NovelToon NovelToon
Young Master & Secret Wife

Young Master & Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.

Celestine setuju.

Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.

Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 10 : Kabut Hitam Perbatasan

Kabut hitam yang menyelimuti perbatasan Utara Jauh ternyata jauh lebih pekat dari yang dibayangkan. Elara memimpin di depan dengan langkah yang hampir tak bersuara, sementara George berjalan di samping Celestine, tangan kristalnya terus berpendar pelan sebagai satu-satunya sumber cahaya di tengah hutan yang mulai membusuk.

"Kita memasuki Lembah Tulang," bisik Elara tanpa menoleh. "Jangan menyentuh tanah dengan tangan kosong. Sisa-sisa energi di sini bisa menghisap mana kalian dalam hitungan detik jika kalian lengah."

Celestine menatap ke bawah. Tanah di bawah kakinya bukan lagi tanah hutan yang empuk, melainkan hamparan abu kelabu yang dipenuhi dengan patahan tulang mahluk-mahluk raksasa yang sudah lama punah. Bau busuk yang manis, bau sihir kuno yang tercemar membuat hidungnya perih.

"George, apakah kau merasakannya?" tanya Celestine sambil merapatkan jubah wolnya.

"Ya. Ikatan mana kita... rasanya seperti ditarik-tarik oleh sesuatu di bawah tanah ini," jawab George, matanya terus waspada menatap kegelapan di balik pepohonan mati. "Es di lenganku mulai bereaksi. Ada sesuatu yang sangat dingin di depan kita, dan itu bukan dingin yang alami."

Tiba-tiba, suara derit tulang yang bergeser terdengar dari segala arah. Elara segera menarik busur panahnya, sementara George menghunus pedang hitamnya yang kini berkilat dengan cahaya platinum yang stabil.

"Siapa di sana? Tunjukkan dirimu!" seru Elara dengan nada mengancam.

Dari balik kabut, muncul belasan sosok mahluk yang menyerupai serigala, namun tubuh mereka terbuat dari kumpulan tulang dan dibalut oleh asap hitam yang pekat. Mereka adalah *Frost-Wraiths*, penjaga lembah yang telah kehilangan akal karena polusi sihir hitam yang mencemari sumber air kaum Elf.

"Mereka bukan mahluk hidup, George. Jangan biarkan asap mereka menyentuh kulitmu!" Elara memperingatkan sambil melepaskan anak panah sihir yang meledakkan salah satu mahluk itu menjadi kepingan.

George melesat maju. Gerakannya kini jauh lebih elegan dan cepat. Ia mengayunkan pedangnya, menciptakan gelombang es murni yang menghancurkan kerangka-kerangka itu hingga menjadi debu putih. Namun, setiap kali satu mahluk hancur, kabut di sekitar mereka justru semakin tebal, seolah-olah lembah ini tidak ingin melepaskan mangsanya.

"Celestine, tetap di dekatku!" perintah George sambil menangkis serangan cakram es dari salah satu Wraith.

Celestine merasa tidak berguna jika hanya berdiri diam. Ia memejamkan mata, mencoba memanggil kehangatan emas yang kini mengalir lebih tenang di dalam dadanya sejak penyatuan di desa Elf. Ia teringat kata-kata Elara: ia adalah jembatan.

"George! Elara! Menjauh dari pusat kabut itu!" seru Celestine.

Celestine berlutut di atas abu kelabu. Ia menempelkan kedua telapak tangannya ke tanah yang membeku. "Jika tanah ini menderita karena kegelapan, maka biarkan cahaya matahari yang tersisa memberikan ketenangan."

Cahaya emas meledak dari tubuh Celestine, merambat melalui tanah seperti akar pohon yang bercahaya terang. Saat cahaya itu menyentuh tulang-tulang dan abu, suara jeritan mahluk hitam itu berubah menjadi desahan lega yang panjang. Kabut hitam di sekitar mereka mulai memutih dan menghilang, menyingkapkan jalan setapak yang tersembunyi di balik tebing.

"Kau memurnikan seluruh area ini..." gumam Elara dengan nada takjub. "Aku belum pernah melihat manusia melakukan hal seperti itu tanpa merusak dirinya sendiri."

Namun, kemenangan mereka terganggu oleh getaran hebat dari ujung lembah. Sebuah gerbang batu raksasa yang tertutup salju abadi mulai terlihat. Di atas gerbang itu, terdapat sebuah segel sihir berbentuk naga yang melingkar—segel yang hanya bisa dibuka oleh kombinasi kekuatan Es dan Matahari.

"Itu adalah Gerbang Keabadian," kata Elara pelan. "Hanya mereka yang memiliki hati yang menyatu yang bisa membukanya. Jika kita gagal di sini, kita akan terjebak di lembah ini selamanya."

George menghampiri Celestine, membantunya berdiri. "Kau baik-baik saja?"

"Hanya sedikit lelah, tapi aku bisa melakukannya," jawab Celestine sambil tersenyum tipis.

Mereka berdua berjalan menuju gerbang raksasa itu. George meletakkan tangan kristalnya di sisi kiri segel, sementara Celestine meletakkan tangan emasnya di sisi kanan. Seketika, seluruh lembah bergetar. Cahaya biru dan emas menyatu, membentuk pusaran energi yang sangat indah di permukaan batu kuno itu.

Pintu gerbang terbuka dengan suara gemuruh yang dahsyat, menyingkapkan pemandangan yang belum pernah dilihat manusia selama berabad-abad: sebuah lembah tersembunyi yang hijau dan dipenuhi bunga-bunga kristal, meskipun berada di tengah kutub utara.

"Kita berhasil menembus lapisan pertahanan pertama," ujar George. Ia menatap Celestine dengan penuh rasa hormat. "Theodore pasti akan bangga jika dia melihat adiknya sekarang. Dia selalu bilang kau adalah permata Valley, tapi sekarang kau adalah harapan bagi utara."

Celestine tersenyum saat mendengar nama kakaknya disebut. "Theodore mungkin sedang sibuk di istana sekarang, tidak tahu kalau adiknya sedang bertarung dengan naga tulang dan membuka gerbang kuno. Aku harap dia baik-baik saja di sana."

"Dia pria yang kuat, Celestine. Dia akan baik-baik saja," sahut George menenangkan.

Saat mereka melangkah masuk ke dalam lembah hijau di tengah salju itu, Elara tiba-tiba berhenti. Ia menunjuk ke arah sebuah kuil kecil yang terletak di tengah danau bening di depan mereka.

"Di sana. Di sanalah rahasia Cahaya Aethelgard yang sebenarnya disimpan. Tapi waspadalah, tempat seindah ini biasanya memiliki penjaga yang jauh lebih berbahaya daripada mahluk tulang tadi," peringat Elara.

George menggenggam tangan Celestine erat-erat saat mereka berjalan mendekati danau.

Lembah hijau di tengah hamparan es itu tampak seperti sebuah anomali yang mustahil. Rumput-rumputnya pendek namun berwarna hijau zamrud, dan bunga-bunga kristal yang tumbuh di sana mengeluarkan denting halus setiap kali tertiup angin. Celestine melangkah perlahan, merasa seolah-olah ia baru saja melintasi batas antara dunia manusia dan dunia para dewa. Namun, meski pemandangan ini begitu menenangkan, George tetap tidak menurunkan kewaspadaannya. Pedang hitamnya masih terhunus, dan mata kelabunya terus memindai setiap sudut kuil yang berdiri di tengah danau.

"Tempat ini terlalu tenang," bisik George, suaranya memecah kesunyian yang magis itu. "Setelah apa yang kita lalui di lembah tulang tadi, ketenangan ini terasa seperti jebakan yang sudah disiapkan dengan sangat matang."

"George benar, Putri," tambah Elara sambil memeriksa beberapa tanaman di tepi danau. "Lihat bunga-bunga ini. Mereka tidak tumbuh dari tanah, mereka tumbuh dari energi mana yang sangat padat. Jika kau kehilangan fokus sedikit saja, tempat ini bisa mengisap jiwamu tanpa kau sadari."

Celestine mendekati tepi danau yang airnya begitu bening hingga ia bisa melihat dasar danau yang dipenuhi batu-batu permata berwarna-warni. Di tengah danau itu, kuil kecil yang mereka tuju tampak seperti terbuat dari satu bongkah marmer putih utuh yang tidak memiliki sambungan. Tidak ada jembatan untuk menuju ke sana, hanya ada beberapa batu pijakan yang terapung secara tidak beraturan di atas permukaan air.

"Bagaimana cara kita ke sana?" tanya Celestine.

"Kita tidak bisa terbang, dan air ini sepertinya tidak akan membiarkan mahluk dengan mana yang tidak stabil untuk berenang di atasnya," kata Elara sambil melemparkan sebuah kerikil kecil ke danau. Kerikil itu meledak menjadi debu sebelum menyentuh permukaan air. "Air ini adalah air pemurni murni. Apapun yang memiliki sedikit saja kotoran atau niat jahat akan langsung dihancurkan."

George melangkah ke depan, mencoba menyentuh air itu dengan tangan kristalnya. Begitu jarinya hampir menyentuh permukaan, percikan energi biru terpental balik, membuat George mundur beberapa langkah. "Sepertinya esku dianggap sebagai 'kotoran' oleh danau ini. Kutukan darah La' Mortine masih terlalu kuat di dalam tubuhku."

Celestine menatap tangannya sendiri yang masih memancarkan sisa-sisa cahaya emas. Ia merasa ada tarikan kuat dari arah kuil itu, seolah-olah sesuatu di dalamnya mengenali keberadaannya. "Mungkin aku yang harus membukakan jalan untuk kalian."

"Celestine, jangan bertindak bodoh. Kau dengar apa yang dikatakan Elara tadi," cegah George dengan nada khawatir yang sangat nyata.

"Aku tidak akan bertindak bodoh, George. Tapi aku merasa tempat ini tidak akan menyakitiku," sahut Celestine mantap. Ia melepaskan sepatu botnya dan melangkah dengan kaki telanjang ke arah air.

"Celestine!" seru George.

Namun, kejutan terjadi. Saat kaki Celestine menyentuh permukaan air, air itu tidak meledak. Sebaliknya, bunga-batu yang terapung tadi bergerak dengan sendirinya, membentuk sebuah jembatan yang rapi tepat di bawah kaki Celestine. Air danau yang tadinya diam kini mulai bercahaya keemasan, senada dengan aura yang terpancar dari tubuh sang putri.

"Darah Aethelgard yang ada padamu bukan hanya sihir, tapi kunci dari tempat ini," gumam Elara dengan mata terbelalak. "Silakan, Putri. Kami akan mengikuti mu dari belakang, tapi sepertinya jembatan ini hanya akan bertahan jika kau tetap fokus pada niatmu."

Celestine mulai melangkah di atas batu-batu pijakan itu. Setiap langkahnya membuat air di bawahnya bergetar dan mengeluarkan aroma wangi bunga matahari yang sangat segar. George mengikuti tepat di belakangnya, berusaha menjaga jarak agar energinya yang dingin tidak mengganggu stabilitas jembatan cahaya yang dibuat Celestine.

Saat mereka sampai di depan pintu kuil, sebuah ukiran raksasa di atas pintu menarik perhatian mereka. Ukiran itu menggambarkan seorang wanita dengan mahkota matahari yang sedang menggandeng seorang ksatria yang tubuhnya terbungkus es. Di bawah ukiran itu tertulis sebuah kalimat dalam bahasa kuno yang tiba-tiba bisa dibaca oleh Celestine seolah itu adalah bahasa ibunya.

*"Keseimbangan bukan berarti penghapusan, melainkan penyatuan dua kutub yang saling melengkapi."*

"Itu adalah pesan untuk kita, bukan?" bisik Celestine.

George menatap ukiran itu dengan perasaan yang campur aduk. "Mungkin. Selama ini keluargaku berpikir bahwa es adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup di utara, dan keluargamu di Valley menganggap matahari adalah satu-satunya sumber kehidupan. Kami tidak pernah berpikir untuk menyatukannya."

Pintu kuil terbuka dengan sendirinya tanpa suara. Di dalamnya tidak ada patung dewa atau harta karun. Hanya ada sebuah altar batu yang di atasnya mengapung sebuah bola cahaya kecil berwarna platinum—warna yang sama dengan penyatuan mana George dan Celestine di desa Elf.

"Itu adalah Inti Aethelgard," kata Elara dengan nada sakral. "Jika kau menyentuhnya, kau akan melihat sejarah yang sebenarnya tentang mengapa dunia ini mulai membeku dan apa peran sebenarnya dari keluarga Vallery."

Celestine ragu sejenak. Ia melirik George yang mengangguk pelan, memberikan dukungan moral yang ia butuhkan. Celestine mengulurkan tangannya dan menyentuh bola cahaya itu.

Seketika, sebuah kekuatan aneh menghantam pikiran Celestine. Ia melihat masa lalu, ribuan tahun lalu, saat utara adalah sebuah kerajaan yang makmur dan hijau. Namun, sebuah kekuatan gelap dari luar angkasa sebuah meteor hitam jatuh di pusat utara dan mulai menyebarkan racun yang membekukan segalanya. Para leluhur La' Mortine adalah ksatria yang mengajukan diri untuk menahan racun itu dengan tubuh mereka sendiri, menciptakan kutukan es yang kita kenal sekarang. Dan leluhur Vallery adalah para penyembuh yang memberikan cahaya mereka agar para ksatria itu tidak mati membeku.

"Mereka bukan musuh..." bisik Celestine di tengah keterpurukan. "Valley dan Heavenorth adalah satu kesatuan yang terpisah karena ketakutan dan politik manusia."

Keterpurukan itu berakhir, dan Celestine jatuh terduduk di depan altar. Bola cahaya itu kini masuk ke dalam tubuhnya, membuat cahaya emas di tangannya menjadi lebih stabil dan tidak lagi terasa panas yang membakar, melainkan kehangatan yang mendalam.

"Apa yang kau lihat?" tanya George sambil membantunya berdiri.

"Aku melihat kebenaran, George. Kita bukan pelarian yang hanya mencoba bertahan hidup. Kita adalah obat bagi dunia ini. Penyakit hitam yang menyerang desa dan mencemari air para Elf... itu adalah sisa-sisa dari meteor hitam yang masih ada di pusat Utara Jauh. Dan hanya kita yang bisa menghancurkannya."

George terdiam, mencerna informasi yang baru saja ia dengar. "Jadi, petualangan kita tidak berakhir di sini?"

"Ini justru baru dimulai," sahut Celestine. "Theodore mungkin baik-baik saja di istana, tapi dia akan sangat terkejut saat kita pulang nanti dan membawa perubahan besar bagi seluruh benua."

Elara tersenyum tipis. "Aku senang aku ikut dengan kalian. Sepertinya pilihanku untuk meninggalkan hutan tidak salah."

Tiba-tiba, suara gemuruh kembali terdengar dari luar kuil. Kali ini bukan suara pintu terbuka, melainkan suara ribuan mahluk yang sedang mendekat. Kabut hitam yang tadi sempat hilang di Lembah Tulang kini kembali muncul, kali ini lebih pekat dan tampak lebih marah.

"Sepertinya sang 'Kematian Hitam' tidak senang rahasianya terbongkar," ujar George sambil menggenggam hulu pedangnya. "Siap untuk babak berikutnya, Tuan Putri?"

Celestine berdiri tegak, ia tidak lagi merasa seperti putri yang rapuh. Ia mengepalkan tangannya, dan cahaya platinum memancar dengan kuat dari jarinya. "Selalu siap, Tuan Muda. Mari kita tunjukkan pada mereka bahwa matahari dan es tidak bisa dihentikan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!