Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Residu di Balik Kabut
Gunung Merapi masih berselimut kabut saat Elena terbangun.
Aroma kopi tubruk dan singkong goreng buatan Ibunya menyeruak masuk ke kamar joglo yang dingin.
Selama beberapa detik, Elena merasa seperti wanita normal.
Tidak ada senjata di bawah bantalnya (bohong, dia masih menyembunyikan belati kecil di sana), dan tidak ada notifikasi saham yang aneh di ponselnya.
Ia berjalan ke beranda.
Di sana, Reza sedang asyik membelah kayu bakar dengan telanjang dada.
Keringat membasahi punggungnya, dan setiap ayunan kapaknya menceritakan sisa-sisa energi maskulin yang belum habis dipakai perang.
"Pekerjaan baru yang cocok buatmu, Rez," goda Elena sambil bersandar di tiang kayu.
Reza berhenti sejenak, menyeka keringat dengan lengan bajunya, lalu menoleh dengan seringai nakal.
"Lumayan buat bakar kalori, El. Lagipula, Paman Han bilang ototku mulai kendor sejak kita cuma makan singkong di sini."
Namun, di balik candaan itu, Elena menangkap tatapan Paman Han yang sedang duduk di kejauhan, menatap laptopnya dengan kening berkerut.
Elena tahu wajah itu. Itu adalah wajah "kita punya masalah baru".
Elena menghampiri Paman Han.
"Apa lagi sekarang, Paman? Jangan bilang Maximilian punya saudara kembar lagi."
Paman Han tidak tertawa. Ia memutar layar laptopnya ke arah Elena.
"Data yang kita curi dari Singapura kemarin... ada satu bagian yang tidak bisa kita dekripsi di sana. Tapi pagi ini, data itu tiba-tiba terbuka sendiri. Seseorang dari luar sedang 'mengetuk' sistem kita."
Elena melihat barisan kode yang berjalan cepat.
Di tengah-tengah kode itu, muncul sebuah logo kecil: Bunga Lili yang Berdarah
"Itu lambang pribadi ibuku dulu," bisik Elena, jantungnya berdegup kencang.
"Bukan cuma itu, Nona. Ada pesan suara pendek yang terenkripsi di dalamnya. Hanya bisa dibuka dengan suara Anda."
Elena menarik napas panjang. Ia mendekatkan wajahnya ke mikrofon laptop.
"Elena Adiguna. Subjek 01."
Klik.
Sebuah suara wanita yang sangat mirip dengan suara Sarah, tapi lebih muda dan lebih dingin, terdengar:
"Selamat, Elena. Kau telah menghancurkan 'The Origin'. Tapi kau lupa satu hal... aku adalah alasan kenapa ibumu melarikan diri. Dan aku sudah di depan gerbangmu."
Tiba-tiba, suara deru mobil jip terdengar dari arah jalan setapak di bawah bukit.
Bukan helikopter, bukan pasukan taktis.
Hanya satu mobil jip mewah berwarna hitam mengkilap.
Dante yang sedang membersihkan senjatanya langsung berdiri.
"Siapa lagi ini? Apa kita nggak bisa punya waktu tenang barang sehari?"
Mobil itu berhenti tepat di depan halaman joglo.
Seorang wanita keluar.
Dia mengenakan pakaian serba putih—setelan blazer dan celana kain yang sangat elegan, kontras dengan tanah pegunungan yang becek.
Wajahnya... dia terlihat seperti versi Sarah yang tidak pernah menua.
Sarah yang asli keluar dari dalam rumah, wajahnya seketika pucat pasi. "Lilian?"
"Halo, Kakak," ucap wanita itu. Lilian.
Adik kandung Sarah yang selama ini dianggap sudah meninggal dalam pembersihan pertama 'The Origin' puluhan tahun lalu.
Suasana menjadi sangat canggung.
Lilian tidak datang dengan senjata.
Ia datang dengan sebuah koper perak kecil.
"Kau pikir Haryo adalah monster, Elena?" Lilian menatap keponakannya itu dengan tatapan menilai.
"Dia hanyalah pion kecil. Kakakku, Sarah, adalah orang yang sebenarnya menciptakan rumus genetika itu. Haryo hanya mencurinya."
Elena menoleh ke arah ibunya, mencari jawaban.
Sarah menunduk, matanya berkaca-kaca.
"Ibu... apa itu benar?" tanya Elena lirih.
"Ibu melakukannya untuk menyembuhkan penyakit genetika keluarga kita, Elena," jawab Sarah parau.
"Tapi 'The Origin' melihat potensi lain. Mereka ingin menciptakan manusia abadi. Ibu melarikan diri bukan cuma karena takut, tapi karena Ibu malu dengan apa yang sudah Ibu ciptakan."
Lilian tertawa dingin.
"Dan sekarang, Elena, kau adalah hasil paling sempurna dari rumus itu. Itulah kenapa kau bisa selamat dari jurang, dari ledakan, dan dari operasi plastik yang seharusnya membunuhmu. Kau bukan sekadar 'produk' gagal, kau adalah puncak evolusi yang diinginkan Kak Sarah."
Lilian membuka koper peraknya.
Di dalamnya terdapat sebuah botol kecil berisi cairan berwarna emas redup.
"Ini adalah Serum Phoenix yang asli. Versi yang belum tercemar oleh ambisi Haryo," Lilian menyodorkannya pada Elena.
"Dengan ini, kau bisa benar-benar bebas. Tidak akan ada lagi penuaan, tidak ada lagi penyakit. Kau bisa memimpin dunia ini menuju era baru. Tanpa 'The Origin', tanpa keluarga Adiguna. Cukup kau dan aku."
Reza melangkah maju, tangannya sudah memegang gagang pistolnya.
"Jangan dengarkan dia, El. Ini cuma cara lain buat mengendalikanmu."
Elena menatap botol itu, lalu menatap ibunya, dan terakhir menatap Reza.
Ia teringat semua rasa sakit yang ia lalui.
Rasa sakit saat dibuang ke jurang, rasa sakit saat wajahnya dibedah, dan rasa sakit saat kehilangan jati dirinya.
"Kau tahu, Lilian?" Elena mengambil botol itu.
"Semua orang selalu ingin mendikte siapa aku. Haryo ingin aku jadi pionnya. 'The Origin' ingin aku jadi senjatanya. Dan sekarang kau... kau ingin aku jadi dewamu."
Elena memutar botol itu di tangannya, lalu dengan gerakan tiba-tiba, ia melemparkannya ke arah batu besar di dekat perapian kayu bakar Reza.
PRANG!
Cairan emas itu tumpah dan terbakar oleh api, mengeluarkan asap berwarna ungu yang aneh.
"Aku lebih suka menjadi manusia yang bisa mati daripada monster yang hidup selamanya dalam kesepian," ucap Elena tegas.
Lilian tampak sangat murka. Matanya yang tadinya elegan kini berkilat penuh kegilaan.
"Kau bodoh! Kau baru saja menghancurkan masa depan umat manusia!"
"Tidak," balas Elena. "Aku baru saja memastikan manusia punya masa depan yang normal."
Tiba-tiba, Lilian mengeluarkan sebuah alat pemicu dari sakunya.
"Kalau kau tidak mau jadi dewa, maka kau harus jadi sejarah. Aku sudah memasang satelit penarget di koordinat ini. Jika aku tidak menekan kode 'aman' dalam lima menit, seluruh bukit ini akan diratakan dengan serangan udara."
Paman Han segera mengetik cepat di laptopnya.
"Nona! Dia tidak bohong! Ada sinyal satelit militer swasta yang terkunci di posisi kita!"
"Reza! Dante! Amankan Ibu!" teriak Elena.
Elena menerjang Lilian.
Perkelahian antara bibi dan keponakan itu pecah di tengah kebun lili.
Lilian, meskipun terlihat lebih tua, ternyata memiliki kekuatan dan kecepatan yang hampir sama dengan Elena.
Ini adalah pertarungan antara dua "mahakarya" dari rahim yang sama.
Mereka berguling di tanah, saling pukul, dan saling kunci.
Elena merasakan tulang rusuknya hampir patah saat Lilian menendangnya, tapi ia tidak menyerah.
Ia menggunakan teknik yang ia pelajari dari jalanan Jakarta, bukan teknik laboratorium.
Ia bertarung dengan kotor.
Elena berhasil meraih tangan Lilian yang memegang pemicu, lalu membantingnya ke arah batang pohon pinus.
KRAK!
Suara tulang patah terdengar, dan pemicu itu terlepas.
"Paman Han! Sekarang!" teriak Elena.
Paman Han menggunakan frekuensi dari pemicu yang jatuh itu untuk mengirimkan sinyal gangguan balik ke satelit.
"Satu detik lagi... satu detik lagi... JAMMED! Sinyalnya hilang, Nona!"
Lilian tergeletak di tanah, napasnya memburu.
Ia menatap langit dengan tatapan kosong.
"Kau... kau benar-benar menghancurkan semuanya..."
"Dunia tidak butuh dewa, Lilian. Dunia butuh orang-orang yang peduli satu sama lain."
Ucap Elena sambil berdiri, menyeka darah di bibirnya.
Elena tidak membunuh Lilian.
Ia menyerahkannya pada Dante dan Paman Han untuk dibawa ke otoritas internasional yang masih bersih.
Ia ingin wanita itu melihat dunia yang ia benci terus berjalan tanpa campur tangannya.
Malam kembali turun di lereng gunung.
Elena duduk di samping ibunya di depan perapian.
Mereka terdiam lama, hanya suara kayu yang terbakar yang mengisi ruangan.
"Maafkan Ibu, Elena," bisik Sarah.
Elena menggenggam tangan ibunya.
"Semuanya sudah selesai, Bu. Rahasianya, rumusnya, dendamnya... semuanya sudah jadi abu sekarang."
Reza masuk dengan membawa dua selimut tebal.
Ia menyampirkan satu ke bahu Elena.
"Jadi... besok kita benar-benar cuma bakal menanam lili?"
Elena menatap Reza, lalu tersenyum—senyum paling cantik yang pernah ia miliki sepanjang hidupnya.
Senyum yang tidak lagi tersembunyi di balik topeng atau operasi plastik.
"Ya. Besok kita cuma menanam lili. Dan mungkin... kita akan mulai membangun sesuatu yang benar-benar milik kita."
Di bawah langit Merapi yang penuh bintang, sang Nyonya yang Terbuang akhirnya berhenti berlari.
Ia tidak lagi mencari siapa dirinya, karena ia tahu ia adalah wanita yang berhasil mengalahkan takdirnya sendiri.
Di atas abu masa lalu, benih kehidupan yang baru mulai tumbuh—jauh lebih indah dan lebih kuat dari apa pun yang pernah diciptakan di laboratorium.
Bersambung...
Ayo buruan baca...