"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Sore itu, langit dibalut warna jingga yang muram, seolah ikut merasakan beratnya perpisahan yang akan terjadi. Setelah semua barang-barangku masuk ke dalam tas besar dan diikat di motor, Mas Dika membimbingku menuju ruang tengah. Bapak dan Ibu sudah duduk di sana, menanti saat-saat yang paling mereka hindari: melepaskan anak perempuan mereka dalam kondisi yang penuh luka.
Aku bersimpuh di depan Bapak, mencium punggung tangannya yang kasar. "Pak... Aira pamit. Maafkan semua kesalahan Aira," ucapku dengan suara yang langsung pecah.
Bapak terdiam cukup lama. Aku bisa merasakan tangan Bapak gemetar saat mengusap puncak kepalaku. Beliau tidak menatapku langsung, melainkan menatap lurus ke arah pintu yang terbuka. "Jaga dirimu, Nduk. Sekarang kamu punya tanggung jawab baru. Jangan buat malu suamimu, dan jangan biarkan suamimu malu memilikimu," bisik Bapak, suaranya serak menahan sesak.
Saat beralih ke Ibu, suasananya jauh lebih dingin. Ibu hanya memberikan tangannya untuk kusalami tanpa membalas tatapanku. Namun, saat aku hendak berdiri, Ibu tiba-tiba menarik lenganku pelan. "Ingat, Ra... di sana kamu bukan lagi di rumah sendiri. Jangan banyak mengeluh, telan semua pahitnya. Itu hukuman atas pilihanmu," ucap Ibu tajam namun ada air mata yang menggenang di sudut matanya yang lelah.
Mas Dika kemudian maju, menyalami Bapak dengan khidmat. "Pak, Bu... Dika bawa Aira. Terima kasih sudah mengizinkan Dika bertanggung jawab. Dika janji akan menjaga Aira dan calon cucu Bapak Ibu sebaik mungkin."
Bapak hanya mengangguk pelan, sebuah isyarat kepasrahan. "Bawa dia, Dik. Jaga nyawanya, jaga hatinya. Jangan sampai dia pulang ke sini dengan air mata lagi."
Kami melangkah keluar menuju halaman. Mbah Neni berdiri di ambang pintu, melambaikan tangan dengan wajah sedih namun berusaha tegar. Saat motor Mas Dika perlahan bergerak meninggalkan halaman rumah yang telah membesarkanku, aku menoleh ke belakang. Aku melihat Bapak berdiri di depan pagar, menatap kepergian kami sampai motor menghilang di tikungan jalan.
Separuh jiwaku tertinggal di rumah itu, namun separuh lagi harus kupaksakan untuk kuat menghadapi apa yang menunggu di depan sana. Mas Dika menggenggam jemariku yang melingkar di pinggangnya, seolah memberi kekuatan sebelum kami singgah ke klinik dan akhirnya memasuki gerbang rumah mertuaku.
Motor berhenti di sebuah klinik bersalin yang tidak terlalu ramai. Mas Dika membantuku turun, lalu menuntun langkahku menuju ruang tunggu. "Kamu duduk di sini dulu ya, Yang. Biar Mas yang urus pendaftarannya," ucapnya lembut. Aku menurut, duduk di bangku panjang sembari merapatkan jaket, berusaha menghindari tatapan orang-orang di sekitar.
Setelah menunggu beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, suara perawat memecah keheningan. "Ibu Aira Natasya, silakan masuk ke ruang periksa nomor dua."
Mas Dika menggenggam tanganku erat saat kami melangkah masuk. Di dalam, bau antiseptik menyambut indra penciumanku. Aku berbaring di atas ranjang periksa, membiarkan dokter mengoleskan gel dingin di perutku. Saat alat pemindai itu bergerak, sebuah gambar buram muncul di layar monitor.
"Nah, ini dia. Semuanya sehat, detak jantungnya kuat, dan perkembangannya sangat baik untuk usia enam bulan," jelas dokter sembari tersenyum. "Lihat ini... sepertinya bayi kalian perempuan."
Seketika, suara detak jantung yang cepat memenuhi ruangan. Deg-deg, deg-deg, deg-deg.
Mas Dika terpaku di sampingku. Matanya tidak lepas dari layar monitor, menatap gerakan kecil jemari janin itu. Aku melihat genangan air di pelupuk matanya. Ia menyentuh layar itu dengan tangan gemetar, lalu menoleh ke arahku dengan sorot mata yang hancur sekaligus haru.
"Anak kita perempuan, Ra... dia sehat," bisiknya serak.
Rasa bersalah tampak jelas di wajahnya. Ia berkali-kali mencium punggung tanganku, seolah sedang memohon ampun pada makhluk kecil di dalam sana yang hampir saja kehilangan figur ayah karena kepengecutannya selama ini. "Maafin Ayah ya, Nak. Maafin Ayah..."
Dokter memberikan beberapa lembar foto hasil USG. Mas Dika menerimanya dengan sangat hati-hati, seperti sedang memegang barang yang paling berharga. Kebahagiaan sesaat di ruang periksa itu adalah oase, sebelum akhirnya kami harus keluar dan menghadapi kenyataan pahit yang sudah
menunggu di gerbang rumah orang tuanya.
Mas Dika menerima beberapa lembar resep dari dokter dengan wajah yang jauh lebih cerah, meski sisa air mata di sudut matanya belum benar-benar kering. Ia membantuku bangun dari ranjang periksa, merapikan kembali pakaianku dengan sangat telaten seolah aku adalah porselen yang mudah retak.
"Tunggu di kursi depan ya, Mas tebus vitaminnya sebentar," ucapnya lembut.
Aku duduk menunggu di apotek klinik, menatap foto USG hitam-putih di genggamanku. Sosok kecil yang kata dokter berjenis kelamin perempuan itu seolah sedang tersenyum padaku. Tak lama, Mas Dika datang membawa kantong plastik berisi suplemen dan vitamin tambahan. Ia tak langsung mengajakku pergi, melainkan berjongkok di depanku, menyetarakan tingginya dengan dudukku.
"Sehat-sehat ya, Sayang. Mas bakal kerja lebih keras lagi buat kalian berdua," bisiknya sebelum mengecup keningku di depan beberapa orang yang mengantre. Rasa malu sempat menghampiriku, tapi kehangatan yang ia berikan jauh lebih mendominasi.
Mas Dika kemudian berdiri dan menggandeng tanganku erat. Sangat erat. Seolah ia sedang menegaskan pada dunia—dan pada diriku sendiri—bahwa ia tidak akan membiarkan aku berjalan sendirian lagi. Kami melangkah keluar dari pintu otomatis klinik, disambut oleh udara sore yang mulai mendingin.
"Siap pulang ke rumah Mas?" tanyanya saat kami sudah berdiri di samping motor. Ia menatapku dalam, mencoba mencari sisa-sisa keberanian di mataku.
Aku hanya mengangguk pelan, meski perutku mendadak mulas bukan karena bayi, melainkan karena bayangan wajah Ibu Mertua dan Mbak Diana. Mas Dika memasangkan helm ke kepalaku, mengancingkannya dengan bunyi klik yang mantap.
"Ingat janji Mas tadi di dalam. Apapun yang terjadi di rumah nanti, jangan lepasin tangan Mas. Kita hadapi sama-sama," tegasnya.
Aku naik ke boncengan, memeluk pinggangnya dengan erat. Motor mulai melaju, membelah jalanan kota menuju sebuah rumah yang mungkin akan menjadi medan perang baruku. Foto USG itu tersimpan aman di saku jaket Mas Dika, menjadi satu-satunya alasan mengapa kami harus tetap melangkah maju meski pintu di depan sana mungkin sedang dikunci rapat-rapat untuk kami.