Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.
Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.
Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Kafe itu masih sama, hangat dan tenang. Namun suasana di meja mereka berubah lebih berat dan lebih serius. Tidak ada lagi percakapan ringan, tidak ada lagi nada santai. Karena apa yang baru saja diucapkan Fania terlalu jelas dan terlalu nyata dan terlalu berisiko.
Livia menyandarkan tubuhnya ke kursi, menghembuskan napas panjang. Tangannya menyilang di dada dan ekspresinya tidak lagi sekadar penasaran hanya ada kekhawatiran.
“Aku akan jujur,” katanya akhirnya secara langsung tanpa pembuka.
Fania menatapnya dengan datar. “Apa?” Nada suaranya tipis seolah sudah siap menolak apa pun yang akan datang.
Livia tidak mundur. “Kesepakatan kalian itu bahaya.”
Hening.
Kalimat itu jatuh begitu saja tanpa dibungkus dan tanpa dilunakkan.
Fania langsung bereaksi. “Bahaya dari mana?” Defensif dan cepat seperti biasa.
Chaerlina yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara. Namun dengan nada yang lebih tenang.
“Bahaya bukan karena kesepakatannya,” ujarnya pelan. “Tapi karena kondisinya.”
Fania mengernyit. “Tak ada yang beda.”
Chaerlina menggeleng kecil. “Jelas beda.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan menatap Fania lebih dalam. “Kalau dua orang sama-sama sudah selesai, kesepakatan itu masuk akal.” Ia berhenti lalu menambahkan. “Masalahnya kau belum selesai.” Langsung dan tepat.
Fania terdiam namun hanya sesaat. “Aku sudah selesai.” Cepat namun tegas dan terlalu cepat.
Livia menghela napas pelan. “Fan…” Nada suaranya melembut namun tetap tegas. “Kau sedang berusaha selesai.” Ia menatap Fania. “Bukan memang benar-benar selesai.”
Hening.
Kalimat itu menggantung dan Fania tidak langsung bisa menolaknya. Karena ada bagian kecil didalam dirinya yang tahu itu benar. Namun tetap ia tidak mau mengakuinya.
“Itu asumsi kalian,” ujarnya, lebih dingin sekarang. Mencoba menjaga jarak.
Chaerlina tidak tersinggung, ia justru mengangguk kecil. “Oke. Kita anggap itu asumsi.” Ia berhenti menatap Fania tanpa berkedip. “Sekarang aku tanya.” Nada suaranya tetap tenang namun lebih tajam.
“Kalau Ronald benar dekat dengan Valencia, kau yakin baik-baik saja?” Langsung tanpa ruang.
Hening.
Fania membuka mulut namun tidak ada kata yang keluar. Hingga beberapa detik, ia akhirnya menjawab.
“Aku tak bisa melarang.” Jawabnya dengan logis dan masuk akal. Namun bukan itu yang ditanya.
Livia langsung menyela. “Kau tau kita tak sedang membahas tentang kau melarang atau tidak.” Ia mencondongkan tubuh ke depan tampak lebih serius.
“Kami memastikan, apa yang kau rasakan?”
Sunyi.
Fania menatap meja, tangannya menggenggam gelas dengan lebih erat. Namun ia tetap menjawab meski suaranya lebih pelan. “Biasa saja.” Jawaban itu keluar namun hampa.
Chaerlina langsung menangkapnya. “Biasa saja atau kau ingin terlihat biasa saja?”
Fania menoleh dengan cepat, tatapannya sedikit tajam. “Apa yang kalian maksud?” Nada suaranya mulai naik, tipis.
Livia menghela napas, lebih sabar sekarang. “Kami hanya tak ingin kau menyesal.”
Kalimat itu tidak menyerang. Namun justru lebih dalam. Membuat Fania tertawa kecil dengan pendek.
“Menyesal …” Ia berhenti lalu menggeleng. “Tak akan ada yang aku sesali.” Jawabnya cepat namun terdengar seperti penolakan.
Chaerlina mengamati, tidak terburu-buru. “Fan,” katanya pelan. “Kau memberi ruang pada orang yang masih memiliki ikatan denganmu untuk bersama orang lain.” Ia berhenti. “Dan orang itu bukan orang asing.”
Fania tidak menjawab karena ia tahu arah pembicaraan ini, dan ia tidak suka.
Livia melanjutkan. “Valencia itu bukan hanya ‘orang lain’.” Nada suaranya serius. “Dia memiliki history bersama Ronald.”
Satu kata itu “history” cukup untuk membuat Fania menegang. Namun ia tetap diam dan berusaha terlihat tidak terpengaruh.
“Dan dari yang kau ceritakan,” lanjut Livia, “mereka tidak canggung.” Ia menatap Fania lurus. “Artinya mereka pernah nyaman.”
Hening.
Fania menelan pelan namun tetap tidak membalas.
Chaerlina menambahkan. “Dan sekarang mereka kembali bertemu.” Pelan namun tajam. “Dalam kondisi kau sedang berjarak dengannya.”
Kalimat itu menutup semuanya. Dan untuk pertama kalinya Fania benar-benar merasa terpojok.
Ia menggeleng kecil. “Tak sesimpel itu.” Lemah, namun tetap mencoba.
Livia langsung menatapnya. “Justru itu simpel.” Ia berkata tanpa ragu. “Mereka dekat, punya masa lalu, bertemu kembali di waktu yang tepat.” Ia berhenti menatap lebih dalam. “Itu kombinasi paling mudah untuk menjadi sesuatu.”
Fania langsung bereaksi. “Mereka sepupu.” Jawabnya dengan cepat, seolah itu cukup untuk menghentikan semuanya.
Chaerlina mengangguk. “Iya.” Dengan tenang. “Tapi perasaan tak selalu peduli status hubungan.”
Kalimat itu tenang namun menghantam.
Fania terdiam lama, karena ia tidak punya bantahan apapun. Ia hanya tidak mau menerima.
Livia menyandarkan tubuhnya lagi ke belakang, menatap Fania dengan serius. “Aku tak mengatakan Ronald pasti akan tertarik,” katanya. “Aku bilang peluangnya ada.” Ia mengangkat bahu sedikit. “Dan kau yang membuka pintu itu sendiri.”
Sunyi.
Fania menatap meja, kini pikirannya berisik. Sangat berisik. Namun wajahnya tetap tenang atau setidaknya ia berusaha begitu.
“Aku tak peduli,” ucapnya lagi. Lebih pelan, lebih dingin. Namun kali ini jelas tidak kuat.
Chaerlina tidak langsung menanggapi. Ia hanya menatap Fania lama, lalu berkata pelan. “Kalau kau memang benar tak peduli” Ia berhenti memberi jeda. “Kau tak akan duduk di sini, bercerita sepanjang ini.”
Dan itu mengenai tepat. Fania menutup matanya sebentar, nafasnya terasa berat. Ia ingin membantah namun tidak ada kata yang keluar. Karena untuk pertama kalinya ia mulai melihat celah dalam semua yang ia yakini.
Livia melembutkan suaranya. “Fan…”
Fania membuka matanya, menatap mereka berdua.
“Aku hanya takut,” lanjut Livia. “Kau menyerah di saat orang lain bisa saja masuk.”
Kalimat itu tidak keras, namun jujur dan justru itu yang paling sulit diterima.
Fania tersenyum kecil dengan tipis dan lelah. “Kalau memang begitu…” Ia berhenti menelan ludah pelan. “…berarti memang bukan milikku.” Logika lagi, namun kali ini terasa seperti tameng terakhir.
Chaerlina menggeleng pelan. “Kadang bukan tentang ‘milik’ atau bukan.” Ia menatap Fania lebih dalam. “Kadang tentang… kau sudah berusaha atau belum.”
Sunyi.
Fania tidak menjawab, tidak langsung. Namun didalam dirinya sesuatu bergerak dengan pelan yang terasa mengganggu. Karena pertanyaan itu tidak bisa ia abaikan begitu saja. Dan untuk pertama kalinya ia mulai mempertanyakan bukan tentang Ronald. Bukan tentang Valencia.
Namun tentang dirinya sendiri. Apakah ia benar-benar sudah selesai? Atau ia hanya terlalu cepat menyerah pada sesuatu yang sebenarnya masih ia inginkan?
Mereka terdiam dengan pemikiran masing-masing. Chaerlina dan Livia juga hanya mampu terdiam untuk memberikan ruang pada Fania untuk memikirkannya semuanya matang-matang. Mereka tak ingin memaksa.
"Kami selalu di sini, tak perlu sungkan untuk mengatakan yang sejujurnya, Fan." Chaerlina menimpali, yang diangguki oleh Livia. Mereka jelas menangkap penyangkalan Fania yang begitu nyata.
"Aku tak peduli"
NEXT …….