NovelToon NovelToon
Gairah Suami Kakakku

Gairah Suami Kakakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Panggung Sang Predator

Panggung Sang Predator

​Hari yang paling kutakuti akhirnya tiba. Kampus terasa jauh lebih ramai dari biasanya. Banner besar dengan foto wajah Gavin Pratama terpampang di depan aula utama. Setiap kali aku melewati banner itu, aku merasa seolah mata elang di dalam foto itu bergerak mengikutiku, mengingatkanku pada setiap inci kulitku yang sudah ia tandai.

​"Gila, Rum! Lu liat nggak mobil yang baru parkir di depan rektorat? Bentley item, anjir! Fix itu Mas Gavin!" Tiara heboh sendiri sambil mengguncang-guncang bahuku.

​Aku hanya bisa menunduk, merapatkan kerah kardigan yang kupakai meski cuaca siang ini cukup terik. Tanganku dingin, dan perutku terasa melilit setiap kali membayangkan akan berada di satu ruangan yang sama dengan Gavin selama dua jam ke depan.

​"Aduh, gue deg-degan parah. Gue udah dandan dua jam cuma buat diliat semenit sama dia," celetuk Bella sambil sibuk menepuk-nepuk wajahnya dengan bedak. "Rum, lu kok lemes banget sih? Lu nggak pengen apa gitu, caper dikit sama ipar lu yang spek Tuhan itu? Sayang banget lho kalau nggak dimanfaatin."

​"Apaan sih, Bel. Gue cuma... gue cuma kurang tidur aja," sahutku pelan.

​"Halah, alasan klasik! Lu mah dari kemaren pucet mulu. Jangan-jangan lu grogi ya mau liat Mas Gavin kharismatik di podium?" Tiara menyenggol lenganku nakal. "Gue denger Mas Gavin itu kalau lagi ngomong di depan publik suaranya makin berat dan bikin... ah, lu tau lah, bikin gerah di tempat yang nggak seharusnya."

​"Mulut lu, Ti!" tegurku, meski dalam hati aku membenarkan setiap kata-katanya.

​Kami mulai memasuki aula. Karena aku panitia divisi konsumsi, aku seharusnya berdiri di bagian belakang. Tapi tiba-tiba, Raka datang menghampiri kami dengan kemeja organisasi yang rapi. Wajahnya tampak serius, dan matanya langsung tertuju padaku.

​"Rum, lu duduk di barisan depan aja ya, sebelah meja moderator. Gue udah pesenin tempat buat lu," ucap Raka tanpa basa-basi.

​"Eh? Kenapa gue di depan, Rak? Gue kan divisi konsumsi, enakan di belakang," tolakku cepat. Di depan artinya aku akan sangat dekat dengan podium tempat Gavin bicara. Itu sama saja menyerahkan leherku ke mulut singa.

​"Nggak ada penolakan, Rum. Di depan biar gue gampang koordinasi sama lu kalau butuh apa-apa," Raka menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia seolah ingin menjagaku agar tetap dalam jangkauan pandangannya. "Ayo, ikut gue."

​Raka tanpa ragu memegang pergelangan tanganku, menarikku lembut menuju barisan depan. Aku mencoba melepaskan tangannya, tapi dia justru mempererat genggamannya.

​"Rak, lepas... banyak orang liat," bisikku panik.

​"Biarin aja. Biar semua orang tau lu di bawah perlindungan gue hari ini," jawab Raka tegas.

​Begitu sampai di barisan depan, jantungku nyaris berhenti berdetak. Dari pintu samping aula, serombongan orang masuk dengan langkah yang penuh wibawa. Di tengah-tengah mereka, Gavin berjalan dengan setelan jas hitam custom-made yang membungkus tubuh atletisnya dengan sempurna. Kemeja putih di dalamnya dikancingkan rapi sampai atas, namun auranya tetap terasa sangat primitif dan dominan.

​Pandangan Gavin menyapu seluruh aula yang riuh dengan tepuk tangan. Dan saat matanya sampai ke barisan depan, matanya langsung terkunci pada tanganku yang masih digenggam oleh Raka.

​Aku melihat rahang Gavin mengeras seketika. Matanya yang tadi dingin berubah menjadi sekelam malam yang paling kelam. Hanya sepersekian detik, tapi aku tahu... badai besar baru saja dimulai.

​Acara dimulai. Gavin naik ke podium dengan langkah yang tenang namun mengancam. Saat dia mulai bicara, suaranya yang berat dan ngebass memenuhi ruangan melalui pengeras suara.

​"Selamat siang, semuanya..."

​Suara itu. Suara yang kemarin membisikkan kata-kata kotor di telingaku lewat telepon, sekarang sedang memberikan motivasi bisnis di depan ratusan mahasiswa. Aku merasa sangat hina sekaligus sangat terangsang hanya dengan mendengar getaran suaranya.

​Gavin mulai memaparkan presentasinya. Tapi matanya tidak pernah benar-benar lepas dariku. Setiap kali dia menjelaskan poin penting, dia akan menatapku lurus, seolah-olah setiap kata yang keluar dari mulutnya hanya ditujukan untukku.

​Raka yang duduk di sebelahku semakin merapat. Dia sengaja meletakkan tangannya di sandaran kursiku, seolah-olah ingin memamerkan pada Gavin bahwa dia memiliki akses padaku.

​"Lu oke, Rum? Tangan lu gemeteran lagi," bisik Raka tepat di telingaku.

​Aku tidak menjawab. Aku terlalu takut untuk bersuara.

​Di atas podium, Gavin tiba-tiba berhenti bicara selama dua detik. Dia menatap Raka dengan tatapan yang sangat mematikan, lalu kembali menatapku. Dia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sesuatu yang kecil, dan meletakkannya di atas meja podium.

​Jepit rambut perakku.

​Aku membelalak. Dia membawanya! Dia sengaja memperlihatkan benda itu padaku di depan semua orang tanpa mereka sadari maknanya.

​"Dalam bisnis, konsistensi adalah kunci," ucap Gavin sambil jarinya mengusap jepit rambut itu dengan gerakan yang sangat sensual, seolah dia sedang mengusap kulitku. "Jika kalian menginginkan sesuatu, kalian harus menandainya, menjaganya, dan memastikan tidak ada tangan asing yang berani menyentuhnya. Karena sekali tangan asing menyentuh apa yang menjadi milikmu... kamu harus menghancurkan tangan itu."

​Raka tampak tersinggung mendengar kalimat itu, meskipun dia tidak tahu itu ditujukan untuknya.

​Seminar berlanjut dengan sesi tanya jawab. Aku merasa seperti sedang duduk di atas bara api. Setiap kali Gavin menjawab pertanyaan mahasiswa, matanya terus-menerus turun ke arah kerah kardiganku, seolah dia bisa melihat jejak merah di balik sana meski aku sudah menutupinya rapat-rapat.

​"Oke, pertanyaan terakhir dari saya," ucap moderator, seorang mahasiswi cantik yang sejak tadi terang-terangan menggoda Gavin. "Pak Gavin, banyak yang penasaran, apa tipe wanita idaman seorang CEO sukses seperti Bapak?"

​Aula menjadi riuh dengan sorakan. Tiara dan Bella di belakangku bahkan terdengar memekik heboh.

​Gavin terdiam sejenak. Dia menatapku, memberikan seringai tipis yang hanya bisa kumengerti. "Tipeku? Aku suka gadis yang kelihatannya polos dan penurut dari luar, tapi sebenarnya punya sisi liar yang dia sembunyikan di balik pintu yang sedikit terbuka."

​Seluruh aula tertawa dan bersorak, mengira itu hanya lelucon cerdas. Tapi aku? Aku merasa nyaris pingsan. Dia baru saja membicarakan kejadian malam itu di depan ratusan orang!

​"Dan yang paling penting," sambung Gavin, suaranya merendah dan penuh ancaman. "Dia harus tahu siapa tuannya. Dia tidak boleh membiarkan pria lain menyentuhnya, bahkan hanya sekadar memegang tangannya di depan umum."

​Mata Gavin kembali tertuju pada tangan Raka yang masih ada di sandaran kursiku. Suasana di sekitarku mendadak terasa dingin meski aula itu penuh orang.

​Setelah acara selesai, kerumunan mahasiswa mengerumuni Gavin untuk meminta foto. Raka mengajakku keluar melalui pintu belakang. "Ayo, Rum. Lu butuh udara segar. Muka lu udah pucet banget."

​"Gue... gue harus beresin konsumsi dulu, Rak," aku berusaha menghindar.

​"Udah, ada Bella sama Tiara. Lu ikut gue sekarang," Raka menarik lenganku lagi, membawaku menuju lorong sepi di belakang aula.

​Begitu sampai di lorong yang remang, Raka membalikkan tubuhku. "Rum, jujur sama gue. Siapa pria yang bikin lu ketakutan kayak gini? Apa itu... Pak Gavin?"

​"Ngaco lu, Rak! Dia kakak ipar gue!"

​"Gue liat cara dia natap lu, Rum! Dan gue liat jepit rambut itu di meja podium. Itu punya lu, kan? Gue pernah liat lu pake itu!" Raka mencengkeram kedua bahuku. "Kasih tau gue, Rum. Apa dia maksa lu? Apa dia ngancem lu?"

​"Rak, lepasin! Lu nggak tau apa-apa!" aku meronta, mencoba melepaskan diri dari Raka.

​"Gue tau lu menderita, Rum! Gue sayang sama lu! Gue bakal laporin dia kalau dia berani nyentuh lu lagi—"

​BUAK!

​Sebuah pukulan mentah mendarat tepat di rahang Raka, membuatnya tersungkur ke lantai lorong. Aku menjerit tertahan, menutup mulutku dengan kedua tangan.

​Gavin berdiri di sana. Napasnya memburu, matanya merah karena amarah yang meledak. Jas hitamnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung kasar.

​"Aku sudah memperingatkanmu, bukan? Jangan sentuh apa yang menjadi milikku," desis Gavin, suaranya terdengar seperti iblis yang baru saja bangkit dari neraka.

​Gavin melangkah maju, menarik kerah kemeja Raka yang masih linglung. "Kamu ingin melaporkanku? Silakan. Tapi sebelum itu, pastikan kamu masih punya mulut untuk bicara."

​"Mas! Stop! Jangan, Mas!" aku memeluk lengan Gavin, mencoba menahannya. "Tolong, lepasin Raka! Dia nggak salah!"

​Gavin menoleh padaku. Tatapannya begitu menakutkan hingga aku ingin menghilang saat itu juga. Dia melepaskan Raka dengan kasar, lalu mencengkeram pinggangku dengan satu tangan, menarikku mendekat hingga dadaku menabrak dadanya yang keras.

​"Kamu membela pria ini di depanku, Arum?" bisiknya tepat di wajahku. Bau amarah dan parfumnya bercampur menjadi satu, menciptakan aroma yang memabukkan. "Setelah semua yang kulakukan padamu? Setelah jejak yang kutinggalkan di tubuhmu?"

​Raka mencoba bangkit, tapi dia terlalu lemas. "Arum... lari..."

​"Diam kamu!" bentak Gavin. Dia menatapku lagi, tangannya meraba leherku, menarik paksa kerah kardiganku hingga tanda merah itu terekspos di bawah lampu lorong yang redup. "Lihat pria ini, Arum. Lihat baik-baik. Inilah yang terjadi pada siapa pun yang mencoba merebutmu dariku."

​Gavin menarikku pergi dari sana dengan kasar, menyeretku menuju parkiran VIP tempat Bentley hitamnya sudah menunggu. Aku menangis, mencoba meronta, tapi kekuatannya terlalu besar.

​"Mas, Mbak Siska... gimana kalau ada yang liat?" rintihku saat dia membukakan pintu mobil dan mendorongku masuk ke kursi penumpang.

​Gavin masuk ke kursi kemudi, mengunci semua pintu, dan menatapku dengan tatapan predator yang sudah mendapatkan mangsanya. "Siska sedang ada acara di kantornya. Dan sekarang... giliranmu untuk menerima hukuman karena membiarkan pria itu menyentuhmu."

​Bentley itu melesat membelah jalanan Jakarta. Aku tahu, hari ini aku tidak akan pulang ke rumah orang tuaku. Aku akan dibawa ke tempat di mana hanya ada aku dan Gavin... dan dosa yang semakin membara.

1
gendiz
aseek, makasih ya, Akhirnya Arumi ada yang mau kawal juga 😊
Moms Shinbi
q kawal sampai semua happy end thor
Moms Shinbi
cerita akhirnya siska end so pasti.psangn selingkuh happy dong..


jngan y thor
gendiz: hmmm belum tentu🤭, lihat bab selanjutnya, sudah up tapi belum lolos review nih kayaknya, jadi belum bisa terbit
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!