"Hanya karena aku miskin, kau membuangku seperti sampah?"
Andra, seorang kurir yang bekerja keras 14 jam sehari, baru saja diusir dari kontrakannya dan diputuskan oleh kekasihnya demi pria bermobil mewah. Namun, di saat titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Saldo Tak Terbatas Diaktifkan!]
[Level 1: Menghasilkan Rp 1.000 setiap detik secara otomatis.]
[Saldo saat ini: Rp 1.000... Rp 2.000...]
Dalam satu menit, ia mendapatkan Rp 60.000. Dalam satu jam, jutaan rupiah masuk ke rekeningnya tanpa melakukan apa pun. Dunia yang dulu menghinanya kini harus bersiap. Siapa pun yang pernah memandangnya rendah akan bersujud di bawah kakinya.
Bagi Andra, satu-satunya masalah sekarang bukan lagi cara mencari uang, tapi bagaimana cara menghabiskannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Pelarian dari Neraka Dingin
Ledakan tadi benar-benar gila. Langit-langit fasilitas rahasia di bawah lapisan es itu mulai rontok satu per satu, menjatuhkan bongkahan beton dan besi tua. Bunyi alarmnya bukan lagi suara peringatan yang sopan, tapi lengkingan panjang yang membuat telinga serasa mau pecah. Andra berdiri di tengah kekacauan itu, napasnya memburu cepat, uap panas keluar dari mulutnya setiap kali dia membuang napas di tengah udara dingin yang mulai menusuk.
Di depannya, sosok yang wajahnya sangat mirip dengan ayahnya—si pria misterius berinisial "H" itu—hanya tersenyum tipis. Padahal, di belakangnya lantai kaca sudah mulai retak-retak hebat, siap menelan siapa pun ke jurang es di bawahnya.
"Kamu pikir ledakan kecil begini bisa menghentikan 'The Void', Andra?" suara H terdengar sangat tenang, seolah-olah dia tidak peduli kalau sebentar lagi ribuan ton es bakal menimbun kepalanya. "Kamu cuma anak kecil yang kebetulan dapat mainan mahal, lalu sekarang mau merusak mainannya karena sedang marah. Sangat kekanak-kanakan."
Andra tidak ingin banyak bicara lagi. Dia benci sekali mendengar suara itu, suara yang mencuri kenangan indahnya tentang sosok ayah. "Diam kamu! Aku bukan mainan siapa-siapa lagi!"
Andra langsung berlari, bukan ke arah H—karena dia tahu itu mungkin cuma proyeksi atau entitas yang tidak akan mati hanya karena dipukul—tapi ke arah pintu keluar. Dia harus menjemput Jagal dan Siska. Kalau tempat ini runtuh, tidak akan ada yang tersisa, bahkan jejak kaki pun akan hilang tertimbun es abadi.
[Peringatan, Andra! Fasilitas ini akan meledak total dalam 180 detik. Jangan melamun, cepat lari!]
"Aku tahu, tidak usah diingatkan terus!" maki Andra ke arah Sistem di dalam kepalanya. Sekarang dia merasa Sistem ini lebih mirip parasit yang berisik daripada sebuah anugerah.
Andra menerobos koridor yang mulai dipenuhi asap hitam pekat. Di satu titik, dia melihat robot-robot keamanan—yang bentuknya lebih mirip laba-laba besi raksasa—mulai keluar dari balik dinding. Mata robot itu merah menyala, sinarnya mencari target hidup untuk ditembak.
"Sistem, beri aku akses ke senjata orbital!" teriak Andra sambil salto menghindari tembakan laser yang nyaris membakar rambutnya.
[Tidak bisa. Di bawah tanah sedalam ini sinyalnya tertutup es tebal. Gunakan cara manual!]
"Sial!" Andra bersembunyi di balik pilar baja yang mulai miring. Dia melihat ada pipa uap panas di atas kepala robot-robot itu. Tanpa berpikir panjang, dia menembak pipa itu menggunakan sisa energi emas yang terkumpul di tangannya.
PYARRRR!
Uap panas menyembur hebat, membuat sensor robot itu buta sesaat. Andra tidak menyia-nyiakan waktu. Dia lari sekencang mungkin, menabrak apa pun yang menghalangi jalannya sampai bahunya terasa mau copot. Saat dia sampai di gerbang depan, dia melihat Jagal sedang baku tembak sengit dengan pasukan berseragam putih tadi.
"Tuan! Akhirnya keluar juga!" teriak Jagal sambil mengganti magasin senjatanya dengan cepat. Wajahnya sudah penuh luka gores, tapi matanya masih menunjukkan kegarangan seorang prajurit. "Aku kira Anda sudah jadi es krim di dalam sana!"
"Siska mana?!" Andra menarik kerah baju Jagal sambil merunduk saat ada peluru lewat tepat di atas kepala mereka.
"Sudah di dalam jet! Mesin sudah panas, tinggal menunggu Anda saja!"
"Cabut sekarang!"
Mereka berlari menerobos badai salju yang semakin parah di luar. Anginnya luar biasa gila, rasanya seperti disayat-sayat silet setiap kali kulit terkena udara terbuka. Saat mereka sampai di pintu jet, Andra melihat Siska di dalam ruang medis. Wajahnya masih sangat pucat, kabel-kabel saraf masih menempel di pelipisnya. Hati Andra terasa perih melihatnya, padahal dia ingin sekali membenci wanita ini setelah apa yang terjadi di masa lalu.
Begitu Andra masuk, jet langsung lepas landas secara vertikal, membelah badai. Tapi masalah belum selesai. Dari bawah lapisan es, keluar tiga pesawat tempur ramping yang bentuknya sangat aneh—tidak ada sayap, cuma cakram hitam yang berputar cepat sekali.
"Punya 'The Void'," gumam Andra. "Mereka benar-benar mau menghabisi aku sekarang."
Jet pribadi Andra yang sudah dimodifikasi habis-abisan itu mulai dikepung. Suara tembakan laser menabrak perisai pesawat membuat seluruh kabin berguncang hebat. Jagal langsung duduk di kursi gunner. "Tuan, kita butuh daya lebih! Perisai kita cuma bertahan 20 persen lagi!"
Andra menarik napas dalam-dalam. Dia duduk di kursi pilot, menarik tuas kendali. "Sistem, dengarkan aku. Aku tidak mau tahu bagaimana caranya, sedot semua asetku di bank-bank gelap manapun! Ubah semuanya jadi bahan bakar perisai dan meriam laser!"
[Tapi Andra, itu sisa uang tunai terakhir kita di bumi. Kalau habis, kita jadi gembel beneran!]
"Lakukan saja! Aku lebih memilih jadi gembel yang hidup daripada orang kaya yang mati beku di Antartika!"
[Baik, perintah diterima. Transaksi gila dimulai... Saldo habis dalam 3... 2... 1...]
Seketika, mesin jet itu meraung dengan nada yang berbeda. Lampu-lampu di kabin yang tadinya merah berubah menjadi emas terang. Pesawat itu tiba-tiba melesat kencang sekali sampai punggung Andra menempel kuat ke kursi.
BOOM!
Satu pesawat cakram musuh meledak hancur terkena tembakan laser balasan dari jet Andra. Dua lainnya berputar balik, mencoba mengejar, tapi jet Andra sudah masuk ke lapisan stratosfer. Di ketinggian itu, Andra bisa melihat benua Antartika di bawah sana meledak hebat, menciptakan lubang raksasa di tengah hamparan es putih.
Andra terkulai lemas. Dia melepaskan tuas kendali dan membiarkan pesawat terbang otomatis. Dia berjalan perlahan ke arah ruang medis, lalu duduk di samping tempat tidur Siska. Dia memandangi wajah wanita yang dulu pernah dia cintai, lalu dia benci setengah mati, dan sekarang malah jadi satu-satunya alasan dia merasa masih menjadi manusia.
"Andra..." suara pelan Siska membuat Andra tersentak. Wanita itu membuka matanya sedikit.
"Sst, diam dulu. Kita sudah aman," kata Andra pelan. Tangannya gemetar saat mau mengusap dahi Siska, tapi dia ragu.
"Aku... aku ingat semuanya, Andra," Siska menangis, air matanya jatuh membasahi bantal. "Semua yang mereka lakukan kepadaku... semua yang mereka paksa aku lakukan kepadamu. Maafkan aku... aku benar-benar tidak berdaya saat itu..."
Andra terdiam seribu bahasa. Rasanya seperti dadanya dihantam palu godam. Ternyata benar kata si H tadi, semua drama pengkhianatan Siska itu cuma akting yang dipaksakan lewat cuci otak yang kejam. Andra merasa sangat bodoh. Dia merasa sudah menghancurkan hidup orang yang sebenarnya juga korban, sama seperti dirinya.
"Sudah, jangan dibahas dulu," Andra akhirnya memberanikan diri memegang tangan Siska. "Erwin sudah tidak ada, Kurator sudah mati. Sekarang tinggal aku dan kamu yang harus bertahan melawan mereka semua."
Jagal masuk ke ruangan dengan muka serius. "Tuan, kita tidak punya uang lagi di bumi. Semua rekening Anda dibekukan oleh pemerintah gara-gara ledakan tadi. Kita sekarang adalah buronan internasional yang paling dicari."
Andra berdiri, menatap ke luar jendela pesawat yang menampilkan hamparan bintang-bintang di angkasa luas. "Bagus. Biarkan saja. Aku sudah bosan jadi orang kaya di bumi. Sistem bilang aku punya 'Saldo Galaksi', kan? Itu artinya pasar kita sudah bukan lagi di Jakarta atau New York."
Andra mengeluarkan koin emas kecil dari sakunya—simbol terakhir dari kekayaannya yang lama—lalu melemparkan koin itu ke lantai pesawat begitu saja.
"Siapkan navigasi ke 'Sektor Orion'. Kalau mereka mau perang ekonomi antar bintang, aku bakal kasih mereka depresi besar yang tidak akan mereka lupakan seumur hidup."
Pesawat itu terus terbang tinggi, meninggalkan atmosfer bumi. Di dalam kepalanya, Sistem mulai menampilkan angka-angka baru dengan simbol-simbol aneh yang bercahaya. Andra tahu, mulai hari ini, dia bukan lagi sekadar miliarder yang ingin balas dendam. Dia adalah pemberontak yang akan mengacak-ngacak tatanan semesta.
"Siap-siap, Jagal. Kita bakal belanja sesuatu yang tidak bisa dibeli pakai Rupiah."