NovelToon NovelToon
DI ANTARA DUA KHUTBAH

DI ANTARA DUA KHUTBAH

Status: tamat
Genre:Cintapertama / CEO / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jesa Cristian

Hujan di Jakarta Selatan tidak pernah sekadar air; ia adalah tirai yang menyamarkan dosa-dosa kota ini. Bagi Ustadz Aris, hujan sore itu adalah ujian kesabaran ketiga kalinya hari ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: DIAM YANG MENGGEMA

Hujan di luar jendela semakin deras, seolah alam sedang memaksa Rina untuk menghadapi kebenaran yang selama ini ia coba kubur dalam-dalam. Ingatan tentang malam itu—malam paling kelam dalam hidupnya—berputar ulang di kepalanya dengan kejelasan yang menyakitkan. Bukan hanya tentang Aris yang melindunginya, tapi juga tentang siapa yang tidak melakukan apa-apa.

Tentang Dimas.

Rina menarik selimutnya lebih erat, menggigil bukan karena dingin, tapi karena realitas yang mulai tersingkap. Selama ini, ia menganggap Dimas sebagai pahlawan kampung. Pemuda yang selalu ada, yang bercanda, yang membawakan gorengan. Ia menganggap ketidakhadiran Dimas malam itu wajar. "Ah, mungkin dia tidak tahu," pikirnya dulu. "Mungkin dia sedang tidur."

Tapi malam ini, memori itu datang dengan detail yang kejam.

Flashback: Malam Kejadian.

Pukul 20.30 WIB. Gang Tebet ricuh.

Rina baru saja pulang dari "kontrakan" Pak Hendra, tubuhnya gemetar, bajunya sobek di bagian lengan. Ia berlari tertatih-tatih masuk ke gang, berharap bertemu seseorang yang bisa menolong.

Di ujung gang, dekat pos ronda, ada sekelompok pemuda nongkrong. Di tengah mereka, ada Dimas. Ia sedang merokok, tertawa lepas bersama teman-temannya, membicarakan hasil pertandingan bola sore tadi.

Rina melihat mereka. Matanya bertemu dengan mata Dimas.

"Mas Dimas!" teriak Rina lirih, suaranya parau menahan tangis. Ia mengulurkan tangan, meminta tolong.

Dimas berhenti tertawa. Rokok di tangannya masih menyala. Ia menatap Rina dari atas sampai bawah. Ia melihat air mata Rina, melihat baju yang sobek, melihat ketakutan murni di mata gadis yang ia naksir itu.

Tapi Dimas tidak bergerak.

Ia tidak berlari menghampiri. Ia tidak bertanya "Kenapa?". Ia tidak marah. Ia hanya diam. Membatu. Tatapannya kosong, seolah melihat hantu, atau seolah takut terlibat masalah.

Teman-teman Dimas juga diam. Suasana canggung.

Rina mengambil langkah mundur, hatinya hancur berkeping-keping. "Mas... tolong..." bisiknya lagi.

Dimas justru membuang muka. Ia menunduk, pura-pura sibuk membetulkan tali sepatunya, menghindari tatapan Rina. Ia memilih menjadi batu daripada menjadi manusia saat itu.

Dan kemudian, dari arah musholla, muncul Aris. Berlari. Berteriak. Memeluk.

Sementara Dimas? Dia masih duduk di situ. Diam. Sampai Rina hilang dibawa Aris ke dalam musholla, Dimas tidak pernah berdiri untuk mengecek keadaan.

"Ya Tuhan..." Rina menutup mulutnya, menahan isakan yang meledak di tenggorokan.

Air matanya tumpah ruah sekarang. Bukan air mata sedih biasa, tapi air mata kekecewaan yang membakar dada.

Selama enam bulan ini, Dimas membangun narasi bahwa dialah pelindung sejati. Bahwa cinta kampungnya lebih tulus daripada cinta menara kaca Aris. Dimas sering berkata, "Gue nggak bakal nyakitin lo," atau "Gue bakal jadi perisai lo."

Tapi fakta berbicara lain.

Saat Rina benar-benar butuh perisai, saat nyawanya dan harga dirinya di ujung tanduk, Dimas memilih diam.

Diam adalah pilihan. Dan malam itu, Dimas memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri daripada menolong Rina.

Aris yang punya segalanya untuk kehilangan. Aris yang bisa saja takut reputasinya hancur. Tapi Aris justru melompat ke dalam api. Aris tidak diam. Aris berteriak, menangis, melawan, dan mempertaruhkan segalanya.

"Kenapa aku bodoh sekali?" Rina mencengkeram rambutnya sendiri. "Kenapa aku hampir terpikat oleh kata-kata manis Dimas, padahal tindakannya sudah membuktikan segalanya?"

Ingatan tentang percakapan sore tadi semakin menyakitkan.

Dimas bilang: "Gue bakal kerja banting tulang demi dia! Gue nggak bakal bikin dia merasa kecil!"

Kata-kata itu terdengar mulia. Tapi kini, di telinga Rina, kata-kata itu terasa seperti debu kosong. Mulut boleh bicara soal perlindungan, tapi kaki tetap diam saat bahaya datang.

Sementara Aris... Aris bahkan tidak perlu banyak bicara malam itu. Tindakannya sudah menjawab segalanya. Dan hari ini, Aris pun tidak memaksa. Ia memberi ruang. Ia menghormati.

Rina meraih ponselnya. Jari-jarinya menari di atas layar, kali ini dengan keyakinan yang berbeda. Rasa bingung antara dua pria itu tiba-tiba lenyap, digantikan oleh kejernihan yang dingin.

Ia membuka chat dengan Dimas.

Jari Rina mengetik cepat, tanpa ragu lagi:

"Mas Dimas, aku sudah berpikir panjang. Terima kasih atas perhatianmu selama ini. Tapi aku tidak bisa melanjutkan apapun denganmu. Bukan karena kau miskin, bukan karena kau montir. Tapi karena aku ingat malam itu."

Rina berhenti sejenak, napasnya berat, lalu melanjutkan ketikannya dengan tangan gemetar namun tegas:

"Saat aku最需要 pertolongan, saat aku teriak minta tolong di depan pos ronda... kamu diam, Mas. Kamu cuma diam dan buang muka. Saat itu aku sadar, keberanianmu hanya ada di kata-kata, bukan di tindakan. Aku tidak bisa mencintai lelaki yang diam saat aku dihancurkan. Maafkan aku."

Kirim.

Rina melempar ponselnya ke kasur. Ia tidak peduli kalau Dimas akan marah, akan membela diri, atau akan menangis. Fakta adalah fakta. Luka itu nyata. Dan pengkhianatan melalui diam adalah luka yang paling sulit disembuhkan.

Lalu, Rina mengambil ponsel kedua (atau membuka chat lain), jari-jarinya mengetik pesan untuk Aris. Kali ini, nada tulisannya berubah total. Lembut, hangat, dan penuh harap.

"Kak Aris, besok pagi aku ingin bertemu. Bukan di kampus, bukan di rumah sakit. Temui aku di musholla tempat kita pertama kali bertemu. Pukul 6 pagi. Aku punya sesuatu yang penting untuk dikatakan. Sesuatu yang seharusnya aku katakan sejak malam itu."

Kirim.

Rina bersandar di bantal, menatap langit-langit kamar. Hujan di luar mulai reda, menyisakan gerimis yang tenang. Hatinya juga mulai tenang.

Ia sadar sekarang. Cinta bukan tentang siapa yang paling pandai merayu. Bukan tentang siapa yang paling kaya atau paling gagah berteriak.

Cinta adalah tentang siapa yang tetap ada saat dunia runtuh. Siapa yang tidak memilih diam saat keadilan menuntut suara.

Dimas mungkin pemuda baik secara umum. Tapi bagi Rina, dia adalah saksi bisu yang gagal menjadi pahlawan.

Sedangkan Aris... Aris adalah bukti bahwa malaikat itu nyata, dan ia seringkali datang dengan wajah sederhana dan hati yang berani.

"Malam itu mengubah hidupku," bisik Rina pada kesunyian kamar. "Dan malam ini, aku memutuskan untuk tidak lagi hidup dalam kebohongan."

Rina memejamkan mata. Untuk pertama kalinya dalam enam bulan, ia tidur tanpa mimpi buruk. Karena ia tahu, besok pagi, ia akan menghadap lelaki yang benar-benar memilihnya, bukan sekadar mengakuinya.

Bersambung...

1
Jesa Cristian
ayo komen temen temen ku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!