No plagiat 🚫
" Di bawah naungan gerbang kuno Lembah Sunyi, He Xueyi berdiri tegak. Jemarinya yang dingin mencengkeram gagang lentera emas yang berpijar redup.
Angin malam menerpa jubah merahnya, namun ia tak bergeming. Baginya, raungan arwah penuh dendam di depannya hanyalah musik pengantar tidur.
Dengan tatapan setajam sembilu, ia bergumam pelan, 'Dendammu adalah bebanku. Masuklah ke dalam lentera, atau hancur menjadi debu tanpa jejak.'"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Transaksi Di Ambang Kegelapan
Langkah kaki itu akhirnya berhenti tepat di depan undakan tangga kristal Paviliun Lentera Abadi. Sosok pria dengan jubah abu-abu gelap berdiri di sana, membiarkan kabut Yin menyapu ujung pakaiannya tanpa rasa takut. Di punggungnya, sebuah pedang lebar bersarung kulit naga tampak hitam pekat, tidak memantulkan cahaya sedikit pun.
"Kau terlambat tiga tarikan napas, Bian Zhi," ucap He Xueyi tanpa menoleh. Tangannya masih sibuk merapikan rantai perak yang menggantungkan lentera ungu di langit-langit.
Bian Zhi berlutut dengan satu kaki, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Hamba memohon ampun, Tuan. Ada gangguan kecil di perbatasan Hutan Terlarang. Seorang kultivator iblis mencoba menghisap esensi arwah yang sedang hamba jemput."
He Xueyi akhirnya berbalik. Gerakannya luwes seperti air, namun auranya seberat gunung. "Dan di mana kultivator iblis itu sekarang?"
Bian Zhi mendongak sedikit, memperlihatkan tatapan matanya yang datar namun tajam. "Sudah menjadi debu di bawah pedang hamba. Esensinya terlalu kotor untuk dibawa ke sini, jadi hamba membiarkannya lenyap ditiup angin lembah."
He Xueyi hanya mengangguk tipis. "Bagus. Aku tidak butuh sampah di paviliun ini."
Bian Zhi berdiri, lalu merogoh kantong sutra di pinggangnya. Ia mengeluarkan sebuah bola cahaya kecil yang berdenyut-denyut lemah—sebuah jiwa yang baru saja ia "selamatkan". Ia menyerahkannya kepada He Xueyi dengan kedua tangan.
"Ini adalah Jenderal Feng dari Kekaisaran Barat. Dia menolak mati karena ingin membalas dendam pada menterinya yang berkhianat. Energinya sangat tidak stabil," lapor Bian Zhi.
He Xueyi menerima bola cahaya itu. Seketika, suhu di dalam paviliun turun drastis. Jiwa sang Jenderal berontak, memancarkan aura merah darah yang pekat. "Dendam... dendam yang sangat murni. Ini akan menjadi bahan bakar yang bagus untuk lentera utama."
"Tuan," Bian Zhi ragu sejenak sebelum melanjutkan. "Di dunia luar, rumor tentang Lembah Sunyi mulai menyebar kembali. Beberapa sekte besar mulai mengirimkan pengintai. Mereka pikir kita menyimpan pusaka keabadian di tempat ini."
He Xueyi tertawa kecil—sebuah suara yang terdengar seperti gesekan es. "Keabadian? Mereka mengejar sesuatu yang bahkan tidak mereka mengerti. Biarkan mereka datang, Bian Zhi. Biarkan mereka mencicipi kabut lembah ini. Jika mereka ingin abadi, aku akan dengan senang hati menjadikan mereka lentera di langit-langit ini selamanya."
Bian Zhi hanya diam. Ia sudah terbiasa dengan kegelapan tuannya. Baginya, He Xueyi bukan sekadar majikan, tapi juga sosok yang menariknya dari kehampaan ratusan tahun yang lalu.
"Bersiaplah," perintah He Xueyi sambil berjalan menuju kolam teratai hitam di belakang paviliun. "Malam ini, bulan akan tertutup awan merah. Arwah-arwah liar akan mencoba mendobrak gerbang. Pastikan pedangmu tidak tumpul, Bian Zhi."
"Nyawa hamba adalah milik Tuan," sahut Bian Zhi mantap.
Di tengah kesunyian Lembah Sunyi, kedua sosok itu berdiri menatap cakrawala yang gelap. Badai spiritual besar akan segera datang, dan hanya mereka berdua yang berdiri di antara dunia manusia dan kehancuran abadi.
He Xueyi memutar tubuhnya, membiarkan jubah putihnya menyapu lantai paviliun yang dingin. Matanya menatap tajam ke arah bola cahaya jiwa Jenderal Feng yang sedang bergetar hebat di tangannya. Energi merah itu seolah ingin mencabik-cabik udara, menunjukkan betapa besar dendam yang ia bawa dari medan perang.
"Bian Zhi," panggil He Xueyi tanpa mengalihkan pandangan.
"Hamba di sini, Tuan," sahut Bian Zhi, masih dalam posisi berlutut satu kaki.
"Kau tahu kenapa aku memilihmu sebagai asistenku di tempat terkutuk ini?" He Xueyi melangkah mendekati kolam teratai hitam yang airnya tidak pernah riak. "Ratusan tahun lalu, kau adalah pendekar yang paling ditakuti di tanah Utara. Kau punya segalanya—nama besar, ilmu pedang yang tak tertandingi, dan ribuan pengikut. Tapi kau memilih untuk membuang semuanya demi satu nyawa yang bahkan tidak bisa kau selamatkan."
Bian Zhi terdiam. Otot-otot di rahangnya mengeras. Masa lalu adalah satu-satunya hal yang bisa membuat pedang di punggungnya bergetar tanpa ditarik. "Hamba sudah melupakan siapa diri hamba yang dulu, Tuan. Di Lembah Sunyi, hamba hanya bayangan yang mengikuti cahaya lentera Anda."
"Jangan berbohong padaku," He Xueyi mendesis, namun nadanya tidak marah. "Kau tetap di sini karena kau berharap suatu hari nanti, lentera di paviliun ini akan menyalakan kembali jiwa yang kau cari itu. Kau membayar kesetiaanmu dengan keabadian yang membosankan."
He Xueyi kemudian melemparkan bola jiwa Jenderal Feng ke tengah kolam. Bukannya tenggelam, jiwa itu justru tersedot ke dalam salah satu kuncup teratai hitam yang langsung mekar dengan pendaran ungu gelap. Seketika, aroma anyir darah tercium di udara paviliun, bercampur dengan wangi cendana yang berat.
"Jiwa Jenderal ini akan menjadi penjaga gerbang lapis ketiga malam ini," lanjut He Xueyi. "Gunakan dia jika para pengintai dari sekte besar itu berani melangkah lebih jauh dari Pohon Tanpa Daun."
Bian Zhi berdiri, menatap teratai yang baru mekar itu. "Sekte Pedang Langit dan Aliran Awan Putih... mereka sangat rakus, Tuan. Mereka mendengar desas-desus bahwa Anda menyimpan Pil Pemurnian Roh yang bisa membawa seseorang langsung ke ranah Deity. Mereka tidak akan berhenti hanya karena kabut."
He Xueyi tersenyum miring—sebuah pemandangan yang langka sekaligus mengerikan. "Pil Pemurnian Roh? Mereka ingin terbang ke langit, padahal kaki mereka masih berlumuran lumpur keserakahan. Jika mereka ingin pil itu, katakan pada mereka... harganya adalah seluruh esensi spiritual mereka untuk koleksi lenteraku."
He Xueyi berjalan menuju balkon paviliun yang menghadap langsung ke arah jurang kabut. Di tangannya, lentera perak kuno itu kembali berpendar. "Persiapkan barisan pertahanan, Bian Zhi. Aku merasakan getaran di segel gerbang utama. Ada seseorang yang memiliki energi Yang yang sangat kuat sedang mencoba mendobrak masuk. Ini bukan sekadar pengintai biasa."
Bian Zhi segera menghunus pedang besarnya. Logam hitam pedang itu seolah menghisap cahaya di sekitarnya. "Apakah hamba perlu menghabisinya sekarang, Tuan?"
"Jangan dulu," He Xueyi mengangkat tangannya. "Biarkan dia masuk sedikit lagi. Aku ingin melihat apakah keberaniannya sebanding dengan kualitas jiwanya. Sudah lama aku tidak melihat manusia yang begitu nekat menantang kematian demi sebuah rumor."
Lembah Sunyi tiba-tiba bergetar. Suara raungan angin di luar paviliun berubah menjadi jeritan ribuan hantu yang lapar. Kabut Yin yang tadinya tenang kini bergulung-gulung seperti ombak raksasa, siap menelan siapa pun yang tidak diundang.
"Malam ini akan menjadi malam yang panjang, Bian Zhi," bisik He Xueyi. "Pastikan paviliun ini tetap sunyi. Aku benci keributan yang tidak perlu."
"Hamba mengerti, Tuan," Bian Zhi menghilang ke dalam kegelapan kabut dengan kecepatan yang tidak masuk akal, meninggalkan He Xueyi sendirian yang berdiri megah di bawah ribuan lentera yang berayun pelan.
Di kejauhan, sebuah ledakan energi emas menghantam kabut hitam, menandakan bahwa sang penyusup telah tiba. Perang antara kehidupan yang keras kepala dan kematian yang dingin baru saja dimulai di ambang pintu Lembah Sunyi.