.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GANGGUAN
Ketenangan adalah kemewahan yang sangat mahal di dunia fana, dan Ji Huang baru saja menyadari hal itu dengan cara yang paling menyebalkan.
Baru saja dia bermimpi indah tentang tidur di atas tumpukan awan sutra tanpa ada gangguan dari dengung pedang purba, sebuah suara ledakan keras mendadak mengguncang seluruh kediaman Keluarga Ji.
BOOM!
Gerbang kayu depan kediaman Keluarga Ji hancur berkeping-keping, puing-puingnya beterbangan hingga ke halaman dalam. Suara teriakan para pelayan yang panik dan derap langkah kaki yang angkuh segera memecah keheningan sore itu.
"Ji Huang! Keluar kamu, sampah tak tahu diri!" sebuah suara menggelegar, dipenuhi dengan energi spiritual yang sengaja ditekan untuk mengintimidasi seisi rumah. "Hari ini, Keluarga Wang datang untuk menagih utang nyawa dan kehormatan!"
Di dalam kamarnya, Ji Huang tersentak tegak. Rambut hitamnya yang acak-acakan mencuat ke segala arah, dan sepasang mata indahnya terbuka lebar. Namun, bukan tatapan ketakutan yang terpancar dari matanya, melainkan kilat kemarahan yang amat sangat pekat.
Dia marah bukan karena nyawanya terancam, melainkan karena kualitas tidur siangnya yang berharga telah dihancurkan dengan sangat tidak sopan.
"Sialan..." Ji Huang ngebatin, giginya gemertakan menahan kesal. "Siapa bajingan yang berani berteriak di jam-jam krusial seperti ini? Apa mereka tidak tahu kalau kurang tidur bisa merusak kulit wajah tubuh baru ini?!"
Sambil menggerutu tanpa henti, Ji Huang bangkit dari ranjang miringnya. Dengan malas, dia memakai jubah luarnya asal-asalan—bahkan kancingnya meleset satu lubang—dan melangkah keluar kamar sambil mengunyah sisa kue kering yang dibawa Xiao Cui tadi.
Sementara itu, di halaman utama kediaman Keluarga Ji, suasananya sangat mencekam.
Ji Zhen, ayah Ji Huang, berdiri di depan barisan pelayan dengan wajah pucat pasi. Di hadapannya, berdiri belasan pengawal berbaju zirah mewah dari Keluarga Wang. Namun, yang paling mengerikan adalah pria paruh baya yang berdiri di paling depan. Pria itu mengenakan jubah biru langit dengan lambang kepala harimau di dadanya—dia adalah Penatua Huo, seorang kultivator ranah Qi Condensation tingkat sembilan dari Sekte Harimau Barat yang disewa oleh Keluarga Wang.
Aura tekanan spiritual yang dipancarkan Penatua Huo membuat para pelayan Keluarga Ji berlutut, menahan dada mereka yang terasa sesak. Bahkan Ji Zhen yang hanya seorang manusia biasa harus menggertakkan gigi agar lututnya tidak gemetar.
"Penatua Huo, Tuan Muda Wang..." Ji Zhen mencoba berbicara dengan suara bergetar, menatap seorang pemuda berpakaian sutra emas di samping Penatua Huo—Wang Jiao, Tuan Muda Keluarga Wang yang kemarin memerintahkan pemukulan terhadap Ji Huang. "Keluarga Ji kami tidak pernah mencari masalah lagi sejak kemarin. Perjodohan dengan Nona Lin... kami juga sudah sepakat untuk membatalkannya!"
Wang Jiao tertawa sombong, melangkah maju sambil mengipas-ngipas kipas kertasnya yang mahal. "Membatalkannya? Orang-orangmu memang sudah mengirim surat pembatalan tadi siang, Ji Zhen. Tapi apakah kamu pikir urusan ini selesai begitu saja? Kemarin, anak sampahmu itu berani menatapku dengan tidak sopan di depan Nona Lin! Kehormatan Keluarga Wang dan Sekte Harimau Barat telah dinodai!"
Wang Jiao menunjuk ke arah koridor kamar. "Hari ini, aku datang bukan cuma untuk pembatalan perjodohan, tapi untuk memastikan anak bodohmu itu berlutut, memotong satu tangannya sendiri, dan merangkak di kakiku seperti anjing!"
"Kamu... kamu terlalu berlebihan!" Ji Zhen mengepalkan tangannya, hatinya hancur melihat arogansi klan besar yang menindas keluarganya yang lemah.
Tepat saat ketegangan mencapai puncaknya, sebuah suara kuapan yang sangat keras terdengar dari arah koridor.
"HOAAAMMM... Berisik sekali. Ini halaman rumah orang, bukan pasar ikan. Kenapa banyak sekali anjing menggonggong sore-sore begini?"
Semua mata langsung tertuju ke arah sumber suara.
Ji Huang berjalan dengan santai, melangkah dengan menyeret sandalnya di atas lantai batu. Tangan kirinya memegang cangkir teh yang sudah dingin, sementara tangan kanannya sibuk menggaruk punggungnya yang gatal. Jubahnya berantakan, matanya setengah tertutup karena mengantuk, dan wajah tampannya menunjukkan ekspresi super malas yang sangat menyebalkan untuk dilihat.
"Huang'er! Kenapa kamu keluar?! Cepat kembali ke kamar!" Ji Zhen berteriak panik, mencoba menghalangi anaknya.
Namun, Wang Jiao sudah melihat Ji Huang. Senyum kejam langsung merekah di wajahnya. "Hahaha! Bagus! Akhirnya si sampah ini keluar juga! Aku mengira kamu sudah mati semalam karena ketakutan, Ji Huang!"
Ji Huang mengabaikan Wang Jiao sepenuhnya. Dia berjalan melewati ayahnya, mendekati tepi tangga koridor, lalu menatap puing-puing gerbang rumahnya yang hancur dengan wajah merengut.
"Hei, wajah emas," Ji Huang menunjuk Wang Jiao dengan cangkir tehnya. "Kamu yang menghancurkan gerbang itu?"
Wang Jiao mengernyitkan dahi, merasa terhina dengan sebutan 'wajah emas'. "Benar! Itu cuma peringatan kecil untuk keluarga pelayan seperti kalian! Memangnya kenapa?!"
Ji Huang menghela napas panjang, memandang Wang Jiao dengan tatapan kasihan yang luar biasa polos, seolah-olah dia sedang melihat orang yang otaknya agak terganggu.
"Kamu tahu tidak? Membuat gerbang kayu seperti itu butuh waktu tiga hari bagi tukang kayu kami. Dan suaramu yang berteriak-teriak tadi... merusak fase tidur milikku. Kamu tahu betapa berharganya tidur siang bagi kesehatan jiwa?" Ji Huang menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah watados. "Dasar orang kaya tidak punya tata krama. Mengganti rugi gerbang itu mahal, tahu."
Mendengar ucapan Ji Huang yang sama sekali tidak nyambung dan terkesan meremehkan situasi hidup dan mati ini, seisi halaman mendadak hening.
Ji Zhen menepuk jidatnya, bener-bener yakin kalau jiwa anaknya sudah agak terganggu akibat pukulan kemarin. Sementara para pengawal Keluarga Wang saling pandang, bingung dengan keberanian—atau kebodohan—Tuan Muda Keluarga Ji ini.
Wajah Wang Jiao memerah padam karena menahan amarah. Dia adalah Tuan Muda kaya yang selalu ditakuti, tapi hari ini dia malah diceramahi tentang "tidur siang" dan "tukang kayu" oleh orang yang dia anggap sampah!
"Bicara omong kosong apa kamu, keparat?!" Wang Jiao berteriak murka, urat-urat di lehernya menonjol. Dia berbalik menatap salah satu pengawal terbaiknya yang merupakan kultivator ranah Qi Condensation tingkat tiga. "Patahkan kakinya! Sekarang juga! Aku ingin melihat apakah mulutnya masih bisa berbicara konyol setelah tulangnya hancur!"
"Baik, Tuan Muda!"
Pengawal bertubuh kekar itu maju ke depan dengan seringai kejam. Dia menarik pedang bajanya yang lebar. Energi spiritual (Qi) berwarna kuning kecokelatan mulai menyelimuti bilah pedangnya, menciptakan embusan angin yang cukup kuat untuk menerbangkan daun-daun kering di halaman.
"Bocah sampah, terima nasibmu!" pengawal itu melompat tinggi, mengayunkan pedangnya ke arah kaki Ji Huang dengan kecepatan yang mengerikan bagi ukuran manusia biasa.
"Huang'er, awas!" Ji Zhen berteriak histeris, mencoba maju untuk melindungi anaknya, namun tekanan aura dari Penatua Huo di belakang membuat tubuhnya terkunci dan tidak bisa bergerak.
Ji Huang masih berdiri di tempatnya. Menghadapi tebasan pedang yang mematikan itu, dia bahkan tidak berkedip. Matanya yang sayu melihat gerakan si pengawal dengan tingkat kebosanan yang mendalam.
Di mata seorang Dewa Pedang Primordial yang memegang hukum mutlak alam semesta, gerakan pengawal ranah Qi Condensation ini terasa sejuta kali lebih lambat daripada siput yang sedang terluka. Arah tebasannya penuh dengan celah, energinya berantakan, dan postur tubuhnya sangat buruk. Bagi Ji Huang, melihat jurus pedang sekelas ini benar-benar sebuah siksaan bagi matanya yang estetik.
"Gerakan yang banyak gaya... tapi sama sekali tidak ada isinya," gumam Ji Huang pelan sambil menguap kecil.
Sambil memegang cangkir tehnya dengan tangan kiri agar tidak tumpah, tangan kanan Ji Huang bergerak dengan sangat santai, menggapai sebatang ranting pohon kering yang kebetulan melayang jatuh di dekat wajahnya akibat hembusan angin jurus musuh.
Dia memegang ranting pohon rapuh itu, lalu dengan gerakan malas seperti orang yang sedang mengusir lalat, Ji Huang mengibaskannya ke depan.