NovelToon NovelToon
Suami Penjudi, Istri Terbeli

Suami Penjudi, Istri Terbeli

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan
Popularitas:864
Nilai: 5
Nama Author: Bagus Effendik89

Larasati mengira pernikahan adalah pelabuhan aman dari badai hidupnya. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang ia panggil suami, Bagaskara, justru menjadi iblis yang menyeretnya ke neraka.



Terlilit hutang judi yang tak berujung, Bagas melakukan hal yang paling tak ter maafkan. menjadikan kesucian istrinya sebagai jaminan pelunasan.

Di balik jeruji kontrakan kumuh Jakarta. Larasati terjepit antara rintihan harga diri yang diinjak-injak dan ancaman fitnah yang menghancurkan nama baik orang tuanya.

Sementara itu, di sebuah rumah mewah, Rizki Pratama, sang pewaris takhta bisnis yang baru saja mengikat janji palsu demi bakti. Merasakan nyeri yang sama di dadanya. Ada jiwa yang menjerit meminta tolong, jiwa yang pernah ia temukan di tepi sungai namun ia lepaskan karena kata "bukan jodoh".

Saat kehormatan telah berpindah tangan dan pengkhianatan menjadi mata uang. Akankah doa di antara dua hati yang terpisah mampu menuntun mereka pada sebuah pertemuan berdarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhitungan Maut di Ambang Janji

Langit di atas Desa Sukamulya sore itu tampak tembaga. Seolah-olah awan sedang menahan beban yang sangat berat. Angin pegunungan yang biasanya membawa aroma bunga kopi.

Kali ini terasa dingin dan kering. Menusuk hingga ke pori-pori di teras rumah kayunya. Pak Tarno duduk termenung di depannya. Segelas kopi hitam yang sudah dingin tak disentuhnya sama sekali.

Di sampingnya, Bu Rahayu duduk dengan gelisah, jemarinya tak henti memilin ujung jaritnya yang kusam. Wajahnya berkerut tanda ke khawatiran mendalam. Bibirnya agak pucat hanya mengatup tak mampu berkata-kata.

Pak Tarno baru saja menempuh perjalanan jauh ke desa tetangga. Menemui Mbah Wiguno, seorang sesepuh yang dikenal sebagai orang pintar yang ahli dalam menghitung weton dan hari baik pernikahan.

Namun, kepulangan Pak Tarno tidak membawa senyum. Wajahnya keras, rahangnya terkatup rapat. Menyimpan badai yang siap meledak. Menyimpan deru gemuruh yang suap runtuh.

"Bapak... apa kata Mbah Wiguno tadi?" suara Bu Rahayu memecah kesunyian dengan nada gemetar.

Pak Tarno tidak langsung menjawab. Ia mengambil sebatang rokok lintingan. Menyalakannya dengan tangan yang sedikit gemetar. Asap tebal mengepul, menutupi wajahnya yang tampak semakin menua dalam hitungan jam.

"Mbah Wiguno itu sudah pikun," geram Pak Tarno akhirnya. Suaranya berat dan penuh penolakan.

"Dia hanya bicara omong kosong. Menakut-nakuti orang tua saja." Kembali kepul asap dari bibir Pak Tarno semakin pekat.

Bu Rahayu merasakan jantungnya mencelos. Sebagai wanita desa yang dibesarkan dengan kepercayaan kuat pada hitungan leluhur. Kata-kata menakut-nakuti biasanya berarti sebuah peringatan buruk.

"Apa hitungannya tidak ketemu, Pak? Apakah tanggal lahir Laras dan Nak Bagas tidak cocok?" Ucap Bu Rahayu dengan wajah takut, tapi tetap penasaran.

Pak Tarno membanting asbak tanah liat di atas meja kayu dengan keras hingga retak, "Bukan tidak cocok lagi, Bu! Dia bilang... jika Laras dan Bagas menikah. hasil hitungan neptu mereka jatuh pada Pati, kematian."

Ramalan yang Menggentarkan

Keheningan yang mematikan seketika menyergap teras itu. Bu Rahayu menutup mulutnya dengan tangan. Air mata bening mulai menggenang di pelupuk matanya. Dalam tradisi mereka, Pati adalah tingkatan terburuk dalam perhitungan pernikahan.

Ia bisa berarti kematian salah satu pasangan. Kebangkrutan total atau malapetaka yang tidak berujung bagi seluruh keluarga. Bahkan bisa berarti lebih buruk dari itu.

"Mbah Wiguno bilang, sisa umur keluarga kita akan habis jika pernikahan ini dipaksakan," lanjut Pak Tarno dengan nada sinis yang dipaksakan.

"Dia menyarankan agar lamaran dibatalkan. Dia bilang... Bagas bukan jodoh yang dikirim oleh langit, melainkan ujian yang dikirim oleh bumi yang haus darah."

"Ya Gusti... Pak," rintih Bu Rahayu.

"Mungkin ini peringatan. Sejak kejadian di sungai itu, hatiku sebenarnya tidak tenang. Laras sering melamun, dan Nak Bagas... dia memang baik, tapi kenapa rasanya semuanya terjadi terlalu cepat? Mungkin kita harus menunda, Pak. Kita cari hari baik yang lain, atau kita pikirkan lagi."

Pak Tarno berdiri dengan gusar. Ia berjalan mondar-mandir di teras yang sempit itu. Egonya sebagai kepala keluarga sedang dipertaruhkan. Ia sudah kadung bangga pada Bagas.

Ia sudah memamerkan calon menantu orang kota itu pada seluruh perangkat desa. Bagaimana mungkin ia membatalkan semuanya. Hanya karena hitungan di atas kertas kusam seorang dukun tua?

"Tidak ada penundaan!" suara Pak Tarno meninggi. Membuat burung-burung di pohon sawo depan rumah beterbangan kaget.

"Laras harus segera menikah. Kamu lihat sendiri kan, preman-preman dari kota itu mencarinya? Hanya Bagas yang bisa melindunginya! Hanya Bagas yang punya kekuatan untuk membawa Laras keluar dari bahaya desa ini!"

Ambisi di Balik Ketakutan

Pak Tarno sebenarnya ketakutan. Namun ketakutannya disamarkan oleh ambisi. Ia telah melihat kemewahan yang dibawa orang tua Bagas pagi tadi.

Ia melihat emas, kain sutra, dan tumpukan uang. Di mata Pak Tarno, Bagas adalah sekoci penyelamat bagi keluarganya yang selama ini hidup pas-pasan. Ia tidak sadar bahwa sekoci itu bocor dan penuh dengan rayap.

"Tapi Pak... ini soal nyawa anak kita. Kalau benar hitungan itu..." Bu Rahayu mencoba memelas, memegang lengan suaminya yang keras.

"Hitungan itu hanya buatan manusia, Bu! Nasib ada di tangan Tuhan, bukan di tangan Mbah Wiguno!" Pak Tarno menepis tangan istrinya.

"Aku sudah memutuskan. Pernikahan akan dilangsungkan minggu depan. Tanpa melihat hari baik. Tanpa menunggu bulan depan. Semakin cepat Laras sah menjadi istri Bagas, semakin cepat dia aman di Jakarta."

Bu Rahayu terisak pelan. Kegelisahan yang selama ini ia pendam kini berubah menjadi firasat buruk yang nyata. Ia teringat wajah Laras yang pucat saat lamaran tadi pagi.

Ia teringat betapa Laras tidak banyak bicara. Seolah jiwanya sudah pergi terlebih dahulu sebelum raganya diserahkan. Dalam hati Bu Rahayu akan mencari kesempatan bicara dengan Laras nanti malam. Saat suaminya yang keras hati itu sudah terlelap.

"Apakah Bapak tidak merasa aneh?" bisik Bu Rahayu di sela tangisnya. "Nak Bagas selalu terburu-buru. Orang tuanya juga... mereka seolah ingin segera membawa Laras pergi. Seperti... seperti mereka sedang mengejar sesuatu."

"Tentu saja mereka terburu-buru! Bagas itu orang sibuk, dia punya bisnis besar di kota!" Pak Tarno membela dengan membabi buta.

"Sudah, jangan banyak bicara lagi. Mulai besok, siapkan semuanya. Aku akan ke balai desa untuk mengurus surat-suratnya. Persetujuan wali ada di tanganku, dan aku menyetujuinya!"

Takdir yang Dipaksakan

Di dalam kamar, di balik pintu kayu yang tertutup rapat, Larasati menyandarkan telinganya. Ia mendengar setiap kata. Setiap bentakan ayahnya dan setiap rintihan ibunya. Air mata mengalir deras membasahi pipinya.

Pati, kematian.

Kata itu bergema di kepalanya seperti lonceng pemakaman. Laras merasa seolah ia sedang berjalan menuju tepi jurang dengan mata tertutup dan orang yang paling ia cintai Ayahnya sendiri. Aalah orang yang mendorongnya dari belakang tanpa ampun dan belas kasihan. Demi ego dan kemewahan yang ia lihat, tanpa tahu itu semua palsu.

Laras merogoh saku bajunya. Menyentuh sapu tangan yang tertinggal di sungai saat ia pingsan yang kini sudah dicuci bersih. Ia teringat pemuda pembawa katapel itu lagi.

Hatinya berbisik, memohon agar pemuda itu datang kembali dan menariknya dari lingkaran setan ini. Namun ia tahu, itu hannyalah mimpi di siang bolong. Bahkan wajahnya saja ia tak begitu jelas mengingat. Namanya pun ia tak sempat mengetahui.

Pak Tarno, dengan nekat dan keras kepala, telah memutuskan untuk menantang alam. Ia mengabaikan peringatan langit demi janji manis seorang penipu.

Ia tidak tahu bahwa Bagas sedang tertawa di penginapannya, merencanakan bagaimana cara menjual tanah Pak Tarno segera setelah akad nikah selesai.

Malam itu, Desa Sukamulya diselimuti kesunyian yang mencekam. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada suara burung hantu. Hanya ada suara angin yang berdesis.

Melewati celah-celah rumah, seolah sedang meratapi nasib seorang gadis yang akan dikurbankan di atas altar keserakahan. Pak Tarno tetap duduk di teras hingga larut. Matanya menatap tajam ke arah kegelapan, merasa menang atas ramalan dukun tua. Tanpa menyadari bahwa ia baru saja membuka pintu rumahnya untuk iblis yang akan menghancurkan segalanya.

"Minggu depan," gumam Pak Tarno dingin.

"Laras akan menjadi nyonya Bagaskara dan semua masalah kita akan selesai."

Ia salah. Masalahnya baru saja dimulai, dan harganya adalah sesuatu yang tak sanggup ia bayar dengan seluruh harta di dunia ini. Bahkan mungkin nyawa seluruh keluarganya.

1
Surti
ini baru seru👍
Bagus Effendik: terima kasih ya kak
total 1 replies
Surti
yang ini lebih menegangkan
Bagus Effendik: wkwkwkkwk seru dong kak🤭
total 1 replies
Anik Makfuroh
asyik sih jadi betah baca💪👍
Bagus Effendik: hehe harus dong🤭
total 1 replies
Anik Makfuroh
ngeri juga bab yang ini👍🤣
Bagus Effendik: hehe 🤭
total 1 replies
Anik Makfuroh
dasar permuda tua-tua mupeng🙏 wkwkkwk👍 mantap
Bagus Effendik: hehe ia tuh Permadi
total 1 replies
Anik Makfuroh
mantap nih penuh ketegangan dan air mata
Anik Makfuroh
siap baru lagi kayaknya seru nih penuh ketegangan👍
Bagus Effendik: benar kak👍
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
sangat suka 👍👍👍
Bagus Effendik: terima kasih ya
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
wow 👍 menegangkan😄🤭
Bagus Effendik: hehe awas baper
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
mantap nih baru
Bagus Effendik: asyiap🤭
total 1 replies
Larasz Ati
walah thor mantap bacaan khusus sebelum bobok ini🤭
Bagus Effendik: hehehe jangan baper tapi kak🤭
total 1 replies
Larasz Ati
menang banyak dong si bagas nih
Bagus Effendik: beneran menang banyak
total 1 replies
Larasz Ati
up terus thor👍👍👍
Bagus Effendik: siap kak
total 1 replies
Larasz Ati
keren si Rizki ini👍
Bagus Effendik: bener cowok sejati👍😄
total 1 replies
Larasz Ati
jadi bingung mau baca yang mana dulu dari novel-novelmu keren-keren sih👍 mantap
Bagus Effendik: baca satu satu kak🤭
total 1 replies
Larasz Ati
luh kok merinding bacanya kasihan laras lah namanya sama aku thor kamu terinspirasi aku ya hayo ngaku😄😄😄😄 👍
Bagus Effendik: awas baper kak hehe🤭
total 1 replies
Larasz Ati
kayaknya lebih seru lagi yang ini
Bagus Effendik: siap kak makasih
total 2 replies
Larasz Ati
wanjay baru lagi nih gerak cepat ya thor🤭
Bagus Effendik: hehe ia kak mumpung ada ide
total 1 replies
Setyo Nugroho
yah jadinya laras sama bagas dong
Bagus Effendik: hehehe kayaknya sih begitu🤭
total 1 replies
Setyo Nugroho
semakin merinding 🤭😄👍
Bagus Effendik: pegangan kak biar nggak jatuh😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!