NovelToon NovelToon
The End Of Before

The End Of Before

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di usia 27 tahun, Vivian Wheeler mengira hidupnya sempurna—hingga ia mendapati dirinya menjadi "pelakor" tanpa sengaja dalam satu hari yang sama.

Setelah memergoki pengkhianatan George, Kekasihnya, yang ternyata telah beristri, Vivian kembali dihantam badai saat dituduh sebagai selingkuhan oleh seorang remaja histeris yang mengamuk hingga merusak mobil Porsche-nya.

Penyebabnya? Logan Enver-Valerio, pemuda 20 tahun yang angkuh, menggunakan foto Acak Vivian sebagai alasan palsu untuk memutuskan Moana.

Tak terima dihina "wanita tua" dan dijadikan tameng, Vivian mendatangi kampus Logan dengan penampilan yang menipu usia, siap memberi pelajaran pada bocah ingusan tersebut.

Pertarungan ego antara sang pewaris tegas dan brondong ini pun dimulai. Siapakah yang akan menyerah saat mulai mencampuradukkan dendam dan obsesi?

🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#11

Suasana di luar apartemen penthouse Vivian di kawasan eksklusif Century City mulai menggelap, digantikan oleh kerlip lampu kota yang menembus jendela kaca setinggi langit-langit. Namun, suhu di dalam unit mewah itu terasa jauh lebih panas daripada udara musim panas Los Angeles di luar sana.

Vivian berdiri di tengah kamar tidurnya yang luas, dikelilingi oleh aroma lilin aromaterapi sandalwood dan kemewahan yang terasa hampa. Di atas tempat tidur berseprei sutra abu-abu, gaun yang ia siapkan untuk acara galeri malam ini tergeletak begitu saja. Sebuah gaun backless hitam dengan belahan paha setinggi pinggul—gaun yang ia sebut "berbahaya".

Namun, pikirannya tidak tertuju pada gaun itu. Pikirannya masih tertahan pada ancaman George dan suara bariton Logan di telepon tadi.

"Kenapa aku merasa seperti remaja yang sedang bersiap untuk kencan pertama?" gumam Vivian pada pantulannya di cermin besar.

Tiba-tiba, bunyi bel pintu apartemennya bergema. Vivian mengerutkan kening. Logan janji akan menjemputnya pukul delapan, dan sekarang baru pukul tujuh lewat lima belas menit. Dengan langkah cepat, ia keluar dari kamar, masih mengenakan jubah mandi sutra tipis yang hanya diikat seadanya di pinggang.

Saat ia membuka pintu, jantungnya mencelos. Bukan Logan yang berdiri di sana.

Itu George. Wajahnya merah padam, napasnya bau alkohol, dan matanya menatap Vivian dengan kebencian yang murni.

"George? Bagaimana kau bisa masuk ke kawasan ini?!" pekik Vivian, mencoba menutup pintu, namun kaki George sudah lebih dulu mengganjalnya.

"Aku masih punya kode akses cadangan yang belum kau ganti, Vivian. Kau lupa?" George mendorong pintu dengan kasar, masuk ke dalam ruang tamu yang elegan itu seolah-olah ia pemiliknya. "Jadi, Apartemen mewah hasil jerih payah mu, kau gunakan untuk menampung berandalan kampus?"

"Keluar dari sini sekarang, atau aku panggil polisi!" teriak Vivian. Ia mundur, mencoba mencari ponselnya yang tertinggal di kamar.

George tertawa getir, langkahnya goyah namun agresif. "Polisi? Apa yang akan kau katakan? Bahwa mantan kekasih mu sedang mencoba menyadarkan mu? Kau benar-benar sudah tidak punya harga diri lagi, ya?"

George menyudutkan Vivian hingga punggung wanita itu menyentuh dinding marmer yang dingin. "Apa yang dia berikan padamu yang tidak bisa kuberikan? Hah? Energi anak muda? Apa dia sudah menyentuhmu di sini?" tangan George bergerak kasar hendak menyentuh bahu Vivian yang terbuka.

"Jangan sentuh aku!" Vivian menepis tangan George dengan tenaga penuh.

"Kenapa? Kau merasa suci karena dia lebih muda? Kau hanya pelarian baginya, Vivian! Dia itu Logan Enver-Valerio. Dia punya segalanya. Dia hanya ingin tahu bagaimana rasanya meniduri wanita yang lebih tua darinya sebelum dia kembali ke gadis-gadis seumurannya!"

BRAK!

Pintu apartemen yang tadi tertutup kini terbuka dengan dentuman keras. Seseorang berdiri di sana, siluetnya tampak besar dan mengintimidasi di bawah lampu lorong.

Logan.

Dia tidak mengenakan jaket kulitnya. Dia memakai kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengan yang kencang dan urat-urat yang menonjol. Wajahnya tidak lagi menampakkan senyum nakal. Matanya yang gelap memancarkan aura membunuh yang belum pernah Vivian lihat sebelumnya.

"Aku tidak ingat memberikan izin pada sampah untuk masuk ke apartemen kekasihku," suara Logan sangat rendah, namun sanggup menggetarkan ruangan itu.

George berbalik, mencoba memasang wajah berani meski tubuhnya jauh lebih pendek dibanding Logan. "Oh, si pahlawan kesiangan sudah datang. Apa ayahmu tahu kau bermain-main di sini, Bocah?"

Logan tidak membuang waktu untuk berdebat. Dengan satu gerakan cepat yang terlatih, ia melangkah maju, mencengkeram kerah kemeja George, dan menghantamkan pria itu ke dinding dengan kekuatan yang membuat bingkai foto di dekatnya bergetar.

"Dengar, pria tua," desis Logan tepat di depan wajah George. "Satu kali lagi kau menyebut namaku atau menyentuh wanita ku dengan tangan kotor mu, aku tidak akan peduli soal hukum. Aku akan memastikan kau tidak akan bisa berjalan lagi untuk mengejar istrimu atau selingkuhanmu yang lain. Mengerti?"

George tercekik, wajahnya membiru. Ketakutan yang nyata terpancar dari matanya. Logan melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat George jatuh tersungkur di lantai.

"Keluar. Sekarang," perintah Logan dingin.

George bangkit dengan terburu-buru, merapikan kemejanya yang berantakan, dan lari keluar dari apartemen tanpa menoleh lagi. Pintu tertutup perlahan, meninggalkan kesunyian yang mencekam antara Vivian dan Logan.

Vivian menyandarkan tubuhnya ke dinding, napasnya tersengal-sengal. Rasa takut, marah, dan lega bercampur menjadi satu. "Logan... kau..."

Logan berbalik. Aura kemarahannya perlahan memudar, digantikan oleh kekhawatiran yang dalam. Ia mendekati Vivian, namun kali ini gerakannya sangat lembut.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Logan, tangannya ragu-ragu untuk menyentuh bahu Vivian.

Vivian mendongak, menatap bekas luka di alis Logan yang semalam mereka bicarakan. Luka itu tampak semakin nyata sekarang, mengingatkannya bahwa pria di depannya ini bukanlah sekadar mahasiswa biasa. Dia adalah seseorang yang berani kotor untuk melindungi apa yang menjadi miliknya.

"Aku baik-baik saja. Terima kasih," bisik Vivian.

Logan menatap Vivian lekat-lekat. Jubah mandi sutra Vivian sedikit melonggar karena kejadian tadi, memperlihatkan lebih banyak kulit daripada yang seharusnya. Di bawah cahaya lampu apartemen yang kekuningan, Vivian tampak begitu rapuh sekaligus memikat.

"Kenapa kau belum bersiap?" tanya Logan, suaranya kini kembali menjadi bariton yang serak dan menggoda.

"Aku... aku tadi baru mau memakai gaunku sebelum dia datang," jawab Vivian jujur.

Logan melangkah satu tahap lebih dekat, masuk ke dalam ruang pribadi Vivian. "Gaun yang berbahaya itu?"

Vivian mengangguk lemah.

"Biarkan aku membantumu memakainya," ucap Logan. Itu bukan pertanyaan, melainkan tawaran yang mengandung tantangan tersembunyi.

Vivian terpaku. "Logan, ini bukan bagian dari kontrak."

"Kontrak kita adalah aku harus menjagamu. Dan menjagamu termasuk memastikan kau tampil paling mempesona agar pria seperti George menyesal seumur hidup," Logan mengulurkan tangannya, menyentuh helai rambut Vivian yang berantakan. "Ayo, Kak. Masuk ke kamarmu. Aku akan menunggumu di depan cermin."

Vivian merasa seolah-olah ia sedang berjalan masuk ke dalam sarang serigala, namun ia tidak punya keinginan untuk lari. Ia berbalik dan berjalan menuju kamar tidurnya, diikuti oleh langkah kaki Logan yang berat dan mantap di atas karpet bulu.

Di dalam kamar, suasana berubah menjadi sangat intim. Vivian berdiri di depan cermin, sementara Logan berdiri di belakangnya. Logan mengambil gaun hitam itu dari tempat tidur dan memberikannya pada Vivian.

"Pakai ini. Aku akan berbalik," ucap Logan dengan nada yang tiba-tiba sopan.

Vivian mengganti jubah mandinya dengan gaun itu dengan cepat. Saat ia mencoba menarik ritsleting di bagian belakang yang sangat rendah, tangannya gemetar.

"Biar aku saja," suara Logan terdengar tepat di belakang telinganya.

Vivian bisa merasakan jemari hangat Logan menyentuh kulit punggungnya yang terbuka. Sentuhan itu mengirimkan gelombang listrik yang membuat bulu kuduknya berdiri. Logan menarik ritsleting itu perlahan, sangat perlahan, seolah ia sedang menikmati setiap inci kulit yang ia lewati.

Saat ritsleting itu sampai di puncak, Logan tidak melepaskan tangannya. Ia justru meletakkan kedua tangannya di pinggang Vivian, menarik tubuh wanita itu agar bersandar pada dadanya yang bidang.

Melalui pantulan cermin, mata mereka bertemu.

"Kau benar-benar ingin menghancurkan ku malam ini, ya?" bisik Logan, matanya menatap tajam ke arah leher Vivian.

Vivian menahan napas. "Maksudmu?"

"Gaun ini... kau... suasana ini. George benar soal satu hal, Vivian. Aku memang menginginkanmu. Tapi dia salah jika mengira aku hanya ingin bermain-main."

Logan membenamkan wajahnya di ceruk leher Vivian, menghirup aroma parfum dan aroma alami tubuh wanita itu yang memabukkan. "Satu bulan kontrak ini tidak akan cukup, Vivian. Aku baru saja memulainya, dan aku tidak berniat untuk berhenti sampai kau benar-benar mengakui bahwa kau membutuhkan 'bocah' ini lebih dari apa pun."

Malam yang seharusnya menjadi ajang pamer di galeri, kini berubah menjadi pertarungan hasrat di dalam kamar apartemen mewah. Vivian menyadari bahwa pelindungnya kini telah menjadi godaan terbesarnya. Dan di bawah sentuhan Logan yang ahli, ia tahu bahwa benteng pertahanannya yang ia jaga selama dua puluh tujuh tahun, Mungkin sedang berada di ambang keruntuhan yang sangat manis.

1
Queen AL
kenapa cuma balas dendam nya ke logan? ke george gak balas dendam?
Ita Putri
kalo gk salah setting ceritanya di los angeles ya Thor
gimana bisa ada gunung Argopuro ya
Ros 🍂: ma'aciww sudah ingat kan kak🙏 Bisa-bisanya jadi ke Jawa Timur 🤣😭🙏🙏🙏
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Keputusan Logan yg terbaik utk kluarga 👍👍👍
ren_iren
pokoknya dar der dorrr🤭😂
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Aduh, Daddy udh tau ini 🙈🙈🙈
Ros 🍂: apa GBU kak🥹🙏
total 9 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Biar cinta segi4 mreka mnemukan jalan keluar terbaik wlau hrs mlewati neraka 🙈🙈🙈
Ros 🍂: ngakak ya tuhan 🤣🤣
total 5 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Dad, Mom, itu Kedua Putra Putri kalian udh mlakuan ksalahn & mnyebabkn Flo hancur 🤦🤦🤦
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④: Ok, Ade ❤️🤗😘
total 9 replies
Nasya Sifa Aura
sdh lu tebak apa elowen tau y klau itu bkn kk kandung ny
Ros 🍂: ayo main tebak-tebakan kak😭🤣🤣🙏
total 1 replies
Ros 🍂
Nah Benar.🥰🤣
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Tnyata oh tnyata, Elowen ...
Ros 🍂: Huhuhu terharu 🥹😭🤣
total 5 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Jd inget Kartun, Flo & Al sperti Tom & Jerry 🤦🤦🤦
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④: Bener, Ade 🤣🤣🤣
total 2 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Moveee, Felix, klo gk mau, cwe yg kau cintai direbut Ade mu 🤦🤦🤦
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Blummm... msh otw jd kekasih 🤣🤣🤣
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④: Hi hi 🤣🤣🤣
total 2 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Wkwkwkw siapa yg pernah ke neraka 🤭🤭🤭
ren_iren
nah loh bau bau huru hara akan terjadi.... 🤭
Ros 🍂: Wkwkw siapkan diri kak 🤣🙏🥰
total 1 replies
Dev..
Vivian keterlaluan banget, dia dominan di hubungkan pernikahan, padahal harusnya ada proses diskusi utk ambil keputusan..😌
Ros 🍂: Nah benar kak🥰
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Logan gk mau Putra ny mngalami hal yg sama sperti diri ny dulu 👍👍👍
Ros 🍂: Benar kak🥰
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Aduh, Logan, ini Putra mu, bikin 'mual' 🤣🤣🤣
Ros 🍂: besar dimulut kak😭🥰
total 3 replies
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪④
Auuu auuu suka hewan purba ternyata 🤭🤭🤭
Ros 🍂: cap Dino nggak tuh 🫶🤣
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
thor aku blm, ngantuk msh di tggu up selanjut ny
Ros 🍂: kak🫶🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!