Araya Lin dipaksa menjadi pengantin
pengganti bagi kakak tirinya. la dinikahkan dengan Arkanza Aditama, seorang CEO miliarder yang dirumorkan kejam, dingin, dan cacat akibat sebuah kecelakaan tragis. Keluarga Araya tertawa, mengira mereka telah membuang anak tak berguna ke dalam 'neraka'.
Namun, di malam pertama pernikahan mereka, Araya terkejut saat melihat pria jangkung dengan tatapan setajam elang berdiri sempurna di hadapannya-tidak cacat sedikit pun. Di sisi lain, Arkanza mengira ia hanya menikahi gadis udik yang bisa ia kendalikan. la tidak tahu bahwa istri kecilnya yang terlihat lugu ini adalah "Z", seorang peretas jenius misterius yang selama ini dicari-cari oleh perusahaannya sendiri.
Ketika dua pembohong ulung terjebak dalam satu atap, akankah pernikahan kontrak ini berakhir dengan pertumpahan darah, atau justru memicu romansa yang tak terhentikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25: Runtuhnya Dinasti Pengkhianat
Suara dengung puluhan drone tempur Aditama di atas Dermaga 9 terdengar seperti kawanan lebah raksasa yang siap menyengat. Lampu sorot dari drone-drone tersebut mengunci posisi Paman Araya, membuatnya tidak bisa berkutik di tengah kepulan asap gas air mata yang mulai menipis.
"Letakkan senjatamu, Hendra Lin," suara Leon menggema melalui pengeras suara drone. "Seluruh area ini sudah dikepung. Tidak ada celah untuk lari, tidak ada celah untuk negosiasi."
Paman Araya—Hendra—menatap langit dengan tatapan kosong. Senjata di tangannya perlahan merosot dan jatuh ke beton yang basah. Ia tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar pecah di tengah deru hujan. "Dua puluh tahun aku membangun rencana ini... dihancurkan oleh seorang bocah perempuan dan mainan elektroniknya."
Araya tidak memedulikan makian pamannya. Ia berlutut di samping Arkanza, merobek bagian bawah gaun taktisnya untuk membalut luka tembak di paha Arkanza.
"Tahan, Arkanza. Ambulans sudah di jalan," bisik Araya, suaranya gemetar meski ia berusaha terlihat tegar.
Arkanza mencengkeram tangan Araya, wajahnya pucat pasi namun senyum tipis masih menghiasi bibirnya. "Aku bilang apa... kau... kau benar-benar naga yang berbahaya, Z."
"Diamlah, jangan banyak bicara dulu!" bentak Araya, air matanya akhirnya jatuh, bercampur dengan air hujan yang membasahi wajah mereka.
Tiga Jam Kemudian: Rumah Sakit Pusat Aditama
Seluruh lantai VVIP rumah sakit tersebut dikosongkan dan dijaga ketat oleh tim keamanan Leon. Arkanza baru saja keluar dari ruang operasi untuk mengeluarkan proyektil peluru. Kondisinya stabil, meski ia harus beristirahat total.
Araya duduk di kursi samping tempat tidur Arkanza. Ia masih mengenakan pakaian hitamnya yang kotor, menolak untuk mandi atau berganti pakaian sebelum memastikan Arkanza sadar. Di pangkuannya, laptop tipis miliknya menyala, menampilkan aliran data yang terus bergerak.
Ceklek.
Leon masuk ke ruangan dengan wajah sangat serius. Ia membawa sebuah koper perak kecil.
"Nyonya, Paman Anda sudah diamankan di fasilitas rahasia kepolisian bawah tanah. Keluarga Lin secara resmi dinyatakan bangkrut setelah Anda meretas seluruh rekening bayangan mereka," lapor Leon dengan hormat.
Araya menutup laptopnya perlahan. "Lalu, bagaimana dengan Project Phoenix?"
Leon meletakkan koper itu di meja. "Itu masalahnya. Saat Anda mengunci sistem tadi, ada jejak digital yang mencoba mencegat transmisi Anda. Bukan dari Keluarga Lin. Tapi dari alamat IP yang tidak terdaftar... yang lokasinya mengarah ke Swiss."
Mata Araya menyipit. "Swiss? Itu markas besar konsorsium perbankan dunia."
"Tepat," Leon mengangguk. "Sepertinya Paman Anda bukan pemain tunggal. Dia hanya perantara bagi pihak yang jauh lebih besar. Dan sekarang, karena sistem itu terkunci dengan biometrik Anda dan Tuan Arkanza, Anda berdua menjadi target nomor satu di pasar gelap global."
Araya menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Dendam pribadiku sudah selesai, tapi sepertinya perang yang sebenarnya baru saja dimulai."
Tiba-tiba, tangan Arkanza yang terpasang infus bergerak dan menggenggam jemari Araya. Pria itu membuka matanya perlahan, menatap Araya dengan tatapan yang sangat lembut namun penuh tekad.
"Kalau begitu..." suara Arkanza masih lemah, namun otoritasnya tidak hilang. "Kita buat mereka menyesal karena sudah mencoba mengusik ketenangan bulan madu kita, Araya."
Araya tersenyum untuk pertama kalinya malam itu. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Arkanza. "Bulan madu di tengah kejaran agen internasional? Kedengarannya sangat romantis, Tuan Aditama."
Arkanza terkekeh pelan, meski dadanya terasa sesak. "Apapun untukmu, Istriku."
Namun, di layar laptop Araya yang tertutup, sebuah notifikasi merah kecil tiba-tiba berkedip di ponsel hitamnya yang terhubung. Sebuah pesan singkat muncul dari nomor yang hanya terdiri dari angka nol:
..."Selamat atas kemenangannya, Z. Tapi ingat, burung Phoenix selalu bangkit dari abunya. Sampai jumpa di Zurich."...