NovelToon NovelToon
Istri Mafia Masuk Ke Tubuh Ibu Susu Tuan Kejam

Istri Mafia Masuk Ke Tubuh Ibu Susu Tuan Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Transmigrasi / Ibu susu
Popularitas:13.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mom Ilaa

Vivian Marvis, putri tunggal klan mafia Marvis, dinyatakan meninggal setelah melahirkan putri pertamanya.

Sejak saat itu, Kayden Gilbert—suami yang dulu mencintainya sepenuh hati—berubah menjadi pria berhati es. Bahkan, membenci darah dagingnya sendiri.

Namun kematian bukanlah akhir bagi Vivian.

Jiwanya terbangun dalam tubuh Arini, seorang wanita malang yang kehilangan segalanya. Dengan identitas baru, Vivian kembali ke Kediaman Gilbert demi bertemu putrinya, Deana.

Sayangnya, Deana hidup tanpa kasih sayang sang ayah.

"Auntie... jadi Mama Dea saja, ya? Dea kesepian."

Mendengar kata-kata itu, hati Vivian hancur.

Akankah Vivian berhasil menyatukan kembali keluarganya? Ataukah ia akan merebut putrinya dan membuat Kayden Gilbert menyesali semua yang telah terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panik

Atas perintah dari Kayden, Davin melepaskan Lastri dari penjara bawah tanah. Keputusan mendadak sang Bos tentu saja membuat Davin sempat heran, sementara Lastri langsung bersujud syukur di atas lantai.

Namun, perasaan lega itu tidak bertahan lama saat Davin kembali bersuara. "Jangan senang dulu, Lastri. Tugasmu belum selesai. Sekarang, Tuan meminta mu untuk menghadap ke ruang kerja pribadinya."

Raut wajah Lastri berubah pias dan khawatir.

Melihat ketakutan di mata wanita yang usianya sebaya dengannya itu, Davin melembutkan tatapannya. Ia menepuk bahu Lastri pelan, mencoba menenangkan. "Tidak perlu khawatir. Tuan Kayden tidak akan menyakitimu. Aku akan menemanimu ke sana."

Lastri mendongak, menatap Davin dengan binar penuh rasa terima kasih. "Terima kasih, Tuan Davin... Kalau boleh tahu, apakah Nona Muda Deana sudah kembali?"

Davin menghela napas pendek, lalu memilih untuk jujur pada wanita itu. "Belum. Nona Muda sekarang berada di tempat yang sangat aman, tapi sekaligus paling sulit untuk kita jangkau. Dia berada di kediaman Marvis."

Saat mereka melewati lorong sayap barat mansion, langkah Davin mendadak terhenti. Di depan sana, seorang pelayan terlihat hendak memutar knop pintu kamar rawat khusus, kamar tempat wanita misterius yang melahirkan Baby Elvano terbaring koma.

"Berhenti! Apa yang mau kau lakukan?!" tegur Davin dengan suara baritonnya yang tegas.

Pelayan itu terlonjak kaget, buru-buru menunduk hormat. "Ma-maaf, Tuan Davin. Saya hanya ingin masuk ke dalam untuk membersihkan ruangan dan mengganti seprai."

"Tidak ada pelayan yang boleh menginjakkan kaki ke dalam ruangan itu tanpa izin Tuan Kayden!" bentak Davin, membuat pelayan itu gemetar ketakutan.

"Pergi dari sini sekarang juga!"

Tanpa membantah lagi, pelayan itu segera membalikkan badan dan pergi dari sana. Davin memastikan pintu itu terkunci rapat kembali, sebelum melanjutkan langkah bersama Lastri menuju ruang kerja Kayden.

Tok! Tok!

Begitu pintu ruang kerja dibuka, Lastri agak kaget melihat kondisi tuannya yang tampak berantakan dan tak karuan. Lingkaran hitam tebal tercetak jelas di bawah kelopak mata elang itu, dan wajah tampan yang biasanya memancarkan aura superioritas kini terlihat kurang bersemangat, layu digilas badai kerinduan.

"Tuan Besar..." Lastri bersuara lirih, membungkuk sedalam mungkin. "Terima kasih karena sudah membebaskan saya. Saya... siap menerima tugas dan hukuman apa pun dari Anda."

SREKK!

Tanpa bicara, Kayden melemparkan sebuah foto lembaran kertas tebal tepat ke arah kaki Lastri.

Lastri refleks berjongkok dan memungut foto tersebut. Foto yang dipegangnya adalah gambar sebuah mansion megah yang dikelilingi oleh pagar besi menjulang tinggi. Itu adalah mansion Marvis.

Tak perlu banyak bertanya, Lastri langsung paham apa yang diinginkan oleh tuannya. Kayden ingin dia datang ke sana, menyusup, lalu membawa Nona Muda Deana dan Baby Elvano pulang kembali ke mansion ini.

Terdengar sangat sederhana di atas kertas, namun kenyataannya membuat seluruh sendi di tubuh Lastri mendadak lemas. Rumah itu adalah sarang mantan penguasa mafia. Penjagaannya pasti sama ketatnya atau bahkan lebih gila daripada di Black Valley ini.

“Wanita remahan sepertiku mana bisa menembus benteng sekokoh itu? Yang ada, baru menginjakkan kaki di halaman depan saja aku sudah ditembak mati di tempat!” pekik Lastri histeris dalam hatinya.

Namun, saat Lastri mendongak dan menatap mata merah Kayden yang menyiratkan keputusasaan seorang ayah yang kehilangan anaknya, hatinya mendadak luluh. Berada di posisi ini, Lastri tahu tak ada ruang untuk menolak. Jika ia tak mencobanya, siapa yang tahu apa yang akan terjadi pada Deana dan Baby Elvano di luar sana?

Lastri mengeratkan genggamannya pada foto tersebut, lalu mendongak dengan tatapan mantap.

"Baik, saya menerima perintah Anda, Tuan Besar. Saya akan membawa Nona Muda Deana dan Baby Elvano pulang," ucap Lastri penuh tekad.

Sebelum melangkahkan kaki keluar dari gerbang Black Valley, Lastri sempat berdiri termangu. Rasa takut masih menggelayuti benaknya.

Melihat hal itu, Davin yang berjalan di sampingnya mengulas senyuman tipis, mencoba menyuntikkan keberanian. "Tidak perlu takut, Lastri. Tetaplah tenang. Setahu saya, Marvis tidak sekejam dan sedingin Tuan Besar kita. Mereka masih memiliki sisi kemanusiaan yang tinggi."

Lastri berharap perkataan Davin benar.

.

.

.

Sementara itu, di halaman belakang kediaman Marvis, suasana sore itu terasa begitu berbeda. Tawa riang Deana membubung tinggi ke udara, menggema jernih saat gadis cilik itu berlarian menghindari kejaran Nicolas.

“Ayoooo kejaaal sini Kakek… ahahaha…”

“Eitsss nda kena! Ayo tangkap sini! Masa Kakek sultan kalah sama anak kecil. Ahaha…”

“Aduhh… larinya jangan kencang-kencang dong... pinggang Kakek bisa encok ini…”

"Nda pellu kuwatil Kakek, nanti Deana bawain tukang sayul..."

"Kok tukang sayur? Tukang urut, Deana...."

Tawa renyah itu terdengar seperti alunan melodi paling indah di telinga Alettha yang lagi duduk di kursi santai. Meskipun matanya tak bisa melihat dunia, wanita paruh baya itu bisa membayangkan dengan sangat jelas betapa bahagianya ekspresi sang cucu saat ini.

Di sudut lain, Vivian berdiri terpaku dengan air mata yang diam-diam menetes tanpa suara. Dadanya bergemuruh hebat menyaksikan pemandangan di depannya. Nicolas akhirnya berhasil menangkap Deana, mengangkat tubuh mungil itu tinggi-tinggi ke udara, berputar-putar sembari ikut tertawa lepas, hingga akhirnya mereka berdua menjatuhkan diri bersama di atas hamparan rumput hijau.

Empat tahun belakangan ini, setelah kabar kematian Vivian, rumah mewah Marvis berubah sepi dan mati. Namun sore ini, berkat kehadiran Deana, secercah harapan dan kehangatan yang sempat sirna itu telah hidup kembali.

Oeeekk! Oeeekk!

Kedamaian itu sedikit terusik oleh suara rengekan kecil dari kereta bayi. Baby Elvano mulai rewel lagi karena merasa diabaikan oleh orang-orang di sekitarnya.

Vivian buru-buru menghampiri kereta bayi tersebut, lalu menyodorkan sebotol ASI yang sudah ia pompa sebelumnya. Namun secara mengejutkan, Baby Elvano memalingkan wajah, menolak dot botol itu mentah-mentah. Sepasang mata bulatnya menatap Vivian penuh tuntutan, mengisyaratkan bahwa ia ingin menyusu langsung pada dada wanita itu.

Vivian mengembuskan napas pendek, merasa agak kesal sekaligus gemas.

Entah kenapa, sifat bayi ini mirip sekali dengan Kayden Gilbert! Suka pilih-pilih makanan dan keras kepala. Padahal statusnya masih bayi merah, tetapi aura dominan dan mengintimidasi milik ayahnya sudah terasa begitu kuat di dalam dirinya.

Namun, di tengah-tengah kedamaian keluarga yang baru saja tercipta itu, seorang pelayan pria berjalan tergesa-gesa menghampiri Nicolas dengan raut wajah panik.

"Melapor, Tuan Besar. Di depan gerbang utama... ada seseorang yang mengaku diutus langsung oleh pihak Black Valley datang berkunjung," lapor pelayan itu dengan suara bergetar.

DEG!

Suasana di halaman belakang berubah tegang dan mencekam. Tawa Nicolas lenyap dalam sekejap, digantikan oleh gurat rahang yang mengeras kokoh.

"Tolak! Usir orang itu sekarang juga!" perintah Nicolas dingin tanpa keraguan sedikitpun.

Namun, sebelum pelayan itu sempat berbalik, suara lembut Alettha menyela dari kursinya. "Tunggu dulu Nicolas. Biarkan dia masuk. Izinkan dia menemui kita."

“Sayang, apa yang kamu pikirkan? Bagaimana jika orang yang dikirim bajingan itu adalah pembunuh bayaran yang menyamar untuk mencelakai kita?" protes Nicolas.

— 🌹

1
Uthie
NT tolong Loloskan Cerita ini 🙏🙏🙏😍😍😍
Dewie
😍
Ayudya
ayolah Vivian kamu cepat sadar biar anak anak mu ga sedih
Hesty
up gi thooor ☺
Intan Noer
stok itu, gimana dong Thor, tar klau blik ketubuh tubuh penggantinya gimana trus klau g blik tar g ada yg tau atau author mau ksih roh orang lain di dlm tubuh Vivian. aduh jngan Thor tar kyk cerita sblh tbhnya diambil jiwa lain yg jahat SM ank2nya
A R
wahhh apa vivian bakal pindah ke tubuh asli nya??? kasian arini tp 😭😭😭
Ayudya
semoga ada keajaiban biar Vivian sadar dari koma nya😢😢😢😢
Ayudya
nah tu para tuyul Uda mulai ribut lagi🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
nah kan kayden ga mau jujur ma anaknya.mala buat deana tambah benci ma kamu kayden
Uthie
Sukkkkaaa BANGETTT ceritanya 👍👍👍🤩
Uthie
dasar niii para bocil 😁
Hesty
thoor bikin jiwa vivian kembali lagi keraganya... 🙏☺
Dew666
👑👑👑
Uthie
Oooo... begitu tohhhhh ternyata 😁
Uthie
Wahhhh... Dea 🤩
aristi
apakah itu tubuh Vivian yg diawetkan????
A R
sdh kudugaaa sih kl el anak vivian jg. hrsnya biarin deana ketemu vivian. siapa tau kl diajak ngmg vivian bisa sadar
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Uthie
makin seru dan menarik cerita nya 👍👍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!