NovelToon NovelToon
Penantian 7 Tahun

Penantian 7 Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:561
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.

Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 - Hujan Dan Satu Payung

Sore itu kampus jauh lebih ramai dari biasanya, seolah seluruh mahasiswa memutuskan pulang pada jam yang sama. Beberapa kelas dibubarkan lebih cepat karena dosen berhalangan hadir, membuat lorong-lorong dipenuhi langkah tergesa, suara tawa, dan percakapan yang saling bertumpuk. Pintu lift terus terbuka dan tertutup, sementara tangga menjadi jalur utama bagi mereka yang malas menunggu terlalu lama.

Airel Virellia keluar dari perpustakaan sambil memeluk dua buku pinjaman di dadanya. Ia menahan satu buku dengan siku agar tidak tergelincir, lalu melirik jam di layar ponselnya. Jika bergerak cepat, ia masih bisa sampai halte sebelum jalanan depan kampus penuh kendaraan pulang kantor.

Langit sudah mendung sejak siang. Warna abu-abu menggantung rendah di atas gedung-gedung sekitar, membuat sore terasa datang lebih cepat. Udara juga berubah dingin, meski hujan belum turun setetes pun.

Airel mempercepat langkah menuruni lorong samping perpustakaan. Rambutnya bergerak halus tertiup angin dari jendela terbuka, dan ia sedang sibuk menata posisi buku ketika suara yang kini terlalu akrab baginya terdengar dari belakang.

“Airel.”

Langkahnya melambat, lalu ia menoleh.

Zevarion Hale berjalan dari arah tangga dengan tas selempang hitam di bahu. Wajahnya tenang seperti biasa, seolah bertemu di tengah keramaian itu hanyalah kebetulan kecil yang tidak perlu dibahas. Padahal Airel mulai tahu, kebetulan dan Zev sering kali datang dalam kalimat yang sama.

“Kamu ngagetin orang,” kata Airel sambil kembali berjalan.

“Kamu gampang kaget.”

“Kamu muncul tiba-tiba.”

“Aku jalan dari tadi.”

Airel mendecak pelan. “Iya, terus aku harus tepuk tangan?”

“Kalau kamu mau.”

Ia menoleh singkat, mendapati Zev benar-benar menjawab dengan nada datar. Hal itu justru membuat Airel menahan senyum. Ia melanjutkan langkah menuju tangga utama, dan seperti beberapa minggu terakhir, Zev berjalan sejajar di sampingnya tanpa diminta.

“Kamu ke mana?” tanya Airel.

“Pulang.”

“Bagus. Aku juga.”

“Berarti tujuan kita sama.”

Airel meliriknya. “Jangan bikin semua hal terdengar penting.”

“Aku enggak berusaha.”

Mereka menuruni tangga bersama arus mahasiswa lain. Beberapa orang harus menepi agar tidak tersenggol rombongan yang berlari mengejar parkiran. Begitu sampai di pelataran depan gedung utama, angin berembus lebih kencang hingga beberapa kertas di tangan mahasiswa lain beterbangan.

Airel mendongak ke langit. “Kayaknya bakal hujan.”

Kalimat itu belum selesai ketika langit seperti membuka seluruh isinya sekaligus. Air turun deras tanpa aba-aba, menghantam lantai batu, atap halte kecil, pohon-pohon di taman, dan jalan raya di depan kampus. Beberapa orang menjerit kecil lalu berlari ke bawah kanopi terdekat.

Airel refleks melangkah maju.

“Kalau lari sekarang, masih bisa nyampe parkiran.”

Baru satu langkah, pergelangan tangannya tertahan. Sentuhan itu kuat namun tidak kasar, cukup untuk menghentikan geraknya seketika.

Ia menoleh cepat.

Zev memegang pergelangan tangannya dengan alis sedikit berkerut. Rambut depannya bergerak tertiup angin, sementara hujan memantul di belakangnya seperti tirai perak.

“Kamu mau hujan-hujanan di tengah begini?”

Airel menatap tangannya yang masih dipegang, lalu wajah Zev. “Aku cuma mau ke depan.”

“Dan basah total dalam lima detik.”

Ia melepaskan pegangannya perlahan, seolah baru sadar bertindak terlalu spontan. Namun bekas hangat telapak tangannya masih tertinggal di kulit Airel.

“Aku bawa payung,” katanya singkat.

Airel menatap tas selempangnya. “Kamu bawa payung?”

“Iya.”

“Kamu kelihatan kayak orang yang anti payung.”

Zev mengangkat alis tipis. “Itu penilaian macam apa?”

“Enggak tahu. Kamu kelihatan kayak orang yang lebih milih nunggu hujan berhenti sendiri.”

Ia mengeluarkan payung lipat hitam dari dalam tas, lalu menunjukkannya tanpa ekspresi. “Aku suka hal praktis.”

Airel menahan senyum. “Baiklah, ternyata aku salah.”

“Jarang terjadi.”

“Jangan mulai.”

Mereka berdiri di bawah kanopi bersama beberapa mahasiswa lain yang masih menunggu reda. Hujan turun begitu rapat hingga halaman depan kampus tampak buram. Suara air memukul lantai dan atap membuat suasana sekitar terasa tertutup dari dunia luar.

“Aku bisa nunggu reda,” kata Airel.

Zev menoleh ke jalan raya yang mulai padat. “Jam segini? Kalau nunggu, kamu pulang malam.”

“Aku biasa.”

Ia membuka payungnya. “Ayo.”

Airel berkedip. “Sekarang?”

“Kalau nanti, hujannya belum tentu selesai.”

Tanpa menunggu jawaban, Zev melangkah ke tepi kanopi lalu menoleh ke belakang. Airel ragu sepersekian detik, tetapi akhirnya mengikuti.

Begitu payung terbuka di atas kepala mereka, ruang kecil itu terasa sempit mendadak. Mereka berdiri cukup dekat agar tidak terkena tempias. Aroma hujan, udara dingin, dan kehadiran Zev di sisi kanan membuat jantung Airel berdetak lebih cepat dari yang seharusnya.

Mereka mulai berjalan menuju gerbang kampus. Langkah mereka menyesuaikan satu sama lain secara alami, seolah sudah sering melakukan hal yang sama. Zev memegang gagang payung dengan tangan kanan dan sedikit memiringkannya ke arah Airel agar sisi gadis itu lebih terlindungi.

“Kamu sendiri malah kena,” kata Airel saat melihat bahu kirinya mulai basah.

“Sedikit.”

“Geser tengah.”

“Aku udah tengah.”

“Kamu bohong.”

Zev menoleh singkat. “Kamu cerewet kalau hujan.”

Airel mendesah. “Balikin. Aku jalan sendiri aja.”

Ia pura-pura hendak keluar dari bawah payung. Zev segera menggeser payung lebih dekat dan sedikit memiringkan tubuhnya agar Airel tetap di dalam lindungan.

“Diam.”

Satu kata itu terdengar datar, tetapi cukup membuat Airel menurut. Ia menatap jalan di depan sambil berusaha menyembunyikan senyum kecil yang hampir muncul.

Trotoar mulai dipenuhi genangan kecil. Sesekali lengan mereka bersentuhan karena ruang di bawah payung terlalu sempit untuk dua orang yang sama-sama berusaha menjaga jarak. Sentuhan ringan itu datang dan pergi, tetapi cukup membuat Airel sadar betapa dekat mereka sekarang.

Anehnya, ia justru nyaman.

“Kamu selalu siap begini?” tanya Airel setelah beberapa menit.

“Gimana?”

“Bawa payung. Datang pas waktu. Nolongin orang.”

Zev memandang lurus ke depan. “Aku enggak selalu nolongin orang.”

“Berarti aku spesial?”

Kalimat itu keluar sebagai candaan, namun begitu terucap Airel langsung menyesalinya. Ia menunduk, berharap hujan cukup ramai untuk menyamarkan rasa malu.

Zev diam cukup lama.

Lalu ia menjawab tenang, “Mungkin.”

Langkah Airel sempat kacau. Ia hampir menginjak genangan besar kalau tidak cepat menyeimbangkan diri. Zev melirik singkat, seolah menahan komentar.

Di dekat lampu merah depan kampus, mereka berhenti menunggu kendaraan lewat. Seorang anak kecil berlari menerobos hujan sambil tertawa, dikejar ibunya yang setengah panik dan setengah geli.

Airel tersenyum melihat pemandangan itu.

Zev melirik ekspresinya. “Kamu suka hujan, ya?”

Airel berpikir sejenak. “Kadang.”

“Jawaban aneh.”

Ia menoleh cepat. “Itu kalimatku.”

“Aku pinjam.”

Airel tertawa kecil. Suara tawanya tenggelam di antara bunyi hujan dan kendaraan, tetapi Zev tetap menoleh sejenak seperti ingin memastikan ia benar-benar mendengarnya.

“Hujan bikin aku ingat banyak hal,” lanjut Airel pelan. “Tapi akhir-akhir ini enggak sesedih dulu.”

Zev tidak langsung menjawab. Rahangnya bergerak tipis sebelum ia berkata pelan, “Bagus.”

Lampu berubah hijau. Mereka kembali berjalan menyeberang. Angin tiba-tiba bertiup lebih keras dan membuat payung bergoyang ke samping. Airel refleks memegang lengan Zev agar seimbang.

Keduanya berhenti sesaat.

Tangannya masih berada di lengannya. Kain jaket Zev dingin karena hujan, tetapi bagian di bawahnya terasa hangat dan kokoh.

Airel buru-buru melepaskan tangan. “Maaf.”

Zev menatapnya singkat. “Kenapa minta maaf?”

“Refleks.”

“Kalau jatuh baru minta maaf.”

Airel tertawa lagi, kali ini lebih lepas. Semakin lama, ia sadar percakapan dengan Zev selalu menjadi mudah. Mereka tidak perlu topik besar untuk merasa dekat.

Tak lama kemudian, mereka sampai di halte tempat Airel biasa menunggu bus. Hujan masih turun, meski sudah jauh lebih pelan. Atap halte menahan sebagian suara air, menciptakan ruang kecil yang tenang di tengah jalanan basah.

“Aku dari sini,” kata Airel.

Zev mengangguk, tetapi tidak langsung pergi. Ia mengantar Airel sampai ke bangku bagian dalam yang masih kering.

“Terima kasih,” kata Airel sambil menatapnya.

“Karena payung?”

“Karena nahan aku tadi.”

Zev memiringkan kepala sedikit. “Kalau enggak ditahan, kamu pasti nekat lari.”

“Dan?”

“Kamu gampang sakit.”

Airel terdiam. Ia tidak pernah mengatakan hal itu padanya.

“Maksud kamu?”

“Waktu minggu lalu hujan kecil aja kamu bersin tiga kali di kelas.”

Airel menatapnya lebih lama. “Kamu merhatiin segitu detail?”

Zev seolah baru sadar terlalu jujur. Ia mengalihkan pandangan ke jalan raya yang berkilau oleh lampu kendaraan.

“Aku kebetulan dengar.”

Airel hampir tersenyum.

Kebetulan lagi.

Bus belum datang. Zev menutup payung dan berdiri dekat tiang halte, sementara bahu kirinya masih sedikit basah. Udara dingin menyusup bersama aroma aspal dan tanah setelah hujan.

“Kamu tunggu bus?” tanya Zev.

“Iya.”

“Aku temenin sampai datang.”

“Kamu bisa pulang dulu.”

“Aku tahu.”

Jawaban singkat itu membuat dada Airel terasa hangat dengan cara yang sulit dijelaskan. Mereka berdiri dalam diam yang nyaman. Tidak perlu kata-kata tambahan untuk mengisi waktu.

Beberapa menit kemudian, bus muncul dari kejauhan. Lampunya memantul di jalan basah saat mendekat ke halte.

Airel melangkah naik, lalu menoleh dari pintu sebelum kendaraan itu menutup akses pandangnya.

Zev masih berdiri di bawah lampu halte, payung hitam di tangan, rambut sedikit basah oleh tempias.

“Zev.”

Ia mengangkat kepala.

“Hari ini… aku suka hujan.”

Tatapannya melembut tipis, perubahan kecil yang hanya bisa dilihat jika benar-benar memperhatikan.

“Besok juga bakal hujan,” katanya.

Pintu bus menutup sebelum Airel sempat menjawab. Kendaraan mulai bergerak meninggalkan halte dan sosok Zev perlahan menjauh di balik kaca.

Sepanjang perjalanan pulang, Airel memandangi titik-titik air yang menempel di jendela. Kota bergerak samar di baliknya, lampu-lampu tampak kabur dan lembut.

Sudut bibirnya terus terangkat tanpa sadar.

Karena di bawah satu payung tadi, sesuatu yang selama ini hanya terasa samar mulai berubah menjadi nyata.

1
𝐀⃝🥀Weny
wah jangan² itu orang yang ditunggu selama ini.. tapi mereka sudah lupa dengan wajahnya😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!