NovelToon NovelToon
SILK AND STEEL

SILK AND STEEL

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:388
Nilai: 5
Nama Author: lusi rohmah

Ini bukan kisah cinta yang indah dan damai, melainkan hubungan yang dibangun di atas kekuasaan, ketakutan, dan hasrat yang membara namun membinasakan.


Disclaimer: ini cerita pendek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lusi rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MELAWAN ORANG YANG PALING DIKENAL

Mereka tahu betul, kali ini yang mereka hadapi bukanlah musuh yang datang dari luar dan tidak mereka kenal. Arjuna adalah orang yang sudah ada di dekat mereka selama puluhan tahun. Ia tahu ke mana saja mereka pergi, apa yang menjadi kebiasaan mereka, bahkan hal-hal yang paling pribadi dan rahasia sekalipun. Itulah yang membuatnya jauh lebih berbahaya daripada siapa pun yang pernah mereka hadapi sebelumnya. Ia tidak hanya berniat mencelakakan, tapi juga tahu persis di mana letak titik lemah mereka, dan bagaimana cara memanfaatkannya untuk keuntungan dirinya sendiri.

Segera setelah mengetahui kebenaran itu, seluruh tempat diatur sedemikian rupa. Semua pintu masuk dan keluar dijaga dua kali lipat, orang-orang yang bertugas diperiksa latar belakangnya kembali dengan teliti, dan segala urusan yang penting tidak lagi dibahas di tempat-tempat yang biasa, tapi di ruangan-ruangan yang tertutup dan hanya diketahui oleh orang-orang yang paling bisa dipercaya. Mereka sadar, selama ini ada hal-hal yang terlewatkan, ada hal-hal yang tidak mereka perhatikan, dan kini mereka harus memperbaikinya secepat mungkin.

Selama beberapa hari, mereka terus mengumpulkan keterangan dari segala penjuru. Mereka bertanya kepada orang-orang yang pernah bekerja di bawah pimpinan Arjuna, memeriksa catatan-catatan lama yang selama ini tersimpan, dan menelusuri jejak-jejak ke mana saja ia pernah pergi dan apa saja yang pernah ia lakukan. Dan dari semua itu, gambaran yang semakin jelas mulai terbentuk di hadapan mereka.

Ternyata, Arjuna sudah terlibat dalam perbuatan jahat itu sejak bertahun-tahun yang lalu. Ia adalah salah satu orang yang pertama kali bergabung dengan kelompok yang berkuasa saat itu, tapi ia selalu bergerak di belakang, tidak pernah terlihat di permukaan. Ketika kelompok itu mulai terungkap dan hancur, ia dengan cepat memutar haluan, berpura-pura menjadi orang yang juga tertipu dan dirugikan, lalu mendekati Raka dan Gubernur William. Ia tahu, dengan menjadi orang yang membantu dan mendukung, ia akan tetap aman dan bahkan bisa mendapatkan kedudukan yang lebih baik lagi.

“Selama ini ia merasa bahwa semua yang ada itu seharusnya miliknya,” sahut salah seorang orang yang pernah bekerja bersamanya dan kini bersedia bercerita dengan jujur.

“Ia selalu berpikir bahwa ia lebih cerdas, lebih pandai, dan lebih berhak daripada orang lain. Setiap kali melihat orang lain mendapatkan penghormatan atau kedudukan yang tinggi, hatinya selalu terbakar rasa iri dan marah. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengambil semuanya itu untuk dirinya sendiri.”

“Dan sekarang ia merasa waktunya sudah tiba,” tambah Raka sambil mendengarkan dengan saksama.

“Ia melihat bahwa hampir semua orang yang ia kenal dan yang ia anggap sebagai saingan sudah tiada atau sudah tertangkap, maka ia merasa dirinyalah orang yang paling berkuasa dan paling pantas untuk memegang kendali atas segalanya. Tapi ia keliru besar, karena ia tidak sadar bahwa kejahatan tidak akan pernah bisa menjadi dasar untuk membangun sesuatu yang abadi.”

><><><><

Beberapa hari kemudian, akhirnya mereka mendapatkan kabar yang pasti. Berdasarkan keterangan dan penelusuran yang dilakukan, diketahui bahwa Arjuna dan orang-orang yang berhasil ia bebaskan bersembunyi di sebuah tempat yang terletak di daerah perbatasan kota, di sebuah bangunan besar yang dulunya digunakan sebagai tempat penyimpanan barang-barang milik pemerintah, tapi sudah lama tidak terpakai dan hampir terlupakan keberadaannya.

Dan bukan hanya itu saja, mereka juga mengetahui rencana terbesar yang sudah disusunnya dengan matang. Ia berniat untuk meledakkan tempat pengolahan air dan sumber tenaga yang menjadi kebutuhan pokok seluruh penduduk kota. Kalau sampai hal itu terjadi, maka tidak hanya kerusakan materi yang akan timbul, tapi ribuan nyawa orang-orang yang tidak bersalah akan terancam, dan kekacauan yang luar biasa akan melanda di mana-mana. Dan di tengah kekacauan itu, Arjuna berniat muncul dengan membawa bantuan dan solusi, supaya orang-orang melihatnya sebagai penyelamat, dan dengan begitu ia bisa mengambil alih kekuasaan sepenuhnya tanpa ada yang berani menentangnya.

“Ia benar-benar sudah tidak punya rasa kemanusiaan lagi,” ujar Gubernur William dengan suara yang berat dan penuh kekecewaan.

“Ia rela membahayakan nyawa orang-orang yang tidak tahu apa-apa, orang-orang yang tidak pernah berbuat salah kepadanya, hanya demi memuaskan keinginan dan ambisinya sendiri. Ia sudah bukan lagi manusia, tapi makhluk yang dipenuhi keserakahan dan keinginan yang tidak ada batasnya—.”

“Kalau ia sampai berhasil melakukan hal itu, maka segala sesuatu yang sudah kita bangun dengan susah payah akan hancur begitu saja,” potong Alana, dan wajahnya terlihat cemas tapi juga tegas.

“Kita sudah berjuang bertahun-tahun lamanya, kita sudah mengorbankan banyak hal, dan kita tidak akan membiarkan semuanya itu menjadi sia-sia begitu saja.”

“Kita tidak akan membiarkannya,” ucap Raka, suaranya terdengar tegas dan penuh keyakinan.

“Tapi kita juga harus ingat, kita akan menghadapi orang yang mengenal kita sebaik ia mengenal dirinya sendiri. Ia pasti sudah menyiapkan segala macam perangkap dan rintangan, dan ia akan menggunakan segala hal yang ia ketahui tentang kita untuk membuat kita terjebak dan gagal.”

“Maka dari itu, kita tidak bisa bertindak dengan cara yang biasa kita lakukan,” tambah Gubernur William.

“Ia sudah tahu bagaimana cara kita berpikir, bagaimana cara kita bertindak, dan apa saja yang menjadi kebiasaan kita. Kalau kita melakukan hal-hal yang sudah ia perkirakan, maka kita akan jatuh ke dalam jebakannya. Kita harus melakukan sesuatu yang tidak pernah ia sangka-sangka, sesuatu yang benar-benar di luar dari perhitungannya.”

Mereka pun mulai menyusun rencana secara rinci, membahas segala kemungkinan yang bisa terjadi, baik yang baik maupun yang buruk. Mereka membagi tugas-tugas dengan jelas, menentukan siapa yang akan melakukan apa, dan bagaimana cara mereka bergerak supaya tidak terdeteksi dan diketahui oleh orang lain. Mereka tahu, kesalahan sedikit saja bisa berakibat fatal, maka segala sesuatunya harus dipikirkan dengan matang dan dijalankan dengan hati-hati.

Saat hari yang ditentukan itu tiba, langit terlihat gelap dan mendung tebal, seolah-olah alam pun ikut merasakan betapa berat dan bahayanya apa yang akan mereka lalui. Angin berhembus dengan kencang, menerbangkan debu dan daun-daun kering ke mana-mana, dan suasana di sekitar terasa sunyi dan mencekam, seolah-olah tidak ada makhluk hidup lain yang ada di sana selain mereka.

Mereka berangkat menuju tempat itu, tidak bergerak dalam satu rombongan besar, tapi terbagi menjadi beberapa kelompok kecil yang datang dari arah yang berbeda-beda, supaya tidak menarik perhatian dan tidak mudah terdeteksi. Mereka datang dengan hati-hati, selalu waspada terhadap segala sesuatu yang ada di sekitar, karena mereka tahu bahwa tempat itu pasti sudah dijaga dan diawasi dengan ketat.

Sesampainya di dekat bangunan itu, mereka berhenti sejenak untuk mengamati keadaan. Bangunan itu tampak besar dan tua, sebagian dindingnya sudah retak dan rusak, tanaman liar tumbuh di mana-mana, dan terlihat seolah sudah tidak ada orang yang mengunjunginya selama bertahun-tahun. Tapi di balik penampilan yang terabaikan itu, mereka tahu bahwa di dalamnya ada orang-orang yang siap menyerang kapan saja, dan ada bahaya yang mengancam keselamatan banyak orang.

Setelah merasa keadaan cukup aman, mereka mulai bergerak masuk ke dalam. Begitu melangkah melewati pintu gerbang yang sudah berkarat dan rusak, mereka segera menyadari bahwa tempat itu memang sudah diatur sedemikian rupa. Jalan-jalan yang ada seringkali berbelok dan berubah arah, banyak bagian yang merupakan jalan buntu, dan di beberapa tempat terlihat ada bekas-bekas yang menunjukkan bahwa sudah ada alat-alat yang dipasang untuk menjadi jebakan bagi orang yang datang.

Semakin mereka berjalan masuk ke dalam, suasana terasa semakin gelap dan mencekam. Hanya sedikit cahaya yang bisa masuk dari celah-celah dinding dan atap yang rusak, membuat bayangan-bayangan di sekitar terlihat menyeramkan dan membuat orang tidak bisa melihat dengan jelas. Suara langkah kaki mereka bergema di seluruh ruangan, dan selain itu tidak ada suara lain yang terdengar, membuat suasana menjadi semakin tegang dan menekan hati.

Tiba-tiba, suara tawa yang keras dan terdengar mengecho dari segala arah terdengar memecah kesunyian. Dari balik tiang-tiang besar yang ada di ruangan tengah, muncullah Arjuna, diikuti oleh orang-orang yang bersamanya. Wajahnya yang selama ini selalu terlihat ramah, sopan, dan penuh senyum, kini berubah sama sekali. Wajah itu terlihat garang, dingin, dan dipenuhi rasa kesombongan yang tidak ada batasnya. Matanya memandang mereka dengan pandangan yang tajam dan penuh kebencian, seolah-olah mereka adalah musuh terbesar dalam hidupnya.

“Selamat datang,” sahutnya dengan suara yang keras dan penuh ejekan.

“Aku sudah menunggu kalian sekian lama. Aku tahu pasti kalian akan datang ke sini. Aku mengenal kalian lebih dari kalian mengenal diri kalian sendiri. Aku tahu apa yang akan kalian pikirkan, apa yang akan kalian lakukan, dan langkah apa saja yang akan kalian ambil. Kalian tidak bisa menyembunyikan apa pun dariku.”

“Memang benar kau tahu banyak hal tentang kami,” jawab Raka dengan suara yang tenang dan tegas, tidak terlihat sedikit pun rasa takut atau ragu di dalamnya.

“Tapi ada satu hal yang kau lupa, Arjuna. Selama ini kita juga hidup bersama, kita juga bekerja bersama, dan kita juga saling mengenal satu sama lain. Kau bukan lagi orang yang misterius bagi kami, dan kebiasaan serta cara berpikirmu juga sudah kami ketahui dengan baik. Kau pikir kau bisa mengatur segalanya, tapi kau lupa bahwa kau juga bisa diatur dan dikalahkan.”

Arjuna tertawa keras lagi, suaranya menggema dan membuat suasana menjadi semakin mencekam. “Omong kosong! Kalian hanya orang-orang yang mudah tertipu dan mudah diatur. Selama ini aku yang bergerak di belakang layar, aku yang membuat segala sesuatu berjalan sesuai dengan apa yang aku inginkan. Kalian hanya menjadi alat-alat bagiku, dan sekarang saatnya aku mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku!”

“Kau salah besar,” sahut Gubernur William sambil melangkah maju sedikit.

“Selama ini kami menganggapmu sebagai teman, sebagai orang yang bisa kami percayai dan andalkan. Kami menghormatimu, kami memberikan kepercayaan dan kedudukan yang baik bagimu, tapi kau balas semua itu dengan pengkhianatan dan kejahatan. Itu bukanlah tanda bahwa kau orang yang hebat, tapi itu hanya menunjukkan bahwa dirimu adalah orang yang tidak tahu berterima kasih dan tidak punya hati nurani sama sekali.”

“Diam saja! Kalian tidak tahu apa yang aku rasakan selama ini!” bentak Arjuna, dan wajahnya memerah karena marah.

“Selalu saja kalian yang dipuji, selalu saja kalian yang dianggap penting dan hebat! Padahal aku yang bekerja di belakang, aku yang mengurus segala sesuatu, tapi aku tidak pernah mendapatkan apa-apa! Semua yang ada ini seharusnya milikku, dan aku akan mengambilnya sekarang juga, dengan cara apa pun!”

“Kau tidak akan mendapatkan apa-apa selain hukuman atas segala perbuatanmu,” imbuh Alana dengan suara yang jelas dan tegas, tidak ada rasa takut yang terlihat di dalamnya.

“Kau melakukan semua ini bukan karena kau dirugikan, tapi karena hatimu dipenuhi dengan keserakahan dan keinginan yang tidak ada habisnya. Kita berbeda dengan dirimu. Kita berjuang demi kebenaran, demi kebaikan, dan demi keselamatan orang banyak. Sedangkan kau hanya memikirkan dirimu sendiri, dan itu yang membuatmu tidak akan pernah bisa menang selamanya.”

Kata-kata itu membuat Arjuna semakin marah dan tidak terkendali. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, dan berteriak dengan suara yang keras.

“Cukup sudah omongan yang tidak berguna itu! Kalian datang ke sini hanya untuk mati saja! Habisi mereka semua, dan jalankan rencana kita secepatnya!”

Seketika itu juga, dari segala sudut ruangan, dari balik dinding dan tiang, serta dari atas dan bawah tempat itu, muncul banyak orang yang bersembunyi dan sudah menunggu. Jumlah mereka jauh lebih banyak daripada yang diperkirakan, dan semuanya langsung menyerang ke arah Raka dan orang-orang yang bersamanya. Pertarungan pun segera terjadi di mana-mana. Suara benturan senjata, teriakan, dan langkah kaki yang cepat memenuhi seluruh ruangan, membuat suasana menjadi sangat kacau dan menegangkan.

Sesuai dengan rencana yang sudah disusun sebelumnya, sebagian dari mereka bertarung dan menahan serangan musuh, supaya tidak ada yang bisa mendekat atau melarikan diri. Sedangkan sebagian yang lain bergerak diam-diam, berusaha menuju ke tempat yang menjadi sasaran utama Arjuna, untuk mencegah supaya ia tidak bisa melakukan hal yang berbahaya yang sudah direncanakannya. Mereka tahu, kalau sampai rencana itu berhasil, maka segala sesuatu yang sudah mereka bangun akan hancur, dan banyak orang yang tidak bersalah akan menderita.

><><><><

Sementara itu, Arjuna melihat bahwa pertarungan sedang berlangsung dengan sengit, dan ia merasa bahwa posisinya sudah menguntungkan. Ia perlahan-lahan mulai bergerak mundur, berniat untuk pergi ke tempat di mana alat peledak sudah dipasang, supaya ia bisa menjalankan rencananya itu. Ia pikir, selama orang-orangnya masih bertarung dan menahan mereka, ia punya cukup waktu untuk menyelesaikan apa yang ia inginkan.

Tapi gerakannya itu tidak luput dari perhatian Raka. Ia melihat apa yang dilakukan Arjuna, dan ia tahu bahwa kalau orang itu sampai pergi dan menjalankan rencananya, maka semuanya akan terlambat. Ia segera melepaskan diri dari orang-orang yang sedang menyerangnya, dan mulai berlari mengejar Arjuna secepat yang ia bisa. Ia melompati benda-benda yang ada di depannya, menghindari serangan yang datang ke arahnya, dan terus berusaha mengejar supaya tidak sampai kehilangan jejak orang itu.

Arjuna yang melihat bahwa ia dikejar, berusaha bergerak lebih cepat lagi. Ia berlari masuk ke ruangan-ruangan yang lebih dalam, yang gelap dan jarang diketahui orang, berusaha menghilangkan jejak dan membuat Raka tersesat atau terperangkap. Tapi Raka terus mengikutinya, tidak pernah berhenti dan tidak pernah menyerah sedikit pun. Ia tahu, ini adalah saat yang paling penting, dan ia tidak boleh gagal sama sekali.

Akhirnya, mereka berdua sampai di sebuah ruangan yang lebih terpisah dari yang lain. Di sana, sudah terlihat ada peralatan dan alat-alat yang digunakan untuk meledakkan bangunan dan tempat-tempat penting yang sudah ditentukan. Arjuna berhenti berlari, lalu menoleh dan memandang Raka dengan pandangan yang marah tapi juga sedikit penuh rasa kemenangan.

“Kau benar-benar tidak mau berhenti ya?” tanyanya dengan suara yang terengah-engah.

“Kau pikir kau bisa menghentikan aku? Semuanya sudah siap, dan aku bisa menjalankannya kapan saja aku mau. Kalau kau bergerak satu langkah saja ke depan, aku akan menekan tombol ini, dan semuanya akan hancur berkeping-keping, termasuk dirimu dan diriku sendiri!” lanjutnya mengejek.

“Kau pikir dengan begitu kau akan menang?” tanya Raka dengan suara yang tetap tenang.

“Kau hanya akan membuktikan bahwa dirimu benar-benar orang yang kejam dan tidak punya rasa kemanusiaan. Orang yang menang bukanlah orang yang bisa menghancurkan segalanya, tapi orang yang bisa membangun dan menjaga kebaikan untuk orang lain.”

“Omong kosong! Kemenangan adalah kemenangan, apa pun caranya!” bentak Arjuna.

“Dan aku akan menang hari ini juga! Setelah semuanya hancur, aku akan membangunnya kembali sesuai dengan keinginanku, dan aku akan menjadi orang yang paling dihormati dan ditakuti oleh semua orang! Tidak ada lagi yang bisa meremehkanku, tidak ada lagi yang bisa menganggap diriku rendah!”

“Kau salah,” sahut Raka sambil terus berjalan perlahan mendekat, tidak takut dengan ancaman yang diucapkan itu.

“Kau akan menjadi orang yang ditakuti dan dibenci, bukan orang yang dihormati. Dan apa yang kau bangun dengan cara yang salah itu tidak akan pernah bertahan lama. Suatu hari nanti semuanya akan runtuh juga, dan kau akan tetap menjadi orang yang kalah, selamanya.”

“Diam! Jangan bicara lagi!” teriak Arjuna, dan ia langsung menyerang Raka dengan sekuat tenaga, karena ia tidak mau mendengar ucapan anak ingusan ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!