Avara hanya staf administrasi biasa di perusahaan finance yang terbiasa bekerja lembur.
Pada satu hari seperti biasa dia lembur seorang diri, lelah dan mengantuk. Saat terbangun, bukannya berada di kantor, dia justru bertransmigrasi ke dunia iblis. Menjadi satu-satunya sosok manusia di sana, Avara harus dicurigai dan hampir mendapat hukuman mati. Namun berkat kemampuannya mengolah data, dia berhasil selamat!
Kini hari-harinya disibukkan oleh pekerjaan administrasi di istana iblis, dan semata-mata bekerja untuk Raja Iblis Fulqentius yang terkenal keji, dingin, dan misterius.
Bisakah Avara bertahan hidup di dunia yang sama sekali asing baginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichigatsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23 - Duke Elzarr
Hari-hari damai datang bersama angin sejuk musim semi. Pagi yang cerah tiba bersama sapaan-sapaan hangat para iblis pekerja di istana. Semuanya indah dan menyenangkan sebelum seorang tamu datang ke ruang arsip sempit milik Avara.
"Duke Elzarr?" sapa Oxron yang selalu lebih sigap dari siapapun di sana.
Seorang iblis laki-laki tua menampakkan diri di muka pintu, mengernyit, jelas enggan menjejakkan kaki lebih jauh ke dalam ruangan yang sudah disesaki para iblis lain. Tampilan parlentenya menarik perhatian Avara, menunjukkan status sosialnya yang tidak rendah dan kekayaan yang mungkin tidak dimiliki sembarang iblis di sana. Sesuatu dalam wajahnya mengingatkan Avara pada satu-dua hal, tapi dia terlalu acuh tak acuh untuk menghapal hal lain selain rumus-rumus dan hanya peduli pada pekerjaannya, jadi dengan cepat gadis itu menyerah. Setidaknya hingga Fulton berbisik padanya.
"Itu ayah Lady Rosett."
Maka jelaslah sekarang kenapa wajahnya terasa akrab di ingatan.
"Selamat pagi, Sir. Apakah ada yang bisa kami bantu?"
"Aku tidak punya urusan dengan pekerjaan kalian, tapi aku punya perlu dengan manusia itu."
Avara menunjuk dirinya sendiri. Siapa lagi.
"Kemari," kata Duke Elzarr pendek seolah memberi perintah ke seekor anjing untuk mengekor majikan.
Entah kenapa Avara merasa demikian, sebab raut wajah sang Duke mengungkapkan arogansi yang berlebihan terhadapnya.
Avara menurut saja. Dia mengikuti jejak lelaki itu sebelum rekan-rekan kerjanya mengatakan apapun.
Mereka baru berhenti setelah tiba di ruang minum teh yang kosong dari keberadaan iblis manapun. Duke Elzarr langsung duduk diikuti Avara, tapi belum sampai gadis itu menarik kursi, sang duke mengangkat tangan, menghentikan geraknya.
"Tidak ada yang menyuruhmu duduk denganku," ujarnya dingin.
Perkataan itu semakin memperjelas anggapan Avara bahwa dia memang dianggap selevel hewan daripada seseorang yang sepadan dengannya.
Maka di seberang Duke Elzarr, Avara berdiri, mencampakkan satu kursi yang seharusnya bisa dia huni. Mereka terlibat dalam keheningan yang tidak menyenangkan hingga seorang iblis pelayan datang menawarkan teh pada sang duke.
Sepeninggal si iblis, lelaki itu menumpukkan kaki dan bersidekap, matanya mengarah lurus pada Avara. "Kau tahu kenapa aku memanggilmu?"
"Tidak," balas Avara cepat dan pendek.
"Mungkin kau perlu lebih banyak waktu untuk berpikir dengan otak manusiamu tentang apa kesalahanmu hingga membuatku jauh-jauh ke mari."
"Tidak perlu, Sir. Segera saja beritahu saya. Otak manusia saya hanya berguna untuk bekerja, tidak diprogram untuk memikirkan hal-hal rumit yang Anda maksud."
"Sudah kuduga," dengus Duke Elzarr. "Dengar, Manusia. Setidaknya kau masih ingat sudah bertemu dengan putriku saat festival, kan. Aku ingin meminta pertanggung jawabanmu untuk apa yang sudah kau lakukan padanya."
Avara merengut, sudah tidak bisa lagi menutupi kekesalannya. "Apa yang sudah saya lakukan?" Tanyanya memastikan. "Saya bahkan tidak bicara padanya saat itu. Itukah kesalahan saya?"
Pelayan iblis datang mengantar teh, cepat-cepat menyingkir karena merasakan situasi berbahaya yang menguar di antara dua orang itu.
"Dasar bodoh. Kau sudah menghalanginya bicara dan mendekati His Majesty!"
Avara tersentak, terkejut karena kenaikan nada bicara sang duke dan topik yang sama sekali tidak dia duga akan menjadi masalahnya kini.
"Pardon?"
"Aku tahu kau bodoh, Manusia, tapi tidak perlu berlagak lebih bodoh," ucap Duke Elzarr ketus. "Kau pasti sudah tahu seberapa pentingnya festival musim semi bagi para iblis, terutama putriku yang sudah sangat lama mendambakan pasangan seperti His Majesty. Tapi ada kau di sana, menjadi benalu yang membuat beliau tidak leluasa bergerak dan memilih sendiri pasangannya. Kau hanya penghambat, kau tahu?!"
Melongo, Avara kehilangan fungsi berpikirnya untuk menghadapi cercaan demi cercaan yang mengarah langsung padanya. Dia sendiri tahu dirinya telah menjadi penghalang bagi raja iblis pada waktu yang demikian krusial untuk seorang iblis, tapi mendapati orang lain melemparkan kenyataan pahit itu ke mukanya, ternyata terasa lebih menyakitkan dari yang dia bayangkan.
Duke Elzarr menyesap tehnya dengan anggun, sungguh berbeda dari perkataan kasarnya terhadap Avara barusan. "Kau pun tahu kalau keberadaanmu di sini sangat tidak berdaya, kan. Kau bisa dengan mudah dihabisi, lho. Entah olehku atau iblis lain. Bukankah sebaiknya kau terus menjaga sikap?"
Avara mengingat para rekan kerjanya yang memperlakukannya dengan baik, para Archdemon yang telah bekerja sama dengannya, dan sosok Fulqentius yang mempercayainya tanpa kata. Avara pun mengingat pandangan para iblis lain dan bisik-bisik mereka yang tak ada habisnya, yang bersikap normal sebagaimana iblis terhadap manusia. Avara tahu dirinya bisa sewaktu-waktu mati di dunia yang tidak sepantasnya dihuni seorang manusia.
"Anda mungkin benar, Sir. Tapi patut Anda ketahui juga, bahwa saya dan raja iblis telah membuat kesepakatan agar saya tidak disakiti siapapun selama saya bekerja di sini. Apakah Anda mau mencoba mengetes akibat dari pemutusan kesepakatan itu dari pihak luar?"
"Kau mengancamku?" geram Duke Elzarr.
Avara menunduk, tersenyum. "Bukankah Anda yang lebih dulu mengancam saya?"
Seketika lelaki itu berdiri, mendorong mundur kursi yang semula dia duduki, menimbulkan decit yang memekakkan telinga. Tangannya bergerak meraih cangkir yang masih terisi teh panas, yang segera direbut Avara lebih dulu dan diminumnya hingga tandas. Agaknya dia sudah tidak peduli pada temperatur teh yang mungkin bisa menyakiti mulutnya. Gadis itu mengembalikan cangkir kosong ke atas meja dengan seringai menyebalkan yang membuat Duke Elzarr semakin menggeram murka.
"Bukankah putri Anda sudah cukup tua untuk berlindung di balik campur tangan ayahnya terhadap masa depan pernikahannya sendiri? Atau Anda cukup senggang untuk ikut campur, Sir? Lebih baik Anda koreksi kembali laporan dari daerah Anda sebelum dikirimkan ke sini, kami akan sangat terbantu. Terima kasih untuk suguhannya. Selamat tinggal."
Avara bergegas pergi sebelum cangkir yang sama dilemparkan ke arahnya.
...****************...
Oriole bergerak gelisah di balik pintu, merasa salah telah menguping percakapan yang seharusnya tidak dia dengar. Namun Fulqentius yang tidak bergerak di depannya menghalanginya untuk kabur, apalagi saat lelaki itu menyeringai lebar setelah mendengar sendiri geraman seorang iblis yang baru saja dikalahkan satu-satunya manusia di sana.
"Your Majesty," panggil Oriole mengingatkan.
Fulqentius menarik diri, puas telah selesai menyaksikan sendiri konflik seru itu dari celah pintu menuju ruang minum teh.
"Sepertinya aku tidak perlu khawatir terhadap keamanan gadis itu."
"Anda tidak perlu mengkhawatirkan apapun," sergah Oriole.
"Dia mungkin bisa membunuh seorang iblis dengan kata-katanya," tawa Fulqentius.
Oriole tercengang mendengar tawa itu. "Itu tidak lucu, Your Majesty." Dan mendesah. "Seperti yang sudah sering diingatkan para petinggi kerajaan, ada baiknya Anda segera menentukan pasangan sebelum terjadi perang di antara para wanita."
Fulqentius pura-pura tidak mendengarnya, seperti yang sudah-sudah.