"Tega kamu, Mas." Kanaya menatap suaminya dengan sorot mata yang tenang namun penuh luka. Kecewa luar biasa wanita itu rasakan setelah tau kalau suaminya ternyata sudah menikah dan memiliki istri lain tanpa sepengetahuannya.
"Aku minta maaf, aku tau kamu kecewa. Tapi ini semua udah terlanjur terjadi, aku harap kamu bisa berlapang dada menerima istri baruku." Jawab Andra dengan nada bersalah.
Tapi Kanaya tau, suaminya itu tidak benar-benar menyesal. Sedikit pun.
Siang dan malam ia berdo'a kepada Tuhan, meminta kelimpahan dan kelancaran untuk bisnis juga rezeki suaminya.
Tapi ketika pria itu benar-benar diberi kekayaan, ia malah menduakannya diam-diam.
Kanaya tidak akan diam aja, ia akan membalasnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PULUH EMPAT
Andra menatap Samira yang bersandar lemas dalam pelukan Nisrin, ibunya itu seolah tak punya kekuatan
untuk menopang tubuhnya sendiri.
Ekspresi wajahnya ngeri, menatap ke arah Daris yang tengah berdiri di samping seorang wanita.
Wanita yang sangat cantik dengan dress super ketat dan make up tebal.
Masalahnya, wanita itu berdiri di samping Daris sambil bergandengan tangan mesra.
"Ayah kamu,..... Ayah kamu ini udah nggak waras Andra! Udah sinting dia!" Samira menunjuk-nunjuk ke arah Daris penuh emosi.
"Ayah,.... Kenapa ini? Siapa dia?"
Andra menatap ke arah Daris, bertanya penuh kebingungan sambil menatap sang ayah dan perempuan di sampingnya secara bergantian.
"Andra,.... Dia Esmeralda. Dia calon istri Ayah."
Kedua mata Andra membola terkejut, tiba-tiba lidahnya kelu dan tak mampu berkata-kata.
"Nggak! Sialan! Enak aja! Nggak ada istri-istri, aku nggak sudi dimadu!" Kembali suara Samira terdengar berteriak histeris.
Dengan susah payah menyeret kakinya yang seperti tak bertulang, Samira berjalan cepat ke arah Esmeralda hendak menjambak wanita itu.
"Bu! Apa-apaan kamu ini?!"
Belum sempat ia meraih rambut Esmeralda, Daris sudah lebih dulu menghempaskan Samira hingga wanita itu hampir jatuh terjerembab jika Andra tak langsung menahannya.
"Andra,... Liat itu, Andra. Ayah kamu udah hilang akal, dia udah nggak waras. Bisa-bisanya dia bawa pulang perempuan murahan yang bahkan lebih muda dari kamu buat dijadiin istri! Kemana otak kamu, hah?!! Dia lebih cocok jadi anak kamu!!!"
Kanaya beradu pandang dengan Esmeralda sebelum akhirnya membuang muka, ia tak mau kalau usahanya untuk menahan tawa gagal begitu saja.
"Ayah, apa maksudnya ini? Apa maksud Ayah dia calon istri Ayah?"
Andra bertanya pada Daris, berusaha untuk tetap tenang agar keadaan di rumah mereka tak semakin riuh.
"Penjelasan apa lagi yang mau kamu denger, Andra?
Kamu udah denger kan tadi Ayah bilang apa? Sebelah mana dari penjelasan Ayah yang nggak kamu ngerti?"
Tanya Daris.
Pria paruh baya itu berucap lurus dan tenang seolah ia tak peduli dengan istrinya yang menangis tersedu-sedu hingga tak mampu menopang tubuhnya sendiri.
Ekspresi wajahnya pun tak menunjukkan rasa bersalah sama sekali, ia bertingkah seolah tindakannya bukan lah sesuatu yang sulit untuk diterima.
"Tapi kenapa tiba-tiba? Kenapa juga harus dia? Dia perempuan yang bahkan lebih muda dari aku, Ayah. Kalau memang Ayah mau cari istri kedua, seenggaknya cari yang sebaya dan seumuran sama Ayah." Jawab Andra.
"Siapa bilang tiba-tiba? Ayah udah menjalin hubungan sama Esme cukup lama, dan sekarang memutuskan untuk menikah supaya hubungan kami sah dan resmi. Urusan usia, itu kan cuma angka. Kalau memang Ayah cocok sama Esme, dan Esme juga suka terus mau sama Ayah, meskipun umur dia jauh di bawah Ayah dan bahkan kamu,.... Apa salahnya? Lagi pula, kamu juga punya dua istri Andra dan Ayah nggak pernah mempermasalahkan. Kenapa giliran Ayah sekarang seolah-olah jadi masalah besar?"
Daris berucap sambil mengeratkan genggaman tangannya pada Esmeralda.
Wanita itu melempar senyum manis yang hangat membuat Samira semakin berang.
"Beda! Kamu nggak bisa sama-samain diri kamu sama Andra! Andra itu punya istri mandul, nggak becus ngasih keturunan. Makanya dia nikah lagi dan punya istri kedua. Sedangkan kamu?! Apa aku mandul?! Apa aku nggak bisa kasih kamu keturunan? Kan nggak! Kamu juga! Dasar perempuan murahan! Pelacur! Pasti kamu mau sama suami saya karena duitnya, kan?! Kamu perempuan murahan nggak punya harga diri!!!"
Bentak Samira histeris tidak terima, wajah tuanya memerah padam karena amarah yang meluap.
Dadanya terasa sangat sesak, tangis dan air matanya yang terus turun seakan mencekik leher Samira dan memblokir oksigen untuk masuk ke dalam paru-parunya.
"Jaga mulut kamu, Samira! Jangan sembarangan bicara!"
Daris membentaknya kasar membuat wanita itu terhenyak kaget. Tak ada lagi panggilan sayang sebagai bentuk hormat, pria itu secara keras memanggilnya hanya dengan nama.
"Kamu bentak aku?! Kamu bentak aku karena dia?!"
Samira bertanya tak percaya, ini adalah pertama kali Daris membentaknya sekeras itu. Sepanjang pernikahan mereka, pria itu tak pernah meninggikan suaranya pada Samira.
Bahkan ketika mereka sedang bertengkar, suaminya itu tidak pernah berbicara dengan penuh emosi padanya.
Lalu sekarang, gara-gara seorang perampuan yang bahkan belum lama dikenalnya, Daris sampai rela menyakiti hati Samira dengan membentak-bentaknya.
"Aku nggak akan bentak-bentak kamu kalau kamu bisa jaga mulut, Samira! Sudah cukup aku sabar selama ini menghadapi kamu, jangan kelewatan!"