Vittorio "The Grim Reaper" Genovese adalah puncak rantai makanan di dunia bawah Italia. Dingin, kejam, dan tak tersentuh—sampai sebuah pengkhianatan bom mobil mengakhiri hidupnya. Namun, maut ternyata punya selera humor yang aneh. Vittorio terbangun di tubuh Arjuna, mahasiswa beasiswa tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi "kesialan". Tubuh kurus, kacamata tebal yang pecah, dan hobi menjadi samsak tinju geng kampus.
Dendam Vittorio membara, tapi tantangan terbesarnya bukan membalas budi pada para pembully, melainkan menghadapi Karin, gadis "semprul" tetangga kostnya yang tidak punya urat takut. Karin adalah perpaduan antara kekacauan dan keceriaan yang sering membuat Vittorio—sang raja mafia yang biasanya hanya bicara lewat peluru—kehilangan kata-kata dan martabatnya karena tingkah konyol gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategi Bisnis Ala Mafia
Keesokan paginya, ruko di belakang pasar yang menjadi markas darurat Vittorio tidak lagi terlihat seperti gudang penyimpanan barang bekas. Di tengah ruangan, sebuah meja bundar besar telah dipasang, dikelilingi oleh monitor-monitor yang menampilkan aliran data saham, rute logistik pelabuhan, dan pemetaan jaringan aset keluarga Sujatmiko.
Vittorio berdiri di depan papan tulis kaca, mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Di tangannya terdapat spidol hitam. Ia tidak lagi terlihat seperti mahasiswa hukum yang sedang mengejar gelar; ia adalah seorang Consigliere yang sedang menyusun rencana pengambilalihan kekuasaan.
"Uang adalah darah, tapi informasi adalah jantungnya," ucap Vittorio, suaranya bergema di ruangan yang sunyi itu. "Hadi Sujatmiko berpikir kekuasaannya abadi karena ia memiliki aset fisik. Namun, di duni bawah modern, aset fisik adalah beban jika kau tidak memiliki kendali atas narasinya."
Tiger, Karin, dan beberapa anggota inti tim pengintai duduk mendengarkan dengan serius. Karin, yang masih mengenakan daster favoritnya namun memegang tablet canggih, tampak berusaha keras mengikuti logika berpikir Vittorio.
"Juna, maksud lu kita nggak bakal nyerang rumahnya lagi pake bom?" tanya Karin, matanya mengerjap bingung.
"Kekerasan adalah alat terakhir bagi orang yang tidak punya otak, Karin," jawab Vittorio tanpa menoleh. "Strategi bisnis ala mafia yang sesungguhnya adalah 'Pencekikan Sistemik'. Kita tidak akan membunuh Hadi. Kita akan membuatnya menjadi tidak relevan hingga sekutu-sekutunya sendiri yang akan melenyapkannya."
Vittorio mulai menggambar sebuah diagram lingkaran di papan tulis. Di tengahnya tertulis nama: Sujatmiko Corp.
"Tahap pertama: Memutus Jalur Pasokan Kepercayaan." Vittorio menunjuk ke arah Tiger. "Tiger, kau dan timmu sudah menyebarkan data hasil curian Karin ke bursa saham Singapura dan beberapa jurnalis investigasi internasional, kan?"
Tiger mengangguk mantap. "Sudah, Ghost. Reaksinya cepat. Pagi ini, saham Sujatmiko Corp turun lima belas persen karena rumor keterlibatan dalam pendanaan terorisme dan pencucian uang Lupi di Mare. Investor mulai panik."
"Bagus," lanjut Vittorio. "Investor yang panik adalah ikan yang mudah ditangkap. Karin, tugasmu sekarang adalah mengaktifkan akun-akun anonim yang sudah kita siapkan. Kita akan membeli saham mereka di titik terendah melalui perusahaan cangkang di Kepulauan Cayman."
Karin menelan ludah. "Gue... gue harus main saham? Juna, gue biasanya cuma main slot bonus doang di supermarket!"
"Ikuti instruksi Maya," ucap Vittorio tegas. "Kau tidak sedang berjudi. Kau sedang melakukan 'pencucian hak milik'. Kita akan mengambil alih kepemilikan mayoritas perusahaan Hadi tanpa dia sadari bahwa 'anak haram'-nya adalah pembeli utamanya."
Vittorio beralih ke tahap kedua: Diplomasi Bayangan.
"Bisnis mafia bukan tentang menghancurkan kompetitor, tapi tentang membuat mereka bergantung padamu," Vittorio menjelaskan. "Hadi memiliki kontrak eksklusif dengan pelabuhan untuk pengiriman material konstruksi. Kita akan memutus kontrak itu bukan dengan protes, tapi dengan menawarkan harga yang mustahil ditolak oleh otoritas pelabuhan."
"Gimana caranya?" tanya salah satu anak buah Tiger.
"Dengan menggunakan data 'Daftar Hitam' yang kita ambil semalam," Vittorio tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat dingin. "Daftar itu berisi nama-nama pejabat yang menerima suap dari Hadi. Kita tidak akan melaporkan mereka ke polisi—belum saatnya. Kita akan 'mengundang' mereka untuk beralih dukungan kepada kita sebagai gantinya atas kebungkaman kita. Dalam duni bawah, pengkhianatan adalah mata uang yang paling stabil."
Karin mencatat hal itu di buku catatannya dengan tulisan besar: KHIANAT \= DUIT.
Namun, strategi Vittorio tidak berhenti pada angka dan kontrak. Ia tahu bahwa mentalitas adalah kunci.
"Tahap ketiga: Destabilisasi Psikologis." Vittorio menatap mereka satu per satu. "Hadi Sujatmiko adalah pria yang sombong. Dia percaya dia adalah predator puncak. Kita harus membuatnya merasa bahwa setiap orang di sekitarnya adalah musuh. Bianca, Selly, bahkan pengawal pribadinya harus mulai meragukan kepemimpinannya."
"Lu mau ngadu domba mereka, Jun?" Karin bertanya dengan wajah ngeri.
"Aku hanya akan memberikan mereka kebenaran yang pahit," jawab Vittorio. "Maya, kirimkan rekaman suara Hadi saat dia mengatakan bahwa Bianca hanyalah alat dan dia berencana membuangnya setelah urusan dengan Italia selesai. Kirimkan itu ke ponsel pribadi Bianca sekarang."
Ruangan menjadi hening. Mereka semua menyadari betapa kejamnya strategi ini. Vittorio tidak hanya menyerang dompet Hadi, ia menghancurkan fondasi keluarganya.
"Juna... itu... itu nggak terlalu jahat?" bisik Karin pelan.
Vittorio berhenti menulis. Ia menatap Karin dengan tatapan yang sulit diartikan. "Karin, saat Hadi menanamkan chip itu di leher Arjuna kecil, apakah dia memikirkan tentang apa yang jahat atau baik? Saat dia membiarkan ibu Arjuna mati dalam kemiskinan, apakah dia punya belas kasihan?"
Karin menunduk. Ia tahu jawabannya.
"Dalam bisnis ini, jika kau tidak menjadi predator, kau akan menjadi mangsa," lanjut Vittorio, suaranya kembali ke nada profesional yang dingin. "Hadi memilih permainan ini dua belas tahun lalu. Aku hanya datang untuk menyelesaikannya."
Siang harinya, efek dari strategi Vittorio mulai terlihat. Laporan berita mulai dipenuhi dengan mundurnya beberapa dewan direksi Sujatmiko Corp. Bank-bank mulai membekukan jalur kredit perusahaan tersebut.
Vittorio duduk di kursinya, mengamati semua kekacauan itu melalui monitor. Namun, di tengah kemenangan taktis ini, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Nomornya tidak dikenal, namun isinya membuat jantung Vittorio berdegup dengan ritme yang berbeda.
"Vittorio, serigala sudah mendarat di Jakarta. Mereka tidak suka dengan caramu berbisnis. Mereka mengundangmu untuk 'minum kopi' di Hotel Grand Indonesia jam empat sore ini. Jangan terlambat, atau asistenmu yang berisik itu akan menjadi hidangan pembukanya."
Vittorio meremas ponselnya hingga layarnya sedikit retak. Lupi di Mare. Mereka bergerak lebih cepat dari perkiraannya. Mereka menyadari bahwa kekacauan yang menimpa Hadi adalah ulah orang dalam yang tahu terlalu banyak.
"Tiger, siapkan tim," perintah Vittorio, suaranya kini penuh dengan aura peperangan. "Bisnis kelas atas sudah selesai. Sekarang saatnya negosiasi lapangan."
Karin yang sedang asyik menghitung potensi keuntungan saham tiba-tiba menoleh. "Ada apa, Jun? Lu mau pergi lagi?"
Vittorio mendekati Karin. Ia mengambil tablet dari tangan gadis itu. "Karin, dengarkan aku. Pergilah ke kost-an sekarang. Bawa Mbak Yanti dan Bang Mamat ke ruko ini. Jangan keluar sampai aku meneleponmu. Mengerti?"
Karin melihat raut wajah Vittorio yang sangat serius—bukan dingin, tapi penuh proteksi. "Lupi di Mare ya? Mereka udah di sini?"
"Ya. Dan mereka ingin bertemu."
"Gue ikut!" Karin berdiri dengan berani.
"Tidak!" bentak Vittorio. "Ini bukan lagi soal menyelinap ke rumah Sujatmiko. Ini adalah pertemuan antar monster. Kau tidak punya tempat di sana, Karin."
"Tapi gue asisten lu!" teriak Karin, matanya mulai berkaca-kaca. "Kalau lu mati di sana, siapa yang bakal ngurusin saham-saham ini? Siapa yang bakal bayarin seblak gue?! Lu nggak boleh pergi sendiri lawan orang Italia itu, Juna!"
Vittorio terdiam. Ia melihat ketakutan murni di mata Karin, namun di balik ketakutan itu ada kesetiaan yang luar biasa. Ia menghela napas, lalu memegang kedua pipi Karin dengan tangannya.
"Dengarkan aku, wanita semprul," ucap Vittorio lembut. "Alasan aku melakukan semua strategi bisnis yang rumit ini adalah agar kau tetap aman. Agar kau bisa tetap menjadi Karin yang berisik dan tidak tahu sopan santun. Jika kau ikut dan terjadi sesuatu padamu, maka strategi mafiaku telah gagal total. Kau mengerti?"
Karin menggigit bibirnya, air matanya jatuh satu tetes. Ia mengangguk pelan. "Tapi janji... lu harus balik. Pake gaya keren kayak kemarin pas makan kerupuk."
Vittorio tersenyum tipis. "Aku berjanji."
Jam empat sore tepat, Vittorio melangkah masuk ke lounge mewah Hotel Grand Indonesia. Ia mengenakan jas hitam tanpa dasi, kancing atas kemejanya terbuka, memberikan kesan santai namun sangat berbahaya. Di sudut ruangan yang paling privat, duduk seorang pria paruh baya dengan rambut putih yang disisir rapi ke belakang dan setelan jas seharga ratusan juta rupiah. Di lehernya, samar-samar terlihat tato serigala yang sedang melolong.
Pria itu adalah Don Lorenzo, salah satu petinggi Lupi di Mare yang dikirim langsung dari Genoa.
"Vittorio Genovese," ucap Lorenzo dengan aksen Italia yang kental namun sangat halus. "Dunia ini memang kecil, ya? Kami pikir kau sudah menjadi makanan ikan di Mediterania."
Vittorio duduk di depan Lorenzo, mengabaikan empat pengawal bersenjata yang berdiri di sekelilingnya. "Air Mediterania terlalu hangat untukku, Lorenzo. Aku lebih suka kelembapan Jakarta."
Lorenzo menuangkan kopi ke cangkir porselen. "Strategi bisnismu terhadap Hadi sangat mengesankan. Sangat... khas Genovese. Tapi kau melakukan satu kesalahan fatal, Vittorio."
"Oh ya? Apa itu?"
"Kau mengganggu aliran uang kami," Lorenzo meletakkan cangkirnya dengan bunyi clink yang tajam. "Hadi Sujatmiko adalah mesin cuci kami yang paling efisien di wilayah ini. Kau menghancurkannya, berarti kau berhutang pada kami. Dan kau tahu bagaimana kami menagih hutang."
Vittorio bersandar di kursi, tampak sangat santai. "Hadi adalah mesin cuci yang bocor, Lorenzo. Aku memberimu sesuatu yang lebih baik. Aku memiliki kontrol atas seluruh asetnya sekarang. Aku bisa memberimu akses yang lebih bersih, lebih cepat, dan tanpa campur tangan birokrasi yang merepotkan."
Lorenzo menyipitkan mata. "Kau menawarkan kerjasama setelah kau membunuh adik iparku di Italia?"
"Itu urusan pribadi, Lorenzo. Bisnis adalah bisnis," balas Vittorio. "Aku menawarkan lima puluh persen lebih banyak keuntungan daripada yang diberikan Hadi. Sebagai gantinya, kau tarik semua ancaman terhadapku dan orang-orangku. Termasuk gadis itu."
Lorenzo tertawa terbahak-bahak. "Kau menawar nyawamu dengan uang? Kau benar-benar sudah berubah, Vittorio. Dulu kau adalah pejuang, sekarang kau bicara seperti akuntan."
"Aku bicara seperti pemenang," Vittorio mengeluarkan sebuah dokumen dari tas kulitnya dan melemparkannya ke meja. "Itu adalah bukti bahwa aku sudah memindahkan semua dana cadangan Lupi di Mare di Indonesia ke akun yang hanya bisa diakses dengan biometrikku. Jika jantungku berhenti berdetak, uang itu akan otomatis disumbangkan ke yayasan panti asuhan di seluruh dunia. Kau akan kehilangan hampir empat triliun rupiah dalam satu detik."
Wajah Lorenzo menegang. Para pengawalnya secara naluriah menyentuh senjata mereka.
"Kau berani mengancam The Pack?!" desis Lorenzo.
"Ini bukan ancaman, Lorenzo. Ini adalah Strategi Bisnis Ala Mafia yang sesungguhnya," Vittorio berdiri, merapikan jasnya. "Kau punya waktu dua puluh empat jam untuk memutuskan. Tetap menjadi musuhku dan kehilangan segalanya, atau menjadi mitraku dan kita akan menguasai Asia Tenggara bersama. Pilih dengan bijak."
Vittorio berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Ia tahu Lorenzo tidak akan menembaknya sekarang. Uang sebanyak itu terlalu berharga bagi mafia dibandingkan dengan dendam lama.
Saat Vittorio keluar dari hotel, ia melihat Tiger sudah menunggu di dalam mobil.
"Gimana, Ghost?" tanya Tiger tegang.
"Ikan sudah memakan umpan, Tiger," jawab Vittorio. "Sekarang, kita harus memastikan jaring kita cukup kuat untuk menahan tarikan mereka. Bagaimana dengan Karin?"
"Dia aman di ruko. Dia sedang memaki-maki monitor karena harga saham Sujatmiko Corp naik sedikit tadi."
Vittorio tertawa kecil. Mendengar kabar tentang Karin yang sedang mengamuk adalah obat penenang terbaik baginya. Identitasnya sebagai predator telah kembali sepenuhnya, namun kali ini ia tidak berburu sendirian. Ia memiliki tim, ia memiliki kekuatan finansial, dan ia memiliki alasan untuk menang.
Malam itu, di ruko sederhana yang menjadi pusat badai ekonomi Jakarta, Vittorio kembali duduk di samping Karin. Ia membantu gadis itu menghitung angka-angka di layar, sesekali mengoreksi kesalahan ketiknya yang konyol.
Perang melawan Lupi di Mare baru saja memasuki fase baru. Bukan lagi sekadar baku tembak, tapi perang saraf dan angka. Dan di tangan Vittorio Genovese, bisnis duni bawah Jakarta tidak akan pernah sama lagi.
"Juna, kalau kita kaya nanti, lu beneran bakal tetep tinggal di kost-an?" tanya Karin sambil menguap.
"Selama martabak telurnya enak, kenapa tidak?" jawab Vittorio.
Karin tersenyum sebelum tertidur di atas meja, kepalanya bersandar di lengan Vittorio. Vittorio menatap ke arah jendela, di mana lampu-lampu kota Jakarta berkilauan. Predator itu sedang beristirahat, namun cakarnya kini telah mencengkeram nadi keuangan seluruh kota.
aq ngakak 😄🤣😄🤣😄🤭
lucu bnget cemburu ny si vittrio🤣😄🤣😄🤭 lanjut kk👍
kocak bnget,,,,👍
laen x cukup sederhana tp berkesan saja🤭
karin udh gak malu lg yaa peluk2 vittrio depan orng🤭
mna manja lg
🤣😄🤭
dri pda karin pke daster kuning bikin syilau mata mu😄🤣😄🤣🤭
tp gak ap lah, klu vittrio penguasa italia, aq penguasa komen d cerita kk ini🤭👍