Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.
Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Setelah insiden sorban di koridor tadi, Celina memutuskan untuk mengurung diri di kamar. Ia mandi dengan sangat lama, menuangkan seluruh stok body wash aroma mawar yang ia bawa untuk menghilangkan sisa-sisa hawa stres yang menurutnya membosankan. Setelah mandi, ia sibuk dengan ritual skincare dan bodycare berlapis-lapis, hingga seluruh ruangan itu wangi seperti toko kosmetik mewah.
Namun, ketenangannya terganggu oleh ketukan di pintu. Ternyata, Bunda Siska dan Pak Roni datang berkunjung secara mendadak.
"Bunda cuma mau memastikan kamu nggak kabur di hari pertama, Cel," ucap Bunda Siska sambil menatap putrinya yang kini hanya mengenakan long dress santai bermotif bunga, dengan kerudung pasmina yang hanya diselempangkan asal di bahu—sisanya membiarkan rambut pirang panjangnya tetap terlihat jelas.
"Ck, kabur ke mana juga, kartuku kan masih di Bunda," sahut Celina malas sambil melangkah keluar menuju ruang tamu ndalem untuk menemui orang tuanya.
Di saat yang bersamaan, suasana di halaman ndalem sedang cukup ramai. Zuhair sedang berbincang dengan beberapa pengurus pesantren mengenai kurikulum baru. Tiba-tiba, seorang wanita dengan pakaian muslimah yang sangat rapi dan santun mendekat.
Ia adalah Sarah, mantan senior di pesantren itu yang dulu sangat dikenal karena kecerdasan dan ketaatannya. Sarah sudah lama menaruh hati pada Zuhair, dan karena pernikahan Zuhair dilakukan secara tertutup dan mendadak, Sarah masih menyimpan harapan besar di sana.
"Zuhair, ini ada beberapa catatan laporan dari bagian bendahara yang perlu dilihat," ucap Sarah dengan nada suara yang lembut. Ia sengaja berdiri cukup dekat, memberikan senyum manis yang sepertinya sering ia latih di depan cermin.
Dari balik jendela kaca ruang tamu, Celina memperhatikan pemandangan itu. Ia melihat bagaimana Sarah menatap Zuhair dengan pandangan memuja, dan bagaimana Zuhair merespons dengan sopan meski tetap menjaga jarak.
Sarah, yang menyadari ada seseorang di balik jendela, menoleh sekilas. Matanya bertemu dengan mata Celina. Sarah tertegun sesaat melihat penampilan Celina—rambut yang terlihat jelas, riasan wajah yang cukup tebal untuk seukuran area pesantren, dan tatapan angkuh dari balik kaca.
Sarah membuang muka dengan bibir yang sedikit mencibir. Ia berbisik pelan, namun cukup untuk didengar oleh pengurus di sampingnya, "Masa anak Kyai besar kelakuannya seperti itu? Nggak punya rasa malu apa, keluar di depan umum tanpa menutup aurat dengan benar? Ck dasar"
Celina, yang meski tidak mendengar kata-katanya tapi bisa membaca gerak bibir dan tatapan sinis Sarah, langsung merasa panas.
"Oh, jadi ada ustadzah centil yang lagi tebar pesona itu?" gumam Celina.
Celina membuka pintu ndalem dengan sedikit kencang. Ia berdiri bersandar di kusen pintu dengan tangan bersedekap, menatap lurus ke arah Sarah dengan pandangan mengejek.
"Zuhair," panggil Celina datar, "Laporannya bisa ditunda dulu nggak? Ayah sama Bunda udah di dalam. Harusnya lo yang nyambut mereka, kan? Bukannya sibuk... ngobrol di luar sama mbak-mbak ini."
Sarah terbelalak. Ia merasa tersinggung karena Celina memanggil Gus Zuhair hanya dengan nama, apalagi menyebutnya sebagai "mbak-mbak ini".
"Maaf sebelumnya, Ning Celina," sahut Sarah dengan nada yang dibuat sehalus mungkin namun penuh sindiran. "Gus Zuhair sedang mengurus kepentingan pesantren. Sebaiknya Ning Celina masuk dan belajar cara berpakaian yang benar terlebih dahulu, sebelum merecoki urusan penting para pengurus."
Celina justru tertawa sinis. "Urusan penting? Atau lo-nya aja yang cari-cari alasan biar bisa deket sama dia ni Guz-Guz kesayangan lo?"
Zuhair menghela napas pendek, menyadari suasana mulai tidak kondusif. Ia segera menengahi sebelum Celina meledak. "Sudah. Sarah, laporannya simpan di meja kantor saya saja. Saya harus menemui tamu di dalam."
Zuhair berbalik dan berjalan menuju ndalem. Saat melewati Celina, ia memberikan isyarat mata agar Celina segera masuk. Begitu Zuhair lewat, Celina tidak langsung masuk. Ia menatap Sarah dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan pandangan meremehkan.
"Denger ya, Mbak Santri. Di sini mungkin lo ngerasa paling benar, tapi hatinya masik busuk dan asal nge judge orang." ucap Celina tajam sebelum menutup pintu dengan dentuman keras tepat di depan wajah Sarah.
Di halaman, Sarah mengepalkan tangan. "Kurang ajar sekali perempuan itu. Mentang-mentang anak Pak Kyai, dia berani bicara begitu. Kasihan Gus Zuhair harus mengurus perempuan tidak beradab seperti dia."
Sarah sama sekali tidak menyadari, bahwa pria yang ia puja itu bukan lagi sekadar "pendidik" bagi Celina, melainkan laki-laki yang sudah mengikat janji suci di depan penghulu bersama Celina.
Di dalam ruang tamu ndalem, suasana mendadak senyap begitu pintu di tutup keras oleh Celina. Pak Roni menghela napas panjang, sementara Bunda Siska memijat pelipisnya, merasa malu dengan sikap putrinya di depan menantu mereka sendiri.
Zuhair duduk kembali dengan tenang di kursinya, seolah bentakan pintu tadi hanyalah tiupan angin lalu.
"Maafkan Celina ya, Zuhair," buka Pak Roni dengan suara berat. "Ayah benar-benar berharap dengan dia di sini, dia bisa melihat bagaimana cara hidup yang lebih baik. Pesantren ini adalah warisan besar dari kakeknya, tapi dia malah menganggapnya seperti ini karena salah pergaulan."
Zuhair mengangguk pelan. "Ayah tidak perlu meminta maaf. Semua itu butuh waktu, tidak bisa instan. Celina hanya sedang beradaptasi dengan dunianya yang baru."
"Tapi bagaimana dengan perkembangan pesantren, Zuhair?" tanya Bunda Siska, mencoba mengalihkan pembicaraan agar tidak terlalu larut dalam kesedihan soal putrinya. "Apa kehadiran Celina yang... katakanlah 'mencolok' ini tidak mengganggu ketenangan para santri? Tadi saja Bunda lihat pengurus di luar sampai gemetar."
Zuhair terdiam sejenak sebelum menjawab. "Secara administrasi dan pendidikan, Al-Akbar terus berkembang. Santri baru terus bertambah, dan kurikulum tetap kita jaga. Namun, saya tidak memungkiri bahwa kehadiran Celina menjadi ujian tersendiri bagi para santri, terutama dalam menjaga pandangan."
Pak Roni menatap Zuhair dengan tatapan menyelidik. "Lalu bagaimana kamu mengatasinya? Kamu ini Gus di sini, panutan mereka. Kalau istrimu sendiri—yang mereka tahu hanya 'anak titipan' untuk dididik—bersikap seperti itu, apa tidak merusak wibawamu?"
Zuhair tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh ketegasan di balik ketenangannya.
"Wibawa tidak akan hilang hanya karena sikap orang lain, Ayah. Justru ini cara saya menunjukkan kepada mereka bagaimana saya harus bersikap sabar. Saya tidak akan memaksa Celina dengan cara kekerasan, karena hati yang keras hanya akan hancur jika dipukul, tapi bisa melunak jika terus dibasahi."
Celina, yang ternyata tidak benar-benar pergi ke dapur melainkan menguping di balik pintu pembatas, mendecah pelan. 'Dibasahi' katanya? Gombalan ustadz emang beda kelas ya, batinnya kesal, meski ada bagian kecil di hatinya yang merasa aneh karena Zuhair tidak menjelek-jelekkannya di depan orang tuanya.
"Bagus kalau kamu punya pemikiran begitu," lanjut Pak Roni. "Tapi ingat, Zuhair. Ayah membangun pesantren ini dengan kedisiplinan tinggi. Kalau dalam sebulan ini Celina tidak menunjukkan progres—setidaknya cara berpakaiannya—Ayah sendiri yang akan turun tangan."
"Berikan saya waktu, Ayah," jawab Zuhair mantap. "Saya ingin dia berubah bukan karena paksaan atau tuntutan—melainkan karena niat tulus dari hati ingin berhijrah."