Ling Fan, pemuda 17 tahun dari Klan Ling, lahir tanpa Dantian—cacat yang membuatnya dihina sebagai sampah. Di balik ejekan, dia menyimpan rahasia: tubuhnya mampu melahap Qi langit dan bumi.
Saat Klan Ling dihancurkan klan saingan, Ling Fan selamat seorang diri. Di reruntuhan, dia juga menemukan Telur Hitam misterius. Teknik terlarang terbangun "Tubuh Penelan Langit" aktif, mengubahnya dari manusia biasa menjadi pemangsa energi. Setiap luka, setiap penghinaan, hanya membuatnya makin kuat karena dia menelan semuanya.
Kini dia berjalan sendirian, dikejar sekte besar, diburu iblis kuno, dan dicap sesat. Dari Arena Batu Hitam hingga Lembah Guntur, Ling Fan menelan petir, menghancurkan jenius, dan membalik takdir. Tapi harga kekuatan itu adalah kemanusiaannya.
Ketika langit sendiri menginginkannya mati, mampukah pemuda tanpa Dantian ini menelan langit sebelum dia dilahap kegelapannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Gerbang Naga Langit*
Pagi. Puncak Persik Bersalju. Angin sejuk berembus pelan.
Seekor bangau emas terbang rendah di atas puncak. Pada kakinya tergantung sebuah gulungan surat yang dilapisi cahaya awan. Segel Aliansi Sekte Benua Yuan menyala merah.
Gulungan itu jatuh tepat di depan gubuk Tetua Yun.
Plak.
“Surat,” gumam Tetua Yun sambil menyesap arak.
Ia berdiri perlahan, lalu melangkahkan kaki menuju Aula Utama Sekte Persik Emas dengan langkah tenang.
---
Aula Utama. Lima Ketua Divisi telah berkumpul.
“Kuburan Naga Langit akan terbuka tujuh hari lagi,” kata Tetua Yun sambil melemparkan gulungan tersebut.
Ketua Aula Liu Feng menangkap gulungan itu. Ia membuka segelnya dengan hati-hati.
“Kuburan Naga Langit akan terbuka. Tujuh hari lagi. Durasi pembukaan tujuh hari. Syarat masuk: alam Inti Emas. Kuota: tiga murid per sekte. Harta di dalamnya menjadi milik penemu,” kata Ketua Liu Feng membacakan isi surat.
Aula menjadi hening seketika.
“Kesempatan yang datang sekali dalam seribu tahun,” kata Ketua Tempur Zhang Lie dengan suara berat. “Itu adalah tanah tempat gugurnya Kaisar Naga. Di dalamnya tersimpan banyak warisan harta. Murid-murid kita wajib ikut serta.”
“Putraku telah mencapai puncak alam Inti Emas,” kata Ketua Formasi Mo Yu cepat. “Usianya memenuhi syarat. Kirimkan dia.”
“Chen Fei, Wang Lei, Li Yan,” tambah Ketua Disiplin. “Mereka adalah tiga jenius kita. Pasti akan membawa hasil yang memuaskan.”
Tetua Yun duduk di kursi paling belakang. Ia mengayunkan kursinya pelan.
“Tidak seorang pun yang akan berangkat,” kata Tetua Yun pelan.
Seluruh Ketua Divisi menoleh kepadanya.
“Apa maksud Guru Yun?” tanya Ketua Zhang Lie dengan dahi berkerut. “Ini adalah kesempatan besar.”
“Kuburan Naga Langit bukan tempat untuk berburu harta,” jawab Tetua Yun sambil menatap meja. “Itu adalah tanah kematian. Kaisar Naga gugur di sana. Tuan Iblis Darah juga gugur di sana. Jiwa mereka belum juga tenang.”
“Justru karena berbahaya, para murid harus ditempa,” bantah Ketua Mo Yu.
“Apabila anak-anak kalian masuk, dalam tiga tarikan napas mereka akan mati,” kata Tetua Yun dengan suara tenang. “Apakah kalian ingin aku mengirim peti mati ke kediaman kalian?”
Ketua Alkimia menggigit bibirnya. “Guru meremehkan murid-murid kami,” katanya lirih.
“Aku menyelamatkan mereka,” balas Tetua Yun. “Tempat itu bukan kolam ikan. Sekali saja keliru, jiwa akan hancur.”
Ketua Liu Feng maju selangkah. “Guru Yun, kami menghormati keputusan Guru. Namun apabila Guru melarang seluruh murid berangkat, siapakah yang akan Guru kirim?” tanyanya hati-hati.
_Dalam hati Ketua Zhang Lie: Orang tua ini menyembunyikan identitasnya. Ia adalah Ketua Sekte. Namun ia bersikap seolah hanya memberi arahan. Andaikata bukan karena Pendiri terdahulu yang mengangkatnya, sudah lama aku membantahnya._
Tetua Yun mengetuk meja sekali.
“Yang berangkat adalah Ling Fan, Yue Lian, dan Lin Xi,” kata Tetua Yun dengan suara datar. “Hanya tiga orang.”
Aula menjadi sunyi.
“Mengapa hanya murid Guru yang diberangkatkan?” tanya Ketua Mo Yu dengan suara tertahan. “Ling Fan berada pada alam Inti Emas tingkat satu. Yue Lian tingkat dua. Lin Xi tingkat empat. Murid-murid kami memiliki tingkatan yang lebih tinggi.”
“Karena aku lebih mengetahui apa yang aku lakukan dibandingkan kalian semua,” jawab Tetua Yun sambil menatap mereka satu per satu. “Ini demi kebaikan kalian dan murid-murid kalian.”
“Apabila tempat itu bermanfaat bagi murid kalian, akulah orang pertama yang akan menyuruh kalian mengirim seluruh murid ke sana,” lanjut Tetua Yun. “Apabila aku melarang, artinya tempat itu tidak baik untuk mereka. Cukup ketahui itu saja.”
Ketua Mo Yu hendak berbicara. Ketua Liu Feng menekan bahunya.
_Bisik Ketua Liu Feng: Ingatlah peristiwa tiga ratus tahun yang lalu. Tiga Tetua dari Sekte Kelas Satu masuk ke Kuburan Naga. Tidak seorang pun yang keluar. Siapakah yang melarang mereka saat itu? Dialah orangnya. Apakah engkau ingin mengulanginya?_
Wajah Ketua Mo Yu menjadi pucat. Ia mundur selangkah.
“Keputusan ini bersifat final,” kata Tetua Yun. “Berangkatlah tiga hari lagi. Siapkan token masuk.”
“Baik, Ketua,” jawab Ketua Liu Feng pelan.
Ketua Zhang Lie mengepalkan tangan. _Pantas saja. Ia adalah Ketua Sekte. Tidak ada yang dapat membantahnya,_ pikirnya.
Rapat dibubarkan.
Tiga hari kemudian. Dataran Langit Merah.
Di hadapan mereka berdiri tebing gunung setinggi sepuluh ribu meter. Tebing itu berwarna hitam dan licin. Tidak terlihat gua maupun jalan. Hanya dinding batu raksasa yang menjulang. Di tengah tebing terukir lingkaran naga dan tulisan kuno. Apabila tidak diperhatikan dengan saksama, ukiran itu tampak seperti coretan lumut.
Tiga ratus murid alam Inti Emas telah berkumpul. Yang terendah berada pada tingkat ketujuh. Yang tertinggi berada pada puncak alam tersebut.
“Di manakah gerbangnya?” bisik Wang Lei sambil menatap tebing.
“Tunggulah hingga Jam Naga,” jawab Putra Suci Jian Wushuang dari Sekte Pedang Langit sambil menatap langit.
Tetua Penjaga Aliansi mengangkat bendera. “Aktifkan!” serunya.
Sepuluh Tetua alam Jiwa Baru Lahir menyalurkan Qi mereka ke ukiran tersebut.
Dum.
Ukiran itu menyala biru. Cahaya menyebar seperti urat nadi.
Krak.
Tengah tebing terbelah. Sebuah gerbang dimensi terbuka. Tingginya seratus meter. Di dalamnya tampak pusaran berwarna putih susu.
“Ingatlah!” seru Tetua Penjaga. “Apabila masuk seorang diri, kalian akan terlempar secara acak ke Hutan Tulang, Lembah Duri, atau Rawa Hitam. Apabila berpegangan tangan, kalian akan masuk bersama!”
Ling Fan membawa kantong kain lusuh. Yue Lian berada di sampingnya. Lin Xi berdiri di belakang.
“Guru berpesan,” kata Ling Fan sambil mengulurkan tangan kepada Yue Lian. “Bergandenganlah agar kita tidak terpisah.”
Yue Lian diam sejenak. Ia meletakkan telapak tangannya di atas tangan Ling Fan dengan wajah tenang.
“Aku… apakah aku juga harus bergandengan?” tanya Lin Xi gugup.
“Peganglah bajuku,” jawab Ling Fan singkat.
Lin Xi memegang ujung baju Ling Fan erat-erat.
“Guru memang bijaksana,” kata Ling Fan sambil tersenyum ke arah Puncak Persik Bersalju yang jauh. “Beliau mengetahui bahwa muridnya harus bergandengan dengan wanita yang cantik agar selamat.”
Yue Lian mencubit punggung tangan Ling Fan dengan kuat. Tangannya terasa dingin.
“Mari berangkat,” kata Yue Lian datar.
Ketiganya melompat masuk ke dalam pusaran.
Wung!
Hutan Tulang. Wilayah luar Kuburan Naga Langit.
Langit berwarna merah. Tanahnya putih karena tulang. Pohon-pohon telah mati. Tekanan udara alam Jiwa Baru Lahir tahap awal menekan bahu mereka.
Ling Fan, Yue Lian, dan Lin Xi mendarat di tempat yang sama. Sekitar mereka sunyi.
“Benar seperti yang dikatakan Guru,” kata Ling Fan sambil mengibas debu dari pakaiannya. “Apabila bergandengan, kita akan mendarat di tempat yang sama.”
Lin Xi melepaskan pegangannya pada baju Ling Fan. “Maaf… tadi aku gugup,” katanya dengan wajah memerah.
“Kantong Penyimpanan Ruang Tanpa Batas,” kata Ling Fan sambil mengangkat kantong kain lusuh. “Guru memberikannya kepadaku. Kantong ini dapat memuat satu gunung dan tidak akan pernah penuh.”
Lin Xi terbelalak. “Apakah ini harta kelas bumi?” tanyanya tidak percaya.
“Untuk ganjalan meja,” jawab Ling Fan santai. Ia membuka mulut kantong itu. Bagian dalamnya tampak gelap. “Sekarang kantong ini akan kita gunakan untuk menyimpan Batu Skala Naga.”
Di tanah berserakan Batu Skala Naga. Warnanya hitam, ukurannya sebesar piring. Setiap batu memiliki berat sekitar lima ratus kati. Tidak seorang pun mengetahui kegunaannya, namun batu itu sangat keras.
Ling Fan memungut satu batu dan memasukkannya ke dalam kantong. Kantong itu tetap tampak kempis.
“Guru memerintahkan untuk mencari batu ini,” kata Ling Fan sambil memungut batu lainnya. “Katanya untuk ganjalan meja yang goyang.”
Ia terus memungut batu. Sepuluh, tiga puluh, lima puluh biji. Kantong itu tetap kempis.
Yue Lian berjalan menuju sebatang pohon mati. Di akarnya tumbuh Rumput Urat Naga yang berwarna hijau samar dan mengeluarkan aroma pahit.
“Rumput ini dapat dibuat teh,” kata Yue Lian sambil mencabut dua puluh helai. Ia memasukkannya ke dalam kantong. Kantong itu tetap kempis.
Srak.
Seekor Kadal Tulang keluar dari balik pohon. Panjangnya sepuluh meter. Ia berada pada puncak alam Inti Emas. Matanya merah menyala.
“Penjaga Batu,” bisik Lin Xi dengan wajah pucat. “Makhluk itu memangsa para kultivator.”
Kadal itu menerkam Ling Fan.
Buk.
Ling Fan meninju kepala kadal itu tanpa menggunakan Qi.
Krak. Kepala kadal itu pecah.
Kadal itu mati seketika.
“Lemah,” kata Ling Fan sambil mengibas tangan. “Mari kita lanjutkan memungut batu.”
---
Tiga jam kemudian, isi kantong mereka bertambah menjadi seratus delapan puluh Batu Skala Naga dan tujuh puluh helai Rumput Urat Naga.
“Tidak terlihat murid lain di sekitar sini,” kata Lin Xi sambil menghela napas lega.
Srak. Srak. Srak.
Lima orang murid keluar dari balik tumpukan tulang. Mereka mengenakan jubah Sekte Darah Besi. Semuanya berada pada alam Inti Emas tingkat delapan. Pemimpin mereka memiliki satu mata.
“Serahkan kantong kalian,” kata Ketua Mata Satu sambil menatap kantong Ling Fan yang tampak kempis. “Kantong itu kempis namun terasa berat. Pasti berisi harta ruang. Serahkan sekarang.”
“Kami memperolehnya dengan susah payah,” jawab Ling Fan sambil meletakkan kantong di tanah. “Apakah kalian ingin mendapatkannya dengan mudah?”
“Bunuh mereka,” kata Perampok Dua sambil mencabut pedangnya.
Lin Xi melangkah maju dan mencabut pedangnya. “Aku yang akan melawan,” katanya tegas.
“Engkau? Hanya berada pada alam Inti Emas tingkat empat?” ejek Ketua Mata Satu.
Lin Xi teringat pesan Tetua Yun: _Pulanglah dengan selamat dan lengkap, atau jangan pulang sama sekali._
“Pedang Gelombang Salju!” seru Lin Xi. Ia menebaskan pedangnya.
Sring. Gelombang Qi berwarna putih melesat ke depan.
Ketua Mata Satu menangkis serangan itu. Ia terpental sejauh tiga langkah.
“Lumayan,” kata Ketua Mata Satu sambil berlari menyerang Lin Xi. “Namun engkau tetap akan mati.”
Lima orang melawan satu orang. Lin Xi mulai terdesak. Bahunya terluka dan mengeluarkan darah.
Ling Fan hendak maju membantu. Yue Lian menahan tangannya. “Biarkan saja. Ia harus menjadi kuat,” katanya pelan.
Lin Xi menggigit giginya. “Aku adalah murid Sekte Persik Emas!” serunya.
Ia membakar darahnya sendiri. Kultivasinya naik sementara ke tingkat lima.
“Gelombang Salju Ganda!” seru Lin Xi.
Bam. Dua orang perampok muntah darah dan terjatuh.
Tiga orang yang tersisa menjadi takut. Mereka segera melarikan diri.
Lin Xi terjatuh berlutut. Napasnya terengah-engah.
“Bagus,” kata Ling Fan sambil menepuk bahu Lin Xi. “Engkau layak membawa kantong ini.”
“Minumlah,” kata Yue Lian sambil memberikan Pil Penyembuh.
Aum…
Dari pusat kuburan terdengar auman yang berat. Tanah bergetar pelan.
“Besok kita menuju ke tengah,” kata Ling Fan sambil menatap arah datangnya auman itu. “Guru mengatakan bahwa di sana terdapat ‘Jantung’.”
“Dingin. Aku menyukainya,” jawab Yue Lian sambil mengangguk.
Lin Xi pingsan karena kelelahan.
Mereka memasang formasi sederhana untuk berjaga. Malam pertama di Kuburan Naga Langit pun dimulai.