Cwen Arabelle, seorang anak berusia 7 tahun lelah mendengar mama dan ayahnya bertengkar, akhirnya berusaha menjodohkan mamanya dengan seorang guru di sekolahnya yang terlihat masih sangat muda.
"Paman, paman mau tidak menjadi papa untuk Cwen?" tanya Cwen memamerkan gigi kelincinya kepada guru favoritnya di sekolahan.
"Paman tenang saja, Cwen akan segera meminta mama dan ayah berpisah agar paman bisa menikah dengan mama dan menjadi papa untuk Cwen."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA : Bagian 4
“Ibu Cwen, ya?”tanya Ansel begitu melihat sosok yang sedikit ia kenal itu, sebenarnya jika pun tidak mengenalnya , orang-orang akan langsung tahu jika Jenia adalah ibu dari Cwen, gen yang diturunkan Jenia kepada Cwen begitu kuat, terutama rambutnya yang berwarna pirang.
“Benar, saya ibu Cwen, bapak ada lihat Cwen?” tanya Jenia yang masih belum hilang rasa panik dan juga khawatirnya.
“Cwen aman bersama sama, kebetulan Cwen tertidur di kantor, mungkin karena kelelahan,”jawab Ansel membuat Jenia menghela napas lega.
“Bisa bawa saya ke sana?”
Ansel mengangguk,“ tentu saja, mari!”
Dengan langkah sedikit goyah, Jenia berjalan di belakang Ansel, kepalanya kembali terasa pusing, dengan langkah yang semakin berat, Jenia berusaha menyamakan langkahnya dengan Ansel, tidak ingin tertinggal, atau ia akan nyasar di sekolahan yang cukup besar itu.
Begitu keduanya sampai di depan pintu berwarna putih, Ansel langsung membuka pintu tersebut dan terlihatlah Cwen yang sedang tertidur pulas di atas sofa.
“Ya ampun Cwen, bisa-bisanya ia tertidur di sini,” Jenia menatap Ansel,“Pak, maaf karena sudah merepotkan bapak, saya benar-benar merasa bersalah karena saya telat menjemput Cwen, bapak jadi di repotkan seperti ini,”
Jenia jadi merasa tidak enak karena merepotkan guru Cwen itu, rasanya Jenia ingin mengulang waktu dan tidak menunda untuk menjemput Cwen, kalau sudah begini ia juga yang merasa tidak enak hati karena membuat guru Cwen menjadi kerepotan.
Ansel tersenyum ramah,“tidak apa-apa, saya sama sekali tidak merasa di repotkan,”
“Tetap saja saya tidak enak, pak," balas Jenia mencoba membungkuk untuk mengangkat tubuh Cwen yang tertidur ke dalam gendongannya, tapi karena tubuhnya sedang lemah, ia malah sedikit tersungkur ke depan dan membentur tubuh putrinya sendiri.
Ansel yang melihat itu langsung melangkah ke depan, mendekati Jenia yang mengurut pelan kedua pelipisnya.
“Anda tidak apa-apa, bu?”tanya Ansel yang langsung di beri gelengan oleh Jenia.
“Saya tidak apa-apa, hanya sedikit pusing saja, tapi saya masih kuat menggendong Cwen sampai rumah," balas Jenia mencoba kembali menggendong Cwen dan tetap gagal karena kepalanya yang sudah benar-benar pusing.
Ansel yang merasa tidak ada yang beres dengan mama Cwen, langsung menggendong Cwen ke dalam gendongannya, rasanya ia tidak tega melihat Jenia yang terlihat sekali sedang sakit, mungkin ia sendiri tidak sadar, tapi orang-orang yang yang melihatnya akan langsung sadar, wajahnya benar-benar sudah sangat pucat.
“Pak?”
“Biar saya saja yang bawa,”ucap Ansel.
Jenia menggeleng panik,“tidak perlu pak, rumah saya sedikit jauh dari sini, "Jenia hendak mengambil alih kembali Cwen dari gendongan guru muda itu, tapi Ansel keburu menghindar.
"Tidak apa-apa, saya kebetulan ke sini dengan mobil, jadi saya bisa mengantarkan kalian dengan mobil,"
Jenia hendak kembali berbicara, tapi keburu Ansel keluar dari dalam ruangan, mau tidak mau, Jenia mengikuti Ansel keluar, menuju parkiran, agak sedikit ragu dan banyak tidak enaknya begitu Ansel meletakkan Cwen dengan cara duduk, ia bahkan menambahkan banyak leher kepada Cwen agar tidurnya tidak terganggu, lalu memasangkan sabuk pengaman.
"Silakan masuk, bu!" Ansel mempersilahkan Jenia masuk ke dalam mobilnya, Jenia memutar dan duduk di sebelah Cwen, tangannya sedikit gemetar karena perasaan tidak enak dan juga merasa bersalah.
"Terima kasih banyak, pak, maaf sudah merepotkan pak guru,"
Ansel menggeleng, "berterima kasih saat saya sudah mengantarkan kalian ke rumah dengan selamat,"
Jenia mengangguk ragu, bibirnya pucatnya ia paksakan tersenyum, rasanya Jenia bisa mempercayakan ini kepada guru putrinya itu.
Ansel langsung berjalan ke depan dan duduk di kursi kemudi, matanya melirik ke belakang lewat kaca depan kemudi, dan tatapan itu berhenti pada wajah Jenia yang terlihat semakin pucat. Apakah ia akan terlihat sangat lancang jika membawa mama dari muridnya itu ke rumah sakit, karena dilihat dari bagian manapun, Jenia terlihat benar-benar tidak berdaya, mata sayu dan juga bibir yang sangat pucat.
"Apa anda keberatan jika saya membawa anda ke rumah sakit?" tanya Ansel hati-hati. Matanya masih menatap Jenia dari kaca.
Tidak ada jawaban dari Jenia, entah tertidur atau hanya tidak mau menjawab, Ansel jadi bingung, kalau begini jadinya, bagaimana pula ia mengantar keduanya sampai di depan rumah.
"Atau mungkin bisakah anda menunjukkan jalan menuju rumah?"
Masih tidak ada jawaban. Hening. Benar-benar Hening.
Ansel panik. Jenia benar-benar tidak merespon pertanyaannya. Ia jadi sedikit ragu jika Jenia tertidur, Ansel malah curiga jika Jenia tidak sadarkan diri karena pingsan.
Ansel membuka kembali sabuk pengamannya, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Jenia, menepuk pelan bahu Jenia untuk memastikan kecurigaannya. Dan benar saja dugaannya, Jenia pingsan.
***
Jenia sedikit meringis begitu kepalanya masih terasa berputar-putar, masih dengan setengah kesadarannya, Jenia berusaha duduk, walaupun rasanya badannya sedikit sakit.
"Ya ampun, aku pasti ketiduran lagi setelah menjemput Cwen, ini pasti sudah sore, apa aku tidur terlalu lama?"
Jenia hendak menurunkan kakinya dari atas brangkar, ia masih tidak menyadari jika dirinya berada di rumah sakit, pikirannya malah melayang kepada kewajiban ia untuk menyiapkan makan malam.
"Awwsh,"
Jenia menatap punggung tangannya yang tiba-tiba merasa perih, begitu ia melihat ada jarum yang menancap, kedua matanya langsung terbuka lebar, ia langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan mendapati dirinya di sebuah ruangan yang sudah pasti rumah sakit.
Jenia mengerutkan dahinya bingung. Kenapa dirinya tiba-tiba terbangun di rumah sakit? Siapa yang membawanya? Apa suaminya sudah pulang? Jadi Anwar sengaja membawa dirinya ke rumah sakit?
Ceklek
Jenia reflek menoleh saat mendengar suara pintu terbuka, Cwen yang masih memakai seragam sekolah langsung berlari ke arah Jenia dan memeluk kaki sang mama yang menjuntai ke bawah.
"Mama membuat Cwen takut, kenapa mama memaksakan diri menjemput Cwen dalam keadaan sakit begini?"
Jenia tidak mendengar apa yang Cwen katakan, karena pikirannya malah fokus kepada sosok guru muda yang melangkah mendekati dirinya.
Kenapa bisa guru Cwen di sekolah ada di rumah sakit? Bersama Cwen pula, apa Cwen yang meminta guru itu datang ke sini karena dirinya sakit? Cwen benar-benar membuat malu dirinya, bagaimana bisa putrinya itu malah membawa guru muda itu ke dalam ruangan ini.
"Cwen, kenapa ada guru Cwen disini?" tanya Jenia berbisik lirih di dekat telinga putrinya.
Cwen mengerutkan dahinya bingung. Kenapa mamanya malah bertanya seperti itu? Bukankah wajar ada pak guru karena kan yang mengantar mamanya ke rumah sakit guru dirinya di sekolah. Saat makan di kantin tadi, pak guru bercerita jika mamanya pingsan saat akan diantar pulang ke rumah, jadi Ansel memutuskan untuk membawa mamanya ke rumah sakit.
"Loh, kan pak guru yang bawa mama ke sini ma, kenapa mama malah seperti kebingungan?" tanya Cwen menatap mamanya heran.
Mendengar itu, Jenia melotot. Matilah dia. Bagaimana jika Anwar mengetahui hal ini?
seru ceritanya