Zinnia, putri cantik yang manja dari keluarga kaya cavendish. Yang jadi kesayangan semua orang, selalu mendapat apa yang ia mau. Di kenal tak suka di kekang dan sudah banyak menolak banyak lamaran lelaki muda kaya raya. Suatu ketika dia mengincar perhiasan dari batu langka di sebuah pelelangan, namun dua perhiasan yang ia incar justru jatuh ke tangan dua pengusaha muda yang langsung membuatnya kesal. Ternyata pertemuan singkat mereka kala itu adalah cerita pembuka untuk cinta segitiga di antara mereka di masa depan. Kecantikannya yang luar biasa memikat kedua pengusaha kaya itu, tanpa ia sadari. Dan perlahan kedua cowok tersebut dapat meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia buat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : Penyesalan mendalam.
" Zinnia... Ibu Rion meninggal... "
DEG!!!
Seperti disambar petir di siang bolong, seluruh tubuh Zinnia langsung membeku, matanya membelalak tak percaya, mulutnya terbuka tapi tak ada suara yang keluar. Detak jantungnya yang tadinya tenang sekarang berpacu cepat sampai sakit di dada, pikirannya langsung kacau balau.
Ibu Rion, wanita yang selama ini sangat baik dan perhatian padanya, yang selalu perlakukan dia seperti anak sendiri, dan selalu mendukung hubungannya dengan Rion. Bahkan banyak memberinya barang-barang mewah.
Dan yang lebih berat lagi, ini berarti besok dia pasti akan bertemu Rion lagi, masa lalu yang baru saja dia tinggalkan, dan perasaan bersalah itu akan muncul kembali ke permukaan.
" Bagaimana mungkin? Dua minggu yang lalu aku lihat beliau sehat-sehat saja, aku gak lihat tanda-tanda jika beliau sakit." gumam Zinnia parau, matanya mulai berkaca-kaca, air mata tanpa sadar mulai menggenang.
Darren mengangguk pelan, tangannya mempererat genggaman di tangan Zinnia, Lalu menarik Zinnia kedalam pelukan hangatnya.
" Dengar Zinnia, beliau memang sudah lama mengidap penyakit kanker payudara. Dan penyakit itu semakin hari semakin membuat kesehatannya menurun drastis, sampai akhirnya tubuhnya menyerah. Dulu, saat aku dan Rion kuliah saja, dia sudah sering pergi ke dokter untuk berobat, bahkan sempat ke luar negri. " Jelas Darren kemudian.
" Sekarang aku mengerti, kenapa setiap bertemu denganku, dia selalu bilang padaku dan Rion untuk segera menikah.. Ternyata, dia tahu jika umurnya tak lagi lama. Maafkan aku Tante.. Aku gak bisa berada di sisi anak tante selama yang tante harapkan. Maafkan aku.. " Batin Zinnia bicara dalam hati, penuh sesal dan rasanya sesak untuk ia ucapkan.
Tangisnya semakin menjadi kala, dirinya teringat momen kebersamaan dirinya dan ibu Rion, terutama saat mereka menghabiskan waktu bersama, mengajaknya berbelanja sampai lelah rasanya. Tapi ternyata, itu adalah saat-saat terakhirnya.
" Sebelum kesini. Rion sempat menelponku, suaranya hancur banget Zinnia.. Kamu tahu sendiri bagaimana keluarga Rion. Saat ini dia pasti sangat hancur. "
Dia berhenti sejenak, lalu menatap dalam-dalam wajah gadis itu, nadanya jadi lebih lembut tapi penuh pengertian.
" Aku minta kamu temenin aku kesana. Tapi, kalau kamu merasa gak siap, gak perlu di paksa. Aku tahu, ini berat buat kamu. "
" Its okay.. Aku siap kok buat nemenin kamu kesana. Karna bagaimanapun juga, beliau adalah orang yang sangat baik. Aku gak mungkin gak dateng. "
Zinnia menunduk dadanya terasa sesak sekali, campur aduk jadi satu. Sedih karena kehilangan sosok yang baik, bersalah karena dia yang bikin hati anaknya sakit, takut dan gugup karena akan bertemu Rion lagi, dan bingung karena posisinya sekarang ia bukan siapa-siapa lagi.
Setelah beberapa saat hening, Zinnia mengangkat wajahnya, mengusap air matanya kasar, lalu menatap Darren dengan tatapan tegas meski matanya masih merah.
" Aku akan siapkan Buket buatanku sendiri untuk aku bawa besok, setidaknya hanya itu yang aku bisa lakukan. "
Darren mengangguk setuju, ia mengusap-usap lembut punggung tangannya, memberikan keyamanan pada gadisnya yang sudah pasti sedih. Dia memang tak tahu seberapa dekat Zinnia dengan Ibu Rion, hanya saja dia yakin keduanya pasti dekat karna ibu Rion adalah tipe orang yang hangat dan perduli dengan orang-orang terdekat dari anaknya.
" Tapi kenapa... Rion tak pernah bilang soal penyakit ibunya.. Andai dia bilang, mungkin aku akan bersikap lebih baik, dan memberinya banyak momen indah meski pada akhirnya aku dan Rion tak lagi bersama. Maafkan Aku Tante.. Aku menyesal tidak tahu lebih awal soal semua ini. " Sesal Zinnia dalam hati.
" Kamu baik-baik aja kan? Aku harap kamu gak memaksakan diri. " Tanya Darren yang kemudian membubarkan semua lamunan Zinnia.
" Ya. I'm fine. Hanya sedikit terkejut karna kabar itu. " Jawab Zinnia singkat, namun dengan ekpresi yang kini lebih tenang juga air mata yang mulai mereda.
Darren tersenyum getir, dia tahu betapa beratnya ini untuk Zinnia, dia tau posisi gadisnya sekarang rumit sekali. Tapi dia berjanji, apapun yang terjadi dia akan selalu ada di sampingnya memegang tangannya erat, memberinya kekuatan kapanpun ia membutuhkan.
" Oke... kalau gitu besok pagi kita berangkat. Dan ingat... apapun yang terjadi, apapun yang kamu rasain, aku akan selalu ada di samping kamu. Jagain kamu dan selalu jadi orang nomer satu yang care sama kamu. " Ungkap Darren sambil mencium punggung tangan Zinnia berkali-kali.
Zinnia mencoba tersenyum, walaupun sedikit berat. Tapi, keberadaan Darren memang selalu bisa membuat dirinya lebih kuat dan tenang.
" I Know.. " Jawabnya singkat tapi yakin. Dia tahu semua akan baik-baik saja jika bersama Darren.
Mereka berdua kemudian kembali ke ruang tamu, dan duduk di sofa. Zinnia menyenderkan kepalanya di bahu Darren, dengan sangat nyaman. sedangkan Darren memposisikan diri dengan merangkul pundak Zinnia. Memberi gadis itu kehangatan dan juga kekuatan tanpa ia sadari.
" Kamu udah baikan ya? Apa sakit kepalanya sudah hilang? " Tanya Zinnia kemudian.
" Ya berkat kamu. Aku emang gak perlu banyak obat buat menenangkan rasa sakitnya, jelas aku hanya butuh kamu di dekatku saja. " Balas Darren yakin.
" Maaf soal teh nya, aku mungkin harus belajar lebih banyak dari Bi Ijah. "
" Jangan khawatir soal itu. Tanpa teh itu pun aku tetap akan baik-baik saja kan. "
" Ya bahkan mungkin lebih baik, karna tehnya malah akan kayak racun yang mengendap perlahan di tubuh kamu dan bikin otak kamu lumpuh seketika. " Sahut Zinnia dengan penuh penakanan seakan sedang mengejek dirinya sendiri.
Darren langsung tertawa, dia menyadari kosa kata aneh Zinnia mulai keluar, yang artinya gadis itu sudah merasa lebih baik.
" Kamu ketawa karna ngejek teh buatan aku ya? " Zinnia terlihat agak kesal dengan tawa Darren barusan. Baginya yang boleh mengejek dirinya sendiri, hanyalah dirinya saja.
Zinnia langsung menggelitik bagian pinggang Darren karna kesal, membuat cowok di dekatnya itu malah semakin tertawa kegelian. Badannya meliuk-liuk mencoba bertahan dari setiap serangan yang di berikan Zinnia.
" Hahaha... Maaaf deh.. Aku gak bermaksud.. Hahah.. Meledek kamu. "
Zinnia kemudian berhenti bersikap usil, menatap Darren dengan wajah penuh tanda tanya, ada yang baru saja di ingatnya.
" Katakan padaku, kamu sedang mikirin apa? Sampe sakit kepala kamu tiba-tiba aja kambuh. Kamu pasti lagi mikirin sesuatu kan? Jawab jujur pertanyaan Aku Darren Pradikta. Jangan bohong sedikit pun !! " Pinta Zinnia kemudian. Wajahnya mulai serius sama seriusnya dengan pertanyaan yang ia lontarkan.
Bagaimanapun juga dia tahu, jika penyebab Darren sering sakit kepala adalah karna stress yang berlebihan dan pikiran yang menumpuk tak ia keluarkan dan hanya bisa ia pendam saja.
Darren menarik napas panjang dan agak berat. Di hadapan Zinnia, dia memang tak bisa menyembunyikan apapun, meski dia ingin.
" Baiklah aku akui. Belakangan ini pekerjaanku agak menumpuk tapi tenang saja itu terjadi bukan karna aku sering menemui mu untuk mengecek keadaanmu. Hanya saja itu terjadi karna Sekertarisku yang lama tiba-tiba mengundurkan diri, dan aku belum menemukan gantinya. " Jelas Darren jujur apa adanya, tanpa ada sedikitpun yang ia coba sembunyikan.
Zinnia mengangguk mengerti.
" Kalau begitu, bagaimana kalau kamu rekrut Miss Leona buat jadi sekertaris sementara kamu? "
Darren langsung mengerutkan keningnya, heran dan penasaran.
" Miss Leona? Siapa itu? Aku baru pertama kali mendengar nama nya. "
" Ya pasti. Itu adalah mantan sekertaris Ibuku dulu, dan dia bekerja di rumah ini sebagai kepala Koki. Dia beralih profesi karna ingin mencoba dunia baru. Dan karna memang dia ahli gizi dan jago masak. Gimana mau rekrut dia gak? Nanti aku yang ngomong sama dia. Tapi kamu ngerti aja ya, kalau dia orang nya agak kaku dan gak bisa di ajak bercanda. Dia emang tipe serius dan fokus kerja. "
" Fine.. Aku mau-mau aja, apalagi itu rekomendasi dari kamu. "
" Ok, nanti aku bicara langsung sama dia. "
***