NovelToon NovelToon
SENI TRANSMUTASI TULANG PURBA

SENI TRANSMUTASI TULANG PURBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: 秋天(Qiūtiān)

Han jian merupakan seorang pemuda dari klan Han yang tidak dapat ber kultivasi sejak kecil sehingga menjadi bahan hinaan di klan Han, ia tidak dapat ber kultivasi dikarenakan ia tidak memiliki dantian seperti yang lain nya melain kan sebuah pusaran hitam yang di akibatkan karena dantian nya telah hancur, namun nasibnya berubah setelah menemukan sebuah fragmen tulang di makam ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 秋天(Qiūtiān), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: EMBUN YANG MERUNTUHKAN GUNUNG

Angin musim gugur melolong di antara celah-celah tebing Puncak Awan Terlarang, membawa aroma tanah basah dan kegagalan. Di tepi jurang yang curam, seorang pemuda bernama Han Jian duduk bersila. Tubuhnya kurus, dibalut jubah abu-abu yang sudah pudar warnanya. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya, membeku seketika saat menyentuh udara gunung yang menggigit.

Di dalam perutnya, tepat tiga jari di bawah pusar—titik yang seharusnya menjadi pusat semesta bagi setiap kultivator—hanya ada kegelapan. Kosong. Hampa.

Dantian-nya tidak hanya cacat; itu hancur sejak lahir. Seperti bejana tanah liat yang retak seribu, seberapa banyak pun energi spiritual (Qi) yang ia serap dari alam, semuanya akan bocor keluar dalam hitungan detik.

"Satu kali lagi," bisik Han Jian, giginya gemeretak.

Ia memejamkan mata, memaksakan kesadarannya untuk menarik gumpalan tipis Qi berwarna biru pucat dari udara sekitar. Energi itu masuk melalui pori-pori kulitnya, mengalir hangat menuju meridian lengan, dan berkumpul di perut bawah. Untuk sekejap, Han Jian merasakan kekuatan. Namun, sedetik kemudian, rasa sakit yang menusuk menghantamnya. Dantian-nya yang hancur menolak energi itu. Qi liar itu bergejolak, merobek jalur energinya, dan memancar keluar ke udara bebas.

Han Jian tersungkur, memuntahkan darah segar yang membasahi salju tipis di depannya.

"Masih tidak bisa..." Suaranya parau, penuh keputusasaan yang telah menumpuk selama enam belas tahun.

Di Benua Langit Abadi, Dantian adalah segalanya. Tanpa itu, kau hanyalah "manusia fana" yang ditakdirkan mati dalam seratus tahun, sementara mereka yang berkultivasi bisa membelah lautan dan hidup selamanya. Di Klan Han, salah satu klan besar di Kekaisaran Angin Utara, Han Jian adalah noda hitam. Putra dari seorang pahlawan klan yang gugur, namun tidak mewarisi sedikit pun bakat ayahnya.

"Lihat si sampah itu. Masih mencoba menantang takdir?"

Sebuah suara sinis memecah keheningan. Han Jian menoleh dan melihat tiga pemuda berjubah sutra biru berjalan mendekat. Di tengah mereka adalah Han Lei, sepupunya yang baru saja mencapai tingkat kelima Pemurnian Qi.

"Sudah sepuluh tahun kau duduk di sini, Han Jian," ejek Han Lei sambil melipat tangan di dada. "Bahkan seekor babi pun jika diberi sumber daya sebanyak yang kau habiskan, sudah bisa terbang ke langit. Tapi kau? Kau bahkan tidak bisa menyimpan satu tetes Qi pun. Berhentilah memalukan nama ayahmu."

Han Jian mengepalkan tinjunya hingga kukunya memutih. "Apa pedulimu, Han Lei? Aku tidak menggunakan sumber daya klan. Aku mencari jalanku sendiri."

"Jalanmu sendiri?" Han Lei tertawa terbahak-bahak. "Jalanmu adalah jalan menuju kubur! Besok adalah Ujian Kedewasaan. Tetua Agung sudah memutuskan: jika kau tetap tidak memiliki basis kultivasi, kau akan diusir ke tambang batu bara di perbatasan. Kau bukan lagi anggota klan. Kau hanya budak."

Han Lei menendang segenggam salju ke wajah Han Jian sebelum berbalik pergi bersama pengikutnya. Tawa mereka bergema di lembah, meninggalkan Han Jian dalam kesunyian yang mencekam.

Diambil ke tambang? Menjadi budak?

Han Jian menatap langit yang mulai menggelap. Amarah membakar dadanya, lebih panas dari Qi mana pun. Ia merogoh ke dalam sakunya, mengeluarkan sebuah benda kecil yang selama ini ia sembunyikan dari siapa pun. Itu adalah sebuah fragmen tulang berwarna hitam legam, sebesar ibu jari, yang ia temukan di makam ayahnya bertahun-tahun lalu.

Fragmen itu tidak memancarkan energi, namun terasa sangat berat, seolah menyimpan massa sebuah gunung di dalamnya.

"Ayah bilang, jika jalan di depan tertutup, hancurkan jalannya," gumam Han Jian.

Tiba-tiba, sebuah pikiran gila melintas di kepalanya. Selama ini, semua orang—termasuk dirinya—fokus untuk memperbaiki Dantian. Tapi bagaimana jika... bagaimana jika ia berhenti mencoba menjadi bejana?

Jika perutku tidak bisa menampung energi, kenapa aku tidak menjadikan seluruh tubuhku sebagai penampung?

Secara teori, itu adalah bunuh diri. Meridian manusia terlalu rapuh untuk menahan Qi tanpa filter dari Dantian. Itu seperti mengalirkan air terjun melalui pipa bambu yang retak. Namun, Han Jian tidak punya pilihan lain. Besok adalah akhir baginya, atau awal yang baru.

Ia menggigit jarinya hingga berdarah, lalu meneteskan darahnya ke fragmen tulang hitam itu.

Seketika, fragmen itu bergetar hebat. Bukannya memancarkan cahaya terang seperti artefak suci pada umumnya, tulang itu justru menghisap semua cahaya di sekitarnya. Kegelapan mutlak menyelimuti Han Jian. Sebuah suara tua, berat, dan kuno bergema langsung di dalam jiwanya.

"Tubuh adalah alam semesta. Tulang adalah pilar langit. Darah adalah sungai kehidupan. Mengapa mencari wadah kecil di perut, jika kau bisa menjadi manifestasi dari Langit dan Bumi itu sendiri?"

Sebuah teknik rahasia yang disebut "Seni Transmutasi Tulang Purba" membanjiri pikirannya. Teknik ini tidak membutuhkan Dantian. Ia justru memerintahkan penggunanya untuk menghancurkan sisa-sisa Dantian yang ada, dan mengalihkan seluruh fungsi penyimpanan energi ke dalam sumsum tulang.

"Hancurkan... untuk membangun kembali?" Han Jian berkeringat dingin.

Tanpa ragu, ia memusatkan seluruh sisa energinya. Dengan satu sentakan mental yang brutal, ia menghantam titik pusat energinya sendiri.

Prak!

Rasa sakit yang tak terlukiskan meledak. Han Jian menjerit tanpa suara. Sensasi itu seperti tubuhnya dipotong-potong menjadi jutaan bagian lalu disatukan kembali dengan api. Namun, di tengah penderitaan itu, fragmen tulang hitam di tangannya melumer, berubah menjadi cairan gelap yang meresap masuk melalui pori-porinya, langsung menuju ke sumsum tulang belakangnya.

Tiba-tiba, kebocoran Qi yang selama ini dialaminya berhenti.

Bukannya menguap keluar, Qi yang masuk ke tubuh Han Jian kini tersedot ke dalam tulangnya. Tulang-tulangnya yang tadinya rapuh mulai berpendar dengan warna hitam metalik yang aneh. Setiap sel di tubuhnya berteriak kegirangan, menyerap energi alam dengan kecepatan yang sepuluh kali lebih cepat dari kultivator biasa.

Ia tidak lagi memiliki Dantian. Kini, setiap inci dari kerangkanya adalah gudang energi yang tak terbatas.

Malam itu, di bawah puncak yang sunyi, seorang pemuda yang dianggap sampah baru saja membunuh dirinya yang lama. Saat fajar menyingsing, Han Jian membuka matanya. Pupil matanya memancarkan kilatan hitam yang dalam, seolah-olah ia bisa menelan cahaya matahari.

Ia berdiri, dan salju di bawah kakinya langsung retak karena tekanan murni yang memancar dari tubuhnya—bukan dari perutnya, tapi dari setiap pori-porinya.

"Ujian Kedewasaan besok..." Han Jian mengepalkan tangannya, merasakan kekuatan yang begitu padat di otot dan tulangnya. "Mari kita lihat siapa yang sebenarnya sampah."

1
Malik Junjung
critanya trlalu ringkas...
Malik Junjung
yach... mnurut sy sich drpd ikut ujian kdewasaan mnding klwr dri klan... drod pmer kekuatn....
angin kelana
bab selanjutnya semoga lebih seru lg..
秋天(Qiūtiān): di tunggu ya teman teman
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!