Dori terpaksa hidup bersama arwah sastrawan bernama Matcha yang terperangkap di dalam laptop bekas miliknya.
Awalnya mereka sering berselisih paham karena gaya penulisan Dori dianggap buruk, namun ikatan batin perlahan terbentuk hingga Matcha bisa muncul dalam wujud fisik. Kehidupan mereka yang manis berubah mencekam saat muncul saingan dan organisasi gelap yang mengincar kekuatan mereka.
Rahasia besar akhirnya terkuak saat ingatan Matcha kembali. Ia menuduh Dori sebagai orang yang membunuhnya di kehidupan lampau.
Akankah cinta mereka mampu bertahan menghadapi kenyataan pahit itu, atau mereka harus berpisah selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panik
...***...
"Panas ... badanku panas sekali ... kepalanya pusing..." Dori menjatuhkan tubuhnya ke kasur, selimut ditarik tinggi sampai menutupi separuh wajah.
Wajahnya memerah, napasnya tersengal, dan suhu tubuhnya terasa seperti tungku pembakaran. Demam tinggi menyerang tiba-tiba setelah lembur semalaman.
"Kenapa harus sakit pas lagi banyak kerjaan sih?!" batinnya merengek putus asa.
Di sudut ruangan, Matcha yang tadinya sibuk mengamati ikon aplikasi, langsung menoleh tajam. Matanya menyipit melihat kondisi Dori yang berubah drastis.
Ia melayang mendekat, wajahnya tampak bingung sekaligus waspada.
"Heh, gadis malas. Jangan pura-pura sakit supaya bisa bolos kerja. Trik itu tidak mempan padaku."
"Aku nggak bohong ... panas banget ...." Dori hanya mampu berbisik lemah, matanya terpejam erat.
Matcha mengerutkan kening. Ia mengulurkan tangan transparannya, mencoba mendekatkan ke dahi Dori untuk mengecek suhu.
Tentu saja tangannya tembus. Tapi anehnya, ia bisa merasakan gelombang panas yang membakar.
"Sungguh ... suhunya sangat tinggi," gumam Matcha pelan. Wajah dingin dan sok berkuasanya perlahan luntur, digantikan oleh ekspresi panik yang tak disembunyikan.
Di zamannya dulu, demam tinggi adalah musuh utama. Banyak orang yang tidak selamat hanya karena penyakit sederhana ini.
"Jangan mati! Kau belum lunas hutang bimbingan padaku!" serunya panik, meski suaranya sedikit bergetar.
Dori hanya bisa mengerang kesal mendengar omongan sialan itu. "Mati ... kamu... berisik..."
Dori yang lemah, pasrah, dan hampir tak berdaya melawan Matcha yang kewalahan, bingung, dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia adalah editor hebat, ahli strategi, dan jenius sastra. Tapi soal merawat orang sakit?
Ia sama sekali buta!
"Air... aku mau air..." rintih Dori.
Matcha terlonjak. "Air? Baik! Tunggu sebentar!"
Ia bergegas terbang menuju meja, tapi lupa kalau badannya tidak nyata. Tangannya melewati gelas tanpa bisa memegangnya.
Brak!
Gelas itu malah terguling jatuh karena hembusan angin dari gerakan jubahnya. Air tumpah membasahi lantai.
"Sialan! Kenapa benda-benda ini tidak mau menurutiku saat genting?!" geramnya frustrasi, memukul udara.
Ia kembali ke sisi Dori dengan wajah panik. "Maaf ... aku ... aku tidak bisa memegang apa pun."
Untuk pertama kalinya, sosok gagah itu terdengar begitu tidak berdaya. Dori membuka mata sedikit, melihat wajah cemas itu. "Bodoh ... panggil... tetangga... atau... cari obat di laci..."
"Obat? Apa itu ramuan sihir? Atau mantra?" Matcha semakin bingung.
Ia terbang kencang ke lemari, membuka laci dengan kekuatan pikirannya (agak memaksa dan berantakan). Ia melihat strip pil warna-warni dan sirup.
"Mana yang benar?! Jangan sampai aku memberimu racun!" teriaknya panik.
"Yang... warna putih... satu butir."
Matcha dengan susah payah dan sangat hati-hati mengangkat pil itu menggunakan kekuatan sihirnya, membuat benda itu melayang mengikuti perintahnya.
Ia membawanya kembali ke mulut Dori, lalu dengan canggung membantu menyuapi air dari gelas lain (caranya berantakan, banyak yang tumpah di bantal).
"Nah, minum! Cepat sembuh! Aku butuh kau untuk menyelesaikan bab selanjutnya!" ucapnya ketus, tapi tangannya dengan lemah mengusir udara di atas wajah Dori.
Dori menelan obat itu, lalu memejamkan mata lagi. "Iya iya... Tuan Editor."
Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Matcha tidak pergi. Ia duduk bersila di udara tepat di samping kepala Dori, menjaga dengan setia.
Ia tidak mengomel, tidak memarahi, hanya menatap wajah yang sedang tertidur lelap itu dengan tatapan sulit diartikan.
"Dasar gadis ceroboh ... tidak dijaga sedikit saja langsung sakit," gumamnya pelan, hampir tak terdengar.
Tiba-tiba, tangan Dori yang dingin meraba-raba di udara, lalu tanpa sengaja menangkap ujung jubah Matcha.
Gadis itu mendekap kain jubah itu ke pipinya, mencari kehangatan. "Dingin... enak."
Matcha membeku, Tubuhnya terkaku patung.
Jantung hantunya berhenti berdetak sejenak. Wajahnya yang pucat perlahan memerah padam, merah sampai ke telinga.
"Kau ... kau berani memegang sembarangan! Hei! Bangun!" bisiknya keras, tapi tidak berani bergerak atau melepaskan tangannya.
Ia takut kalau bergerak, Dori akan terbangun dan kedinginan lagi.
Akhirnya, si Editor Galak itu pasrah. Ia membiarkan dirinya dijadikan bantal hangat sepanjang malam.
"Dasar ... menyusahkanku saja," gerutunya, tapi senyum tipis tak sengaja terukir di bibirnya.
Siapa sangka, hantu kejam ini punya sisi lembut yang sangat memalukan untuk diakui.
...***...
"Huah... segar banget."
Dori meregangkan tangan ke atas saat bangun pagi. Demamnya sudah turun, kepalanya tidak lagi pusing, dan tubuhnya terasa ringan kembali.
Ia menatap sekeliling kamar, mencari sosok yang semalam menjaganya sepanjang malam.
"Matcha? Kamu masih di sana?" panggilnya pelan, masih dengan suara serak-serak basah.
Dari dalam layar laptop, sosok itu muncul perlahan. Wajahnya tampak sedikit lelah, kantung mata tipis terlihat jelas, tapi tatapannya langsung waspada.
"Hmph. Baru bangun langsung cari masalah?" ucapnya ketus, tapi ia langsung terbang mendekat dan mengecek dahi Dori dengan punggung tangannya (meski tembus).
"Suhu sudah normal. Bagus. Berarti obat 'ajaib' itu bekerja."
Dori tersenyum tipis. Ia ingat betul betapa paniknya hantu ini semalam. Dan ingat juga bagaimana ia tidur memeluk ujung jubah itu.
"Makasih ya ... semalam kamu jagain aku," ucap Dori tulus, pipinya sedikit memanas.
Matcha langsung berbalik cepat, menyembunyikan wajahnya. "Jangan salah paham! Aku hanya takut kau mati sebelum melunasi kewajiban menulis! Itu saja!"
"Iya iya, tahu kok."
Dori berjalan tertatih menuju meja kerja. Ia ingin mengecek perkembangan novelnya sebelum mulai kerja lagi.
Jari-jarinya menekan tombol power. Layar menyala. Dan saat halaman web terbuka... mata Dori terbelalak tak percaya.
"Eh?!"
Ranking yang tadinya ada di ratusan bawah, tiba-tiba melesat naik drastis. Angka berwarna merah berkedip di layar.
POSISI: #72
"Naik ... naik jauh banget?!" Dori menutup mulutnya dengan tangan gemetar.
Bukan cuma ranking, jumlah komentar dan like juga membludak. Pembaca memuji gaya bahasanya yang berubah jadi lebih indah, lebih tajam, dan lebih menyentuh hati.
Matcha yang berdiri di belakang, menyilangkan tangan dengan wajah penuh wibawa.
"Sudah kuduga. Kualitas tidak akan pernah mengkhianati hasil."
"Kamu ... kamu yang ubah diksi-diksi aneh itu kan?" Dori menoleh cepat. "Karena kamu, tulisanku jadi begini?"
"Tentu saja. Aku tidak membiarkan karya di bawah asuhanku menjadi buruk," jawabnya sombong, tapi ada senyum tipis yang sulit disembunyikan.
"Terima kasih! Serius deh makasih banget!" Dori benar-benar tersentuh.
Dulu ia berantem habis-habisan soal ini. Sekarang ia sadar, semua omelan dan koreksi ketat itu ada tujuannya. Hasilnya nyata dan manis.
"Nah, karena kau sudah sembuh dan hasilnya bagus..." Matcha mulai mengambil posisi siap sedia, kuasnya muncul di tangan. "Sekarang waktunya tingkatkan lagi target! Jangan puas di posisi 72! Kita ke Top 10!"
"Ya ampun, targetnya tinggi banget sih!" Dori mengeluh, tapi tangannya sudah otomatis meletakkan jari di keyboard.
Suasana kerja kembali memanas, tapi rasanya berbeda. Tidak ada rasa terpaksa, tidak ada rasa benci. Hanya ada semangat untuk membuktikan diri.
Dori mengetik dengan lancar, dan di belakangnya, Matcha mengawasi dengan tatapan bangga.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi email masuk bersuara nyaring.
[Selamat! Naskah Anda lolos seleksi awal dan kami menawari kerjasama penerbitan. Silakan balas pesan ini.]
Dori berhenti mengetik. Napasnya tertahan di tenggorokan.
"Penerbitan? Jadi buku cetak?" bisiknya tak percaya.
Matcha menatap layar itu lekat-lekat. Matanya berbinar tajam, penuh antusias.
"Lihat kan? Aku bilang apa. Dengan bimbinganku, kau bukan hanya jadi penulis web ... kau bisa jadi legenda!"
Dori menatap hantu itu. Dari musuh bebuyutan, jadi guru kejam, sekarang jadi partner paling berharga.
"Matcha..."
"Apa lagi?"
"Kamu ... memang yang terbaik deh."
Wajah Matcha seketika memerah padam. Ia berdeham keras lalu menghilang cepat ke dalam layar.
"BASA-BASI! Cepat balas emailnya! Jangan malu-maluin aku!"
Dan di balik layar, si editor galak itu sedang menepuk-nepuk dadanya sendiri yang berdebar kencang.