NovelToon NovelToon
Sekolah Hantu

Sekolah Hantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Sistem
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: I'ts Roomie

SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.

Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.

Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?

Since: 10-04-2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Lencana Calon

Suasana di dalam Ruang Dokumen Statis kembali hening dan mencekam setelah kepergian Guru Piket. Cahaya lampu neon yang sempat berkedip merah menyala kini kembali stabil memancarkan cahaya kuning redup. Cahaya itu menciptakan bayangan bayangan panjang yang menjalar di antara deretan rak buku tua yang menjulang tinggi.

Reno masih duduk tenang di kursi besarnya. Jari jarinya yang panjang dan lentik terus mengetuk ketuk permukaan buku Lex Diabolos dengan irama yang lambat namun terasa sangat mengintimidasi.

Arga masih berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu kencang. Napasnya masih tersengal sengal. Pertemuan dengan Guru Piket tadi bukan hanya sekadar ketakutan melihat penampakan mengerikan. Ada tekanan mental yang luar biasa berat yang membuat pikirannya terasa seperti diperas hingga kering. Ia menatap Reno, pemuda yang tampak hanya beberapa tahun lebih tua darinya, namun sorot matanya menyimpan kedalaman pengalaman seolah ia sudah berkali kali melihat kematian dengan mata kepala sendiri.

"Duduklah, Arga. Kita perlu bicara dari hati ke hati, jika kau masih memilikinya utuh," ujar Reno dengan nada datar dan dingin.

Lintang berdiri menjaga di dekat jendela. Matanya terus waspada mengawasi kegelapan di luar. Anggota Osis Malam lainnya juga tampak sibuk dengan urusan masing masing dan seolah mengabaikan kehadiran Arga. Gadis kecil dengan boneka kepala miring itu masih duduk diam di pojok, sementara seorang pemuda jangkung terus mengasah belati peraknya tanpa henti.

"Tadi itu baru perkenalan saja," Reno kembali membuka suara. "Banyak murid Indigo seperti kau yang berpikir bahwa bisa melihat hantu adalah kutukan terbesar. Tapi percayalah, di sekolah ini, bisa melihat adalah anugerah. Kutukan yang sesungguhnya dimulai ketika kau mulai disadari dan dilihat oleh mereka. Dan sekarang, seluruh entitas yang ada di Sayap Barat sudah tahu namamu."

Arga mengepalkan tangannya di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku tidak peduli mereka tahu namaku atau tidak. Aku hanya ingin tahu di mana Raka sekarang. Kau bilang dia menjadi Fondasi. Apa maksud sebenarnya dari kata kata itu?"

Reno menghela napas panjang. Ia melepas kacamata berbingkai peraknya dan mengusap wajahnya yang tampak sangat lelah. "Sekolah ini tidak dibangun di atas tanah biasa, Arga. SMA Nusantara berdiri tepat di atas titik temu garis ley yang bocor. Ini adalah tempat di mana ruang dan waktu bertabrakan dan menjadi tidak stabil. Agar bangunan ini bisa tetap eksis di dunia nyata dan tidak terseret seluruhnya ke dimensi lain, ia membutuhkan jangkar yang kuat. Jangkar itu adalah jiwa jiwa manusia yang memiliki frekuensi spiritual tinggi. Murid murid berprestasi, pemimpin organisasi, atau mereka yang memiliki ambisi luar biasa besar... persis seperti kakakmu."

"Jadi kalian membiarkannya terjadi?" suara Arga meninggi, dipenuhi amarah yang meledak. "Kalian yang mengaku sebagai Osis Malam, penjaga keseimbangan, kalian diam saja membiarkan kakakku dijadikan tumbal demi bangunan ini?"

BRAK!

Reno menggebrak meja dengan keras, namun ekspresi wajahnya tetap datar tanpa emosi. "Kami tidak membiarkannya. Kami juga terjebak di dalam sistem yang sama bersamanya. Kau pikir kenapa aku masih ada di sini sampai sekarang? Seharusnya aku sudah lulus tiga tahun lalu. Tapi namaku tercatat abadi di dalam buku itu. Sekali namamu terdaftar sebagai pengurus Osis Malam, kau tidak akan pernah bisa meninggalkan area sekolah ini kecuali dalam keadaan mati atau berhasil menemukan pengganti."

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Arga tertegun. Matanya tertuju pada pergelangan tangan Reno yang sedikit tersingkap dari balik lengan baju. Terlihat jelas tanda hitam melingkar seperti bekas jeratan rantai besi yang membekas permanen di kulit pemuda itu.

"Raka adalah kandidat Ketua Osis Malam sebelum aku memegang jabatan ini," lanjut Reno, suaranya sedikit melunak. "Dia sangat kuat. Bahkan bisa dibilang terlalu kuat. Itulah yang membuatnya menjadi sasaran empuk bagi sang Kepala Sekolah. Raka tidak hilang karena diculik oleh hantu hantu rendahan. Dia diambil oleh otoritas tertinggi tempat ini untuk dipergunakan sebagai penguat segel yang mulai retak."

"Kepala Sekolah? Siapa dia sebenarnya?" tanya Arga penasaran.

"Tidak ada satu pun yang tahu nama aslinya. Beberapa menyebutnya Sang Arsitek. Dia adalah entitas yang membuat perjanjian gelap demi mendirikan sekolah ini di atas tanah terkutuk. Tujuannya agar sekolah ini bisa terkenal dan mencetak murid murid jenius. Namun harga yang harus dibayar sangat mahal. Setiap lima puluh tahun sekali, seorang Inti harus dikorbankan. Dan kakakmu adalah Inti yang dipilih untuk periode kali ini."

Lintang yang sedari tadi diam tiba tiba berbalik badan. Wajahnya tampak cemas. "Reno, kabut di luar mulai menebal sangat cepat. Kita tidak punya banyak waktu lagi sebelum jam dua belas malam. Waktu Jam Makan akan segera tiba."

Reno mengangguk mengerti. Ia lalu merogoh laci mejanya dan mengeluarkan sebuah lencana perak yang masih polos, belum terukir nama pemiliknya. Dengan gerakan cepat ia melemparkan benda itu ke arah Arga. Arga menangkapnya dengan reflek yang sigap.

"Pakai itu," perintah Reno. "Itu adalah Lencana Calon. Selama kau memakainya di dada, hantu hantu tingkat rendah akan mengira kau adalah bagian dari sistem mereka. Lencana ini tidak akan melindungimu dari makhluk sekuat Guru Piket atau Sang Arsitek, tapi setidaknya kau tidak akan langsung diserang dan dikeroyok oleh ratusan sosok tanpa wajah di koridor."

Arga menimang nimang lencana dingin itu di telapak tangannya. "Kenapa kau mau membantuku sampai sejauh ini?"

Reno menatap Arga dengan tatapan yang sulit diterjemahkan. "Karena jika kau berhasil menemukan Raka dan berhasil melepaskannya dari segel, maka struktur sekolah ini akan runtuh. Dan jika sekolah ini hancur, kutukan yang mengikat kami semua akan berakhir. Kami semua akhirnya bisa beristirahat dengan tenang. Kau adalah satu satunya harapan kecil yang kami miliki selama puluhan tahun ini."

Arga lalu menyematkan lencana itu ke dada kirinya. Saat jarum peniti itu menusuk kain seragam, rasa dingin yang aneh langsung menjalar hingga ke jantungnya. Ia merasa seolah ada beban berat yang tiba tiba diletakkan di atas pundaknya.

"Ada satu hal lagi yang harus kau ingat, Arga," Reno berdiri dari kursinya, membuat sosoknya tampak sangat besar dan berwibawa di ruangan itu. "Menjadi Ketua Osis Malam bukan sekadar gelar kehormatan. Itu adalah tanggung jawab berat menjadi jembatan antara dunia yang hidup dan alam kematian. Jika kau ragu sedikit saja dalam hati, bayanganmu sendiri yang akan mencekikmu sampai mati. Sekarang, pergilah ke Asrama Sayap Barat bersama Lintang. Di kamarmu, ada sesuatu yang ditinggalkan Raka tepat sebelum dia dibawa ke Menara Jam."

"Apa itu?" tanya Arga.

"Kebenaran yang mungkin tidak ingin kau dengar," jawab Reno dengan nada yang penuh teka teki.

Lintang segera memberi isyarat agar Arga cepat mengikutinya. Mereka berdua keluar dari Ruang Dokumen Statis dan kembali menyusuri koridor yang kini sudah tertutup kabut hitam pekat. Dari kejauhan, suara lonceng kembali terdengar sayup sayup. Namun kali ini nadanya berbeda, lebih rendah dan berat, menyerupai geraman binatang buas yang sedang kelaparan.

Saat berjalan menyusuri lorong gelap menuju gedung asrama, Arga menyadari ada yang aneh dengan bayangannya sendiri. Di bawah pancaran cahaya senter ungu milik Lintang, bayangan tubuhnya tidak bergerak sempurna mengikuti gerakannya. Terkadang bayangan itu berhenti sejenak, atau kepalanya miring ke arah yang tidak wajar, seolah olah bayangan itu memiliki kehidupan dan keinginannya sendiri.

"Jangan terlalu memperhatikan bayanganmu," bisik Lintang tanpa menoleh ke belakang. "Dia sedang mencoba mengenalimu dan membaca pikiranmu. Ingat Arga, di sekolah ini musuh terbesarmu bukanlah apa yang ada di depan mata, melainkan apa yang tertinggal di belakang punggungmu."

Arga menelan ludah dengan susah payah. Tangannya meraba saku celana memastikan kunci perak masih ada di sana, lalu menyentuh lencana di dadanya. Ia sadar bahwa dirinya baru saja diterima menjadi bagian dari organisasi paling terkutuk di dunia pendidikan. Perjalanan menuju kamar asrama peninggalan kakaknya terasa seperti berjalan menuju liang lahat yang digalinya sendiri.

Tiba tiba lantai koridor di bawah kaki mereka mulai bergetar pelan. Dari arah kantin sekolah yang terletak tidak jauh dari sana, terdengar suara dentingan piring dan sendok yang beradu satu sama lain. Diikuti oleh aroma menyengat yang sangat busuk, bercampur seperti bau daging basi dan darah.

Jam dua belas malam hampir tiba. Itu adalah waktu makan bagi mereka yang tidak pernah bisa merasa kenyang.

"Lari!" perintah Lintang tiba tiba dengan nada panik. "Jangan tanya alasannya! Lari sekarang juga menuju asrama!"

Arga tidak berpikir panjang. Ia langsung menghentakkan kakinya dan berlari sekencang mungkin menembus kabut tebal bersama Lintang. Di belakang mereka dan dari arah kantin, ratusan pasang mata merah perlahan menyala satu persatu di dalam kegelapan. Mata mata itu mengawasi setiap gerak gerik calon anggota baru Osis Malam itu dengan penuh selera.

1
cintanya ningning
jadi tu jahat atau baik ya?
papi junkyung: yg mana ka?
total 1 replies
Xiao Juan
lanjutt lagi
rimaa~~~°
lanjut lagi thor
Cleo
masi harus berjuang lagi di pintu berikutnya wkwk, semangat arga💪
Cleo
lanjut lagi dong, up 2 tor sehari hehe, maap ngelunjak🤭🙏
papi junkyung
keren mom ceritanya
Sartika Monik
mana lagi lanjutannya,,duh padahal lagi penasaran banget bun haha🤭
cintanya ningning
lanjuttt
yeol
lagi dungg tor, tadi update di fb langsung ke sini haha
Fimela Angelia
duh masi gantung banget ni
Koo Eun Tak
next thor
Cleo
lanjut💪
Cleo
widih kata katanya bagus, resonansi indigo mutlak/Drool/
Fimela Angelia
cepetan update huhu/Sob//Sob/
Fimela Angelia
ini ya tangan perak yang dimaksud di blurb nya
Xiao Juan
lanjutinn author semangat kutunggu crazy up mu
Xiao Juan
fantasi banget hahaha keren keren tor🤭
Koo Eun Tak
lanjut lanjut
Cleo
gantung banget tor/Frown/
papi junkyung
mana lagi ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!