Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.
Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?
Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.
"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.
Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.
Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Haruskah Kita Rujuk, Satura?
Vandini mendongak, menyentuhkan bibirnya ke bibir Satura. Ia bisa merasakan tubuh pria itu bergetar saat membalas ciumannya dengan penuh hormat. Seolah meminta maaf, berjanji, dan memohon semuanya dilakukan dalam satu waktu.
Vandini memperdalam ciumannya, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan itu. Ia menikmati rasa takjub Satura, cara pria itu menanggapinya seperti Vandini adalah satu-satunya wanita di dunia. Saat Satura mulai bergerak di atasnya, sentuhannya lembut namun tetap menggebu-gebu. Vandini memejamkan mata, menyerah pada hangatnya kulit pria itu, pada berat tubuh yang begitu ia kenal.
Ia ingin hanyut dalam rasa nikmat itu, membiarkannya menutupi segalanya. Tapi saat bibir Satura mulai menjelajahi lehernya, tiba-tiba bayangan wanita lain melintas di pikirannya.
Orang asing yang pernah ada di posisinya, merasakan sentuhan tangan dan bibir ini persis seperti yang ia rasakan sekarang. Rasa cemburu dan pahit langsung menyergap, merusak momen indah itu.
Apa dulu jalang itu juga merasain hal yang sama?
Apa dia juga menutup matanya dan biarkan Satura menyentuh dia seperti ini, membisikan hal yang sama, dan merasakan getaran yang sama seperti yang Vandini rasakan sekarang?
Seolah bisa membaca pikirannya, Satura memperlambat gerakannya. Ia mengangkat wajah dan menatap mata Vandini dalam-dalam. Pria itu tak berkata apa-apa, hanya memeluknya erat. Ibu jarinya terus mengusap pipi gadis itu dengan lembut dan menenangkan.
"Vandini..." bisik Satura. Suaranya penuh ketulusan yang berhasil menghapus amarah dan keraguan Vandini. Tangannya turun, menggenggam tangan Vandini lalu menekannya ke atas sprei.
"Tetap sama aku," pintanya pelan. Kehadiran Vandini saat itu adalah satu-satunya hal yang paling penting di dunia Satura.
Vandini mengangguk. Ia menarik napas panjang berusaha menenangkan pikirannya yang berkecamuk.
Saat ia membuka mata, ia bisa melihat segalanya dengan jelas. Kerentanan yang terpampang nyata di tatapan Satura, kepedihan yang tak lagi disembunyikan. Pria itu ada di sana, sepenuhnya fokus padanya, tanpa sedikit pun gangguan. Ini nyata, tak bisa disangkal.
Mata itu penuh dengan cinta, keinginan kuat untuk memberikan seluruh dirinya. Hal itu berhasil meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini Vandini bangun tinggi-tinggi.
Ini bukan sekadar hubungan satu malam, walau Vandini berusaha menganggapnya begitu.
Tak ada sikap acuh tak acuh dari cara Satura menyentuhnya, dari cara pria itu menatapnya begitu dalam dan yakin. Setiap gerakan lembut itu seakan menarik Vandini kembali, menyembuhkan luka lama dengan kelembutan yang luar biasa.
Vandini sadar sekarang, ia mulai kehilangan kendali. Ini bukan lagi soal memuaskan hasrat atau merasa berkuasa. Ini tentang Satura yang menunjukkan cintanya tanpa kata-kata, permintaan maafnya yang begitu tulus. Dan saat Vandini menyerah pada perasaan itu, ia tahu ia tak bisa lagi berpura-pura.
Saat itu juga, Satura adalah miliknya. Dan terlepas dari semua yang pernah terjadi, terlepas dari luka di hatinya, Vandini percaya. Walau hanya untuk sesaat, ia yakin bahwa tak ada orang lain yang diinginkan pria itu selain dirinya.
...***...
Saat perjalanan dinas Vandini selanjutnya....
Vandini berdiri di dekat pintu dapur, memperhatikan Satura yang bergerak sangat luwes dan akrab di sana. Pria itu sibuk membalikkan pancake di wajan, sambil sesekali mengawasi anak-anak yang asyik mengobrol di meja makan.
Satura menyadari kehadirannya. Ia menoleh dan tersenyum tipis, membuat Vandini sedikit terkejut.
"Kopi udah siap," ucapnya sambil menunjuk cangkir kesukaan Vandini di atas meja. "Aku juga buatin bekal buat di pesawat, pasti kamu butuh cemilan di jalan."
"Makasih, Satura."
Suara Vandini terdengar lebih lembut dari yang ia inginkan. Ia buru-buru memalingkan wajah, takut pria itu melihat betapa rapuhnya dirinya saat ini.
"Sama-sama," jawab Satura tenang, tanpa nada kasar atau ragu sedikitpun. Selama beberapa minggu terakhir, sikapnya selalu begitu, memberikan dukungan yang menenangkan. Vandini sebenarnya masih ragu untuk percaya sepenuhnya, tapi tanpa sadar ia justru terus mencari kehadiran itu.
Syukurlah, anak-anak terlalu sibuk berdebat soal jenis pancake mana yang paling enak sampai tidak menyadari pertukaran pandang itu. Setelah menuangkan sirup ke piring mereka, Satura kembali menatap Vandini dengan tatapan hangat.
"Serahin semua ke aku di sini," katanya mantap. "Kamu nggak usah mikirin apa-apa. Fokus aja sama perjalananmu."
Vandini mengangguk pelan sambil menyeruput kopinya, berusaha menikmati ketenangan pagi itu. Entah bagaimana, Satura berhasil membuat suasana pagi ini terasa... normal kembali.
"Makasih," ucapnya sekali lagi, kali ini dengan nada suara yang jauh lebih tegas dan tulus.
Vandini tersenyum dan berjalan mendekati meja. Connan langsung menatapnya dengan mata bulat penuh permohonan.
"Ma? Mama harus pergi?" tanya bocah itu dengan nada polos yang campur aduk, sedih sekaligus haru.
Vandini berjongkok di samping kursi anaknya, mengusak rambut Connan yang agak berantakan. "Iya, Sayang. Cuma semalam kok. Besok Mama udah pulang lagi," jawabnya lembut.
Satura mendekat, meletakkan tangannya di bahu Connan dengan penuh kasih sayang, lalu mengelus punggung Cia yang sibuk memotong pancake nya sendiri.
"Hei," sapa Satura pada putranya sambil tersenyum hangat. "Kamu tahu nggak? Mama itu hebat banget lho. Kerjanya penting banget. Mama keluar sana buat hal-hal keren, jadi kita harus bangga sama Mama, kan?"
Dada Vandini terasa hangat mendengarnya, sebuah perasaan yang datang tiba-tiba. Mendengar Satura memujinya dengan bangga di depan anak-anak membuatnya merasa sangat dihargai dan dilihat, sebuah keinginan yang selama ini bahkan tak sadar ia pendam.
Mata Connan bergantian menatap ayah dan ibunya, seakan mencerna kata-kata itu. Akhirnya ia mengangguk kecil dengan senyum malu-malu.
"Ya... Connan juga bangga," ucapnya sambil sedikit membusungkan dada. "Mama memang hebat. Tapi... Connan pasti bakal kangen."
Hati Vandini luluh seketika. Ia segera memeluk erat tubuh kecil itu. "Mama juga kangen kamu. Tapi Mama bakal pulang cepet, sampai kamu belum sempat kangen-kangenan."
"Ma?"
Suara kecil terdengar memecah keheningan. Cia menatapnya, masih menggenggam sepotong pancake di tangannya yang mungil.
"Mama pulang besok?"
"Iya, Sayang," jawab Vandini sambil mencium pipi chubby anak bungsunya itu. "Mama pasti pulang besok karena Mama sayang banget sama kalian berdua."
Satura lalu ikut berjongkok di samping mereka dan menarik semua orang ke dalam satu pelukan hangat, membuat Vandini merasa menjadi bagian utuh dari momen indah itu.
"Betul itu," kata Satura. "Dan nanti pas Mama pulang, Mama bakal dapet pelukan paling kencang dari kita semua, ya?"
Wajah Connan langsung cerah, kekhawatirannya hilang seketika.
"Ayo kita bikin papan tulis 'Selamat datang, Mama'!" serunya antusias.
Melihat kakaknya bersemangat, Cia pun ikut bertepuk tangan meski tangannya masih belepotan sirup.
"Iya! Papan yang besar!"
Vandini tertawa kecil sambil membersihkan remah-remah di tangan Cia. Ia kembali menatap Satura, dan kali ini tatapan pria itu begitu dalam dan mengerti, membuatnya sulit untuk berpaling.
"Mama nggak sabar nungguin itu," ucap Vandini pelan. Hatinya terasa jauh lebih tenang saat memeluk mereka untuk terakhir kalinya. Ia sadar, betapapun beratnya keadaan, ia punya tempat untuk pulang dan orang-orang yang berharga. Dan itu sudah lebih dari cukup.