Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.
Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.
Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?
Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?
Happy reading 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 Mak Comblang
Ucapan polos itu membuat suasana kamar kembali hening. Moana memiliki harapan besar untuk bisa punya mama baru. Dia masih ingin merasakan kasih sayang seorang mama yang tidak mungkin ia dapatkan dari mama kandungnya yang telah meninggal. Jalan satu-satunya adalah menyatukan Papanya dengan ibu susu adiknya.
Razna sontak menahan napas. Wajahnya langsung memanas hingga ke telinga. Dia tidak mungkin menerima keinginan Moana untuk menikah dengan Papanya, apalagi kematian mama Moana yang belum genap 6 bulan.
Sementara Rendra menoleh pelan ke arah putrinya dengan tatapan tidak percaya.
"Moana..." desahnya pelan. Ada rasa iba melihat anak sekecil itu harus kehilangan Mamanya di usia yang seharusnya dipenuhi kasih sayang dari seorang ibu.
Namun anak kecil itu justru tampak bingung melihat reaksi orang dewasa yang ada di hadapannya.
"Kenapa sih?" tanyanya polos. "Kata teman-teman juga kalau nanti Papa nikah lagi, Moana akan punya Ibu. Terus Ibu bisa anterin Moana ke sekolah. Moana ingin Papa nikahnya sama Bu Razna aja, biar sama-sama bisa jagain Moana dan Dede Finza terus,"
Razna buru-buru berdiri sambil mencoba menutup kegugupannya.
"Moana jangan bicara seperti itu, Sayang..." ujarnya lembut walau suaranya terdengar bergetar. Jemarinya menyelipkan helai rambut Moana ke balik telinganya.
"Tapi Moana serius..." anak itu mengerucutkan bibirnya sambil mengangkat dua jari membentuk huruf V.
"Moana suka kalau rumah ini jadi ramai lagi. Penuh canda tawa, bisa bermain bareng. Kalau ada Ibu, Papa pasti akan sering ada di rumah," ujarnya apa adanya.
Kalimat terakhir itu membuat hati Rendra mencelos. Rumah ini memang terlalu sepi sejak kepergian istrinya. Ia terlalu sibuk menenangkan dirinya sendiri sampai tidak menyadari bahwa putri satu-satunya pun memendam rasa kehilangan yang begitu mendalam.
Rendra akhirnya berjalan mendekat lalu mengusap kepala putrinya perlahan. Seraya mencium keningnya lalu memeluknya sesaat.
"Menikah itu tidak semudah yang Moana pikirkan."
"Kenapa?" tanyanya lagi.
Rendra terdiam sejenak sebelum menjawab pelan, "Karena menikah bukan hanya soal suka ataupun cinta. Apalagi mama belum lama meninggal. Papa belum bisa melupakan Mama."
Razna menundukkan kepalanya semakin dalam. Dia merasa tidak pantas berdiri di tengah percakapan itu. Apalagi ketika ucapan Moana mulai menyentuh sesuatu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.
"Kita jangan bahas itu lagi ya!" ucap Razna sambil memaksakan senyum.
"Sekarang Moana temani Dede Finza saja, mau?"
Moana terlihat kecewa dengan ucapan Ibu Razna, tetapi akhirnya mengangguk pelan.
"Baik Bu."
"Anak pintar,"
Anak itu lalu kembali naik ke atas ranjang dan duduk di samping Finza yang masih tertidur pulas. Kakinya bersila, kedua tangannya sambil menopang dagu.
"Dek...kamu setuju engga sih kalau Papa menikah sama Ibu? Ibu itu baik, seperti Mama. Kamu harus percaya, deh. Buktinya, setiap hari Dede digendong sama Ibu, dikasih susu sama Ibu, bahkan tidur juga sama Ibu. Enak banget jadi kamu, Dek. Bisa tidur bareng Ibu," celotehan Moana polos, membuat keduanya seketika membeku.
Rendra berdehem pelan sambil memijat tengkuknya yang tiba-tiba terasa kaku.
Sementara Razna buru-buru memalingkan wajahnya, berpura-pura merapikan selimut Finza agar tidak perlu memperlihatkan wajahnya yang sudah merah padam.
"Moana.." panggil Rendra dengan nada memperingatkan, meski terdengar lebih pasrah daripada tegas.
"Apalagi sih Pah?" sahut anak itu polos.
"Moana tidak boleh bicara seperti itu lagi ya!"
"Tapi Moana jujur lho Pah," protes Moana serius.
Jawaban itu membuat Rendra kehilangan kata-kata. Anak kecil memang tidak mengerti rumitnya perasaan orang dewasa. Baginya, siapa pun yang memberi perhatian. Dan kehangatan pantas menjadi keluarga.
Razna menarik napas panjang sebelum akhirnya berdiri menjauh beberapa langkah dari ranjang.
"Tuan, saya titip Finza dulu ya!" ucapnya pelan.
Rendra mengangguk sambil terus memperhatikan interaksi antara Razna dengan putrinya.
"Lho ibu mau ke mana?" tanya Moana penasaran.
"Ibu keluar sebentar,"
Moana semakin terlihat murung, melipat kedua tangan di dada dengan bibir cemberut.
"Bu Razna marah ya sama Moana?"
Pertanyaan itu menghentikan langkahnya. Dia tercekat sesaat, lalu segera menggeleng cepat dan kembali menghampiri anak kecil itu lagi.
"Engga, Sayang. Ibu nggak marah,"
"Terus kenapa wajah Ibu merah?"
Kali ini Rendra sampai menahan tawa kecilnya. Razna melotot singkat ke arah pria itu sebelum kembali menatap Moana yang masih menunggu jawaban darinya dengan serius.
"Nggak ..nggak apa-apa kok. Cuma di kamar ini tiba-tiba terasa panas. Gerah banget," jawabnya asal, sambil mengibaskan tangan untuk mengipas tubuhnya.
"Tapi AC-nya dingin kok, Bu,"
Razna memajukan bibirnya, anak kecil di hadapannya itu terlalu pintar untuk dibohongi.
Sementara di sudut jendela, Rendra malah terlihat semakin menikmati situasi.
"Mmm iya sih...mungkin Ibunya aja yang lagi kegerahan," gumam Razna pelan, nyaris putus asa mencari alasan yang tepat untuk menutupi rasa malu karena ucapan Moana yang sangat polos.
Moana mengerjapkan mata beberapa kali, lalu mengangguk kecil meski wajahnya masih dipenuhi rasa penasaran.
"Oooh jadi Ibu sakit?"
"Mmmm bisa dibilang begitu..." jawab Razna dengan kaku lalu tersenyum samar. Wajahnya masih terasa panas, sementara tubuhnya dilanda sensasi hangat dingin akibat getaran aneh yang sejak tadi menyerbu dirinya.
Keadaan itu membuat Rendra akhirnya terkekeh pelan.
Wanita itu langsung menoleh tajam, "Tuan, jangan ketawa dong,"
"Ups, maaf. Tapi beneran wajahmu kayak kepiting rebus," ujar Rendra dengan bibir terangkat geli.
Melihat keduanya, Moana justru ikut tersenyum kecil. Suasana yang tadinya canggung perlahan berubah menjadi hangat, membuat Razna akhirnya menghembuskan napas lega.
Rendra akhirnya benar-benar terkekeh pelan mendengar kepolosan putrinya. Untuk pertama kalinya sejak istrinya meninggal, suara tawa itu kembali terdengar di dalam rumah.
Hal sederhana itu membuat suasana sesak di dalam dada Razna perlahan berubah hangat. Tanpa sadar ia pun ikut tertawa kecil.
Sementara di balik pintu ada seorang wanita yang diam-diam sedang memperhatikan interaksi mereka. Danara menatap Razna dengan sorot mata yang kesal dan penuh rasa iri.
"Tak akan aku biarkan mereka hidup bersama..." lirihnya pelan, jemarinya mengepal kuat.
biar leluasa pangil ibu😂
Iyaa inn renn .. biar makin kebakaran tuhh Nara kalau tau Razha di pangil ibu 🤣🤣.. pasti makin ngamukkk
bnar kata renndra.. patuhin aja razz
raz.. kan dia kerja.. tp kmcemburu .. dan km yg berharap sama Rendra
padahal Rendra ngk suka ma km.. dia ngangap km adik .. pahamm!
udah jadi adek ipar masih aja ngelunjak pgen jdi istri... ngk tau diri