NovelToon NovelToon
Hasrat Kumbang Sewaan

Hasrat Kumbang Sewaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Viaalatte

Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Gilang bangun dengan kepala berat. Matanya bengkak karena semalaman tak bisa tidur. Namun, begitu melihat ibunya yang sudah duduk di tepi ranjang sambil menahan sakit, ia buru-buru bangkit.

“Bu, ayo siap-siap. Hari ini jadwal kemo, kan?” suaranya berusaha terdengar ceria, meski hatinya terasa kosong.

Ibunya tersenyum tipis. “Iya, Lang. Maaf ya, Ibu nyusahin terus.”

Gilang menggeleng cepat. “Jangan bilang gitu, Bu. Aku yang seharusnya minta maaf.”

Mereka berangkat ke rumah sakit dengan motor matic tua milik Gilang. Sepanjang jalan, Gilang hanya diam, sesekali melirik ibunya yang tampak lemah tapi tetap berusaha tersenyum.

Setelah ibunya masuk ruang kemoterapi, Gilang duduk di bangku tunggu. Dia menggenggam handphone yang menampilkan saldo rekening dua ratus juta, transferan dari Valeria semalam.

“Ini harga diriku… harga masa depanku,” batinnya getir.

Selesai kemoterapi, Gilang mengantar ibunya pulang. Lalu ia langsung bergegas ke sekolah adiknya, Sekar, untuk membayar biaya prakerin.

“Alhamdulillah, Kak. Jadi Sekar bisa ikut PKL bareng teman-teman,” ujar Sekar bahagia sambil memeluk kakaknya.

Gilang mengelus kepala adiknya. Senyum itu… senyum yang membuat semua rasa bersalahnya semakin menusuk.

“Ya, Kakak akan selalu usahain yang terbaik buat kalian,” katanya, padahal hatinya seperti diremas.

Saat pulang, ia menerima pesan dari Tante Jesica:

“Malam ini kamu harus datang. Valeria menunggu. Ingat perjanjian kalian.”

Gilang terdiam lama menatap layar ponselnya. Tenggorokannya terasa kering. Rasanya ia ingin kabur sejauh mungkin, tapi ia tahu, ia sudah masuk terlalu dalam.

******

Beberapa jam berlalu, Gilang memarkir motornya tergesa, napasnya terengah-engah. “Maaf, motor saya tadi…”

Valeria melipat tangan di dada, menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Alasan. Kalau kamu terlambat lagi, saya bisa cari yang lain, Romeo.”

Gilang menunduk. “Tidak akan terulang lagi.”

Tante Jesica yang berdiri di dekat pintu hanya tersenyum tipis, menghembuskan asap rokok. “Sudah-sudah. Bu Valeria, jangan bikin dia ciut dulu. Kalau Romeo tegang, performanya bisa turun.”

Valeria mendengus, lalu menarik tangan Gilang. “Ayo masuk. Jangan buang waktu.”

Begitu pintu kamar tertutup, Gilang merasakan aroma parfum mahal yang menusuk hidungnya. Valeria melepaskan mantel panjangnya, memperlihatkan gaun satin yang menempel ketat di tubuhnya.

“Saya gak suka cowok yang bikin saya nunggu. Jadi, buktikan kamu layak untuk dua ratus juta itu.” Suaranya datar, seperti sedang memberi perintah.

Gilang menghela napas panjang. Dalam hatinya, ia berteriak. Kenapa aku ada di sini?

Tapi ia tetap mendekat, memaksakan senyum yang sama seperti malam pertama.

“Baik, Bu Valeria,” jawabnya pelan.

Valeria mendekatkan wajahnya ke wajah Gilang, menatap lurus ke matanya. “Buang wajah sedihmu itu. Saya bayar kamu untuk membuat saya bahagia, bukan untuk melihat kamu seperti mayat hidup.”

Gilang terdiam beberapa detik, lalu menahan napasnya. “Baik.”

Gilang langsung mendekat,menatap wajah cantik Valeria, usianya mungkin tidak berbeda jauh dengan dirinya, tapi secara derajat mungkin Gilang jauh dibawahnya.

Valeria memulai lebih dulu, dia mencium Gilang hangat. Gilang membalas dengan degup jantung yang berdebar kencang. Kali ini rasanya berbeda—lebih hangat, dan lebih dalam dari yang pernah ia rasakan sebelumnya.

Tanpa sadar, tangannya meraih pinggang Valeria, menariknya lebih dekat. Valeria tersenyum kecil di sela ciuman itu, lalu membisikkan sesuatu di telinganya.

“Bagus… kamu belajar cepat,” katanya lirih.

Malam itu mereka saling larut dalam pelukan.

Gilang berusaha memenuhi setiap permintaan Valeria, sementara perempuan itu terlihat semakin tenggelam dalam rasa puas.

Saat semuanya usai, Valeria terduduk di tepi ranjang dengan senyum puas di bibirnya. “Kali ini kamu tidak mengecewakan,” ucapnya, menatap Gilang yang masih berdiri dengan napas terengah.

“Terima kasih,” balas Gilang singkat, meski di dalam hatinya ia merasa kosong.

Valeria bangkit, merapikan rambutnya. “Kalau kamu terus seperti ini, aku yakin perjanjian kita akan berjalan lancar,” katanya sambil tersenyum puas.

Gilang hanya mengangguk pelan. Di balik senyum tipisnya, ia merasakan perasaan yang sulit dijelaskan, campuran lega, bersalah, dan takut akan masa depan.

Valeria menarik kepala Gilang, dan langsung mengecup pipi Gilang singkat, dan berbisik tepat ditelinganua. "Kamu bikin saya puas, lain kali saya akan booking hotel bintang lima untuk kepuasan yang lebih maksimal. Di ruang pengap ini,saya kurang leluasa."

Gilang hanya mengangguk pelan, menahan diri untuk tidak menatap mata Valeria terlalu lama. Pipinya masih terasa panas, bukan karena malu, tapi karena campuran emosi yang sulit dijelaskan.

Valeria tersenyum tipis, mengambil tasnya lalu melangkah keluar dengan anggun. “Sampai jumpa, Romeo,” katanya sambil melambaikan tangan singkat sebelum keluar dari ruangan.

Begitu pintu tertutup, Gilang duduk di tepi ranjang, napasnya terengah. Tangannya meremas rambutnya sendiri.

“Hotel bintang lima…” gumamnya pelan. Entah kenapa kata-kata itu justru membuat dadanya sesak. Semakin mewah tempatnya nanti, semakin besar tuntutan yang harus ia penuhi.

Gilang berdiri perlahan, meraih kemejanya yang tergeletak di lantai. Setelah memakainya, ia keluar dengan langkah berat.

Gilang langsung pergi ke kosan Viona, gadis itu telah menelponnya berkali-kali tadi, menanyakan tugas kelompok yang akan diselesaikan malam ini.

Setelah sampai di gang sempit kosan Viona, Gilang berhenti di depan gang dan menghela napas sebelum menelpon.

“Hallo, aku udah di depan kosmu,” katanya singkat.

Tak lama, Viona muncul dengan kaos santai dan celana pendek, rambutnya digerai seadanya. “Lama banget sih, Kak!” protesnya sambil manyun.

“Maaf, tadi ada urusan,” jawab Gilang, menunduk sedikit, mencoba menyembunyikan ekspresinya yang letih.

“Ayo masuk aja, kita kerjain di dalam, biar nggak ribet,” ajak Viona, menunjuk pintu kosannya.

Gilang spontan menggeleng. “Nggak usah, di teras aja cukup.”

Viona mendengus. “Ah ribet, masa ngerjain tugas di teras? Nanti banyak nyamuk!”

Kebetulan ibu kos lewat, membawa sapu.

“Kenapa, Vi?” tanyanya.

“Bu, boleh ya Kak Gilang masuk sebentar? Kita mau ngerjain tugas kelompok,” pinta Viona cepat.

Ibu kos tersenyum ramah. “Boleh aja, asal pintunya dibuka, ya. Biar saya bisa lihat.”

“Siap, Bu!” Viona menjawab riang lalu menarik lengan Gilang.

Gilang sempat ragu sejenak, tapi akhirnya mengikuti Viona masuk. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, bukan karena malu, tapi karena rasa canggung yang entah kenapa muncul.

Di dalam, Viona menggelar buku-buku dan laptop di atas meja kecil. “Sini duduk. Kita harus kelarin malam ini biar besok nggak pusing.”

Gilang duduk perlahan. Ruangan itu wangi, sederhana tapi hangat. Viona duduk di seberangnya, wajahnya serius memandang layar laptop.

Sementara Viona mulai mengetik, Gilang hanya bisa menatapnya diam-diam. Rasa bersalah kembali menyusup ke dadanya. Bagaimana kalau Viona tahu siapa dia sebenarnya?

“Kak?” Viona melambai di depan wajahnya. “Kok bengong?”

Gilang tersentak, buru-buru meraih buku catatannya. “Nggak, nggak… ayo lanjut.”

Setelah setenngah jam berlalu. Hanya suara ketikan laptop dan sesekali suara nyamuk yang terdengar.

Viona menopang dagu dengan tangan, sesekali menguap lebar. “Kak, kamu serius banget sih ngetiknya?” gumamnya setengah malas.

“Biar cepat selesai,” jawab Gilang singkat tanpa menoleh.

“Hmm…” Viona hanya mendengus, lalu bersandar di meja kecil itu. Kelopak matanya akhirnya tertutup. Tak lama kemudian, napasnya terdengar teratur—ia tertidur.

Gilang menghentikan ketikan. Matanya menatap Viona lama. Wajahnya terlihat damai saat tidur, rambutnya sedikit berantakan menutupi pipinya.

“Kamu cantik…” bisik Gilang lirih, hampir tanpa suara.

Tangan Gilang terulur pelan, mengelus rambut Viona dengan lembut. Ada rasa hangat aneh yang menyusup ke dadanya.

Saat jarinya menyentuh kepala Viona, hatinya berdebar. Ia mendekatkan wajah, berniat mengecup kepala gadis itu. Tapi sesaat sebelum bibirnya menyentuh, ia berhenti.

Gilang menarik diri cepat-cepat, seolah baru tersadar.

Apa yang aku lakukan? pikirnya panik.

Ia menatap tangannya yang tadi menyentuh kepala Viona. Rasanya seperti ada dinding tak terlihat yang menghalanginya.

“Aku nggak pantas…” gumamnya pelan.

Rasanya dadanya sesak. Viona begitu polos, begitu murni. Sedangkan dia… dia bahkan baru saja “bekerja” untuk membuat wanita lain hamil.

Gilang kembali duduk tegak, menatap layar laptop dengan mata kosong. lalu mengusap wajahnya kasar. "Kamu gak pantas buat siapapun Gilang!" ucapnya penuh penekanan, pada dirinya sendiri.

1
hrarou
kasian gilang sayang 🥺
Viaalatte: huhu iya kak🥺, makasih sudah mampir🥰♥️
total 1 replies
Viaalatte
yok baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!