Zinnia, putri cantik yang manja dari keluarga kaya cavendish. Yang jadi kesayangan semua orang, selalu mendapat apa yang ia mau. Di kenal tak suka di kekang dan sudah banyak menolak banyak lamaran lelaki muda kaya raya. Suatu ketika dia mengincar perhiasan dari batu langka di sebuah pelelangan, namun dua perhiasan yang ia incar justru jatuh ke tangan dua pengusaha muda yang langsung membuatnya kesal. Ternyata pertemuan singkat mereka kala itu adalah cerita pembuka untuk cinta segitiga di antara mereka di masa depan. Kecantikannya yang luar biasa memikat kedua pengusaha kaya itu, tanpa ia sadari. Dan perlahan kedua cowok tersebut dapat meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia buat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : Penyampaian yang salah.
Setelah membantu Zinnia memasukkan semua barang belanjaannya, kedalam bagasi. Darren membuka pintu depan mobil, menyisihkan ruang dan mempersilahkan kekasihnya masuk dengan senyum lembut di bibirnya. Zinnia tersenyum tipis, tangannya bergerak meletakkan satu kantong belanjaan yang masih ia pegangi disana, lalu menutup pintu itu rapat-rapat, tapi dia sendiri gak masuk.
Darren baru mau mengitari mobil dan hendak masuk ke kursi supir, matanya melotot melihat kelakuan gadisnya. Zinnia malah memutar badan, membuka pintu kursi belakang, lalu melompat masuk dan duduk manis disana, bersandar santai sambil mengangkat kaki di jok, seolah itu tempat yang paling nyaman di dunia.
" Eh kok malah duduk disini sih sayangggg?! Di depan donggg!! " seru Darren bingung, kepalanya dimasukkan sedikit lewat pintu yang masih terbuka.
Zinnia mendengus, membuang muka ke samping.
" Gak mau ah... disitu sempit, aku disini aja lebih luas dan leluasa. "
" Tapi aku bukan supir loh, masa pacar sendiri di jadiin supir gitu sih.." balas Darren setengah bercanda setengah kesal, alisnya terangkat sebelah.
" Aghhh... kamu ribet banget sih!! Tempat duduk aja kok di permasalahkan sih! Mau duduk dimana aja kan itu hak aku !! Kalau gak suka aku mending jalan kaki aja deh !!" protes Zinnia manja tapi nada nya jelas kesal, bibirnya mengembung besar kayak balon, matanya melirik tajam.
Darren menghela napas panjang, dia tau gadisnya sedang tidak baik-baik saja. Dia lalu jongkok di depan pintu belakang, meraih kedua tangan kecil Zinnia dan menggenggamnya lembut, matanya menatap dalam-dalam.
" Kamu Kenapa sayang? Cerita dong, pasti ada sesuatu kan? Coba deh kamu ngomong sama aku, aku siap dengerin setiap keluh kesah kamu. "
Zinnia masih terdiam, mulutnya tetap tertutup rapat. Melihat sekilas ke arah Darren yang sedang mencium tangannya berkali-kali.
" Kaki kamu sakit? Pegel? Atau lecet pas jalan tadi? Kalau iya aku siap pijitin deh, mau gak? " rayunya lagi, berusaha mencairkan suasana.
Tapi Zinnia tetap diam.
Darren mengerti, kalau sudah begini berarti Zinnia memang tak mau ngomong sekarang. Tanpa basa-basi lagi dia masukkan tangannya di bawah lutut dan punggung Zinnia, lalu dengan satu gerakan cepat dan mulus dia mengangkat seluruh tubuh gadis itu keluar dari mobil, menggendongnya demgan gaya bridal.
" Yaudah deh... mau jalan-jalan ke mall di depan gak? Kamu mau beli apa aja, seberapa mahal, seberapa banyak, aku yang bayarin semuanya. " tawarnya lagi, berusaha menggoda. Dan kali ini Zinnia menjawab, meski dengan nada malas.
" Gak mau... aku udah capek... mau pulang aja... "
Darren tersenyum kecil, mengusap punggung kekasihnya pelan-pelan.
" Yaudah kalau gitu kita pulang sekarang. "
Zinnia tak menjawab apapun, tak menolak dan tak berontak juga, membiarkan Darren membawanya berjalan mengitari mobil, lalu dengan hati-hati meletakkan tubuhnya di kursi depan, membenarkan posisi duduknya, sampai memakaikan sabuk pengaman. menutup pintu rapat, baru kemudian dia masuk ke kursi kemudi.
Dia menyalakan mesin, mobil melaju perlahan meninggalkan tempat itu, tapi mereka berdua sama sekali tak sadar, jika ada satu orang yang masih diam-diam mengikuti dari belakang.
Rion masih duduk di dalam mobilnya, jaraknya cukup jauh supaya tak ketahuan, tapi matanya tak pernah lepas dari sosok Zinnia sedetik pun. Dia melihat semuanya. Melihat tingkah manja gadis itu, melihat cara dia marah-marah tak jelas, melihat cara Darren yang sabar menghadapi segala kelakuannya, melihat cara Darren memeluk dan menciumnya seolah dia adalah harta paling berharga di dunia.
Dan setiap pemandangan itu, bagaikan ribuan jarum kecil menusuk-nusuk jantungnya berulang kali. Dia melihat semua hal yang dulu jadi miliknya, semua hal yang dulu cuma dia yang bisa lihat, cuma dia yang bisa dapat, sekarang dinikmati orang lain, yaitu sahabatnya sendiri.
Rion menggenggam kuat setir kemudi sampai kuku jarinya memutih, rahangnya mengeras, napasnya terengah-engah menahan gejolak di dalam dada. Semakin dia lihat, semakin dia sadar, dia tak bisa hidup tanpa gadis itu. Semakin dia lihat, semakin besar keinginannya untuk merebutnya kembali.
***
Zinnia tampak lelah sekali, matanya sudah mulai sayu, gerakannya lambat, dan Darren sudah hafal betul dengan kebiasaan kekasihnya ini. Kalau sehabis belanja banyak, atau jalan jauh, pasti tiba-tiba bad mood, tiba-tiba manja, tiba-tiba ngambek gak jelas. Karna itu dia tak mau menganggu, membiarkan Zinnia melakukan apapun yang dia mau, dan mengikuti setiap kemauannya.
" Aku mau ice cream.. " ucap Zinnia tiba-tiba dengan suara pelan yang hanya Darren saja yang dengar. kepalanya bersandar di sandaran kursi, dengan mata separuh terpejam.
Darren langsung tersenyum paham, tangannya mengelus kepala gadisnya lembut, " Iya siap Tuan Putri sayanggg... kita turun di depan ya. "
" Aku tunggu di mobil aja... kamu beliin ice cream coklat satu con gede. " tambah Zinnia cepat, matanya terbuka sedikit menatap Darren dengan tatapan minta dimanja.
" Iya sayangggg... tungguin ya bentar aja... "
Darren lalu keluar dari mobil, menutup pintu rapat lalu berjalan pergi menuju kedai jajanan di seberang jalan. Zinnia duduk manis di dalam, awalnya tenang-tenang saja, tapi semenit, dua menit, lima menit berlalu Darren tak kunjung datang.
" Ish dia kemana sih... beli ice cream aja lama banget... kesel banget deh... " gerutu Zinnia, dia mulai bosan, jari-jarinya mengetuk-ngetuk kemudi dengan kesal.
Dia melirik ke luar, dan matanya langsung berbinar melihat toko perhiasan besar tepat di seberang jalan, tempatnya mewah dengan barang yang terlihat mengkilap dan mahal. Tanpa pikir panjang lagi, Zinnia langsung membuka pintu dan keluar, menyebrang jalan dengan langkah cepat. Dia sama sekali tak sadar, jika sejak tadi sampai sekarang, Rion masih diam-diam mengikuti dan mengawasi setiap gerakannya.
Begitu masuk ke dalam toko, pelayan langsung menyambutnya dengan sangat ramah dan sopan, tahu kalau gadis yang masuk ini pasti orang kelas atas. Mereka lalu menunjukkan berbagai macam koleksi, dari yang biasa sampai yang langka dan mahal. Zinnia memilih dengan santai, akhirnya minta diambilkan satu set cincin dan kalung berlian kecil yang desainnya simpel tapi elegan, setelah dibungkus rapi dan sudah ia bayar.
Dia kemudian masuk ke toilet, membenarkan riasannya yang sedikit luntur, menyisir rambutnya yang berantakan kena angin, dan tak lupa membetulkan posisi bajunya, sampai saat dirinya keluar toilet sudah dengan penampilan yang makin segar dan cantik mempesona.
Saat dia baru mau melangkah keluar dari pintu toko, tiba-tiba tangan besar seseorang melingkar erat di pinggangnya, menarik tubuhnya untuk menempel erat ke dada bidang orang itu, dan tubuhnya dipeluk erat sampai dia susah untuk bernapas.
Zinnia kaget seketika, jantungnya berdebar kencang, tapi pikirannya langsung tenang dan senyum kecil muncul di bibirnya.
" Pasti Darren... pasti dia cari aku sampai kesini... " Pikirnya dalam hati.
Tapi saat dia memutar badan mau marah-marah atau manja, senyumnya langsung mati seketika, matanya membelalak tak percaya.
Bukan Darren, tapi Itu Rion.
PLAK!!!
Tanpa pikir panjang lagi, tangan halus Zinnia langsung melayang keras ke pipi kanan Rion, suara tamparan itu terdengar jelas di ruangan yang sepi, sampai beberapa pelayan yang melihat dari kejauhan langsung menunduk kaget dan diam seribu bahasa.
Tapi anehnya Rion tak bereaksi apa-apa. Dia tetap berdiri tegak, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi, bahkan tak perduli dengan rasa sakit di pipinya.
" Kamu... kenapa disini?! Dan kenapa tiba-tiba meluk aku kayak tadi?! Kamu gila apa gimana sih? " bentak Zinnia, tangannya mendorong dada Rion tapi lelaki itu tak bergeser sedikit pun.
Rion diam sebentar, lalu suaranya keluar rendah dan berat.
" Kamu lupa? Aku bos di toko ini. Seluruh cabang toko ini milikku. "
Zinnia terdiam sebentar, iya juga ya, dia lupa kalau keluarga Rion memang usaha di bidang perhiasan, tapi itu bukan alasan.
" Iya juga ya... tapi tetep aja kan! Kamu barusan meluk aku... kenapa coba?! Kita udah putus ya Rion! Dan Kamu sendiri yang mutusin aku, kamu yang buang aku kayak sampah. ingat itu baik-baik !! "
Rion tetap diam, mulutnya tertutup rapat, tatapannya terus meneliti wajah gadis di depannya, membuat Zinnia makin jengkel, makin kesal, tapi di balik kemarahan itu dia tahu sifat Rion, kalau sudah begini berarti dia tak akan melepaskannya begitu saja, dia pasti mau sesuatu darinya, yang pasti harus ia dapatkan kala itu juga.
Dan karena itu, otak Zinnia berputar cepat. Dia tau cara menghadapi Rion, dia tau titik lemahnya. Jadi tiba-tiba, kemarahan di wajahnya hilang seketika, diganti dengan ekspresi manja, matanya berkaca-kaca, bibirnya mengerucut, tangannya malah menyentuh dada Rion dengan gerakan lembut.
" Kamu pasti kangen aku kan? " tanyanya dengan suara selembut kapas, manja banget, menggoda banget.
Detik itu juga, jantung Rion bergetar hebat sampai rasanya mau copot, darahnya mengalir deras ke seluruh tubuhnya, tapi wajahnya tetap dipaksa datar dan dingin.
" Mau balikan aja? " tanya Zinnia enteng, seolah ngomongin hal sepele, seolah diabtak pernah marah atau kecewa pada sosok di depannya itu.
Kalimat itu membuat Rion makin mendekat, langkahnya maju terus sampai akhirnya Zinnia terpojok rapat di dinding dekat toilet. Tak ada jalan keluar lagi. Hidung mereka hampir bersentuhan, napas Rion berhembus panas ke wajah Zinnia.
" Kenapa masih diem aja sih... dari tadi cuma aku aja yang ngomong... udah kayak robot aja aku. kesel tau gak... " gerutu Zinnia, manja tapi kesal, kakinya bahkan menendang pelan kaki Rion.
Tanpa bicara sepatah kata pun, tangan Rion terangkat, menyisir helaian rambut Zinnia yang menutupi leher, lalu menariknya ke belakang supaya kulit leher halus itu terbuka sepenuhnya, tempat dimana dulu dia sering meninggalkan tanda miliknya.
" STOP!! Kamu mulai bikin aku gak nyaman!! "
Zinnia langsung menepis keras tangan Rion, memalingkan wajah, matanya menatap tajam penuh peringatan.
" Kenapa? " tanya Rion singkat, suaranya masih datar.
" Kenapa? Kamu tanya kenapa?? Kamu tahu kan aku bukan lagi pacar kamu, Rion !! Jadi kamu gak berhak nyentuh aku lagi, gak berhak deket-deket aku, Ngerti gak?! " bentak Zinnia, dadanya naik turun menahan emosi.
" Bukannya kamu barusan tanya aku buat balikan? Kenapa tiba-tiba malah ngomong gak nyaman. Padahal barusan kamu manja banget. "
" I.. Itu... "
Bersamaan dengan kata-kata itu senyum tipis, dan getir muncul di bibir Rion. Dia makin mendekat, mulutnya tepat di telinga Zinnia, suaranya keluar dingin menusuk tulang.
" Lalu gimana... saat kamu masih jadi pacar aku... dan Darren deketin kamu... saat dia jelas-jelas tahu kalau kamu milikku, dan dia tetep deketin kamu. Bahkan berani nyentuh, cium, atau peluk kamu. dan sikap kamu? Kamu terima semuanya... kamu gak menolak, kamu gak marah, kamu gak merasa gak nyaman sedikit pun. "
Dia berhenti sejenak, lalu menatap tepat ke mata Zinnia, tatapannya penuh rasa sakit, kecewa dan kemarahan yang sudah dipendam lama.
" Lalu sekarang... kamu bilang aku gak berhak... kamu bilang aku bikin kamu gak nyaman... lucu ya Zinnia... kamu bisa bedain mana yang boleh mana yang gak tapi tetap tak berdaya di depan Darren.. "
PLAK!!!
Satu tamparan lagi mendarat keras di pipi sebelah kiri Rion, sampai kepalanya menoleh ke samping, sampai kulitnya langsung memerah dan bekas telapak tangan terlihat jelas disana.
Hati Zinnia sakit sekali, perih sekali, jauh lebih sakit dari pada saat dia diputuskan dulu. Dia merasa dipandang murahan, Dan cewek yang tak punya prinsip. Dia tahu... dia tahu dulu dia salah, dia tahu dia yang khianati kepercayaan, tapi mendengarnya langsung keluar dari mulut Rion, itu sakitnya berkali-kali lipat.
Air mata menggenang di matanya, dia memalingkan wajah, mengusap kasar sudut matanya, suaranya bergetar tapi dingin.
" Iya... aku salah. Mungkin di hadapan kamu aku memang semurahan itu. Dan aku paham. Tapi tolong jangan pernah muncul lagi di hadapan aku setelah ini !! Apapun alasannya, karna aku tak mau lagi lihat kamu, Riondra Adreas Putra Rajasa !! "
***