NovelToon NovelToon
Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Kultivasi
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: Girenda Dafa Putra

Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.

Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.

Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ia Memilih Tetap di Sampingku

...Chapter 31...

Ling Xu menggelengkan kepala.

Bukan karena tidak setuju, melainkan karena ia tidak mengerti, karena ia tidak akan pernah bisa mengerti, mengapa seorang pria yang bisa menghasilkan keping Lintang dengan kecepatan yang tidak masuk akal, yang bisa melesat ke ranah Langit Terang kapan pun ia mau, yang bisa meninggalkannya di debu jika ia ingin, memilih untuk tetap berada di tingkat yang sama dengannya, berbagi keping yang seharusnya menjadi miliknya sendiri, hanya karena "setengah malas" dan "tidak ingin ditinggal sendirian". 

"Dasar pemalas," gumamnya, tetapi di sudut bibirnya, senyum yang tidak bisa ia sembunyikan mulai merekah—senyum yang tidak lagi pahit, tidak lagi getir, melainkan senyum yang hangat seperti secangkir teh jahe di malam yang dingin, senyum yang lahir dari kesadaran bahwa di dunia yang kejam dan penuh pengkhianatan ini, ia tidak sendirian, bahwa di sampingnya ada seorang pria pemalas yang memilih untuk tidak menjadi yang terkuat sendirian, tetapi menjadi cukup kuat bersama.

Kota udara ketiga yang mereka datangi—Fengdu, nama yang terdengar seperti kutukan yang diucapkan oleh orang yang sedang sekarat.

Berbeda sama sekali dari dua kota sebelumnya; di sini, awan-awan yang menopang fondasi kota bukan berwarna putih atau kelabu melainkan merah kecoklatan, seperti kain kafan yang direndam dalam darah yang mengering terlalu lama, dan dari kejauhan, sebelum kaki mereka sempat menginjak gerbang utama, Ling Xu sudah bisa mencium bau yang tidak asing di telinganya.

Bau anyir, bau logam, bau kematian yang merayap masuk ke pori-pori kulit seperti kabut yang enggan pergi. 

"Selamat datang, para pengembara," sambut seorang komandan berjubah besi dengan suara datar yang terdengar seperti orang yang sudah terlalu sering menyambut tamu yang tidak akan pernah pulang, matanya yang sayu menatap Ling Xu dan Huan Zheng dari atas ke bawah dengan tatapan yang tidak lagi mengandung rasa penasaran atau permusuhan, hanya kelelahan yang sudah membusuk menjadi kebiasaan.

“Kalian sekarang adalah tentara bayaran kota ini. Tidak ada pilihan. Tidak ada pengecualian. Jika kalian menolak—" 

Ia menghela napas panjang, lalu menunjuk ke arah barak di belakangnya yang dipenuhi oleh sosok-sosok yang duduk lesu dengan mata kosong. 

"... Kalian akan menjadi perisai pertahanan. Dan percayalah, menjadi perisai di sini lebih buruk daripada mati di medan perang." 

Huan Zheng yang berdiri di samping Ling Xu dengan jubah compang-camping dan tudung menutupi setengah wajahnya, hanya mengangkat bahu malas—karena ia sudah terlalu sering menghadapi situasi seperti ini di masa lalunya sebagai salah satu dari tiga Roda Kultivasi, di mana dunia memaksamu untuk bertarung meskipun kau hanya ingin tidur—lalu berbisik pada Ling Xu dengan suara yang nyaris tidak terdengar. 

"Ikuti saja dulu, Liu Xin. Kita cari celah nanti." 

Ling Xu mengangguk tipis di balik tudungnya, jari-jarinya yang tersembunyi di balik lengan jubah mulai meremas kantong kecil berisi ramuan penyembuh luka

Bukan untuk digunakan sekarang, melainkan untuk persiapan, karena ia tahu bahwa di medan perang yang masih simpang siur ini, di mana puluhan kota-kota kecil masih terus berlumuran cairan para Dewa dan darah umat manusia yang tidak pernah benar-benar kering, menjadi tabib adalah tiket emas untuk bertahan hidup lebih lama daripada prajurit biasa.

Hari-hari di Fengdu berlalu seperti mimpi buruk yang tidak pernah benar-benar berakhir—setiap pagi, sebelum matahari sempat menampakkan wajahnya di balik kabut merah yang menggantung tebal, Ling Xu dan Huan Zheng sudah harus berdiri di barisan depan bersama para tentara bayaran lainnya, menerima komando dari komandan yang berbeda setiap harinya, karena di medan perang yang kacau seperti ini, para kultivator dan tetua yang lebih ahli berguguran silih berganti, dan komando berpindah tangan seperti obor yang dioperkan di tengah hujan lebat. 

“Kalian, ke sektor timur!" teriak seorang kultivator wanita dengan luka menganga di lengannya, suaranya parau tetapi masih menyisakan otoritas yang membuat para tentara bayaran bergerak tanpa berpikir, 

"Kalian, ke sektor barat! Dan kalian berdua—" 

Ia menunjuk ke arah Ling Xu dan Huan Zheng yang sedang berusaha terlihat tidak mencolok di barisan paling belakang.

“Kalian ikut aku ke posko medis. Aku dengar kau bisa menyembuhkan, bocah." 

Ling Xu yang dipanggil "bocah" hanya tersenyum tipis di balik tudungnya—karena panggilan itu justru menguntungkan, membuatnya terlihat lemah, tidak berbahaya, tidak layak untuk diawasi—lalu berjalan mengikuti kultivator wanita itu dengan langkah patuh yang sempurna, sementara Huan Zheng yang berjalan di sampingnya dengan gerakan malas yang khas, menyisipkan bisikan pelan di sela-sela derap kaki mereka. 

“Kita kumpulkan keping di sini," bisiknya, matanya yang setengah terpejam memindai sekeliling dengan waspada.

“Kau sembuhkan yang terluka, aku bunuh yang menyerang. Tapi jangan terlalu mencolok. Biarkan mereka mengira kita hanya tentara bayaran rendahan yang tidak akan bertahan lama." 

Ling Xu mengangguk tanpa menoleh—karena ia sudah hafal dengan pola ini, sudah terbiasa dengan ritme menyembuhkan dan membunuh secara bergantian, sudah tidak lagi merasa aneh ketika tangannya yang sedetik tadi meracik ramuan untuk membalut luka seorang prajurit, di detik berikutnya harus melepaskan jarum beracun ke arah musuh yang mencoba menyusup dari celah pertahanan.

Dan selama berhari-hari, berminggu-minggu, di antara debu yang beterbangan dan darah yang tidak pernah kering, Ling Xu dan Huan Zheng bergerak seperti dua bayangan yang tidak pernah terlihat oleh mata para petinggi kota.

Mereka mengikuti setiap komando dengan patuh, berpindah dari satu komandan ke komandan lain tanpa pernah mengeluh, tanpa pernah menonjol, tanpa pernah melakukan sesuatu yang akan membuat nama mereka tercatat dalam laporan pertempuran. 

Di sela-sela itu, Ling Xu menyembuhkan puluhan, lalu ratusan, lalu ribuan tentara yang terluka—dari luka goresan ringan hingga luka tembus yang hampir merenggut nyawa, dari prajurit rendahan hingga komandan tingkat menengah yang matanya mulai berkaca-kaca karena tidak percaya masih ada orang yang mau merawat mereka di tengah kiamat kecil yang sedang berlangsung. 

"Terima kasih, Nonaku," ucap seorang prajurit muda dengan wajah yang masih dipenuhi jerawat, tangannya yang patah baru saja dibalut dengan rapi oleh Ling Xu, matanya bersinar dengan rasa hormat yang tulus meskipun ia tidak tahu bahwa wanita di hadapannya sebenarnya adalah buronan nomor satu para dewa di kota-kota udara, "aku tidak akan lupa kebaikanmu." 

Ling Xu hanya tersenyum tipis.

Senyum yang tidak lagi pahit, tidak lagi getir, melainkan senyum yang datar seperti permukaan air danau di pagi hari yang tenang—lalu menjawab dengan suara pelan yang tidak akan pernah ia gunakan jika sedang berbicara dengan Huan Zheng.

“Tidak perlu berterima kasih. Aku hanya melakukan tugasku." 

Sementara itu, di sisi lain medan pertempuran, Huan Zheng dengan gerakan malas yang khas—yang justru menjadi gerakan paling mematikan di medan perang ini—berhasil mengumpulkan puluhan juta keping Lintang Kemanusiaan dari para kultivator manusia yang ia bunuh, tanpa pernah ada yang curiga, karena setiap kematian selalu tampak seperti kecelakaan, selalu tampak seperti kebetulan, selalu tampak seperti akibat dari kekacauan pertempuran biasa, padahal sebenarnya, di balik setiap mayat yang jatuh, ada satu tarikan malas dari tangan yang tidak pernah terlihat oleh siapa pun.

Di tengah pusaran pertempuran yang tak pernah benar-benar reda, di antara kepulan debu dan cipratan darah yang membasahi tanah hingga berlumpur, Ling Xu tiba-tiba mendapati dirinya dikepung oleh dua puluh kultivator manusia dengan ranah Supranatural Lintang Tingkat ke-33—satu tingkat di atasnya, satu tingkat yang dalam dunia kultivasi berarti jurang pemisah antara hidup dan mati, antara mampu bertahan atau sekadar menjadi mayat yang belum sempat jatuh. 

Bersambung…. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!