bukan transmigrasi dan juga bukan romansa berlebihan karena cp mungkin akan datang pada chapter 80 keatas, bisa disesuaikan jika pembaca ingin didatangkan lebih cepat.
sinopsis :
bagaimana jika seorang ratu mafia memiliki seseorang kembaran namun memiliki nasib yang berbeda? dia menggunakan identitas kembaran nya itu untuk menyembunyikan identitasnya dan juga mencari musuh tanpa diketahui.
namun, tidak semudah itu untuk seorang valeria Alessandra yang merupakan pengguna bintang tingkat 10 yang menjadi incaran dunia. bagaimana selanjutnya?
novel ini menciptakan negara sendiri dan juga bertema sedikit fantasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan yang Menggelegar
Pukul 05.30 pagi, Alessandra sudah bangun.
Bukan karena alarm. Tubuhnya sudah terlatih untuk bangun sebelum matahari terbit selama bertahun-tahun. Di rumah Wijaya dulu, jam segini adalah waktu meditasi dan latihan fisik. Tapi di rumah Sunjaya, jam segini adalah waktu kabur.
Dia tidak ingin sarapan bersama keluarga itu. Tidak ingin melihat wajah Saskia yang pura-pura polos. Tidak ingin mendengar ocehan Hendra yang menyebalkan. Tidak ingin berhadapan dengan tatapan sinis tiga kakak laki-laki yang tidak pernah menganggapnya ada.
Lebih baik pergi sebelum mereka bangun.
Alessandra mengganti pakaiannya. Rok sekolah dia lipat rapi dan masukkan ke dalam tas. Sebagai gantinya, dia mengenakan celana jins hitam ketat yang tidak menghalangi gerakan, sepatu kets hitam, dan jaket kulit tipis berwarna gelap. Rambut hitam sebahu tetap diikat kecil di belakang tanpa pita merah. Sebagai gantinya, ikatan rambut biasa yang dia gunakan juga menyembunyikan jarum beracun di balik lipatan kainnya.
Lebih praktis, pikirnya. Tidak mencolok, tapi tetap mematikan.
Kacamata rimless dengan rantai emas tetap menempel di hidungnya. Tidak pernah lepas.
Dia melangkah turun dari kamar lantai dua dengan kaki tanpa suara. Rumah Sunjaya masih gelap. Para pembantu belum ada yang bangun. Hanya suara detak jam dinding di ruang tamu yang menemani langkahnya.
Pintu depan terbuka pelan. Tidak berdecit karena Alessandra sudah mengolesinya dengan minyak khusus semalam.
Di halaman depan, sudah terparkir sebuah motor sport berwarna hitam legam dengan aksen emas di beberapa bagian.
Ducati Panigale V4.
Motor sport paling canggih yang harganya mencapai 1,2 miliar rupiah. Bukan motor untuk seorang gadis SMA biasa. Tapi Alessandra tidak peduli. Kinan mengantarkan motor ini tadi malam atas perintahnya.
"Tidak perlu jemput pagi, Kinan. Aku akan menggunakan motorku sendiri."
"Aman, Nona? Rumah Sunjaya tidak terlalu aman lingkungannya."
"Motor ini lebih aman dari penjagamu."
Kinan tidak bisa membantah. Dia hanya mengangguk dan meninggalkan motor itu di halaman rumah.
Sekarang, Alessandra duduk di atas jok kulit hitam itu. Tangannya menggenggam stang, merasakan getaran mesin yang dia hidupkan dengan satu putaran kunci.
Bruummm...
Suara mesinnya menggelegar pelan, tapi tidak cukup keras untuk membangunkan penghuni rumah. Alessandra memasang helm—full face hitam dengan visor gelap yang menutupi seluruh wajahnya. Tidak ada yang bisa melihat siapa pengendaranya.
Dia melajukan motor keluar dari halaman, melewati pagar otomatis yang masih terbuka, dan melesat di jalanan perumahan Clover Hills yang masih sepi.
Alessandra tidak langsung menuju sekolah.
Dia berkeliling.
Dari perumahan elite Clover Hills, dia melaju ke pusat kota Acelia yang masih setengah sadar. Pedagang kaki lima mulai membuka lapak. Beberapa karyawan kantoran terlihat berjalan tergesa-gesa menunggu bus. Lampu lalu lintas berkedip merah dan hijau bergantian.
Dia melewati distrik keuangan—tempat kantor pusat perusahaannya berada. Gedung pencakar langit miliknya berdiri paling tinggi, dengan logo burung gagak di puncaknya. Alessandra melambatkan motor sejenak, menatap gedung itu dari balik visor helm.
Kantor, pikirnya. Rapat. Kontrak. Mafia. Semua itu masih menunggu.
Tapi tidak sekarang. Sekarang dia adalah Allegra. Gadis SMA yang tidak punya kekuatan.
Dia mengencangkan gas dan melesat lagi.
Melewati pasar tradisional yang mulai ramai. Melewati taman kota dengan air mancurnya. Melewati jembatan layang yang menghubungkan Acelia dengan distrik selatan.
Helmnya membungkam dunia luar. Suara mesin motor adalah satu-satunya musik yang dia butuhkan.
Jam menunjukkan pukul 07.30.
Alessandra berbalik arah menuju Alessandra High School. Dia tidak terburu-buru. Kecepatannya stabil, tidak terlalu cepat namun juga tidak lambat.
Pukul 07.50. Dia sudah memasuki jalan menuju gerbang sekolah.
Kurang sepuluh menit, pikirnya.
Alessandra High School memiliki aturan ketat tentang jam masuk. Gerbang utama akan ditutup tepat pukul 08.00. Siswa yang terlambat harus masuk lewat gerbang samping dan menerima hukuman berupa membersihkan halaman atau tugas tambahan.
Alessandra melihat gerbang itu dari kejauhan. Seorang penjaga keamanan sudah bersiap menutup pagar besi hitam yang berat.
Jam menunjukkan pukul 07.57.
Tiga menit lagi.
Dia mengencangkan gas.
Bruummm... BRUMMMM!
Mesin Ducati Panigale V4 meraung seperti singa yang terbangun. Alessandra merundukkan badannya, meminimalkan hambatan angin. Motor itu melesat dengan kecepatan yang tidak wajar untuk jalanan sekolah.
Penjaga keamanan itu terperanjat. Telinganya menangkap suara motor yang semakin dekat bukan mendekat, tapi menerjang.
"Wah, ada yang ugal-ugalan..." gumamnya sambil mulai menarik pagar besi.
Pagar itu bergerak pelan. Separo tertutup.
Crkk... crkk...
Alessandra melihat celah itu. Lebar celah: sekitar 1,5 meter. Cukup untuk motornya.
Atau tidak cukup.
Tapi dia tidak memperlambat.
VISOR HELMNYA MENYIPIT.
Dia menghitung sudutnya. Sudut masuk. Kecepatan. Tekanan ban di aspal. Semua dalam sepersekian detik.
Dan dia melesat masuk.
Tepat saat pagar hampir tertutup sempurna, motor hitam legam itu menyerobot lewat celah sempit dengan jarak nyaris tak lebih dari lima sentimeter dari pagar besi di kanan dan kirinya.
SWOOOOSH!
Penjaga keamanan itu refleks mundur, tubuhnya nyaris terserempet. "HEY! ASTAGA ANAK SETAN!"
Tapi Alessandra sudah tidak mendengar. Motornya melesat memasuki area sekolah, melewati plaza utama, melewati air mancur, melewati kerumunan siswa yang sedang berjalan menuju kelas.
Dan semua mata tertuju padanya.
Bukan hanya karena motor itu nyaris menabrak pagar.
Tapi karena motor itu sendiri.
Ducati Panigale V4 warna hitam dengan aksen emas. Motor sport paling mahal yang pernah masuk ke lingkungan sekolah ini. Siswa-siswa kaya sekalipun hanya bisa memimpikannya.
"Itu Ducati V4!"
"Yang harga satu miliaran itu?"
"Gila, siapa pengendaranya?"
Alessandra tidak menghiraukan bisik-bisik itu. Dia membawa motornya ke area parkiran siswa bukan ke parkiran VIP milik guru, tapi ke parkiran biasa.
Dia tidak memarkir biasa.
Dia memutar motornya.
Seperti seorang pembalap profesional, dia menarik rem belakang, membuat motor berputar 180 derajat di tempat dengan sangat mulus. Ban belakang sedikit bergesekan dengan aspal, mengeluarkan suara decitan pendek tapi tegas.
Ciiiekkk!
Lalu motor itu berhenti manis di satu titik parkir kosong. Posisi sempurna. Tidak perlu mundur atau maju lagi.
Alessandra turun.
Dia melepas helmnya pelan-pelan.
Rambut hitam sebahu yang diikat kecil di belakang terurai sedikit. Wajahnya yang dingin dan mata coklat terangnya kini terlihat oleh semua orang. Kacamata rimless dengan rantai emas bergelantung di pipi, seolah menambah kesan anggun yang kontras dengan aksi brutalnya tadi.
Keringat dingin?
Tidak. Wajahnya tetap tenang. Tidak ada setitik pun keringat di dahinya.
Keheningan.
Seluruh area parkiran yang tadinya ramai tiba-tiba senyap. Siswa-siswa yang sedang berjalan berhenti. Yang sedang duduk di bangku taman berdiri. Yang sedang menghisap rokok di belakang parkiran ikut menengok.
Seseorang menjatuhkan buku.
Seseorang bersiul pelan.
"Siapa dia?"
"Cantik... dingin... kayak model..."
"Motor tadi siapa yang bawa? Dia?"
"Gila, cewek segitu bawa Ducati?"
"Keliatannya mahal banget."
"Tuh lihat kacamatanya... ada rantai emas..."
Dan dari antara kerumunan itu, suara Fiona terdengar lantang:
"VALERIA ALLEGRA?! KOK LO YANG BAWA MOTOR ITU?!"
Alessandra menoleh pelan. Matanya menatap Fiona dengan ekspresi datar.
"Mobil saya sedang diservis," jawabnya singkat. "Ada yang salah?"
Fiona tidak bisa menjawab. Mulutnya terbuka tapi hanya suara "a... a..." yang keluar.
Karena dia tahu. Semua orang tahu. Motor itu tidak mungkin dimiliki oleh seorang gadis yang keluarganya bahkan tidak pernah memperkenalkannya. Motor itu adalah kemewahan murni. Sesuatu yang bahkan keluarga Sunjaya dengan kekayaan nomor dua di Indonesia tidak akan belikan untuk anak yang dilupakan.
Tapi Valeria Allegra sekarang mengendarainya.
Seperti seorang ratu yang baru saja turun dari singgasananya.
Laras dan Mutiara berlari mendekat, mata mereka berbinar-binar.
"VALE! LO NAIK MOTOR ITU? GILA BANGET, SIH!" Laras hampir menjerit.
"Pinjem dari siapa?" tanya Mutiara lebih tenang, tapi matanya penuh rasa penasaran.
Alessandra menggantung helm di stang motor. "Punya saya."
"PUNYA LO?!" Laras membelalak.
"Saya bilang, punya saya," ulang Alessandra datar. "Saya bisa beli motor sendiri. Saya tidak perlu izin siapa pun."
Dia mengambil tas dari jok belakang, mengeluarkan rok sekolah yang sudah dilipat rapi, lalu berjalan ke toilet wanita tanpa menoleh lagi.
Di belakangnya, kerumunan masih bergerombol di sekitar motornya. Beberapa berani mengambil foto. Beberapa hanya menatap dengan mata berbinar.
Dan di sudut parkiran, seorang pemuda berseragam hitam-putih bersandar di tiang lampu.
Rambutnya hitam, sedikit panjang di bagian depan. Tingginya sekitar 175 cm. Matanya gelap pekat mengamati kepergian Alessandra ke toilet dengan ekspresi tidak bisa ditebak.
Dia, pikirnya. Pengintip di taman kemarin. Sekarang dia naik motor Ducati. Siapa sebenarnya Valeria Allegra?
Dia membuka buku catatan kecil di sakunya, dan menulis sesuatu.
Valeria Allegra — motor Ducati V4 (1,2M) — antipeluru di pagi hari — ada yang aneh.
Dia menutup buku itu, lalu berjalan masuk ke kelas tanpa berkata apa pun.
Tujuh menit kemudian, Alessandra keluar dari toilet dengan rok sekolah sudah terpasang rapi. Jaket kulit dan celana jinsnya masuk ke dalam tas. Sekarang dia tampak seperti siswa biasa kecuali kacamata dengan rantai emas, pita merah di rambut (yang dia pasang kembali), dan tatapan dingin yang menusuk.
Dia berjalan menuju kelas XII MIPA 1.
Langkahnya tegap. Tidak terburu-buru.
Bel masuk berbunyi tepat saat dia menginjakkan kaki di ambang pintu.
Tepat waktu.
Tidak terlambat.
Tapi semua orang di dalam kelas sudah mendengar kabar tentang motornya. Pada Alessandra duduk di bangkunya, bisik-bisik tidak berhenti. Beberapa siswa menatapnya dengan hormat, beberapa dengan iri, beberapa dengan rasa ingin tahu yang tak terpuaskan.
Alessandra membuka buku catatan hitamnya.
Di halaman baru, dia menulis:
Master Bayangan — siapa?
Mata-mata pertama — telah dimakan kegelapan.
Seseorang mengawasiku di taman kemarin. Dia ada di sekolah ini. Harus ditemukan.
Dia merapikan kacamatanya.
Hari baru dimulai.
Dan Valeria Alessandra belum selesai dengan kejutan-kejutannya.