Cinta Kirana, hidup dengan masa lalu yang tragis ditinggalkan orangtua. Menyisakan trauma sampai dengan ia dewasa. Siapa sangka, seorang datang mengganti luka dengan suka cita. Perbedaan usia, status sosial dan keterkaitan di masa lalu membuatnya Cinta terpuruk dan kembali terluka. Akankah Cinta bisa menerima kenyataan yang menghampiri?
===
“Namaku Cinta, banyak yang cinta udah pasti. Yakin masih mau sama aku?”
“I love you, Cinta. Sekarang, nanti dan selamanya.”
“Masa?”
“Mahameru pantang ingkar janji.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Setelah Sekian Lama
Bab 29
Suara gemuruh air yang jatuh dari ketinggian meredam segala kebisingan lain, tawa dan keseruan para pengunjung termasuk CInta. Pemandangan tempat itu mirip dengan Antelope Canyon yang berada di Arizona Amerika Serikat.
Perlengkapan syuting sudah dibawa ke mobil, Abil menunggu di mobil dengan supir. Tidak ikut main air karena tidak membawa pakaian ganti dan fisiknya sedang tidak fit. Umar masih mengamati sekitar, mengingat bagian mana dari proses rekaman yang belum dia dapatkan.
Asep yang terbiasa dengan alam, tanpa ragu langsung berdiri tepat di bawah kucuran air yang tidak terlalu deras di antara tebing. "Seger banget! Ta, sini, jangan cuma main di pinggiran!" serunya sambil mengusap wajahnya yang basah kuyup.
Eru memandang pakaiannya yang kini sudah menempel ketat di kulit akibat cipratan air. Namun, melihat semangat Asep, ia akhirnya tertawa dan ikut menerjang aliran air, membiarkan tubuhnya sepenuhnya basah. Rasa dingin yang tadinya menusuk perlahan berubah jadi sensasi yang membebaskan. “Mau ke sana nggak?” tunjuk Eru ke arah Asep.
Cinta menggeleng. “Takut ah.”
Di bawah naungan tebing berbatu, Asep dan Eru benar-benar melepaskan penat. Tidak ada yang peduli lagi dengan baju yang basah kuyup atau hawa dingin yang mulai menggigit. Cinta berada tidak jauh dari tebing, merendam sebagian tubuh.
Sudah sore, pengunjung sudah mulai beranjak. Seolah tempat itu objek wisata pribadi. Umar memotret keseruan timnya dengan ponsel.
“Ta, gabung sana. Biar gue foto.”
“Nggak ah, takut.”
“Ta, sini!” teriak Asep. “Lebay lo, bilang aja minta dipeluk Eru.”
“Dih.” Tidak terima dengan tuduhan Asep, CInta pun menghampiri, Eru mengulurkan tangannya. Umar turun ke air, hanya sebatas lututnya untuk memfoto. Mendapatkan gambar estetik di mana CInta diantara Eru dan Asep. Di belakang mereka tampai air mengalir diantara dua tebing.
“Gaya dong! satu, dua … tiga.”
“Video bang,” pinta CInta.
“Sambil teriak ya,” ujar Umar lagi. “Aba-aba di gue. Satu, dua, tiga!”
“Hidden gems, jelajahi nusantara,” teriak mereka bertiga lalu berlari ke arah air terjun.
“Oke.” Umar menunjukan ibu jarinya. Ia kembali naik ke bebatuan dan memposting foto dan video itu ke media sosial dengan, caption “Nggak ada loe nggak rame”. Bahkan men-tag Arief, Cinta, Asep juga akun media sosial Yess TV.
“Jangan lama-lama, udah sore,” teriak Umar.
***
Akbar menggeram kesal karena Eru makin terlihat akrab dengan Cinta. Langit pun enggan diajak kompromi apalagi Maura. Padahal niatnya hanya ingin semua tetap kondusif demi kebaikan bersama. Kemarahannya sudah mencapai ubun-ubun, menyisakan rasa sesak yang tertahan di dada. Bagaimana mungkin tidak ada satu orang pun yang berdiri di pihaknya? Menganggap niatnya memisahkan Cinta dan Eru sebagai sebuah kesalahan besar.
Penolakan dari Maura adalah yang paling memukul harga dirinya. Ia menduga Istri dari mendiang adiknya itu akan menggunakan akal justru menolak mentah-mentah, membentengi putranya dan menentang rencana Akbar tanpa ragu.
Kekecewaan baru datang dari darah dagingnya sendiri. Langit, yang ia harapkan bisa menjadi sekutu dan memahami posisinya, justru menunjukkan ketidaksetujuan sejak awal.
“Cara Ayah salah.” Kata Langit itu teringat dan seolah terngiang di telinganya. Begitu dingin dan menghakimi. “Kita duduk bersama, hadirkan CInta dan keluarganya. Jelaskan dan ungkap kebenaran itu.” Saran Langit dan Maura yang sekata, seolah menyerangnya dengan telak.
“Baiklah, aku ikuti mau kalian. Biarkan mereka berdua tahu,” gumam Akbar.
Di tempat berbeda, seluruh tim kecuali Abil berkumpul di kamar Umar termasuk Cinta Memutar hasil rekaman tadi siang. Asep di balkon sedang bertelepon sambil merokok. Umar di atas ranjang menekuni laptopnya. Cinta di sofa, jangan tanya Eru sudah pasti di samping gadis itu.
“Nih, ini oke,” ucap Eru mengomentari bagian rekaman. “Pasti ini dipakai untuk opening.”
“Masa?”
“Hm.”
Pintu balkon terbuka, masuklah Asep. “Nggak di mana-mana, rangkulan mulu. Gue panggil penghulu aja, gimana?”
“Jangan dong, nggak boleh nglangkahi yang lebih tua,” sahut Cinta dan Eru tersenyum karena ejekan Asep dibalas tunai.
“Senjata makan tuan, maksudnya gue ngeledek elo. Gimana Bang, udah oke?” tanya Asep pada Umar.
“Hm. Aman sih ini. Yang elo gimana Ta?”
“Udah aman-lah, siap bungkus.”
Ponsel Eru bergetar, ternyata notifikasi pesan grup. Membahas postingan Eru di media sosial, berbeda dari postingan Umar. Foto Eru merangkul CInta di bawah air terjun.
...Arkatama Family...
Samudera A. : Foto
Meresahkan sekali, bocah ini. Mainnya jauh berdua mulu. @Mami_maura, siap-siap mantu
Meilan : ya ampun, sweet banget sih😊
Krisna : Ck, padahal baru mau gue bidik. Udah dibawa kabur lagi. Di mana ini? Biar gue susul
Mami_Maura : Basah-basahan gitu, nanti masuk angin
Eru_kerenz : Nggak mih, langsung anget 🤫 Om Krisna, nggak usah mimpi ya. Cinta udah ada stempel Mahameru’s Wife to be
Langit : Kerja dulu yang bener, baru bahas masalah wife
Eru_kerenz : sambil menyelam minum su-su, 🫣🤭
Krisna : Wah, pelanggaran. Udah kejauhan ini
Obrolan yang membahas masalah Eru dan Cinta, Akbar dan Indri tidak lagi nimbrung. Tidak ada yang tahu perdebatannya antara Akbar dan Maura. Indri berusaha bersikap netral, meski ia menghormati sang suami. Akhirnya ia tidak akan banyak komentar masalah hubungan Eru dan Cinta.
Panggilan masuk di ponsel Eru, kontak dimana orang dalam tugas khusus. “Aku ke balkon ya,” pamit Eru dan Cinta mengangguk.
Memastikan pintu balkon sudah tertutup rapat, Eru menjawab panggilan itu.
“Halo.”
“Halo bos, ada informasi baru terkait pertemuan Ibu Maura dan Pak Langit.”
“Hm, apa itu?”
“Mereka membicarakan insiden kecelakaan di masa lalu. Kecelakaan yang merenggut nyawa Artha Arkatama, Papinya Bos.”
Dahi Eru mengernyit mendengar penjelasan itu. Untuk apa pula dibahas lagi, ia sudah tahu kalau Papinya meninggal karena kecelakaan.
“Aku tahu itu, tapi untuk apa mereka bahas lagi.”
“Karena ada korban yang masih hidup dan bisa menjadi saksi kejadian malam itu. Akan memberatkan pihak keluarga Arkatama. Kalau diungkap mungkin bisa diputuskan kecelakaan itu disebabkan oleh Artha Arkatama.”
Deg
Papi penyebab kecelakaan? Apa ia tidak salah dengar. Saksi? Korban? Apa lagi ini, kenapa setelah sekian lama baru dibahas sekarang.
cinta terhalang kejadian antara orang tua.😭
semangat Eru,setidaknya kamu jangan cepat menyerah.
jadikan cambukan,Cinta yang jadi korban papi mu maka kewajiban mu melindungi nya..kalau perlu menikahi nya
egoisnya akbar hanya mementingkan ke baikan keluarganya sendiri. tanpa memikirkan orang lain.😤
siap2 reaksi cinta nrma ga ya kenyataan
kamu dah di kasih tau sama mamih kan dan di wanti² tentang gosip tidak enak nah ini maksudnya