NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:929
Nilai: 5
Nama Author: nurproject

Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.

​Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.

​Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Panggilan yang Tidak Terduga

​Malam itu, apartemen Paman Hamdan di pinggiran Toronto terasa sangat tenang, namun tidak bagi Aisya. Ia duduk di tepi tempat tidurnya, menatap salju yang mulai menumpuk di bingkai jendela. Pikirannya terus berputar pada kejadian di kafe tadi siang.

​Hutang. Kata itu terus terngiang di kepalanya. Bagaimana bisa ia merusak dokumen penting milik pria sekuat Cassian Noir?

​Tiba-tiba, suara tawa Paman Hamdan terdengar dari ruang tamu, disusul suara percakapan telepon yang terdengar sangat formal. Aisya bangkit dan mengintip dari balik pintu kamar.

​"Ya, ya, Tuan Noir. Saya benar-benar tidak menyangka Anda akan menelepon langsung. Tentu saja, Aisya bercerita bahwa ia tidak sengaja menabrak Anda... Apa? Oh, begitu..." Wajah Paman Hamdan berubah dari terkejut menjadi serius, lalu ia melirik ke arah kamar Aisya.

​Setelah menutup telepon, Paman Hamdan memanggilnya. "Aisya, kemarilah."

​Aisya melangkah mendekat dengan jari-jari yang saling bertautan, tanda ia sedang cemas. "Ada apa, Paman?"

​"Itu tadi Tuan Cassian Noir," ujar Paman Hamdan sambil menghela napas. "Dia bilang kau menumpahkan cokelat pada dokumen kontraknya. Benar?"

​Aisya mengangguk lemah. "Maafkan Aisya, Paman. Aisya benar-benar ceroboh."

​"Dia tidak marah, Aisya. Tapi dia bilang dokumen itu harus diketik ulang dan diverifikasi datanya malam ini juga karena harus dikirim ke London besok pagi. Asisten pribadinya sedang cuti karena kecelakaan, dan dia membutuhkan seseorang yang teliti—atau setidaknya seseorang yang harus bertanggung jawab—untuk membantunya di kantor pusat malam ini."

​Mata hitam pekat Aisya membelalak. "Malam ini? Di kantornya?"

​"Paman akan mengantarmu sampai lobi gedung Noir Group. Tuan Noir menjamin keamananmu. Dia bilang, ini adalah cara agar kau bisa melunasi hutang 'kerugian' yang kau buat tadi siang," Paman Hamdan menepuk bahu keponakannya. "Lagi pula, paman dengar bekerja untuk Noir Group meskipun hanya satu malam adalah pengalaman luar biasa untuk CV-mu nanti."

​Satu jam kemudian, Aisya berdiri di depan gedung pencakar langit yang didominasi kaca gelap di pusat kota Toronto. Gedung itu adalah jantung dari Noir Enterprises. Dengan langkah ragu, ia masuk dan diarahkan oleh petugas keamanan menuju lantai paling atas—lantai eksekutif.

​Saat pintu lift terbuka, suasana sunyi dan mewah langsung menyambutnya. Di ujung lorong, di balik meja kayu besar, duduk Cassian Noir. Ia sudah melepas jasnya, hanya mengenakan kemeja biru muda dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan peraknya yang berkilat di bawah lampu ruangan.

​Cassian mendongak. Mata biru abu-abunya menyapu sosok Aisya yang tampak mungil terbalut jaket musim dingin dan niqab hitamnya.

​"Kau terlambat lima menit, Aisya," ujar Cassian tanpa basa-basi. Suaranya bergema di ruangan yang luas itu.

​"Maaf, Tuan. Jalanan sedikit licin," jawab Aisya pelan.

​Cassian menunjuk ke sebuah meja kecil di samping meja besarnya yang sudah dilengkapi dengan komputer dan tumpukan kertas baru. "Duduklah di sana. Aku sudah menandai bagian yang harus kau salin ulang. Pastikan tidak ada satu huruf pun yang salah, atau kau akan berada di sini sampai matahari terbit."

​Aisya segera duduk dan mulai bekerja. Ruangan itu sangat hening, hanya terdengar suara detak jam dinding dan ketikan jemari Aisya di papan ketik. Namun, Aisya bisa merasakan tatapan Cassian sesekali beralih dari layar laptopnya menuju ke arahnya.

​Setelah dua jam bekerja, sifat ceroboh Aisya kembali muncul karena rasa kantuk. Saat ia hendak mengambil pulpen, tangannya justru menyenggol tumpukan dokumen yang sudah rapi, membuatnya berhamburan ke lantai di dekat kaki Cassian.

​Aisya mengeluh pelan, "Oh, tidak..."

​Ia segera berlutut untuk memungut kertas-kertas itu. Di saat yang sama, Cassian juga membungkuk untuk membantu. Gerakan mereka yang mendadak membuat kepala Aisya hampir membentur dagu Cassian.

​Jarak mereka kini hanya terpaut beberapa inci. Aisya bisa melihat dengan jelas pantulan dirinya di mata biru abu-abu Cassian yang dingin. Untuk sesaat, udara di ruangan itu terasa menipis.

​"Aku mulai curiga," bisik Cassian dengan suara rendah yang menggetarkan indra pendengaran Aisya, "apakah kau benar-benar ceroboh, atau kau hanya sedang mencari alasan agar aku selalu menyentuhmu, Aisya?"

​Mata hitam Aisya bergetar hebat mendengar tuduhan itu. "T-Tuan... bukan begitu..."

​Cassian tidak menjauh, ia justru mengambil selembar kertas yang terselip di bawah lutut Aisya, sementara matanya tetap mengunci pandangan gadis itu. "Selesaikan pekerjaanmu. Setelah ini, aku sendiri yang akan mengantarmu pulang."

​Pilihan yang luar biasa! Rolls-Royce Ghost adalah definisi utama dari kemewahan nomor satu di dunia. Sedan ini memiliki empat pintu dan empat kursi yang sangat luas, lengkap dengan pembatas konsol mewah di tengah kursi belakang, sangat cocok untuk status Cassian Noir sebagai seorang CEO tertinggi.

​Aisya segera menarik diri dan kembali duduk di kursinya dengan jantung yang masih berdebar kencang. Baru saja ia ingin meminta izin untuk menelepon pamannya, pintu besar ruangan itu diketuk.

​Seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi masuk. Dia adalah Pak Lukas, kepala keamanan pribadi Cassian yang sudah sangat dipercaya. "Tuan Noir, kendaraan sudah siap di lobi bawah. Tim pembersih salju sudah memastikan jalur menuju North York aman."

​Aisya menghela napas lega. Kehadiran Pak Lukas seketika membuat suasana yang tadinya terasa menegangkan menjadi lebih netral.

​"Terima kasih, Lukas. Kau yang akan menyetir malam ini," ujar Cassian sambil meraih mantel wol panjangnya. Ia menoleh ke arah Aisya yang masih berdiri kaku. "Ayo, pamanmu sudah menunggu."

​Mereka turun menggunakan lift eksklusif menuju lobi. Di depan pintu masuk gedung, sebuah Rolls-Royce Ghost berwarna hitam metalik sudah terparkir dengan anggun. Mobil sedan ultra-mewah yang menjadi simbol status nomor satu di dunia itu tampak sangat kokoh di tengah badai salju.

​Pak Lukas membukakan pintu belakang yang terbuka dengan arah terbalik (coach doors), ciri khas kemewahan Rolls-Royce. Aisya masuk terlebih dahulu dan duduk di pojok kiri. Di antara kursi belakang mobil itu terdapat konsol tengah yang besar dan tinggi berbahan kayu premium, menciptakan pembatas fisik yang sangat jelas antara dirinya dan kursi sebelah kanan.

​Cassian masuk dan duduk di sisi kanan. Sementara itu, asisten muda Cassian yang bernama Kevin duduk di kursi penumpang depan bersanding dengan Pak Lukas yang memegang kemudi. Dengan kehadiran Pak Lukas dan Kevin di depan, Aisya merasa jauh lebih tenang dan terlindungi.

​Mobil sedan mewah itu meluncur dengan sangat halus membelah jalanan Toronto yang mulai memutih. Berkat teknologi kekedapan suara nomor satu milik Rolls-Royce, suasana di dalam kabin terasa sangat sunyi, seolah-olah badai salju di luar sana sama sekali tidak terjadi.

​"Aisya," panggil Cassian tiba-tiba. Suaranya yang berat terdengar sangat jelas di dalam kabin yang senyap itu.

​Aisya tersentak kecil, jemarinya meremas tas kainnya dengan gugup. "Iya, Tuan?"

​"Kenapa kau memilih kuliah jauh-jauh ke Kanada? Dengan sifatmu yang... unik itu, kau akan kesulitan di sini," tanya Cassian. Mata biru abu-abunya menatap lurus ke arah jalanan di depan, namun telinganya menunggu jawaban.

​Aisya terdiam sejenak, menatap butiran salju yang perlahan menempel di kaca jendela luar. "Karena mimpi tidak mengenal jarak, Tuan Noir. Saya ingin belajar di tempat yang asing agar saya bisa tumbuh lebih kuat. Dan soal kecerobohan saya... mungkin itu cara Tuhan agar saya tidak sombong dan selalu sadar bahwa saya butuh bantuan orang lain."

​Cassian tertegun. Ia terbiasa dikelilingi oleh orang-orang yang bicara tentang ambisi besar untuk menaklukkan dunia atau meraih keuntungan materi. Namun, jawaban dari gadis berusia 19 tahun ini justru sangat rendah hati dan mendalam.

​Mobil akhirnya berhenti dengan mulus tepat di depan lobi apartemen Paman Hamdan. Pak Lukas segera turun dan membukakan pintu untuk Aisya.

​"Terima kasih atas tumpangannya, Tuan Noir. Dan maaf atas dokumen yang saya rusak," ujar Aisya dengan tulus sebelum ia melangkah turun.

​"Hutangmu belum lunas sepenuhnya, Aisya," sahut Cassian pelan sebelum gadis itu benar-benar keluar.

​Aisya membeku di ambang pintu mobil, hawa dingin Toronto langsung menerpa wajahnya. "Maksud Anda?"

​Cassian menatap sepasang mata hitam pekat milik Aisya dari balik keremangan kabin belakang Rolls-Royce. "Besok pagi jam sembilan, Kevin akan mengirimkan dokumen baru ke alamatmu. Karena kau yang merusaknya, kau yang harus bertanggung jawab untuk mengantarnya langsung ke kantor perwakilan di Downtown."

​"Tapi Tuan, saya ada kelas persiapan—"

​"Gunakan waktu makan siangmu," potong Cassian dengan nada tenang namun tidak menerima bantahan. "Ini bagian dari konsekuensi, Little One."

​Aisya hanya bisa mengangguk pasrah. Ia turun dari mobil dan langsung disambut oleh Paman Hamdan yang sudah melambaikan tangan di lobi. Saat sedan Rolls-Royce itu melaju pergi dengan sunyi, Aisya hanya bisa menghela napas di balik niqabnya. Pria bermata biru abu-abu itu benar-benar tahu bagaimana cara membuatnya tetap berada dalam jangkauannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!