NovelToon NovelToon
Hasrat Kumbang Sewaan

Hasrat Kumbang Sewaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Viaalatte

Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Di pinggir jalan dekat kampus, Gilang duduk di bangku kayu sederhana, menggulung mie dengan sumpit plastik murahan. Uap panas dari mangkuk mie ayam naik pelan, bercampur aroma kaldu gurih yang memenuhi udara.Di depannya, Viona tampak lahap menyantap porsi miliknya, pipinya sedikit merah karena panas.

“Duh, enak banget ini, Kak. Kayak mie ayam zaman SD, tapi lebih wangi,” gumam Viona sambil mengipasi mulutnya sendiri.

Gilang tertawa kecil. “Kamu kalau makan selalu komentar kayak food reviewer.”

Viona menatapnya, lalu tersenyum lebar. “Soalnya emang enak! Eh, tapi Kak… cewek tadi keren ya.”

Gilang berhenti sejenak, menatapnya bingung. “Cewek yang mana?”

“Yang tadi negur aku, lho. Yang hampir aku tabrak mobilnya itu,” jawab Viona sambil mengaduk mie-nya lagi. “Keliatan berkelas dan smart gitu. Dari cara dia ngomong aja udah kelihatan tegas, tapi nggak kasar. Cewek kayak gitu tuh… kayak tahu banget apa yang dia mau.”

Gilang cuma menatapnya sebentar sebelum akhirnya menunduk ke mangkuknya lagi. Ada sesuatu di nada suara Viona yang membuat pikirannya terlempar ke sosok Valeria—pandangan tajamnya, cara bicara yang tenang tapi menusuk.

Viona terkekeh kecil, mungkin menyadari perubahan ekspresi Gilang. “Tapi emang aku salah sih, Kak. Nggak liat jalan, lari asal aja. Untung mobilnya ngerem, kalau nggak udah jadi headline: Mahasiswi ceroboh yang nyebrang tanpa otak, hahaha.”

Gilang menggeleng pelan, tapi bibirnya menahan senyum. “Kamu tuh ya, bisa aja ngelucu di situasi kayak gitu.”

“Daripada stres mikirin dosa kecil,” jawab Viona ringan. “Lagipula, kalau dipikir-pikir, cewek itu kayak di film-film—cantik, kalem, tapi galaknya punya alasan.”

Gilang menatap jauh ke arah jalan yang mulai ramai, matanya kosong sesaat.

“Iya,” katanya pelan. “Kayak seseorang yang pernah aku kenal.”

Viona langsung mendelik, mencondongkan tubuh ke depan. “Seseorang? Siapa?”

Gilang cuma menggeleng, pura-pura santai sambil kembali menyantap mie ayamnya. “Ada deh.”

Viona mengetuk sumpit Gilang dengan sumpitnya, matanya menyipit penasaran. “Siapa ih, Kak? Aku nggak pernah liat Kakak sama cewek selain sama aku.”

Gilang menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis. “Udah, lupain aja. Nggak penting juga.” Suaranya tenang, tapi ada nada menghindar yang jelas. Ia menunduk lagi, meniup mie ayam yang masih mengepul.

Viona berusaha tertawa kecil, padahal dadanya terasa aneh. “Lah, justru makin nggak penting tuh yang bikin penasaran,” ujarnya sambil memainkan sumpit, pura-pura santai. “Eh tapi serius, siapa sih? Mantan ya?”

Gilang hanya mengangkat bahu, tak menanggapi.

Viona mencibir sambil menyeruput kuah mie ayamnya keras-keras. “Ck, dasar misterius. Enak banget bisa bikin orang penasaran.” Ia menatap Gilang dengan ekspresi bercanda, tapi sorot matanya menyimpan sesuatu—rasa panas didada yang berusaha ia sembunyikan di balik tawa kecilnya.

Gilang terkekeh pendek. “Kamu tuh suka hal nggak penting.”

“Tapi kamu yang bikin penting,” sahut Viona cepat, lalu buru-buru menunduk, pura-pura sibuk memisahkan potongan pangsit dengan sumpitnya.

Gilang mengerjap, pura-pura tak dengar sambil mencondongkan tubuh sedikit. “Hah? Apa tadi? Apa yang penting?” tanyanya dengan nada menggoda, sudut bibirnya terangkat nakal.

Viona langsung menatapnya dengan mata membulat. “Nggak—nggak apa-apa!” katanya cepat, pipinya merona, lalu buru-buru menyuap mie ayam lagi biar gak perlu menjawab.

Gilang tertawa kecil, suaranya rendah dan tenang. “Oh gitu? Padahal tadi kayaknya aku denger sesuatu yang menarik.”

“Halusinasi,” potong Viona cepat, matanya menatap ke arah lain. “Efek kebanyakan micin mie ayam.”

Gilang menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Viona yang pura-pura sibuk. “Iya, mungkin,” katanya pelan, ia tersenyum singkat lalu menunduk menyadari kalau gadis cantik didepannya tak layak mendapatkan cinta dari seseorang seperti dirinya.

Suara getar ponsel memotong keheningan kecil di antara mereka. Gilang melirik layar sebentar—wajahnya langsung berubah.

“Sorry, Vi.” Nada suaranya mendadak serius. Ia meletakkan sumpit, bangkit cepat dari bangku kayu itu. “Aku ada urusan mendadak.”

Viona mendongak, sedikit kaget. “Sekarang? Tapi—”

Gilang hanya mengangguk, memasukkan ponsel ke saku sambil melangkah pergi. “Nanti aku kabarin.”

Viona menatap punggungnya yang semakin menjauh di antara keramaian jalan. Uap mie ayam di depannya perlahan menipis, sama seperti kehangatan yang tadi sempat terasa di antara mereka.

Ia menghela napas, bibirnya membentuk senyum kecil yang tak benar-benar sampai ke mata. “Selalu gitu… tiba-tiba pergi.”

Gilang sampai di depan rumah dengan napas sedikit tersengal, keringat menempel di pelipisnya. Pintu pagar bambu kecil sudah terbuka separuh. Ia langsung masuk tanpa sempat melepas sepatu.

“Sekar!” panggilnya langsung membuka pintu.

Suara langkah cepat terdengar dari arah dapur. Sekar muncul dengan wajah cemas, rambut acak-acakan. “Kak, akhirnya datang juga. Tadi aku udah nelepon berkali-kali.”

“Ada apa sih? Tadi kamu bilang Wildan sakit?” Gilang langsung menurunkan tasnya, matanya menatap ke arah kamar.

Sekar mengangguk cepat. “Iya. Gurunya nganterin Wildan pulang barusan. Katanya dari tadi pagi udah ngeluh perih di mulut, tapi maksa tetap ikut pelajaran. Tiba-tiba nangis pas jam istirahat karena katanya ‘sakit banget buat ngomong’.”

Gilang langsung melangkah ke kamar adiknya. Wildan terbaring di kasur, pipinya pucat, matanya bengkak karena habis menangis. Ada tisu-tisu berserakan di meja kecil di samping tempat tidur.

“Wildan,” panggil Gilang pelan sambil duduk di tepi kasur.

Anak itu menoleh pelan, bibirnya tampak penuh luka putih kecil—sariawan yang parah, bahkan di sudut bibirnya pun terlihat retak. “Kak…” suaranya serak. “Sakit banget.”

Gilang menatapnya dengan perasaan campur aduk. “Kamu udah minum obat?”

Sekar berdiri di belakang mereka, gelisah. “Udah, tapi kayaknya nggak ngaruh, Kak. Aku juga heran, kok bisa separah ini. Padahal baru minggu lalu sembuh dari sariawan juga.”

Gilang menghela napas, menatap adiknya lama. Ada rasa khawatir yang tak bisa ia jelaskan—ini bukan sariawan biasa. Terlalu sering kambuh, terlalu berat untuk anak seusia Wildan.

Ia mengelus kepala adiknya perlahan. “Besok kita ke rumah sakit, ya. Kakak mau kamu dicek bener-bener. Jangan takut, yang penting kita tahu kenapa kamu sering sakit.”

Gilang menarik napas pelan, masih menatap Wildan yang masih meringis memegangi pipinya. Ia menoleh ke Sekar tanpa berdiri.

"Ibu ke mana?” tanyanya lirih.

Sekar menyandarkan diri di kusen pintu, suaranya pelan, “Ngantar kue, Kak. Katanya mau dititipin ke warung Mbok Yanti.”

Dahi Gilang langsung berkerut, nada suaranya meninggi sedikit. “Kenapa masih nitip di situ sih? Dagangan minggu lalu aja cuma laku dua. Dua, Sekar.” Ia menekankan kata itu sambil menggeleng pelan. “Udah jelas-jelas nggak jalan, tapi masih aja dipaksa.”

Sekar menunduk, jari-jarinya memainkan ujung baju. “Kata Ibu, beliau nggak mau ngerepotin Kakak terus,” suaranya pelan, nyaris seperti pembelaan. “Ibu cuma pengen bantu cari uang buat keluarga. Katanya kalau masih bisa kerja, ya kerja aja.”

Gilang terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya. “Tapi buat apa, sih?” suaranya serak menahan emosi. “Buat apa bikin dagangan kalau nggak laku? Kamu denger sendiri waktu itu Mbok Yanti bilang apa, kan?”

Sekar diam. Ia tahu yang akan keluar dari mulut Gilang, tapi tetap memilih mendengarkan.

“Ibu itu penyakitan,” lanjut Gilang pelan tapi tajam. “Dia nggak mau jualin dagangan Ibu karena takut tertular.”

Kata-kata itu menggantung di udara, dingin dan berat. Sekar menelan ludah, matanya mulai berkaca-kaca. “Kak, jangan ngomong gitu…”

“Aku nggak bermaksud nyakitin siapa-siapa,” potong Gilang cepat, suaranya melemah. “Tapi itu kenyataan, Dek. Ibu maksa jualan padahal orang-orang udah mulai jaga jarak. Aku cuma takut, bukan cuma karena penyakitnya—tapi karena Ibu kayak nggak mau sadar kalau dunia udah nggak ramah sama dia.”

Suara roda kursi berderit pelan memotong ketegangan di ruang sempit itu. Sekar spontan menoleh, wajahnya langsung memucat.

Di ambang pintu, ibunya duduk di kursi roda, kedua tangannya masih memegang nampan berisi kue yang belum sempat dijual. Kue itu masih melingkar rapi seakan sama sekali tak tertentuh. Ia mendorong rodanya sendiri perlahan masuk ke ruang tengah, menatap Gilang dengan mata yang basah namun tetap tenang.

“Iya, Ibu tau,” suaranya lirih tapi jelas. “Ibu penyakitan…”

Ia berhenti sejenak, napasnya berat. “Tapi apa salahnya Ibu berusaha, Gilang?”

Gilang refleks berdiri, tapi tidak berani melangkah mendekat. “Bu—”

“Ibu nggak mau ngerepotin kamu terus, Nak.” Suaranya bergetar, tangannya menekan roda kursinya dengan gemetar. “Selama Ibu masih bisa ngapa-ngapain, Ibu cuma pengen bantu sedikit aja. Biar kamu nggak capek sendirian.”

Ia menarik napas pelan, menatap nampan di pangkuannya. “Ibu cuma pengen ngerasa berguna, Gilang…” ucapnya pelan, suara itu nyaris pecah. “Bukan beban.”

Sekar menunduk, bahunya bergetar menahan tangis.

Gilang masih terpaku di tempat, rahangnya menegang, tapi di matanya mulai muncul air mata yang berusaha ia tahan .

Kue-kue di pangkuan ibunya tetap utuh, belum tersentuh—dan di balik uapnya yang mulai hilang, tergambar getir dari cinta seorang ibu yang berjuang sendirian, bahkan ketika tubuhnya sendiri sudah tak sanggup menanggung berat dunia.

1
hrarou
kasian gilang sayang 🥺
Viaalatte: huhu iya kak🥺, makasih sudah mampir🥰♥️
total 1 replies
Viaalatte
yok baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!