NovelToon NovelToon
Sang Antagonis Cantik

Sang Antagonis Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Ketos
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sunflower_Rose

Kata orang, dia manipulatif. Jahat. Perusak.
Katanya, dia menghancurkan cinta dan kepercayaan dari dua lelaki yang tulus padanya.
Dia dituduh memecah tiga bersaudara.
Dibilang merusak hubungan orang lain tanpa rasa bersalah.

Tapi hanya dia yang tahu bagaimana rasanya menjadi Bianca.
Tak seorang pun benar-benar paham bagaimana luka, keadaan, dan dunia yang kejam perlahan membentuknya menjadi seorang antagonis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunflower_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4

Langit Jakarta di hari Minggu itu tampak berwarna kelabu pucat seolah turut merasakan beban berat di dada dua gadis yang kini berdiri di depan gedung beton bertembok tinggi dengan penjagaan yang sangat ketat. Lapas Kelas 1 itu bukan sekadar tempat penahanan biasa melainkan lokasi yang dipilih langsung oleh Maxwell Anderson agar musuh bebuyutannya bernama Arthur Harrington bisa berada di sana dan menanggung segala akibat sampai akhir hayatnya.

Bianca dan Rebecca turun dari kendaraan daring beberapa blok jauhnya sebelum mencapai gerbang utama penjara. Keduanya sama-sama mengenakan jaket besar bertudung serta masker hitam yang menutupi separuh wajah dan kacamata gelap berukuran besar. Mereka harus bergerak dengan sangat hati-hati sebab di tempat seperti ini suasana terasa begitu ketat dan penuh pengawasan apalagi banyak orang yang dipekerjakan atau diawasi oleh keluarga Anderson tersebar di mana-mana.

"Lo yakin aman, Bi?" bisik Rebecca sambil membenarkan letak kacamatanya. "Kalau sampai ada anak buah Maxwell yang ngenalin kita, tamat sudah rencana kita."

"Tenang aja, Kak. Gue udah atur jadwal kunjungan ini pake nama samaran lewat jalur belakang yang dibantu Isabella," sahut Bianca tenang, meski detak jantungnya berpacu lebih cepat. "Ayo masuk. Kita cuma punya waktu lima belas menit."

Setelah melewati serangkaian pemeriksaan yang terasa begitu menguras kesabaran mulai dari alat pendeteksi logam sampai penggeledahan fisik oleh petugas yang berwajah kurang ramah itu keduanya akhirnya sampai juga di ruang kunjungan khusus. Ruangan itu berukuran sempit dan terasa dingin lalu dipisahkan oleh kaca tebal yang kokoh sementara hanya ada alat telepon kecil sebagai satu-satunya sarana berkomunikasi.

Di balik kaca pembatas itu duduk seorang pria mengenakan pakaian tahanan berwarna oranye sambil menunggu kedatangan mereka. Rambutnya yang dulu selalu rapi dan terawat kini mulai banyak yang memutih serta wajahnya terlihat jauh lebih tua dari usia aslinya akibat beban hidup yang berat. Namun sorot matanya masih menyimpan kecerdasan dan ketajaman yang sama persis seperti dulu dan itulah Arthur Harrington.

Begitu melihat kedua putrinya datang mata Arthur berbinar penuh rindu dan haru. Bianca sudah tak sanggup lagi menahan gejolak hatinya sebab meski terhalang kaca tebal ia menempelkan kedua telapak tangannya di permukaan kaca itu seolah ingin menembus pembatas demi bisa mendekat dan memeluk ayahnya.

"Ayah..." suara Bianca bergetar di balik masker. Ia segera mengangkat gagang telepon.

"Putri-putriku... kalian berani banget ke sini," suara Arthur terdengar parau dari seberang sana. "Kalian nggak apa-apa? Maxwell nggak nyakitin kalian, kan?"

"Kita aman, Yah. Bianca udah masuk ke lingkaran dalam mereka. Kiyo sama Gwen... mereka berdua udah kayak anjing penurut yang nunggu perintah dari Bianca," ucap Rebecca sambil ikut memegang gagang telepon cadangan di samping adiknya.

Bianca mengangguk cepat sementara air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Bagi masyarakat luas Arthur Harrington mungkin dianggap sosok yang bersalah dan pantas dihukum. Tapi bagi Bianca pria ini adalah pahlawan besar yang selalu membawakannya boneka setiap pulang kerja serta yang selalu memeluk dan menenangkannya saat ia mimpi buruk. Sejahat apa pun nama ayahnya di mata orang lain dia tidak pernah sekalipun menyakiti hati kedua putrinya.

"Maafin Bianca, Yah... Bianca belum bisa keluarin Ayah dari sini sekarang," isak Bianca pelan.

'Gue bakal hancurin Maxwell Anderson. Gue bakal pastiin dia ngerasain apa yang Ayah rasain, bahkan sepuluh kali lebih parah,' batin Bianca dengan dendam yang membara di balik tangisnya.

Arthur tersenyum tipis lalu sorot matanya berubah menjadi tajam dan penuh perhitungan sifat yang memang diturunkan langsung kepada Bianca. "Jangan nangis, Bi. Air mata nggak bakal bikin Maxwell bangkrut. Kalian harus tetap tenang. Rebecca, gimana perkembangan di sekolah?"

"Isabella bantu aku buat frame Bianca jadi korban terus, Yah. Kiyo sama Gwen sekarang lagi perang dingin. Gwen bahkan kemarin bolos tanding cuma buat belain Bianca," lapor Rebecca dengan nada bangga.

"Bagus," Arthur mengangguk puas. "Dengerin Ayah baik-baik. Maxwell itu orangnya sering merasa curiga dan khawatir berlebih. Dia punya brankas rahasia di ruang kerjanya di rumah. Isinya semua bukti transaksi ilegal yang dia pake buat ngejebak Ayah dulu. Bianca, kamu harus bisa masuk ke rumah itu bukan sebagai tamu, tapi sebagai seseorang yang dianggap keluarga."

"Kiyo belum pernah ajak aku ke rumahnya, Yah," jawab Bianca.

"Gunakan Gwen buat dapet akses ke ruangan Maxwell. Gwen itu anak sulung, dia punya akses yang lebih bebas daripada Kiyo," instruksi Arthur cepat, matanya melirik ke arah penjaga di sudut ruangan. "Dan satu lagi... dekati putri bungsunya, Joy. Dia itu sosok yang paling tau banyak hal di rumah itu. Kalau kamu bisa bikin dia bungkam atau justru berpihak sama kamu, jalan kamu bakal lebih mudah."

"Joy kayaknya curiga sama aku, Yah. Dia nggak segampang itu ditipu," gumam Bianca.

"Cewek kayak Joy itu cuma butuh merasa diakui, Bi. Lo puji dia dikit, lo kasih perhatian yang nggak dia dapetin dari kakak-kakaknya yang lagi sibuk berantem, dia bakal luluh sendiri," timpal Rebecca memberikan saran.

Jarum jam di dinding menunjukkan sisa waktu kunjungan tinggal tiga menit saja sehingga suasana hati mereka kembali berubah penuh emosi.

"Ayah... kita janji bakal bawa Ayah pulang. Kita bakal ambil lagi semua yang harusnya milik Harrington," ucap Bianca dengan nada yang kini lebih mantap.

"Ayah percaya sama kalian. Tapi kalian harus janji, jangan sampai kalian beneran jatuh cinta sama anak-anak Anderson itu. Mereka punya darah pengkhianat di tubuh mereka," peringat Arthur dengan suara berat.

Bianca tertegun sejenak. 'Jatuh cinta? Sama Kiyo atau Gwen?' Ia tertawa dalam hati sebab rasanya mustahil sekali bisa mencintai anak dari orang yang sudah menghancurkan hidup keluarganya.

"Nggak akan, Yah. Mereka cuma alat. Sampah yang bakal Bianca buang kalau udah nggak berguna," tegas Bianca.

TETTTTT!

Suara bel penanda waktu habis bergema nyaring dan memekakkan telinga memenuhi ruangan. Petugas penjara segera berjalan mendekat ke arah Arthur.

"Waktu habis! Ayo kembali ke sel!" bentak petugas itu sambil menarik kasar lengan Arthur.

"Ayah!" teriak Rebecca dan Bianca bersamaan. Mereka melihat ayah mereka diseret menjauh dari balik kaca. Arthur sempat menoleh ke belakang dan memberikan isyarat jempol sebagai tanda semangat untuk kedua putrinya.

Begitu keluar dari gerbang penjara Bianca dan Rebecca segera berjalan cepat menuju gang sepi di pinggir jalan tempat mereka bisa melepas sedikit perlengkapan penyamaran mereka. Bianca menyandarkan punggungnya ke tembok beton sementara napasnya tersengal menahan tangis yang mau pecah.

"Sakit banget liat Ayah digituin, Kak," bisik Bianca sambil menghapus air matanya dengan kasar.

"Gue tau, Bi. Maka dari itu, kita nggak boleh gagal. Besok di sekolah, kita harus makin gila mainin perannya. Gue bakal bully lo lebih parah lagi, biar Gwen ataupun Kiyo makin emosi," ucap Rebecca sambil memakai kembali kacamata hitamnya.

"Oke. Dan gue bakal mulai deketin Jonathan. Gue mau liat Joy nangis darah karena cowoknya berpaling ke gue," sahut Bianca dengan seringai licik.

'Gue bakal bikin kalian semua saling gigit di dalem rumah mewah itu. Maxwell, lo bakal liat anak-anak lo hancur karena cewek beasiswa ini,' batin Bianca penuh kemenangan.

 ****

Sore harinya Bianca kembali ke apartemen kecilnya dan mendapati seikat besar bunga mawar putih tergeletak di depan pintu masuknya. Tanpa perlu membaca kartu ucapan yang terselip ia sudah tahu pasti dari siapa kiriman itu berasal.

'Buat nemenin sore kamu. Jangan sedih terus soal kejadian kemarin ya. - Gwen'

Bianca mengambil kartu itu dan merobeknya jadi potongan kecil. "Mawar putih? Simbol kesucian? Lucu banget. Lo nggak tau ya, Gwen, kalau tangan yang nerima bunga ini udah berlumuran niat jahat."

Tiba-tiba ponsel di saku celananya berdering nyaring dan nama 'Kiyo Anderson' muncul jelas di layar. Bianca menarik napas dalam-dalam lalu mengubah nada bicaranya menjadi lembut dan sedikit serak seperti orang yang baru bangun tidur.

"Halo... Kak Kiyo?"

"Lo di mana? Gue di depan apartemen lo. Turun sekarang," suara Kiyo terdengar penuh permintaan yang tak bisa ditolak sama sekali.

"Hah? Kak Kiyo ngapain di sini? Aku... aku lagi nggak enak badan, Kak. Pengen istirahat aja," jawab Bianca dengan nada manja yang dibuat-buat.

"Gue bawa bubur sama obat. Jangan banyak alasan, Bianca. Turun atau gue naik ke atas?" ancam Kiyo.

'Cih, posesifnya kumat lagi. Tapi oke, ini kesempatan bagus buat bikin dia makin ketergantungan sama gue,' pikir Bianca.

"Yaudah... tunggu bentar ya, Kak. Aku cuci muka dulu," ucap Bianca manis sebelum menutup telepon.

Ia segera berlari ke kamar mandi lalu mengacak-acak sedikit rambutnya agar terlihat berantakan dan memberikan sedikit bedak agak banyak di wajahnya supaya tampak sangat pucat dan lemas. Setelah merasa penampilannya sempurna sebagai gadis yang lemah dan butuh dikasihani ia pun berjalan turun ke bawah.

Di lobi Kiyo sudah menunggu sambil bersandar santai di bodi mobil mewahnya yang mengkilap. Beberapa penghuni apartemen yang lewat tampak melirik kagum namun Kiyo sama sekali tak peduli dan matanya cuma fokus menunggu pintu lift terbuka.

Begitu melihat Bianca keluar dengan langkah yang sengaja dibuat lemas Kiyo langsung berjalan cepat menghampirinya. "Lo kenapa? Muka lo pucat banget."

"Cuma kecapekan aja kok, Kak. Terus mungkin agak syok gara-gara kejadian di sekolah kemarin," bohong Bianca sambil menunduk.

Kiyo memberikan kantong plastik berisi makanan hangat. "Lain kali kalau ada apa-apa, lo hubungi gue. Jangan mau dibawa pergi sama Gwen lagi. Dia itu nggak bener."

"Tapi Kak Gwen baik kok, Kak. Dia beliin aku baju-"

"Gue bisa beliin lo satu toko bajunya kalau lo mau! Stop bahas dia di depan gue!" bentak Kiyo, membuat Bianca pura-pura tersentak ketakutan.

Melihat Bianca ketakutan Kiyo langsung merasa bersalah. Ia menghela napas panjang lalu menarik tubuh gadis itu masuk ke dalam pelukannya yang erat. "Maaf... gue nggak bermaksud bentak lo. Gue cuma... gue nggak suka lo deket sama dia."

Bianca menyandarkan kepalanya di dada Kiyo sambil tersenyum licik yang tak terlihat oleh pria itu. 'Peluk gue terus, Kiyo. Rasain gimana detak jantung lo mulai jadi budak gue. Karena sebentar lagi, gue yang bakal mutusin kapan lo harus bahagia dan kapan lo harus mati.'

"Iya, Kak Kiyo... aku gak papa kok," bisik Bianca lembut.

1
Tab Adrian
nexttt lahhh... aku kasian sma semuanyaaa
Tab Adrian
dag dig duggg antara apa nihhhh🔥🔥
Tab Adrian
biii.. bales dendam itu sakitt lohhh.. 🥺😐
Tab Adrian
kerasaa bgt centill nya si tuan putri Anderson ituu
Tab Adrian
nyesekk.. semuanya nyesekk.. jiejie ini kalok bikin cerita gk pernah gagal.. selalu bisa bikin pembacaannya masuk ke dalam ceritaaa😍😍😍
Tab Adrian
banyak bgt ya, peluang Bianca buat hancurin keluarga itu
Tab Adrian
jdi semuanya nyakittttt😭
Tab Adrian
😍sakit bgt jdi Bianca banyak beban yg dy tanggung.. pdhl dy cuma pengen bebas hidup kyk remaja biasa pada umumnya tanpa memikirkan dendam dendam dn dendam.. tp aku juga pendendam sihh😅
Tab Adrian
hati hati bi..
Tab Adrian
tuan muda Anderson yg malang ututuru~
Tab Adrian
klok kiyo tau kebenarannya akankah dy terus berjuang demi cintanya atau malah milih untuk berperang
paijo londo
kurang ajar si Jo itu membuat trauma dan dendam banget ayo bec ancurin si Jon tor itu
Reva Reva nia wirlyana putri
wihhh udh lanjut
Reva Reva nia wirlyana putri
bagus kaliii
Reva Reva nia wirlyana putri
kasian biancaaa
Reva Reva nia wirlyana putri
joy tukeran tempet tok atau enggak kan cjm yg jadi pemeran joy, joy nya jdi cwo aja biar pasangan nya sama aku🤭
Reva Reva nia wirlyana putri
agak kasihan sama joy
Kalief Handaru
baru kali ini baca mlnya antagonis khusus ngancurin musuh👍👍 damage banget jos jis
Kalief Handaru
mampir thor kyaknya seru nih
Awe Jaya
lanjut jie
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!