosinya telah terkuras habis dalam satu malam. "Jangan katakan apa pun lagi."
Adrian berdiri terpaku di tengah ruangan, memegang ponselnya yang kini gelap. Ia menatap punggung Nora dengan rasa ngeri yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia adalah penguasa California, namun malam ini, ia merasa seperti pria paling pecundang di dunia. Ia telah merusak tamengnya sendiri, dan ia baru saja menyadari bahwa saat tameng itu patah, ia tidak hanya kehilangan perlindungan—ia kehilangan satu-satunya kebenaran yang pernah ia miliki.
Nora memejamkan mata di dalam kegelapan yang nyata sekarang. Ia tidak lagi butuh kain sutra untuk melihat kegelapan; hatinya kini telah menjadi kegelapan itu sendiri.