"Mbak Rani!" Tyas langsung memeluk kakaknya erat.
"Wah, adik Mbak sudah besar sekarang, ya. Makin cantik," puji Rani tulus, mengusap kepala adiknya. Rani kemudian beralih ke suaminya yang berdiri di ambang pintu. "Mas, ini Tyas."
Tyas beralih menyalimi tangan Angga. "Halo, Mas Angga. Mohon bantuannya ya selama Tyas kuliah di sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap di kesunyian malam
Angga tertegun di ambang pintu kamar mandi. Pikirannya yang masih setengah kalut membuat fokusnya terpecah, hingga ia sama sekali tidak menyadari bahwa celana pendek katun yang dikenakannya mencetak dengan sangat jelas sisa gejolak hasratnya yang belum sepenuhnya reda di bawah sana.
Tyas yang berdiri sangat dekat refleks menurunkan pandangannya. Begitu melihat tonjolan yang begitu kentara di balik celana Angga, bola mata Tyas membelalak sempurna. Jantungnya mencelos, dan wajahnya seketika memerah padam sampai ke leher. Rasa bersalah, malu, dan ketakutan mendadak bercampur aduk di dalam dadanya. Tyas langsung menggigit bibir bawahnya dengan erat, mencoba menyembunyikan kepanikannya.
"M-Mas Angga... Tyas cuma mau ambil air minum," bisik Tyas terbata-bata, suaranya bergetar hebat.
Merasa atmosfer di dapur itu sudah terlalu berbahaya, Tyas membalikkan badannya dengan cepat, berniat lari kembali ke dalam kamarnya yang aman. Namun, gerakan Tyas kalah cepat dengan refleks Angga.
Grep.
Satu tangan kekar Angga bergerak kilat mencengkeram pergelangan tangan Tyas, menahannya di tempat. Kulit mereka yang saling bersentuhan mengirimkan sensasi panas yang menyengat. Tyas tersentak dan terpaksa menoleh kembali, menatap mata Angga yang kini tampak begitu gelap dan mengintimidasi di bawah remangnya lampu dapur.
"Mas... lepasin, Tyas mau kamar," cicit Tyas, mencoba menarik tangannya namun cengkeraman Angga terlalu kuat.
Angga perlahan melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma wangi sabun manis dari tubuh Tyas kembali mengusik penciumannya. Angga menundukkan wajahnya, mendekatkan bisikannya tepat di samping telinga Tyas.
"Mau lari ke kamar lagi? Untuk melanjutkan yang tadi sama pacarmu?" bisik Angga dengan suara serak yang berat.
Tyas seketika mematung, tubuhnya mendadak kaku bak batu.
"Mas tahu semuanya, Tyas," lanjut Angga, nadanya terdengar dingin namun sarat akan gejolak. "Mas tahu apa yang kamu lakukan di dalam kamar tadi lewat panggilan telepon itu. Mas dengar semuanya."
Mendengar pengakuan telak dari kakak iparnya, dada Tyas naik turun dengan napas yang memburu. Rahasia paling intim yang baru saja ia lakukan bersama Satya ternyata telah terbongkar di hadapan pria yang seharusnya menjaganya selama Mbak Rani pergi. Sunyinya malam itu kini terasa semakin mencekam, mengunci mereka berdua dalam situasi yang tidak lagi memiliki jalan kembali.
Mendengar ucapan Angga, seluruh persendian Tyas mendadak terasa lemas. Ketakutan yang teramat sangat menyergap dadanya. Jika Mbak Rani sampai tahu apa yang dilakukannya di dalam kamar tadi—terlebih dengan gaya berpacaran bebasnya bersama Satya—hancur sudah kepercayaan kakak kandungnya itu. Hubungan mereka bisa retak, dan Tyas tidak akan pernah siap menghadapi kemarahan serta kekecewaan Mbak Rani.
Dengan tubuh yang gemetar hebat, Tyas memberanikan diri berbalik sepenuhnya menghadap Angga. Gelas kosong di tangannya terlepas dan berdenting pelan di atas meja makan. Ia menatap mata kakak iparnya dengan pandangan berkaca-kaca, memohon belas kasihan.
"Mas... Tyas mohon," bisik Tyas lirih, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. "Tolong jangan kasih tahu Mbak Rani. Tyas minta maaf, Tyas khilaf... Tyas janji gak akan mengulanginya lagi di rumah ini. Tolong jangan bilang-bilang Mbak Rani, Mas..."
Angga tidak melepaskan cengkeramannya. Alih-alih melunak melihat air mata adik iparnya, sudut bibir Angga justru terangkat, membentuk seulas senyuman tipis yang terasa begitu asing dan licik di mata Tyas. Gejolak hasrat yang sedari tadi ditahannya kini justru melihat sebuah celah emas. Keberadaan Rani yang jauh di luar kota membuat sisi gelap Angga keluar sepenuhnya.
Angga melangkah satu kali lagi, membuat tubuh tinggi tegapnya mengunci pergerakan Tyas yang tersudut di dekat meja makan. Ia menundukkan kepala, menatap lurus ke dalam manik mata Tyas yang ketakutan.
"Semua rahasia ada harganya, Tyas," ucap Angga dengan suara rendah yang berat, nyaris berbisik namun terdengar begitu mutlak di telinga Tyas. "Mas bisa saja tutup mulut dan pura-pura tidak tahu apa-apa di depan rani."
Angga sengaja menggantung kalimatnya sejenak. Pandangannya turun, menatap piyama satin maroon yang melekat di tubuh sintal Tyas, sebelum kembali menatap wajah adik iparnya yang pias.
"Tapi ada syaratnya," lanjut Angga dengan nada penuh tuntutan. "Kamu harus memuaskan Mas malam ini. Bukan cuma malam ini... tapi kapan pun Mas mau, selama Mbak Rani tidak ada. Bagaimana?"
Tyas terkesiap, seolah pasokan udara di sekitarnya mendadak hilang. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit di dadanya. Pilihan yang disodorkan Angga bagaikan buah simalakama—menyerahkan dirinya pada kakak iparnya sendiri, atau membiarkan hubungannya dengan Mbak Rani hancur berantakan. Di bawah temaram lampu dapur yang sakral, Tyas hanya bisa terpaku, menyadari bahwa dirinya kini telah sepenuhnya masuk ke dalam perangkap yang dibuat oleh suami kakaknya sendiri.