Selama enam tahun, Kinara hidup sebagai istri dari Zergan Airlangga, seorang direktur sekaligus CEO muda yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Pernikahan mereka bukanlah kisah cinta yang indah, melainkan hasil perjodohan dua keluarga besar.
Sejak awal, Kinara mencintai Zergan seorang diri. Ia bertahan dengan harapan bahwa suatu hari hati suaminya akan luluh. Namun, harapan itu tak pernah menjadi kenyataan. Bagi Zergan, hatinya telah terkubur bersama wanita yang pernah ia cintai dan telah meninggal dunia. Kehilangan itu mengubahnya menjadi pria yang dingin, acuh, dan tak pernah benar-benar melihat keberadaan Kinara sebagai istrinya.
Hingga sebuah kejadian tak terduga mengakhiri segalanya.
Saat membuka mata, Kinara mendapati dirinya kembali ke masa lalu saat usianya baru dua puluh tahun dan masih duduk di bangku kuliah. Ia kembali ke waktu sebelum perjodohan itu terjadi, sebelum enam tahun penuh luka dan penantian.
Kali ini, Kinara bertekad mengubah takdirnya. Ia tidak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Keesokan pagi harinya, sinar matahari hangat mulai menerangi kota. Kinara bangun dengan perasaan yang jauh lebih segar meskipun pergelangan tangan kirinya masih menyisakan sedikit rasa ngilu di balik balutan kain kasa putih. Setelah bersiap-siap dengan pakaian kasual yang nyaman, ia melangkah keluar dari unit apartemennya. Lorong lantai lima itu tampak sunyi, pintu unit milik Zergan pun tertutup rapat.
Kinara berjalan menuju halte terdekat dan memilih untuk naik bus kampus demi menghemat energi. Di dalam bus yang melaju membelah jalanan kota, Kinara kembali memeriksa pergerakan saham teknologi yang ia beli kemarin menggunakan sisa dana lotrenya. Senyuman tipis terukir di wajah cantiknya saat melihat grafik hijau yang mulai merangkak naik stabil, membuktikan bahwa jalur finansialnya menuju kebebasan mutlak berada di arah yang tepat.
Beberapa menit kemudian, bus tiba di halte utama universitas. Kinara turun dan mulai berjalan menyusuri koridor terbuka yang menghubungkan area parkir dengan gedung fakultasnya. Namun, langkah kaki Kinara mendadak melambat hingga akhirnya berhenti total di sudut koridor lantai satu yang agak sepi dan terlindung dari keramaian.
Manik matanya melebar sempurna menatap pemandangan beberapa meter di depannya. Di sana, di balik pilar beton, Haura tampak sedang memeluk erat seorang pria bertubuh jangkung dan tegap dengan setelan jas formal yang sangat mewah. Pelukan itu terlihat begitu erat dan hangat, sarat akan kerinduan yang teramat mendalam yang sudah lama tertahan.
'Bukan Zergan...?' pikir Kinara dengan jantung yang mulai berdegup kencang secara tidak beraturan. Pria itu bukan mantan suaminya. Postur tubuhnya sedikit berbeda, dengan potongan rambut yang jauh lebih rapi dan aura dominan yang terasa asing namun... terasa sangat familier di ingatan masa lalunya.
Tak lama kemudian, pria itu melepaskan pelukannya dan sedikit memundurkan tubuhnya, membuat wajahnya kini terlihat dengan sangat jelas di bawah pencahayaan koridor yang terang.
Deg!
Kinara tersentak hebat, tangannya refleks membekap mulutnya sendiri agar tidak memekik nyaring. Seluruh persendian tubuhnya mendadak kaku bak batu. Wajah tegas dengan rahang kokoh dan sepasang mata tajam yang sedikit melankolis itu... Kinara mengenalinya dengan sangat baik.
'Kak Arsen...?!' batin Kinara menjerit histeris dalam hati.
Pria itu adalah Arsen Airlangga, kakak iparnya di kehidupan lalu. Di masa lalunya, Kinara tahu betul bagaimana dingin dan berjaraknya hubungan antara Zergan dan Arsen karena perpisahan paksa akibat perceraian orang tua mereka. Arsen hampir tidak pernah menginjakkan kaki di rumah utama jika ada Zergan, dan mereka selalu bersikap profesional seperti orang asing yang bermusuhan.
Namun, pemandangan di depannya saat ini benar-benar menjungkirbalikkan logika Kinara. 'Tapi kenapa Haura...? Apa hubungannya dengan Kak Arsen? Apa mereka berdua saling kenal sedekat ini di masa lalu?' rentetan pertanyaan itu berputar hebat di kepala Kinara.
Sayup-sayup, suara percakapan antara Arsen dan Haura terdengar melewati keheningan koridor sudut tersebut.
"Kamu nggak tahu seberapa tersiksanya aku selama bertahun-tahun di luar negeri, Haura. Aku bener-bener merindukanmu setiap hari," ucap Arsen dengan nada suara yang terdengar begitu lembut, dalam, dan dipenuhi emosi kerinduan—sebuah intonasi suara yang tidak pernah Kinara dengar dari sosok Arsen yang terkenal kaku dan berdarah dingin di masa lalu. Tangan Arsen bergerak pelan, mengusap puncak kepala Haura dengan penuh kasih sayang.
Haura terkekeh manja, memukul pelan dada bidang Arsen dengan wajah yang merona semringah. "Ih, Kak Arsen lebay banget, deh! Lagian siapa suruh Kakak betah banget di sana sampai nggak pernah pulang? Aku juga kangen tahu, Kakak ipar fiktifku!" canda Haura dengan nada bercanda yang sangat akrab, memanggil Arsen dengan sebutan "Kakak".
Mendengar panggilan akrab dan interaksi yang begitu intim tersebut, sebuah rasa curiga yang teramat pekat mendadak menyengat benak Kinara. Ada sesuatu yang terasa ganjil dari cara Arsen menatap mata Haura—tatapan itu bukan sekadar tatapan seorang kakak kepada teman masa kecil adiknya, melainkan ada kilat emosi lain yang jauh lebih dalam dan tersembunyi di sana.
Namun, Kinara segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba menepis segala pikiran buruk yang mulai berkecamuk di otaknya. 'Nggak, Nara... jangan berprasangka buruk dulu. Bukankah dari cerita yang aku dengar dulu, Haura dan Zergan memang berteman dekat sejak mereka masih kecil? Wajar kalau Haura akhirnya juga mengenal Kak Arsen sebelum orang tua mereka bercerai dan Kak Arsen dibawa ke luar negeri,' batin Kinara mencoba meredam kecurigaannya sendiri, mencari alasan rasional untuk menenangkan detak jantungnya.
Enggan terlibat lebih jauh atau ketahuan sedang menguping pembicaraan intim mereka, Kinara menarik napas panjang. Ia membetulkan letak tas kuliah di pundaknya, lalu membalikkan tubuhnya dengan tenang. Dengan langkah kaki yang dipercepat, Kinara berjalan pergi meninggalkan sudut koridor sepi itu, memantapkan langkahnya menuju ruang kelas fakultasnya sendiri untuk memulai perkuliahan, mencoba melupakan pemandangan membingungkan yang baru saja ia saksikan.
kayanya Haura ada main di belakangnya, dengan Arsen pula!
ada pengkhianatan sebenarnya...
Namun sesudahnya sebenarnya terkuak hubungan rahasia Haura dan Arsen....
dan itu belum di ketahui oleh Ze 👍
dan...bisa jadi di takdir kedua ini, sebenarnya menghubungkan antara 2 tokoh utamanya 👍😁
besok² crazy up dong kk thor💪