Tiga tahun setelah perang besar melawan Abyss, dunia tak pernah benar-benar pulih.
Retakan neraka muncul di berbagai penjuru benua, memuntahkan monster, iblis, dan roh-roh jahat yang merasuki manusia.
Rowan Desmond, kesatria terkuat dari Kerajaan Aurelius telah menghabiskan tiga tahun memburu petaka yang tak kunjung berakhir.
Sampai suatu malam Rowan menangkap seorang pencuri bernama Cecilia Landon yang mencuri relik kuno milik kerajaan. Namun Cecilia menyimpan kemampuan besar, dimana ia dapat melihat roh, mendengar bisikan arwah, dan memurnikan kegelapan yang sangat dibutuhkan oleh Rowan.
Rowan akhirnya membuat sebuah perjanjian; Ia akan membantu Cecilia mengumpulkan relik-relik yang diburunya. Sebagai gantinya, Cecilia harus membantu Rowan menghadapi roh-roh yang mengancam seluruh benua.
Namun semakin jauh perjalanan mereka, semakin banyak rahasia yang terkuak, tentang Cecilia yang ternyata terkutuk.
Akankah mereka mampu menyelamatkan dunia atau justru kehilangan satu sama lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18. SYARAT
Keheningan menyelimuti kamar Permaisuri setelah Cecilia menjelaskan mengenai media kutukan yang ditemukan di bawah tempat tidur.
Kantung kulit berisi tulang, rambut, dan sisa ritual kini berada di tangan kepala pelayan.
Pria tua itu terlihat pucat.
Jelas selama puluhan tahun melayani keluarga kekaisaran, ia tidak pernah membayangkan akan menemukan benda mengerikan seperti itu tepat di bawah tempat tidur Permaisuri.
Jika ditanya siapa yang menaruhnya, kemungkinan besar adalah pelayan. Karena tempat tidur permaisuri ini tidak diubah dari dua generasi sebelumnya. Yang selalu diganti hanya bagian atas saja tapi tidak dengan rangkanya.
Sementara itu Kaisar Aurelius berdiri membeku. Tatapannya tertuju pada kantung kutukan tersebut.
Perlahan amarah mulai memenuhi wajahnya. Bukan amarah seorang penguasa, melainkan amarah seorang suami saat tahu kalau seseorang telah menyakiti istrinya. Seseorang telah mengincar tubuh Permaisuri yang sangat dicintainya.
Dan lebih parah lagi pelaku melakukannya mungkin dari dalam istana. Karena tidak mungkin benda itu bisa berada di bawah tempat tidur tanpa bantuan orang dalam.
Kaisar mengepalkan tangannya, urat-urat muncul di punggung tangan disertai aura menekan memenuhi ruangan.
Bahkan kepala pelayan yang berdiri langsung menundukkan kepala karena bisa merasakan amarah Kaisar.
"Temukan siapa 'tikus' yang menaruh benda ini dan pastikan dia buka suara untuk memberitahu siapa yang menyuruhnya, perintah Kaisar dengan suara tajam.
Kepala pelayan segera membungkuk dan menjawab, "Dengan nyawa saya sebagai jaminan akan saya temukan pelakunya, Yang Mulia."
"Bagus."
Kaisar tidak berkata lebih jauh, karena saat ini ada sesuatu yang jauh lebih penting; Permaisuri.
Tatapan Kaisar kembali menuju ranjang tempat wanita yang dicintainya selama berbulan-bulan hanya bisa terbaring diam.
Lalu Kaisar memandang Cecilia dan berkata, "Kau bilang masih ada cara."
Cecilia mengangguk. "Ada."
"Jelaskan," perintah Kaisar.
Cecilia menarik napas pelan, kemudian berjalan mendekati jendela dan menyingkapnya sehingga cahaya bulan masuk dari balik tirai.
"Aku harus masuk ke Alam Arwah," ucap Cecilia.
Rowan langsung mengernyit. "Masuk ke Alam Arwah?"
"Ya. Jiwa Permaisuri berada di sana. Jika aku ingin membawanya kembali maka aku harus menemukannya secara langsung di tempat Permaisuri ditahan.
Kaisar menatap gadis itu tanpa berkedip. "Alam Arwah itu seperti apa?" tanyanya
Cecilia terdiam sesaat. Mencari cara menjelaskan.
"Bayangkan sebuah dunia yang berada di antara kehidupan dan kematian. Tempat berkumpulnya roh. Tempat kenangan dan tempat mimpi buruk. Di sana tidak ada hukum dunia manusia. Tidak ada siang. Tidak ada malam. Tidak ada jarak yang pasti. Dan tidak ada jaminan yang masih hidup pergi ke sana bisa menemukan jalan pulang," jelas Cecilia sebisanya.
Mata Rowan sedikit menyipit. "Itu terdengar berbahaya."
"Bukan terdengar. Itu memang berbahaya. Terutama dalam kasus Permaisuri. Karena seseorang sengaja menahan jiwanya di sana. Itu berarti ada roh jahat yang menjaganya. Dan kemungkinan besar bukan satu," sambung Cecilia, yang kembali melihat ribuan mata merah ketika tak sengaja berinteraksi dengan alam arwah tempat Permaisuri berada saat menyentuh wanita itu tadi.
Wajah Kaisar berubah muram. "Kalau begitu ... apa yang terjadi jika kau gagal?"
Pertanyaan itu membuat Cecilia terdiam cukup lama tapi ia harus menjawab dengan jujur.
"Aku akan mati," kata Cecilia.
Ruangan membeku.
Kepala pelayan langsung memucat.
Bahkan Rowan terlihat tidak senang mendengarnya, lebih tepatnya marah.
Namun Cecilia belum selesai, ia melanjutkan, "Atau mungkin lebih buruk. Rohku bisa tersesat selamanya di sana. Aku tidak bisa kembali ke tubuhku. Dan tubuhku akan menjadi wadah kosong yang akhirnya akan diisi oleh roh jahat."
Keheningan yang terjadi setelahnya terasa menyesakkan. Bahkan api perapian terdengar terlalu keras.
Rowan menatap Cecilia kesal, "Kau membicarakan hal itu terlalu santai padahal kau membicarakan resiko terburuk nyawamu."
Cecilia mengangkat bahu. "Karena itu memang risikonya."
Rowan terlihat semakin tidak senang. Namun ia tidak menyela, karena saat ini mereka membutuhkan penjelasan rinci Cecilia.
"Lalu bagaimana cara melakukannya?" tanya Kaisar.
"Aku harus melakukan ritual. Ritual pemisahan roh dan membawa roh permaisuri pulang. Aku akan memasuki kondisi antara hidup dan mati. Dan kesadaranku akan berjalan menuju Alam Arwah," jawab Cecilia serius
Kaisar mengangguk perlahan. "Lalu?"
"Lalu aku mencari Permaisuri. Dan membawanya pulang sebelum para roh jahat mendapatkan kami," ujar sang gadis yang jelas tidak suka tentang alam arwah yang ia bicarakan.
Sesederhana itu cara Cecilia mengatakannya, seolah sedang berbicara tentang berjalan ke pasar. Padahal yang dibicarakan adalah memasuki dunia kematian.
"Apakah semudah yang diucapkan?" tanya Rowan.
"Itu karena bagian sulitnya belum kuberitahu," balas Cecilia.
Pria itu menghela napas. "Tentu saja."
Cecilia kembali memandang mereka dan menjelaskan, "Selama ritual berlangsung. Tubuhku akan kosong. Dan itu masalah besarnya."
"Kenapa?" tanya Kaisar.
"Karena tubuh kosong menarik roh gentayangan lebih terutama lagi roh jahat," beritahu Cecilia.
Mata Rowan langsung berubah serius. "Jadi mereka bisa memasuki tubuhmu saat ritual itu?"
"Ya. Dengan mudah dan mereka bisa mengambil alih dan hidup kembali dengan menggunakan tubuhku," jawab Cecilia.
Suasana kembali membeku, ngeri akan informasi dari Cecilia ini.
"Jika ada roh yang berhasil masuk. Maka aku tidak akan bisa kembali. Kehidupanku selesai dan tubuhku menjadi milik roh itu," tambah Cecilia.
Tidak ada seorang pun yang menyukai kemungkinan tersebut terutama Rowan.
Pria itu langsung berkata tanpa berpikir panjang. "Aku akan menjagamu jika kau melakukan ritual."
Cecilia menoleh.
Rowan berdiri tegak, tatapannya mantap. "Aku akan memastikan tidak ada yang menyentuhmu."
Cecilia tampak sedikit ragu, kemudian ia menggeleng. "Kau tidak bisa."
Rowan mengernyit. "Maksudmu?"
"Karena kau tidak bisa melihat mereka," kata Cecilia.
"Melihat siapa?" Rowan tak suka kata 'tidak bisa'.
"Para roh. Kau tidak bisa melihat para roh," Cecilia mengingatkan.
Rowan terdiam. Pernyataan Cecilia benar; Rowan tidak bisa melihat roh. Bahkan jika seribu roh muncul di ruangan ini. Dirinya tidak akan tahu.
"Kau juga tidak bisa melawan mereka. Pedangmu tidak berguna terhadap roh yang tidak memiliki tubuh fisik. Jadi meskipun kau menjagaku. Kau mungkin tidak akan tahu saat tubuhku sedang direbut," kata Cecilia menamparkan kenyataan kepada Rowan.
Rowan tidak memiliki bantahan, karena Cecilia benar. Ia adalah kesatria, petarung, pahlawan perang, namun semua itu tidak berguna jika musuhnya adalah sesuatu yang bahkan tidak bisa dilihatnya.
Kaisar memerhatikan keduanya, lalu bertanya, "Kalau begitu apa yang kau butuhkan?"
Cecilia terdiam cukup lama lagi, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
Sampai akhirnya sang berjalan mendekati Kaisar. Tatapannya serius.
"Aku membutuhkan relik yang sempat pernah ingin kucuri di ruang harta kerajaan tempo hari. Cermin Arwah, Lunareth," beritahu Cecilia.
Rowan langsung menoleh.
Kaisar membeku, bahkan kepala pelayan tampak terkejut.
Ruangan langsung sunyi karena semua orang di sana tahu apa yang diinginkan Cecilia; relik suci kekaisaran. Salah satu benda berharga yang dimiliki keluarga Aurelius setelah perang Abyss tiga tahun lalu. Benda yang bahkan disimpan jauh di bawah perlindungan kerajaan.
Kaisar sendiri tampak ingin tertawa, namun situasi terlalu serius untuk itu.
"Apa kau benar-benar membutuhkannya?" tanya Kaisar.
"Ya, Lunareth adalah relik yang bisa memperlihatkan batas antara dunia manusia dan dunia roh. Aku bisa menggunakannya untuk memperkuat ritual dan meningkatkan kemungkinan keberhasilanku dan juga alat dimana kalian yang tidak bisa melihat roh sekali pun bisa melihatnya dari cermin itu," jawab Cecilia tanpa ragu.
Kaisar menatapnya dalam diam, kemudian berkata dengan nada menantang, "Dan jika aku tidak mau memberikannya?"
Cecilia terlihat ragu. Bukan karena takut, melainkan karena sedang memikirkan jawaban yang tepat. Akhirnya ia memilih berkata jujur.
"Kalau begitu aku tidak punya cara lain untuk menyelamatkan Permaisuri," kata Cecilia.
Mata Kaisar sedikit melebar.
"Jadi tanpa Lunareth? Peluangnya terlalu kecil. Bahkan mungkin mustahil," ujar sang gadis.
Keheningan kembali turun. Semua orang menunggu keputusan Kaisar, karena yang diminta Cecilia bukan benda biasa. Melainkan salah satu harta kekaisaran.
Namun hanya beberapa detik kemudian Kaisar mengambil langkah maju. Tatapannya tertuju pada Permaisuri, kemudian kepada Cecilia. Dan ketika ia berbicara. Suaranya tidak lagi terdengar seperti seorang penguasa. Melainkan seorang suami.
"Bahkan jika aku harus memberikan seluruh kerajaan ini padamu, aku akan melakukannya."
Mata Cecilia membesar. "Yang Mulia ...."
Kaisar melanjutkan, "Akan kuberikan Lunareth Akan kuberikan apa pun yang kau butuhkan. Tolong selamatkan istriku."
Dan sebelum siapa pun menyadarinya ... Kaisar Aurelius membungkukkan tubuhnya.
Kepala pelayan langsung panik.
Bahkan Rowan tampak terkejut.
Karena seorang Kaisar penguasa terbesar di benua ini baru saja merendahkan dirinya untuk memohon kepada seorang gadis muda.
Cecilia panik.
"Yang Mulia!" Ia hampir melompat mundur. "Jangan lakukan itu! Anda seorang Kaisar, Nada tidak boleh membungkuk untuk orang lain."
Namun Kaisar tidak bergerak, tatapannya tetap penuh harapan dan keputusasaan.
Dan saat itulah Cecilia benar-benar memahami. Betapa dalam pria ini mencintai istrinya.
Bukan sebagai Kaisar, tetapi sebagai seorang suami yang takut kehilangan orang yang sangat dicintainya.
Jantung Cecilia terasa sesak, lalu perlahan ia menghela napas. Dan membungkukkan tubuhnya kembali untuk menghormati sang Kaisar yang membungkuk untuknya.
"Angkat kepala Anda, Yang Mulia. Karena bahkan tanpa Anda membungkukan tubuh padaku. Aku memang berniat menyelamatkan Permaisuri," ucap Cecilia.
Untuk sekian lama setelah berbulan-bulan. Harapan benar-benar muncul di mata Kaisar Aurelius.
Sementara jauh di sudut kamar, tak terlihat oleh siapa pun.
Empat roh leluhur Aurelius kembali muncul, memandang Cecilia dan mereka tersenyum.
serius,,, seperti nonton film kolosal,,, KEREN k Othor,,, lopiyu muachh /Kiss/