seorang gadis bernama hazia ayini que'en namyesa yang merupakan seorang gadis bar bar, nakal, jahil, dan juga bermulut pedas yang susah di atur oleh orang tua nya sehingga iya dan juga kakak sepupu laki laki nya yang bernama kevin di kirim ke sebuah pondok pesantren yang merupakan milik sahabat keluarga hazian.
apakah ayini si gadis bar bar bisa berbuat baik dan memperbaiki akhlak serta adab nya di pondok pesantren itu?
atau apakah ayini akan berbuat jahil dan mengacaukan pondok itu?
apa yang akan ayini lakukan ketika iya bertemu dengan anak kyai yang bernama Alvaro!
atau kerap di panggil gus alvaro? seorang Gus yang memiliki sifat dingin dengan wajah datar yang ternyata akan menjadi CALON SUAMI nya karena masalah yang iya lakukan sendiri...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RISMA AYINI SAFITRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15. JANJI SUCI DI TEPIAN BARITO.
Hari yang mendebarkan itu akhirnya tiba. Masjid Jami’ Pondok Pesantren Al-Hidayah dipenuhi oleh aroma bunga melati dan kayu gaharu.
Meskipun pernikahan ini terkesan mendadak akibat insiden klaim sepihak Ayini, namun Abi Vero dan Papah Alqin tetap menyelenggarakannya dengan khidmat.
Ayini duduk di dalam kamar Ndalem, menatap pantulan dirinya di cermin. Ia mengenakan kebaya putih panjang yang anggun dengan kerudung yang ditata sangat cantik oleh Umi Ayisah.
Wajahnya yang biasanya penuh ekspresi jahil kini tampak pucat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa sulit bernapas.
"Astagfirullah alazim... gue beneran nikah? Sama si Gus Kulkas?" bisiknya pada diri sendiri.
Di masjid, Gus Alvaro duduk dengan tegap di depan meja akad. Wajahnya tetap datar, namun keringat dingin membasahi telapak tangannya di dalam saku jas.
Ia menarik napas panjang, menatap lurus ke arah Abi Vero dan Papah Alqin.
"Saya terima nikah dan kawinnya Hazia Ayini Que'en Namyesa binti Hazian Alqin dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
Suara bariton Alvaro bergema tegas di seluruh ruangan.
Kata "Sah" yang diteriakkan para saksi membuat dunia seolah berhenti berputar bagi Ayini yang mendengar dari speaker di kamar.
Ia resmi menjadi istri dari Muhammad Alvaro. Ia resmi menjadi seorang "Ning" di usia 16 tahun.
Setelah prosesi sungkeman yang penuh air mata—terutama dari Mamah Namyesa yang tidak menyangka anaknya akan menikah secepat ini—malam pun tiba.
Acara resepsi sederhana untuk kalangan internal pondok telah selesai. Kini, tantangan sebenarnya dimulai: malam pertama di kamar pengantin.
Pintu kamar kayu yang besar itu tertutup dengan suara pelan.
Ayini berdiri mematung di dekat meja rias, sementara Gus Alvaro berjalan masuk dengan sangat tenang.
Alvaro meletakkan peci hitamnya di atas meja, lalu melepas jasnya, menyisakan kemeja putih yang lengannya ia lipat hingga siku.
Suasana sangat canggung. Bau harum mawar dari atas ranjang yang dihias sedemikian rupa justru membuat Ayini merasa sesak.
Alvaro menoleh ke arah Ayini. Ia menjaga pandangan, namun sebagai suami istri, ia kini memiliki hak untuk menatap wajah wanita itu.
"Sudah larut. Sebaiknya kamu bersihkan diri dan segera istirahat," ucap Alvaro datar, seolah mereka sedang membahas jadwal pelajaran kitab.
Ayini yang sejak tadi menahan diri, tiba-tiba merasa ego "bar-bar"-nya kembali naik.
Rasa takut dan canggung berubah menjadi sikap defensif.
"Bentar, bentar! Tunggu dulu!" Ayini melangkah maju, menghalangi jalan Alvaro menuju ranjang.
"Gus... eh, Mas... atau apa pun lah manggilnya. Kita harus buat aturan!"
Alvaro berhenti.
Ia menatap Ayini dengan alis yang sedikit terangkat. "Aturan apa?"
"Gini ya Gus Kulkas. Kita ini nikah karena... ya karena kesalahan mulut gue kemarin. Gue tau Gus juga belum siap kan nikah sama bocah kayak gue? Jadi, gue mau kita buat batas!" Ayini berkacak pinggang, mulut pedasnya mulai beraksi lagi.
Alvaro tetap diam. Ia menunggu Ayini menyelesaikan kalimatnya dengan wajah yang sangat sabar namun dingin.
"Aturan pertama: Pisah Kasur!" seru Ayini lantang. "Gue tidur di kasur, Gus tidur di bawah pakai karpet atau di sofa itu. Gue belum siap tidur bareng cowok kaku kayak Gus!"
Alvaro menarik napas panjang, ia beristighfar dalam hati. "Ini adalah kamar kita, Ayini. Dan secara agama, saya adalah suamimu."
"Bodo amat! Aturan agama emang gitu, tapi perasaan gue belum siap!" balas Ayini ketus.